Max berkaca di spion mobilnya, merapikan sedikit rambut pendek nya dengan jari sebagai sisir. Malam yang sunyi, tapi dia menikmatinya. Masih dingin, namun tidak sedingin saat terakhir kali dia berada disana. Angin tak bertiup kencang seperti saat itu, hanya saja terasa menggelitik saat menyentuh kulitnya.
[Apa kau sudah siap? Aku dibawah]
Max mengirim sebuah pesan di ponselnya sebelum bersandar pada mobil Bugatti hitam kesayangannya. Sebuah mobil yang baru saja dikeluarkan dari tempat pencucian, tentu saja mobil itu harus berkilau malam ini. Dia sudah sangat bersiap.
Sekitar 5 menit dia menunggu, akhirnya sosok wanita dengan gaun berwarna hitam senada dengan mobilnya muncul dari dalam apartemen. Wanita itu tampak sangat menawan dengan kilauan kelap-kelip di pakaian dan high heels yang dia pakai, Jane. Max langsung meraih tangan wanita itu begitu dia berdiri di hadapannya.
Sebuah kecupan lembut mendarat di punggung tangan Jane yang mulus. Diiringi oleh senyum manis yang menampakkan lesung pipi andalannya pada Jane.
“Kau sangat cantik malam ini, Jane.”
“Terimakasih, kau juga tampan dengan rambut baru itu Max.” Jane tersenyum padanya, bibir tebal Jane yang membentang lebar seakan menariknya. Dan benar saja, satu tarikan darinya mampu untuk membuat wanita itu berada dalam pelukannya. Max senang jika Jane memperhatikannya, tahu akan sesuatu yang berubah pada dirinya.
“Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang,” bisik Max di telinga Jane yang dihiasi anting permata berwarna biru. Nafas Max berhembus nikmat di daun telinganya, menciptakan sebuah gelombang getaran yang hebat. Getaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya, menyatu dengan aliran darah.
Max melepaskan Jane dari pelukannya, dia kembali tersenyum sembari membuka pintu mobil dan mempersilahkan Jane untuk segera masuk.
“Silahkan masuk sayangku.”
Sayangku??
Jane terdiam sejenak untuk mencerna panggilan Max padanya, tapi dia tak bisa berpikir jernih saat mencium bau parfum mobil yang tercium olehnya. Begitu menjinakkan pikirannya. Ditambah lagi seharian dia sudah membulatkan tekadnya untuk mendapatkan cinta yang baru. Mendapatkan balasan dari ketulusan cinta yang ingin dia berikan. Bukan ketulusan yang dibalas dengan anggapan kakak adik, tapi sebuah ketulusan yang dibalas dengan ketulusan.
Begitu Jane masuk dan duduk manis di kursi samping kemudi, Max menyusulnya. Dan dia akan mengendarai mobil mewah dan termahal di jalanan kota itu malam ini.
Dua puluh menit berlalu dan mereka berada di pusat kota, di depan sebuah bar mewah yang seperti anak tangga paling bawah di antara gedung-gedung bertingkat. Max menggandeng tangan Jane sangat erat, tak ingin jika wanita itu terlepaskan dari genggamannya. Dan menaiki tangga satu persatu, hingga sampai disebuah ruangan mereka masih bergandengan.
Semua mata langsung tertuju pada mereka berdua begitu keduanya masuk ke ruangan itu. Spontan Jane langsung melepaskan tangannya dari Max begitu melihat ada Devan disana. Max sedikit tercengang dengan itu, dia mengernyit melihat tangan Jane tak lagi ada dalam genggamannya. Tapi sepertinya dia tak bisa bertanya, semua orang masih menatap mereka.
“Yo. Kupikir siapa yang akan kau ajak malam ini,” Dye langsung terperanjat dari duduknya saat melihat Max masuk. Dia berdiri dan menghampiri pria itu dan Jane.
Sementara Jane melirik Dev beberapa kali dalam pandangan singkat. Dia tidak tahu pasti tapi yang jelas wajah pria itu tampak sedang tidak baik-baik saja. Sepertinya dia sedang kesal, marah atau semacamnya. Begitu Jane sampai di samping sofa di belakang Max, Devan yang duduk di depannya langsung berdiri. Dia mengambil jaket bulunya, melewati Max dan menghampiri Jane, mengalungkan jaket itu di bahunya.
“Duduklah disini, aku akan kembali.” Dev menepuk-nepuk lengan Jane, menatap mata wanita itu menunggu persetujuan. Dan Jane mengangguk.
“Ikut denganku. Kita perlu bicara.” Ucap Devan pada Max yang berada dalam rangkulan Dye. Mereka hanya bisa bertatapan mencoba mencerna situasi yang terjadi.
“Oke.” Max melirik pada Jane sebelum pergi, tapi wanita itu menunduk tak melihat padanya. Dia sedikit kecewa. Mereka pergi, meninggalkan Jane, Dye, dan seorang pria lagi bernama Alex.
**
Di lorong, depan ruangan.
Buk.
Satu pukulan melayang dari kepalan Devan, membuat Max teroleng dengan pukulan yang tiba-tiba diberikan padanya.
“Apa maumu sekarang? Aku sudah menahannya sejak kejadian di apartemen mu, dan minggu lalu... Kau membuatnya tak sadarkan diri lagi. Dan sekarang apa hakmu membawanya kesini, sebagai apa? Wanitamu? Tidak, tidak mungkin. Atau kau hanya membawanya untuk jadi mainanmu malam ini, ha?”
Max mengelus tepian bibirnya yang berdarah, dia tersenyum sinis.
Buk.
Max membalaskan pukulan itu dengan keras, dua kali lipat. “Kau sungguh tak tahu malu, apa hak ku membawanya ke sini? Haha, jangan melucu di depanku Dev. Lalu bagaimana dengan mu? Apa hubunganmu dengannya? Membuat cintanya bertepuk sebelah tangan kemudian bertunangan. Kau bukanlah tipikal pria yang tidak peka akan hal itu, Dev. Tidak mungkin kau tidak menyadarinya jika dia menyukai mu. Jadi karena kau sudah bertunangan bukankah seharusnya kau tidak mencampuri urusannya lagi dan urus saja tunangan mu?”
“Itu bukan urusanmu, kau tidak tahu apa-apa. Aku memperingatkan mu, jika kau hanya ingin bermain dengannya berhenti sekarang juga. Aku tidak akan mentolerir nya meskipun kau sahabatku. Dan aku tidak akan tinggal diam jika kau berani menyakitinya. Ingat itu, aku memperingatkan mu.” Devan berjalan menjauh dari Max dan hendak kembali ke dalam.
“Aku menyukai nya. Aku tidak tahu itu mulai sejak kapan, tapi aku selalu memikirkannya. Dan aku sangat yakin dengan itu."
Pengakuan yang diutarakan oleh Max membuat Devan terdiam, terpaku di depan pintu. Devan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan. Dia kembali menghampiri Max yang tak jauh darinya.
“Haha. Apa ini yang baru saja ku dengar, Max? Kau mengatakannya lagi... Aku ingat dengan jelas apa yang kau ucapkan saat itu, sama persis seperti yang ku dengar sekarang. Saat kau bilang padaku kau menyukai seorang wanita untuk pertama kalinya. Oke, anggap saja sekarang berbeda. Lalu apa yang membuat kau menyukainya. Aha, biar ku tebak, apa kau menyukainya karena dia tidak menginginkan apapun darimu? Dia tidak meminta apapun padamu. Begitu?”
Max tidak menjawab, dia terdiam seakan mengakui jika tebakan Devan benar akan akan alasannya. Dan karena memang itulah kenyataan nya.
"Kenapa diam? Apa aku benar?" Devan meraih kerah baju Max dan kembali bertanya, "Jawab aku, aku benar atau salah?"
Buk. Satu pukulan kembali mendarat di wajah Max karena dia hanya diam tak menjawab. "Apa yang kau pikirkan, ha? Kau--"
Pranggg.
Terdengar suara pecah dari dalam ruangan. Max dan Dye langsung menghentikan pembicaraan mereka.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments