Gedung bertingkat dengan tujuh puluh tiga lantai dan terletak di pusat kota Los Angeles. Max dan Jane sedang berada di dalam lift yang ada di dinding luar gedung, sehingga mereka bisa menikmati pemandangan gemerlap lampu malam kota yang indah. Ditambah dengan pemandangan langit malam yang di hiasi bintang bintang yang bersinar terang mengelilingi bulan. Berdua.
“Apa kamu model di perusahaannya?” Max tiba-tiba bertanya ditengah keheningan yang cukup lama sejak mereka masuk ke dalam lift. Tapi Jane tampak bingung dengan pertanyaan nya. “Ah maksudku, Dev. Apa kamu bekerja dengannya?”
“Oh, iya.” Jane berkata di sertai anggukan benar atas ucapannya.
Dev? Apa mereka dekat? batin Jane.
“Bagaimana denganmu? Apa kamu rekan bisnis atau—temannya?”
Max berpikir sejenak sebelum menjawab. “Kalau dipikir-pikir keduanya bisa. Aku butuh agensinya untuk promosi dan kami menjalin beberapa kontrak kerja. Tapi aku disini sebagai teman bukan rekan bisnis. Karena aku jarang hadir di acara seperti ini jika itu hanya rekan bisnis.”
“Hemm. Sepertinya kalian cukup dekat.”
“Ya begitulah. Kami sudah berteman sejak kecil. Kau tahu, tetangga selalu bisa menjadi teman.”
“Benarkah? Tapi benar juga, akan aneh jika tetangga tidak dekat. Tapi aku belum pernah melihatmu sebelum ini,” Jane melontarkan pertanyaan yang terlintas di pikirannya, berharap tidak akan ada kecanggungan di antara mereka.
“Oh itu karena keluarga ku pindah ke Italia saat aku lulus sekolah, jadi aku berkuliah disana. Dan aku kembali kesini empat tahun lalu, kami hanya akan bertemu sesekali saja. Kau tau karena pekerjaan, tapi karena kau bertanya sepertinya kalian sering bertemu.”
Jantung Jane berdegup kencang saat mendengar pertanyaan itu. Pikirannya langsung serasa kacau karena takut jika dia salah menjawab dan membuat kesalahpahaman.
“Kami—aku dan dia tidak terlalu dekat. Aku model di perusahaan nya, dan dia bos ku. Kami cukup sering bertemu di sana.”
“Oh begitu, kupikir kalian dekat karena kau bilang dia seniormu sebelum ini…”
"Ya, bisa juga di bilang begitu."
Max mengernyit mendengarnya, jadi mereka dekat atau bukan.
Pintu lift terbuka, Max mempersilahkan Jane untuk keluar terlebih dahulu. Langkah pendek Jane disusul oleh Max, hingga keduanya berjalan sejajar. Tampaknya dia harus melakukan sesuatu, Max melihat leher hingga bahu wanita itu. Lampuu redup di parkiran membuat gairah seksualnya ingin menginginkan leher itu ada di mulutnya. Dengan cepat Max memalingkan matanya, dia tidak bisa bergerak gegabah untuk berurusan dengan wanita seperti Jane. Itu harus sesuatu yang dilakukan atas kemauan satu sama lain.
Max membuka jasnya dan mengalungkannya di bahu Jane, langkah wanita itu langsung berhenti begitu merasakan sesuatu yang hangat menyentuh kulitnya. Dia melirik ke arah Max, namun pria itu hanya tersenyum menyatakan ke-tidakberatannya memberikan jas itu padanya. “Terimakasih,” Jane menyatukan kedua belahan jas itu di depan dadanya. Jas itu sungguh besar untuk badannya yang ramping, hingga bisa menutupi buah dadanya yang tampak menyembul seakan menembus gaun miliknya sedari tadi.
“Tunggu disini,” pinta Max padanya sebelum berlalu pergi dan meninggalkannya. Begitu mendengarnya, Jane langsung berdiri mematung hingga pria itu kembali. Dia mengambil ponsel di tasnya, mengirim pesan pada Shara jika dia pulang duluan. Dan tak lama sebuah mobil ‘Bugatti La Boiture Niore’ berhenti di depannya. Mobil hitam yang berkilau itu sempat membuatnya terpaku dan hanyut dalam pandangan yang hanya terfokus ke sana, hingga seorang pria yang dikenalnya keluar dari mobil, membukakan pintu untuknya dan memintanya untuk masuk.
Sebuah mobil yang akan membuatnya harus bekerja sebagai model bertahun-tahun lagi jika ingin memilikinya. Dan mobil itu ada di depannya sekarang, dan dia tidak sedang bermimpi. Tidak--tidak Jane kendalikan dirimu.
Jane mengatur nafasnya dan kembali melangkah dengan kaki jenjangnya yang tertutup gaun tipis. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi, wanginya sangat mengenakkan. Lebih enak dari pada parfum mobilnya yang baru diganti oleh Shara beberapa hari yang lalu. Aroma yang menenangkan. Max menutup pintu dan ikut masuk ke dalam mobil dengan pintu yang berbeda.
Dia mengemudikan mobilnya keluar dari lahan parkir besar di bawah gedung. Keluar dari pekarangan hotel bintang lima itu dan bergabung dengan mobil-mobil yang ada di jalanan kota begitu Jane mengatakan untuk berbelok ke kanan.
Sepuluh menit berlalu.
“Jadi dimana rumahmu?”
Bau parfum itu pasti membuatnya terasa aman dan damai. Jane tidak menjawab pertanyaan dari Max dan ternyata dia tertidur. Max melirik ke arahnya karena tidak ada jawaban. Dia mendesis nikmat melihat wanita itu tertidur dan bersandar ke arah jendela mobil, yang membuat lehernya yang jenjang terpampang jelas di mata Max. Sebisa mungkin dia harus menahannya, Max menelan ludahnya sembari berpikir kemana arah yang harus dia tuju. Dan sekarang yang ada di pikirannya hanya kamar. Sebuah ruangan yang menjadi tempat untuk mereka bercinta. Hotel, motel--atau apartemennya.
Max memarkirkan mobilnya di tepi jalan, dibawah sebuah pohon besar yang rindang. Dia kembali melirik pada Jane, dia tidak tega untuk membangunkan wanita itu. Dan dia harus kembali ke pesta pertunangan itu sebelum tengah malam, sepertinya dia tidak punya pilihan lain karena yang terdekat adalah apartemennya. Hanya berjarak sepuluh menit dari tempat dia sekarang.
“Oke.” Max menghidupkan mesin mobilnya dan kembali melaju di jalan. Dia menambah kecepatannya, hingga kurang sepuluh menit dia sudah sampai di depan pintu apartemen gedung bertingkat tempat dia tinggalnya. Dan ternyata Jane masih tertidur dengan pulas disampingnya. Max mengubah letak kepala wanita itu ke arahnya sebelum keluar dari mobil dan berencana untuk menggendong wanita itu, berniat meninggalkannya di apartemennya malam ini. Karena dia tidak akan pulang malam ini, jadi setidaknya wanita itu akan aman--darinya.
Dengan hati-hati Max membuka pintu mobil dan menunduk untuk membuka sabuk pengaman yang menyilang di tubuh Jane.
Baru terdengar bunyi klik tanda sabuk pengamannya terbuka, tiba-tiba Jane menoleh ke arahnya. Membuat wajah mereka berdua berhadapan, sangat dekat hingga Max bisa merasakan hembusan nafas wanita itu. Max hanya terdiam sejenak menatap wajah putih yang tampak hanya diolesi sedikit makeup itu, dan matanya terhenti kembali pada bibir tebal Jane yang merah merona. Ingin sekali rasanya dia mencium wanita itu sekarang. Sangat—ingin.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan?”
Seorang lelaki tua yang mengenakan baju satpam tiba-tiba muncul di samping mobilnya, mungkin karena dia mengira Max akan mengangkat barang atau semacamnya karena lama berdiri di samping mobil.
“Ah tidak, terimakasih,” Max menjawab senatural mungkin sembari mengendalikan pikirannya. Dia membawa Jane dalam dekapannya masuk ke apartemen mewah itu.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments