Dentuman musik dan kilauan lampu yang menari-nari mengisi seluruh sudut bar, membuat Jane tak bisa menahan diri untuk tetap diam dan hanya melihat. Akhirnya dia bergabung dengan kerumunan orang yang sedang menari bebas di tengah-tengah. Jane menggerakkan pinggulnya dengan begitu lentur, gairahnya melebihi wanita bar yang sedang menari di panggung. Dengan baju kaos ketat dan celana pendek di atas lutut mendukung gerakannya.
Jane keluar sebentar dari kerumunan, dia menghentikan seorang pelayan yang membawa nampan berisi gelas yang penuh dengan alkohol. Itu adalah minuman yang mempunyai efek yang pekat, bisa membuat orang yang meminumnya menjadi mabuk berat. Pelayan itu sempat ternganga melihat Jane yang langsung menghabiskannya dalam sekali tegukan, dia hanya bisa geleng kepala sebelum pergi. Sementara Jane kembali ke dalam kerumunan itu dan kembali sibuk dengan para wanita dan pria yang sedang bergembira menikmati musik yang mereka dengar.
Di luar kerumunan, tampak Shara yang sedang kebingungan mencari keberadaan Jane. Dia duduk di kursi bar sembari di temani oleh barista bar yang merupakan suaminya, Tom Anderson.
“Apa kau sedang mencari Jane?” tanya Tom sambil memberikan segelas kecil cocktail pada istrinya, Shara.
“Ya. Aku hanya pergi ke toilet sebentar dan dalam sekejap dia menghilang. Ah, pergi kemana dia.”
“Biarkan sana dia bersenang-senang. Apa yang kau cemaskan, dia pasti akan baik-baik saja.”
“Hemm. Semoga saja.” Shara meminum seteguk minumannya dan menatap pada Tom yang masih berdiri di seberang meja di depannya. Satu kecupan singkat menempel di bibir Tom. Pasangan pasutri itu tersenyum bersamaan, Tom yang melihat tidak ada pelanggan yang meminta minum membalas kecupan itu dengan ciuman dalam, cukup ampuh untuk bisa membuat Shara menjadi tenang dan tak memikirkan Jane. Untuk sementara.
**
“Haha, aku kira kau tidak akan datang.” Dye menghampiri seorang pria berjaket kulit yang baru saja masuk ke dalam ruangan VVIP di lantai atas. Ruangan khusus untuk mereka, pemilik tempat itu. Dia merangkul Max sambil melangkah lebih dekat ke sofa.
“Dimana Dev?” Max melihat ke sekelilingnya dan tidak ada siapapun di ruangan itu selain mereka berdua.
“Entahlah, kata nya dia agak terlambat. Mungkin dia butuh waktu untuk mendapatkan izin, haha.”
“Cih.”
Yo baby… Cium, cium, cium…
Terdengar ribut di lantai bawah, Max dan Dye langsung berdiri dan berjalan mendekat ke sumber suara, mereka melihat orang-orang dari balik jendela kaca yang gelap. Tampak heboh di bawah sana, orang-orang tampak sedang meneriaki seorang wanita di panggung dengan beberapa pria. Wanita sexy dengan baju ketat dan gerakan tubuh nya yang menggoda.
Mata Max langsung melotot begitu melihat wanita itu. Seseorang yang dikenalnya, itu Jane. Teriakan dari kerumunan di bawah semakin keras saat seorang pria naik ke atas panggung, yang membuat beberapa pria yang ada di atas sana sedari tadi langsung turun. Menyisakan dia dengan Jane di sana.
Jane membelai dada pria itu dengan jemarinya yang lentik, melihat hal itu Max mengepalkan tangannya dan langsung bergegas keluar dari ruangan. Secepat mungkin dia harus sampai dibawah, secepatnya. Max melewati kerumunan dengan sedikit kasar, dia mendorong siapapun yang menghalangi jalannya, tepat sebelum pria itu dan Jane berciuman Max berada di atas panggung. Dia menarik Jane dan satu ciuman itu mendarat di bibir tipisnya. Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan semakin memanas. Semua orang mendesis nikmat melihatnya kecuali pria lain yang berdiri di panggung, pria itu tampak kesal namun tetap bisa menyunggingkan sebuah senyuman tipis sebelum melompat untuk turun.
Ciuman itu terlepas, Max menatap mata Jane yang berkaca-kaca. Mereka berdua bertatapan namun sepertinya pikiran Jane tidak sedang berada padanya. Dia melihat ke arah Max, tapi seperti tidak. Max mengernyit, dia menggendong wanita itu dan turun dari panggung bagian belakang, yang langsung menghubungkannya dengan lorong yang berisikan beberapa ruang. Max secara acak masuk ke salah satu ruangan, ternyata kosong. Itu membantunya. Setidaknya dia tidak akan bolak balik untuk memeriksa satu persatu ruangan mana yang kosong.
Max menghempaskan tubuh Jane di sofa, dia sungguh sudah tidak tahan lagi dan dia pasti akan menyesalinya jika tidak mengambil kesempatan itu sekarang. Jane yang terbaring itu membuatnya bisa memandang dua bukit kembar dengan jelas, seperti memanggilnya. Max menelan ludahnya dalam, keputusannya sudah bulat. Wanita itu miliknya malam ini. Max melepaskan jaket kulitnya, menindih Jane di bawahnya sembari membuka kaos yang menutupi tubuh bagian atasnya. Memaparkan dada bidang dan perut berotot yang dia miliki.
Jane mengalungkan tangannya di leher Max saat pria itu menunduk padanya. Keduanya kembali melanjutkan ciuman mereka yang terputus di panggung. Sementara ciuman itu berlangsung, jemari Max menyusuri tubuhnya. Max menghentikan ciumannya dan berpindah ke leher Jane. Akhirnya leher itu berada dalam mulutnya. Keinginan nya terpenuhi. Max menggigitnya kecil membuat Jane mengerang pelan.
Pendingin ruangan itu sepertinya tidak bekerja, atau—memang ruangannya yang menjadi panas. Jane gemetar saat telapak tangan Max menyentuh salah satu bukit kembar miliknya, serasa seperti sebuah sengatan di kepala. Dengan sekuat tenaga yang dia punya, dia menempelkan tangannya di bahu Max, berusaha mendorong tapi pria itu tak menghiraukannya. Hingga Max merasakan getaran aneh saat mencium perut Jane.
“Se—sesak. Aku tidak bisa—nafasku.”
Melihat wajah Jane yang memucat dan tubuh wanita itu yang melemah membuat Max langsung menghentikan kegiatannya. Dia langsung berdiri dan berjongkok di samping Jane. Wanita itu menutup matanya sangat erat. Dan tidak bisa bernafas dengan benar. Max memegang tangannya. “Lihat aku,” pinta Max.
Max mengucapkannya beberapa kali, tapi Jane tidak juga membuka matanya. Hingga Max menyelipkan tangannya di leher Jane dan mengangkat kepala wanita itu untuk mengarah padanya.
“Buka matamu perlahan, lihat aku. Jane, lihat aku.” Max masih berusaha. “Jane, kumohon. Buka matamu.”
Akhirnya Jane membuka matanya meski hanya sedikit, tapi itu sudah cukup bagi Max.
“Sekarang tarik nafasmu perlahan, tarik dengan hidung mu dan keluarkan lewat mulut. Perlahan.” Max kembali memberikan perintah pada Jane. “Lihat aku, jangan tutup matamu, Jane.” Dia kembali berkata begitu mata Jane akan kembali menutup. “Tetaplah seperti itu dan atur nafasmu. Oke. Ikuti aku, perlahan saja. Tarik…buang…”
Beberapa menit berlalu dan akhirnya Jane bisa tenang. Max menyandarkan tubuhnya yang masih bertelanjang dada di sofa dekat Jane berbaring. Dia menghembuskan nafasnya perlahan dan menatap langit-langit ruangan sebentar sebelum menutup mata.
“Tidak, aku-aku, … dia, itu…”
Gumaman tak jelas yang didengarnya dari mulut Jane membuatnya memandang wajah wanita itu, tatapannya tak bisa berbohong jika dia belum merasa puas. Tapi dia sungguh tidak bisa melanjutkannya. Apakah dia terlalu terburu-buru untuk melakukannya tanpa tahu apapun tentang wanita itu? Untuk sekarang jika disuruh memilih untuk mencari tahu tentang Rose atau Jane, dia akan memilih Jane.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments