Lantai tiga

Max memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Jane yang duduk di sampingnya tampak melamun dan seakan tidak sadar jika mobil itu sudah berhenti. Bahkan hembusan angin malam yang membawa dedaunan sudah mengetuk perlahan kaca jendela mobil. Max hanya bisa tersenyum tipis melihat raut wajah Jane yang tanpa ekspresi disampingnya.

“Hei, sedang memikirkan apa? Jangan bilang kau memikirkan Dye dan Ellen.” Max mencubit pipi Jane, menyadarkan wanita itu dari lamunan.

“Ah, aku tidak memikirkannya. Hanya saja—.”

“Benarkan. Jangan dipikirkan lagi, mereka itu hanya saudara tiri, dan--dulu pernah menjalin hubungan. Mantan kekasih, yah panjang ceritanya. Jadi berhenti memikirkan itu dan beri tahu aku alamat rumahmu, dan jika kau masih ingin tahu kita bisa bercerita begitu sampai, oke?” Max menaikkan alisnya menatap Jane yang menatapnya dan mendengarkan ucapannya dengan seksama.

“Tidak, tidak. Maaf. Aku tidak bermaksud ingin mencampuri urusan mereka. Sungguh. Tapi kalau jujur sebenarnya aku memang memikirkan itu, aku sedikit terkejut melihat mereka tadi--" Jane langsung menghentikan ucapannya, dan melirik pada Max yang tampak sedang menggodanya.

"Melihat apa?"

"Tidak ada. Ayo pulang, lurus dan di persimpangan belok kanan.”

“Baiklah...”

Jalanan malam tak seramai biasanya, apa mungkin orang-orang tidak pergi menikmati weekend mereka. Atau hanya karena keberuntungan, Max dan Jane sampai di depan apartemen bertingkat secepat kilat. Tidak butuh waktu lama dari tempat mobil itu berhenti beberapa menit yang lalu di tepi jalan.

Pepohonan yang mengelilingi bangunan bertingkat itu membuat suasana malam itu menjadi begitu dingin, angin berhembus cukup kencang menerpa siapa pun yang menghalanginya. Tampak gumpalan awan menutupi langit malam. Sepertinya akan turun hujan.

“Terimakasih,” ucap Jane setelah membuka sabuk pengaman dan berniat keluar dari mobil. Begitu salah satu kakinya hendak turun, Max menahan tangannya sehingga membuat dirinya terdiam.

“Biar ku antar,” lesung pipi di wajah Max kembali muncul saat dia tersenyum.

“Boleh. Tapi kita harus naik tangga darurat karena lift nya sedang dalam perbaikan. Tidak apa?”

“Tidak masalah.”

Max melepaskan tangan Jane, dia mengusul keluar dari mobil saat Jane sudah berada di tangga teras depan gedung apartemen. Cukup gelap kelihatannya di dalam bangunan itu, tampak beberapa lampu sudah dimatikan. Mungkin karena sudah hampir mendekati tengah malam. Max dan Jane berjalan berdampingan. Mereka menaiki anak tangga bergantian, Max dibelakang mengikuti langkah Jane.

“Kau tinggal di lantai berapa?”

“Tiga. Kalau lelah, kau bisa kembali turun dan pulang. Aku tidak enak jika membuatmu harus naik dan turun tangga malam-malam begini.”

“Aku tidak selemah itu, bukankah kau sudah melihat betapa kekarnya tubuh yang ku punya, bagaimana mungkin akan lelah jika hanya menaiki anak tangga begini.”

Penglihatan malam itu kembali muncul, tubuh pria yang menindihnya dengan telanjang dada saat itu terlintas dalam benaknya. “Ah,” Jane tidak bisa berjalan seimbang karena membayangkannya. Untung saja, ada Max yang menahan dirinya agar tidak terjatuh. Mata mereka kembali bertatapan singkat sebelum Max tersenyum dan bertanya, “Apa kau tinggal sendiri?”

Jane tidak menjawab namun dia mengangguk. Senyum di wajah Max tiba-tiba berubah menjadi tawa kecil yang nakal. Dengan mudah dan dalam waktu singkat tubuh Jane berada dalam dekapannya.

“Hei, apa yang kau lakukan. Turunkan aku, bagaimana jika ada yang melihat. Orang akan salah paham.”

“Kenapa orang lain harus salah paham, bukankah mereka tidak ada hubungannya dengan kita. Mau aku menciummu dan meniduri mu sekarang pun apa peduli mereka.”

“Max, apa maksudmu. Jangan bercanda seperti itu,” Jane menutup sebagian wajahnya yang merah merona mendengar ucapan Max dengan bersandar ke bahu pria itu.

Max menggendong Jane dan berjalan menaiki anak tangga satu persatu dengan hati-hati. Dan dia menurunkan wanita itu begitu keluar dari pintu bertuliskan angka 3. Jane langsung menyeimbangkan tubuhnya berdiri, dan bergegas menuju sebuah pintu yang terletak di ujung lorong. Dia melewati beberapa pintu yang tertutup rapat sementara Max hanya mengikuti nya dengan senyum yang masih terpasang awet di wajahnya.

“Terimakasih, aku tinggal disini.” Jane tampak gugup memberitahukan hal itu.

“Ya. Aku akan mengingatnya," Max melihat sekelilingnya. Dia sedang mengamati semua yang ada disana untuk diingat. Dan Jane tampak hanya berdiri didepannya tidak mengucapkan apapun lagi. "Apa kau tidak akan mengajakku masuk? Mungkin segelas air.”

“Ah, ya. Maaf-maaf,” Jane langsung memasukkan sandi pintu nya, untuk pertama kali sejak dia tinggal disana baru kali ini dia salah memasukkan sandinya. Bunyi bip seperti alarm bahaya itu membuatnya malu setengah mati karena Max tertawa kecil melihatnya. Mungkin karena dia memikirkan hal-hal panas di kepalanya, dia tidak bisa berpikir jernih. Dia memasukkan sandi yang salah hingga dua kali, untung saja yang ketiga kali dia memasukkan angka yang benar.

“Silahkan masuk,” Jane mempersilahkan Max untuk masuk duluan. Begitu pria itu masuk, Jane melihat sekelilingnya. Kosong. Pintu itu terkunci lagi begitu Jane masuk dan menutup pintu. Dan terkejutnya Jane langsung terperanjat kaget begitu dirinya di tarik dan didorong hingga menempel ke dinding. Max melakukannya. Jane tidak bisa melihat jelas karena lampu disana mati, namun yang dia yakini matanya sedang bertatapan dengan Max yang ada di depannya.

Setidaknya sedikit cahaya remang yang menembus jendela kaca memberikannya bantuan. Max memegang dagunya dan mengangkat nya sedikit, ujung jari jempol pria itu menyentuh bibir tebal Jane lembut. Sentuhan itu membuat Jane mengeluarkan lidahnya untuk membasahi bibirnya yang terasa mengering saat itu juga.

“Sepertinya aku tidak butuh air lagi.” Max mendekatkan wajahnya pada Jane, dengan lembut Max mengisap bibir tebal itu dengan penuh gairah dan ********** sepenuh mungkin berada dalam mulutnya. Dan dia hanya berharap wanita itu akan baik-baik saja jika dia hanya menciumnya. Dia tidak akan ambil resiko jika tiba-tiba Jane sesak nafas lagi begitu dia menyelipkan tangannya di dalam baju Jane. Dia menahan sekuat tenaga untuk menempatkan tangannya di pinggang Jane dan tidak bergerak ke tempat lain.

Max melepaskan ciumannya, dia menarik tubuh Jane untuk menempel padanya. Berada dalam pelukannya. “Terimakasih. Tapi aku tidak bisa berlama-lama, ada sedikit masalah di kantor dan aku harus mengurusnya. Mungkin aku akan sibuk beberapa hari ke depan,” Nada bicaranya jelas mengutarakan kekecewaan. Dia harus menyelesaikan masalah yang dilaporkan Dye padanya tadi siang, saat dia sedang berganti pakaian.

“Bagaimana jika kita ke Ethalos minggu depan. Apa kau ada waktu?”

“Sepertinya ada. Aku cuti, kemungkinan besar aku akan menganggur dua minggu ini, tapi managerku pergi jadi aku butuh tumpangan jika ingin kesana.” Suara Jane terdengar redup karena terhalang dada bidang Max yang menempel di pipinya.

“Tenang saja. Aku akan menjemputmu.”

Perlahan Max melepaskan tubuh Jane yang sudah memanas, dengan berat hati Max mundur dan berlalu pergi. Menghilang sesaat setelah pintu yang mereka lewati beberapa saat lalu menutup dan Jane hanya bisa melihatnya. Sepertinya itu bukan waktu yang tepat untuk mengobrol panjang dan untuk saling-- mengenal.

...----------------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!