Aku Percaya Padamu

Jane duduk di ranjangnya dengan selimut yang menutupi tubuhnya dari pinggang hingga ujung kaki. Dia melamun, dan matanya tak berkedip sekali pun. Tiba-tiba Dev datang sembari memberinya segelas air putih hangat. Dia tak berekspresi. Dia menatap lurus dan kaku.

“Aku tidak bisa menjaga kesucianku. Apa aku akan terus di salahkan seumur hidupku? Seburuk itukah... Mereka tidak tahu apa yang terjadi dan tidak ada yang mempercayai ku,” Jane menatap air yang bening tanpa noda di dalam gelas. Sekilas dia bisa melihat dirinya. “Semua orang menatapku jijik, seakan melihat kotoran.”

Devan duduk di tepi ranjang, dia meraih tangan Jane yang terluka akibat pecahan kaca dan mengobatinya. “Jane.. Semua orang punya masa lalu, punya masa kini dan masa yang akan datang. Mereka meninggalkan apa yang terjadi di masa lalu, dan menjalani masa sekarang untuk kehidupan mereka di masa depan. Kau juga bisa Jane, kau juga bisa meninggalkan masa lalu itu dan menjalani hidupmu yang baru.”

“Begitu ya. Mungkin kau benar semua orang punya masa lalu, dan sepertinya kau punya kenangan yang indah sehingga kau hanya perlu mengingatnya, bukan melupakannya. Tapi bagaimana dengan ku? Aku tidak bisa keluar dari sana meski ingin, karena kenangan itu sudah menjadi trauma bagiku. Kau tidak bisa menyamakan goresan dengan luka, Dev. Kau tidak akan bisa mengerti bagaimana rasanya di posisiku.”

“Bukan begitu maksudku, aku—.”

“Aku ingin sendiri.” Jane langsung menarik tangannya dari Devan, dia tak ingin mendengar apapun lagi dari pria itu.

“Tapi Jane,..”

“Tinggalkan aku sendiri?!” Jane membentaknya. Pertama kali baginya berbicara dengan nada tinggi pada Dev yang selalu dia puja. Langsung membuat pria itu mengerti dan pergi meninggalkannya.

“Baiklah. Hubungi aku jika kau butuh sesuatu.” Devan mematikan lampu dan menatap Jane di ambang pintu dengan perasaan kecewa sebelum menutupnya. Dia sangat ingin tetap disana, tapi sepertinya wanita itu sangat tidak menginginkan kehadirannya.

Jane tidak menjawab, dia tak akan mengiyakannya karena dia tidak butuh apapun dan siapa pun saat ini. Dia hanya ingin sendiri, hanya ingin sendirian tanpa ada orang yang menemani.

“Kalau memang bisa, aku sangat ingin keluar dari sana. Sangat ingin melupakannya dan memulai hidup yang baru. Jika bisa...” Air matanya langsung keluar tanpa henti begitu dia berbaring. Dia menangis tersedu-sedu di gelapnya malam dan dinginnya ruangan.

Sudah hampir tengah malam. Tampak seorang pria sedang mengetuk-ngetuk pintu apartemen Jane. Dia berdiri lama di sana dan tidak ada jawaban. Itu Max, dia mondar-mandir di lorong. Sesekali mengecek ke arah pintu menunggu pintu itu terbuka. Namun sudah hampir lima menit tetap tak ada perubahan.

Max bukan tipe orang yang sabaran, dia mengambil alternatif lain dengan mengingat satu persatu angka untuk membuka kunci pintu itu. Untung saja ingatannya masih kuat, dia bisa mengingat kunci yang di masukkan oleh Jane minggu lalu tanpa salah satu pun.

Gelap. Max mengambil ponsel di dalam saku celananya dan menghidupkan senter. Dia berjalan beberapa langkah dan menemukan saklar lampu di dinding tak jauh dari tempat dia berdiri, Max menyalakannya.

“Jane. Apa kau ada di sini? Jane..” Max menyusuri tiap sudut apartemen itu. Dia tak melihat siapapun dan tidak mendengar apapun. Hingga langkah dan tatapan matanya terhenti saat melihat satu pintu tak jauh dari sofa, dalam pikirannya kemungkinan besar itu adalah kamar Jane.

Klek. Pintu terbuka.

Lampunya mati, namun begitu pintu terbuka lebar langsung menampakkan Jane yang sedang tertidur di tempat tidur dan dibalut selimut. Cahaya lampu di luar kamar memberikan penerangan. Wanita itu tampak memeluk erat selimut di depan dadanya.

Saat itu Max merasa lega karena bisa melihat Jane. Dia menutup pintu perlahan, menyisakan sedikit celah dan berjalan mendekat ke samping ranjang. Dia menatap ke arah Jane, wanita itu tampak tidur dengan sangat nyenyak. Tapi ekspresi diwajahnya tidak bisa berbohong jika wanita itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ditambah dengan bekas air mata di pipinya dan adanya obat tidur di atas meja.

Max berjalan mengelilingi ranjang itu, mengambil posisi di seberang tempat dia berdiri sebelumnya. Dia membuka selimut Jane dengan hati-hati. Sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun saat dia menaiki tempat tidur. Max berbaring di samping Jane.

Perlahan Max mengubah posisi tidur Jane untuk bisa menghadap ke arahnya. Sepertinya obat tidur itu bekerja dengan baik, Jane tertidur lelap dan tak terganggu sedikitpun dengan kehadirannya. Max memandangi wajah Jane lama, dia menghapus air mata yang masih tersisa di ujung mata wanita itu.

“Maafkan aku..” ucap Max sambil mengelus lembut pipi Jane. Dia mendekatkan diri pada Jane, dan menarik wanita itu untuk berada dalam pelukannya. “Aku sungguh minta maaf..”

**

Malam berlalu begitu cepat, cahaya mentari pagi langsung menerobos masuk menyinari saat Max membuka tirai jendela otomatis yang ada disana. Dia segera berbaring lagi di samping Jane sebelum tirainya terbuka sepenuhnya. Menghalangi cahaya itu agar tidak langsung menerpa mata Jane.

Meskipun begitu, Jane tiba-tiba terbangun, dia membuka matanya perlahan. Terasa perih dan sedikit sulit untuk dibuka, dia sempat mengedipkan matanya berkali-kali. Dia seakan melihat siluet seseorang di hadapannya. Dan orang pertama yang di pikirannya adalah Devan.

“Dev? Kau kah itu?” Jane mengernyit, matanya masih belum terbuka jelas sepenuhnya. Hingga satu kecupan di bibirnya langsung membuat matanya bisa melihat dengan benar. Karena tidak mungkin Devan akan menciumnya.

“Apa aku terlihat seperti dia bagimu?” Max kembali berbaring dengan posisi menghadap ke Jane setelah menciumnya, dia menjadikan sikunya sebagai tumpuan untuk menahan kepalanya agar tidak terjatuh ke bantal. Lesung pipi pria itu kembali menyapanya.

“Max, apa yang kau lakukan disini?” Jane langsung duduk dan menjaga jarak dari Max saat tangan pria itu bergerak seakan ingin meraih dirinya. “Bagaimana kau bisa masuk?”

“Oh itu. Dev membawamu, jadi kupikir dia mengantarmu pulang. Jadi aku kesini, tapi saat aku mengetuk pintu tak ada jawaban. Aku mengingat-ingat lagi sandi yang kau masukkan minggu lalu dan beruntungnya ingatanku benar. Aku mengkhawatirkan mu, Jane.” Max duduk dengan perasaan tak enak, dia masuk tanpa izin dan tidur di ranjang orang lain.

“Mengkhawatirkan ku? Bukankah kau sudah tau semuanya? Apa kau tidak jijik melihatku? Aku—.”

Max langsung mendekat pada Jane, memeluknya dan berkata, “Aku tidak akan bertanya, dan jangan mengatakan apapun. Semua sudah berlalu dan aku percaya padamu. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa.”

Aku percaya padamu.

Aku percaya padamu.

Aku percaya padamu...

Tiga kata itu terus terngiang-ngiang di pikirannya sejak Max menyebutnya. Air mata Jane keluar tanpa aba-aba, dia menangis di pelukan pria itu dan membuat kaos yang di pakai oleh Max menjadi basah karenanya. Untuk pertama kalinya, dia mendengar tiga kata yang sangat ingin dia dengar selama ini ‘Aku percaya padamu’.

...----------------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!