Ditolak

"Apa kamu masih lama Shar?”

“Tidak. Ini aku sedang ingin ke sana, apa pemotretan nya sudah selesai?”

“Sudah, tapi aku masih di tempat pemotretan, aku menunggumu karena kelaparan disini. Tak bisakah kau cepat datang.” Jane memutuskan sambungan panggilan itu saat mendengar ke persetujuan dari managernya. Dengan sedikit keraguan, dia kembali pada pria yang mendatanginya tadi.

“Hemm. Maaf sudah membuatmu menunggu. Ada apa, ya?” Jane berusaha senormal mungkin untuk tidak menampakkan kegelisahannya. Dia masih cukup gugup untuk berurusan dengan pria sendirian, karena biasanya Shara managernya yang selalu menemani dan membantunya bicara dengan pria asing.

Max tersenyum melihat gerak gerik wanita didepannya, wanita itu tidak tampak terpukau dengan ketampanannya. Dan juga wanita itu tampaknya tidak nyaman dengan keberadaannya. Namun Max tak mengindahkan semua itu. Dia melepas kacamata hitam yang dipakainya, memegangnya dengan tangan kiri sementara dia menjulurkan tangan kanannya berniat untuk berjabat tangan.

“Max.” ucapnya singkat. Dia menatap Jane sambil tersenyum, menampakkan senyuman mautnya dengan lesung pipi miliknya.

Jane terdiam sesaat begitu matanya bertatapan dengan mata biru Max sebelum berjabat tangan. “Jane.”

Namun tak berselang beberapa detik setelah kedua tangan mereka terlepas terdengar bunyi yang dapat di dengar dengan sangat jelas oleh Max. Bunyi yang tidak asing, bunyi dapat dikenali dengan mudah. Perut Jane mengeluarkan bunyi itu. Dia lapar, dia tak sempat sarapan karena jadwal pemotretannya dipercepat dari waktu yang sudah di tentukan.

“Ingin sarapan? Aku tahu tempat makan yang enak di dekat sini.” Max kembali memasang kacamata nya. Berdiri dengan angkuh sambil menunggu persetujuan dari wanita yang masih tampak ragu dengannya.

“Jane…”

Dari kejauhan terdengar seseorang memanggilnya. Jane berbalik ke belakang dan mencari sumber suara yang menyebut namanya, itu Shara. Dia melambaikan tangan pada Jane untuk memberitahukan keberadaannya. Jane merasa lega bisa melihat Shara datang tepat waktu sehingga dia punya alasan untuk menolak ajakan pria tampan yang tampak mencurigakan itu. Dia terselamatkan.

“Ah, maaf sekali. Sepertinya teman saya sudah datang.” Jane tersenyum sebelum berpamitan pada Max yang tampak tidak senang dengan keputusannya. Meskipun matanya tertutup oleh kacamata hitam, tapi raut wajahnya sangat menampakkan kekecewaannya. Sedangkan wanita itu sudah menghilang dari hadapan Max dalam hitungan detik bahkan sebelum dia sempat untuk mengiyakan kepergiannya.

“Dia—menolak ku? Aku?”

Max menyeringai singkat melihat punggung Jane yang semakin menjauh dan menghilang di balik kerumunan orang. Sementara dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya sekarang. Seakan bermimpi, seakan ilusi yang tak pernah terbayangkan olehnya. Dia ditolak oleh seorang wanita.

Dye yang melihat kejadian itu dari kejauhan sudah tertawa terbahak-bahak. Apalagi melihat Max yang ditinggalkan begitu saja, dia tidak bisa menahan tawanya. ‘Ternyata wanita itu punya nyali juga,’ batin Dye. Sudah lebih 20 tahun dia berteman dengan Max, dan tidak ada seorang pun perempuan yang akan menolak pria itu. Bahkan tidak ada yang sanggup menolak untuk berbicara dengannya. Meskipun tau hanya akan menjadi mainan bagi Max tapi tidak masalah jika itu bisa membuatnya menjadi seorang putri dalam sehari.

“Haha, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku pikir dia akan menyodorkan dada binal nya itu begitu melihatmu. Tapi apa itu tadi? Haha.” Dye masih belum berhenti tertawa, dan Max hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar ke udara. Dia tak ingin menghiraukan temannya itu, mengingatnya saja sudah membuatnya malu setengah mati. Seorang Max Miller—Ditolak?

“Tunggu saja, aku akan membuatnya berlutut di hadapanku untuk ku tiduri.” Terdapat keyakinan yang tinggi pada nada bicaranya.

Dye hanya mengangguk-angguk sambil berusaha menghentikan tawanya mendengar tekad bulat yang seperti sudah dipastikan hasilnya itu. Meskipun sebenarnya dia ragu dengan kenyataan hasil yang akan terjadi nantinya. Namun dia tidak akan meremehkan sang raja perayu wanita itu, mungkin saja hasilnya sesuai dengan nada menang yang dia dengar—atau sebaliknya.

“Apa kau meremehkan ku?” ucapan Max sontak membuat Dye terdiam dan langsung terpaku tak bergerak.

“Tidak Tuan, saya akan mendukung anda dengan sepenuh jiwa dan raga,” balas Dye dengan suara bulatnya yang lantang sembari memberi hormat pada pria yang tampak sudah dipuncak kekesalannya itu.

**

Jane dan Shara menikmati sarapan pagi mereka di balkon hotel yang menghadap langsung pada keindahan desiran pasir pantai yang memanjakan mata.

“Siapa pria tampan tadi?” tanya Shara sambil menyuap potongan pastry ke mulutnya.

“Maksudmu pria bermata abu-abu itu? Entahlah. Namanya—siapa ya,” Jane berpikir sejenak sembari menghancurkan makanan yang masih penuh di dalam mulutnya, “Oh iya, Max. Namanya Max.”

“Bermata abu-abu? Maksudmu dia memakai softlens?” Shara menatap Jane tidak percaya. Siapa yang begitu berniat untuk memakai softlens saat berjemur di pantai. Dan Jane hanya mengangguk sebagai bentuk responnya atas ucapan Shara. Untuk membedakan mata asli dan softlens tidak lah sulit bagi wanita yang sudah bergabung dalam dunia permodelan selama dua tahun, dia bisa mengenalinya dengan mudah.

Sambil menghabiskan makanannya, Jane mengamati keadaan di luar pagar hotel. Tampak beberapa orang yang berlalu lalang, ada yang membawa kotak rotan, ada yang membawa papan selancar, ada yang membawa gulungan permadani, bahkan ada yang sempat melirik ke arahnya sambil mengedipkan sebelah matanya meskipun sudah ada seorang wanita disamping pria itu. Lelaki memang tidak cukup dengan satu wanita.

Sudah agak panas diluar, Jane masuk ke dalam tanpa menutup pintu yang memisahkan kamarnya dengan balkon tempat dia duduk beberapa saat yang lalu. Dia masuk tanpa menutup pintu yang terbuat dari kaca itu, dia hanya berjalan melewatinya. Langkahnya diikuti oleh kibasan tirai putih yang menggantung di atas pintu.

Jane mengambil ponsel yang ada di atas tempat tidur, dia melihat pesan yang masuk di ponselnya. Sepertinya pesan itu sudah dikirimkan padanya dari dua jam yang lalu, sebelum dia meninggalkan ponselnya di hotel dan pergi untuk melakukan pemotretan di tepi pantai. Jane tersenyum membaca isi pesan yang tertera di layar ponselnya.

[bagaimana perjalananmu?]

[apa kau sudah sarapan? aku sudah memberitahu Shara tempat sarapan yang enak disana.]

[…]

Setelah membalas pesan itu, Jane membuang kembali ponselnya ke atas tempat tidur. Dengan wajah berseri-serinya, dia berjalan mendekat pada Shara yang duduk di kursi panjang dari rotan yang ada di dekat jendela. Dia tampak sibuk dengan iPad yang ada ditangannya. Ternyata dia sedang memandangi satu persatu foto Jane di pantai pagi ini. Jane pun yang berdiri dibelakangnya ikut melihat pose dirinya yang tampak seperti model papan atas itu. Itu bukan hanya sekedar anggapan tapi kenyataan. Model yang selalu mendiami peringkat atas di industri mode. Jane Morgan.

...----------------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!