“Kau yang menjadikan dia model iklan untuk produk baru, kan? Kenapa?” Dye langsung bertanya setelah melempar selembaran kertas ke meja kerja Max.
“Apa aku perlu persetujuan mu untuk menentukan siapa orang yang akan mengiklankan produk ku?” balas Max cuek. “Kau hanya perlu mengurus acara nya supaya berjalan lancar, benar?”
“Tapi bagaimana mungkin kau tiba-tiba mengganti modelnya seperti ini. Kita sudah menentukan modelnya sedari awal, dan aku sudah menghubungi agensinya. Sudah tanda tangan kontrak.”
“Apa susahnya? Kau hanya perlu untuk membatalkan kontrak itu, dan membuat kontrak baru. Masalah selesai bukan?” Max tahu jika sebenarnya keputusannya akan menimbulkan masalah karena dia membatalkan kontrak dengan orang yang dikenalnya, Ziya Lewis. Tapi dia tak bisa memikirkan cara lain untuk bisa bertemu dengan Jane. Dan kebetulan perusahaannya akan meluncur produk terbaru, sebuah ponsel canggih dengan fitur yang paling inovatif yang akan di promosikan minggu ini.
“Ya, ya, ya. Cukup mudah kau mengatakannya, huh. Baiklah aku akan mengurusnya. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.”
“Kenapa? Apa kau ingin pindah ke divisi lain, Pak Manager?” Max memandangi Dye yang masih berdiri di depan mejanya. “Atau—apa kau ingin berhenti?”
“Kau—Ah sudah lah. Tapi kenapa? Hoo. Apa kau sudah tidur dengannya?” Dye menyipitkan matanya menatap Max dengan tatapan mencurigakan.
“Yang benar saja. Menurutmu aku ada waktu untuk bertemu dengannya?”
“Oh, ya. Jadi kau tidak ada lagi bertemu dengannya. Benar juga.” Dye terdiam sejenak. “Hemm. Apa—apa jangan-jangan kau sengaja menjadikan dia modelnya sebagai alasan untuk bertemu dengannya? Ya, benarkan? Wah, kau sangat menginginkannya ya. Tapi asal kau tahu saja, dia lebih muda tiga tahun darimu, bahkan lebih muda dari Lery. Dan juga—” Dye langsung mengatupkan kedua bibirnya rapat.
“Lery? Aha, karena kau membahasnya bukankah kau harus membawanya padaku. Sampai kapan kau akan menyembunyikannya dariku, ha?”
“Aku? Aku tidak ada menyebutnya—aku tidak. Ah ya, aku harus membuat kontrak yang baru. Dan melihat persiapannya, sepertinya ada beberapa barang yang belum aku periksa. Aku pergi dulu. Bye.” Dye perlahan berjalan mundur dan bergegas keluar dari ruangan direktur, ruangan Max. Begitu pintu tertutup dan Dye menghilang dari pandangannya, Max tersenyum sinis.
Tiga tahun? Pantas saja dia terlihat—. Ah apa yang aku pikirkan.
Seketika senyum sinis nya berubah menjadi senyum manis disertai tawa kecil sumringah saat dirinya mengingat kembali wanita itu ada dalam dekapannya, ada dalam pelukannya.
**
Jane menatap lensa kamera yang tertuju padanya. Tersenyum sambil memegang sebuah ponsel di tangan, sesekali dia mengubah senyum itu menjadi datar diikuti ekspresi angkuh yang elegan. Dan kembali tersenyum lagi hingga menghasilkan beberapa foto dan video dirinya mempromosikan ponsel yang ada dalam genggamannya.
"Hei. Kau sedang mencari apa?” Shara tiba-tiba datang menghampiri Jane yang sedang duduk di pojok ruangan pemotretan sambil memberi sebotol minuman untuk wanita itu.
“Tidak ada, aku hanya melihat-lihat saja.” Jane mengambil botol air mineral dari tangan Shara.
Seingat Ku nama perusahaannya AVC. Sama dengan tempat ini. Hemm tapi walaupun benar, aku tidak akan bertemu juga dengannya. Seorang direktur tidak mungkin datang untuk melihat iklan, bukan... Aku hanya ingin bertanya tentang hari itu padanya, aku yakin pasti dia yang membawaku ke rumah sakit. Dan foto itu, aku ingin tau...
“Begitukah... Oke. Oh ya, suamiku baru saja diterima bekerja di sebuah bar. Katanya itu bar yang bagus, ayo kita pergi kesana setelah ini, tapi yang pasti tidak ada alkohol untuk mu. Aku tidak ingin membayangkannya dan aku tidak tahu harus berbuat apa karena tidak bisa memberimu obat jika kau minum alkohol. Ingat itu, ya,” Shara menekankan bicaranya dan diikuti dengan tatapan tajam pada Jane.
“Baiklah, aku tidak akan minum alkohol. Seberapa bagus tempatnya? Apa kau punya fotonya?”
“Ah aku lupa minta fotonya, tapi aku ingat namanya. ‘Ethalos’.”
“Ethalos? Hei, bukankah itu bar yang tidak bisa di masuki sembarang orang? Jangan bercanda Shar, kita tidak bisa masuk kesana.”
“Ayolah. Apa yang kau cemaskan, kau seorang model papan atas sekarang. Dan juga suamiku sudah menyiapkan kartu keanggotaan untuk kita. Ta—da.” Shara mengeluarkan dua kertas berwarna coklat keemasan dari tas nya.
“Wah. Shara, kau memang yang terbaik. Mari pulang, kita harus segera bersiap.” Jane dengan cepat mengambil tiket dari tangan Shara, dia menatap kartu itu dengan seksama dan memandangnya lama. Desain yang mengagumkan. Dia suka bar, lebih dari tempat apapun. Dia suka tempat yang bernuansa gelap dengan musik yang berdentum mengisi isi kepalanya. Untuk sejenak bisa membuat dirinya lupa. Melupakan sesuatu yang tak seharusnya di ingat.
Jane menunduk pamit saat Shara dan fotografer melihat ke arahnya, yang artinya managernya pasti sudah menyudahi kerjanya hari ini. Fotografer itu tampak puas dengan hasil nya, model papan atas memang tak mengecewakan.
“Oke, karena masih banyak waktu. Ayo kita belanja dulu, ada setelan baju yang tiba-tiba terpikirkan olehku,” ucap Jane saat dia dan Shara memasuki lift.
Sementara itu, seorang pria yang memakai setelan jas rapi sedang celingak-celinguk di dalam ruangan pemotretan. Sepertinya dia sedang mencari seseorang. Max masih mengamati setiap sudut ruangan, namun dia tidak menemukannya. Dia tidak bisa menemukan Jane. Orang-orang tampak sedang membereskan tempat itu. Max menghentikan salah satu pegawai yang sedang membawa lampu flash strobe. “Apa pemotretan sudah selesai?”
“Sudah pak, baru saja selesai.” Orang itu lanjut berjalan melewati Max saat dia mendapatkan anggukkan dari bos nya itu.
Ah sial. Padahal aku sudah mempercepat rapatnya.
Dengan kesal, Max keluar dari ruangan itu. Dye yang sedang berbicara dengan fotografer hanya melihatnya sambil tersenyum. Sebuah senyuman untuk menahan tawanya, usaha temannya ternyata sia-sia. Namun dia tidak akan setega itu, dia ada kabar bagus untuk Max. Dan pasti bisa melepaskan rasa kecewa pria itu.
Ting. Ting
Ponsel di dalam saku celana Max dan Dye berbunyi bersamaan, sebuah pesan masuk.
Dev
[Ethalos, pukul 9]
Pesan masuk di obrolan grup, Devan mengirim pesan disana. Dye mengecek ponselnya, dia menyusul Max yang sudah pergi entah kemana. Tapi nalurinya berkata pria itu akan kembali ke ruangannya. Dan benar. Dye mendapati Max dengan wajah kesalnya sedang mondar-mandir di depan meja kerjanya.
“Yo, tenanglah. Kau tidak perlu bersedih hati, apa kau begitu ingin bertemu dengan nya?”
“Menurutmu?” Max masih tak bisa diam.
Sepertinya wanita itu bisa membuatmu melupakannya. Ini bagus. Batin Dye.
Dye memperlihatkan layar ponselnya, menunjukkan pesan yang dia terima. “Datang lah ke Ethalos nanti malam, kau akan bertemu dengannya.”
“Apa? Kau tidak sedang membohongi ku kan? Kenapa juga dia ada disana.”
“Ya sudah, kalau tidak percaya.” Dye berjalan menjauh darinya, berjalan ke arah sofa dan berbaring disana. Dia tersenyum bangga saat mengingat laporan database keanggotaan yang baru di terimanya dari staff administrasi Ethalos.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
zenn
semangat berkarya 💪😎
2023-09-22
3