Demam

Lihat. Dia masih dengan sombongnya datang kesini. Apa dia sungguh tidak tahu malu. Huu, dasar pelacur. ******. Lihat wajah menyebalkannya itu, dia masih punya nyali untuk datang. Tidak tahu malu. Apa yang ada dipikirannya. Dia pikir dia masih ratu sekolah ya? Haha, lucu sekali. Jalang—tidak tahu malu...

“Hah, hah—huh.” Jane terduduk di atas tempat tidurnya yang empuk. Dadanya sesak, nafasnya cepat dan keluar tak beraturan. Membuatnya hampir tidak bisa bernafas, kejutan di kepala nya masih sangat terasa menyakitkan saat dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Terbangun dari mimpi buruk yang selalu mendatanginya dan masuk ke dalam bunga tidur dan menghantuinya sejak 10 tahun terakhir.

Dengan tangan yang gemetar dan badan yang kaku, Jane berusaha meraih botol obat yang ada di atas meja dekat ranjangnya. Dia memakan dua sampai tiga pil obat sekaligus dalam dua kali ulangan, mungkin lebih dari lima pil yang dia makan. Jane menelannya sekuat mungkin tanpa air, berharap bisa langsung meredakan sakit yang dia rasakan.

Ponselnya berbunyi, sebuah pesan dari layanan kartu masuk ke ponselnya. Bunyi yang seharusnya pelan itu menjadi cukup nyaring di keheningan malam yang sudah hampir berlalu. Dini hari, pukul empat lewat satu menit. Jane berusaha mengatur nafasnya, dia kembali membaringkan tubuhnya. Dia masih berusaha sekuat tenaga untuk bisa menenangkan tubuhnya yang gemetar dan pikirannya yang berlarian kian kemari tak karuan. Hingga membuatnya kembali tertidur.

Matahari muncul dari balik gedung tinggi yang bersebelahan dengan sebuah apartemen bertingkat tempat Jane tinggal, Los angeles. Dia sampai di kota itu sore kemarin, tepat pukul enam sore sebelum matahari terbenam sepenuhnya. Tak lama setelah cahaya mentari pagi berusaha menembus masuk lewat celah tirai jendela yang tertutup, seseorang masuk ke kamarnya.

Shara membuka pintu setelah nada bip berbunyi tanda kunci pintu bersandi berhasil dibuka. Dia menyapa Jane untuk membangunkannya. Shara Zoel, manager sekaligus teman yang sudah bersamanya sejak kecil atau bisa dibilang mereka sudah seperti saudara hingga sekarang. Satu-satunya orang yang dimiliki oleh Jane dalam hidupnya setelah dia kehilangan kedua orang tuanya saat dia berumur tujuh belas tahun.

Shara meletakkan tas hitam kecil yang disandangnya di sofa, mengambil remote yang ada di atas meja dan menekan sebuah tombol yang membuat tirai besar yang menutup jendela tiba-tiba terbuka dengan sendirinya hingga membuat cahaya matahari yang berusaha masuk bisa menembus jendela kaca dengan mudah. Tepat menyinari Jane yang masih terbaring di tempat tidurnya.

Shara memanggil namanya beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Hingga dirinya berinisiatif untuk membangunkan Jane, dia memegang pipi Jane yang tirus dengan lembut. Begitu telapak tangannya menyentuh kulit Jane, dia langsung menarik tangannya kembali. Seperti dia sedang menyentuh air panas yang sedang mendidih.

“Panas sekali,” Shara mengecek lagi untuk memastikan. Dari kening dan terus ke leher Jane, panas. Sangat panas dari suhu normal yang pernah dia rasakan. Wajah Jane begitu merah dan badannya menggigil, keringat yang ada di pelipisnya membuat dia seperti baru selesai berolahraga. Meskipun itu bukan pertama kalinya dia melihat Jane seperti itu, tapi tetap saja sifat panik nya tidak bisa hilang.

Dengan sigap Shara kembali mengambil tasnya yang ada di sofa, mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Sambungan telpon berbunyi cukup panjang sebelum seseorang di seberang telpon menjawab panggilannya.

“Halo, Dev. Kamu dimana? Jane tiba-tiba demam lagi. Bisakah kau kesini dan membantuku untuk membawanya ke dokter?”

Meskipun panggilannya sudah di jawab tapi dia masih saja tetap panik. Dan sekarang yang membuatnya lebih panik adalah lawan bicaranya. Seharusnya itu seorang pria tapi kenapa suara yang dia dengar adalah seorang wanita?!

“Oh Shara, ya. Dev sedang mandi, tapi sepertinya dia tidak bisa membantunya. Dia ada rapat penting pagi ini. Tidak bisakah kau menghubungi orang lain?!”

Shara yang mendengarnya langsung mematikan telfon tanpa menjawab lagi. Dia kesal namun dia tidak bisa memikirkan egonya sekarang. Jane, modelnya, bukan. Sahabatnya sedang terbaring sakit dengan panas tinggi di depannya. Dia harus melakukan sesuatu, tapi yang jelas sepertinya dia tidak akan bisa meminta bantuan pada pria yang sudah punya tunangan.

Dia harus berpikir—harus. Siapapun itu, siapapun yang bisa—membantunya. Namun tidak ada orang lain yang terfikirkan olehnya. Bukankah memanggil ambulans terlalu berlebihan, tapi apa lagi yang dapat dilakukannya selain itu. Hanya itu pilihannya.

Tepat sebelum dia menekan tombol panggil untuk menghubungi 911, sebuah panggilan masuk.

[Devan]

Dengan keraguan bercampur dengan gelisah, Shara menjawab telpon itu. Suara pria, dia lega.

“Shara. Ada apa? Apa Jane baik-baik saja?”

“Dev. Kau kah itu?”

“Ya. Ini aku.”

“Dev, Jane panas sekali. Sepertinya dia demam tinggi lagi. Aku sungguh tidak tahu harus menghubungi siapa. Bisakah—”

“Tunggu aku. Tetaplah dengannya.”

Tut—tut. Panggilannya terputus sebelum Shara bisa menyelesaikan kalimatnya. Tapi dia bisa tenang mendengar ada seseorang yang dapat membantunya. Shara kembali ke dekat Jane, dia menyelimuti Jane sepenuh mungkin menutupi tubuhnya. Dan juga dia mengelap keringat yang masih terus muncul di pelipis Jane. Shara membasahi handuk kecil dan menaruhnya di kening Jane, berharap setidaknya sedikit panas nya bisa turun hingga orang yang dia hubungi tadi datang. Devan Smith.

Devan Smith, seorang direktur yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Jane sejak mereka pertama bertemu di kampus. Berkuliah di universitas dan jurusan yang sama, membuat mereka menjadi dekat. Dan sekarang dia menjadi teman sekaligus bos pemilik perusahaan mode yang punya banyak model. Dan Jane adalah salah satu model yang berada dalam naungan perusahaan yang dipimpin oleh pria itu. Meskipun pria itu sudah memiliki calon tunangan dan akan bertunangan bulan ini tapi hubungannya masih tak berubah dengan Jane dan Shara sebagai teman yang pernah saling mengenal dekat.

Nada bip di pintu kembali terdengar, ada seorang yang membuka pintu. Seorang pria bergegas masuk dan menghampiri Jane yang masih terbaring setengah sadar di atas ranjang. Dia menempelkan tangannya ke kening Jane sebelum mengangkatnya dengan berbalut selimut tebal yang masih merekat erat pada tubuhnya.

Devan tak bertanya banyak pada Shara, dia hanya bertanya apa yang terjadi dan Shara hanya bisa menjawab tidak tahu karena dia tidur dirumahnya semalam. Dia sudah tidak tinggal dengan Jane lagi, seorang wanita yang sudah menikah beberapa bulan lalu tentu saja akan tidur dengan suaminya di rumah.

Pria itu tidak mendapat jawaban yang di mau tapi ada sesuatu yang terlintas di pikirannya, setelah dirinya melihat botol obat yang ada di atas meja terbuka. Karena panik, Shara bahkan tidak menyadari hal itu.

Devan keluar dari apartemen itu sambil menggendong Jane yang terbalut selimut ke dalam mobil yang terparkir di depan gedung. Diikuti Shara dibelakangnya.

...----------------...

Terpopuler

Comments

YouTube: hofi_03

YouTube: hofi_03

ketagihan bacanya 😁

2023-09-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!