“Kau cantik malam ini,” puji Dye sambil memberikan segelas anggur pada Jane yang baru saja duduk.
“Hemm, terimakasih.” Jane tersenyum mengambil gelas itu dari tangan Dye. Namun dia hanya menatapnya, tak berani meminumnya. Dia takut akan hilang akal lagi dan entah melakukan apa di sana.
Drrtt. Drttt. Ponsel Dye bergetar di atas meja.
“Tunggu sebentar, kalian mengobrol lah.” Dye pergi ke pojok ruangan. Meninggalkan Jane bersama pria tak dikenalnya. Pria itu tampan tapi tak setampan Max dan Devan, mungkin masuk dalam kategori standar karena kulitnya yang agak berwarna kecoklatan. Pria hitam manis. Dan awalnya mereka hanya diam sebelum pria itu mengajaknya bicara.
“Apa kau tidak mengenalku?” tanya pria itu padanya.
“Hemm, sepertinya,.. maaf.. “ Jane berbicara se--sopan mungkin, tak ingin menyakiti hati lawan bicaranya. Pria itu memang tampak tidak asing baginya, tapi dia tidak yakin mengenal pria itu.
“Sungguh? Haha” Alex tertawa kecil. Dia melihat Jane dari atas sampai bawah. “Kau banyak berubah ya, Momo.” Pria itu tersenyum, dia menatap dada Jane melalui celah antara jas yang menggantung di tubuhnya.
Momo..
Jane langsung gemetar. Nama itu membuat sekujur tubuhnya bergetar tak karuan. Darahnya seakan melaju sangat cepat di pembuluhnya, dan saat itu juga nafasnya tertahan karena tatapan pria itu padanya. Jane memegang gelas anggur di tangannya dengan sangat erat. Tidak banyak yang memanggil nya dengan nama itu, nama kecilnya. Bahkan Shara tak memanggil Jane dengan nama itu lagi. Itu dia, pria yang ada di masa lalunya. Jane ingat. Hanya saja dalam ingatannya kulit pria itu lebih cerah dari pada sekarang, Jane tak menduganya.
Alex Miller, dia adalah saudara kembar tak identik Max. Mereka lahir dengan selisih waktu lima menit, dan Max lebih dulu lahir. Dia berada di Italia selama ini, dan baru datang beberapa hari yang lalu di Los angeles. Dia mendekatkan tubuhnya pada Jane, membuat wajahnya bisa berhadapan sangat dekat dengan wanita itu.
“Momo... Kau sungguh sangat cantik sekarang, aku pikir aku salah mengenalimu saat melihatmu seminggu lalu di sini. Ternyata itu memang kau.” Alex membelai wajah Jane dengan lembut, dan tangannya yang lain berada di paha Jane. Dia mengelus paha itu, membuat Jane langsung keringat dingin dengan sentuhan yang menyentuh kulitnya.
Tidak bisa, dia tidak tahan dengan itu. Tapi tubuhnya tak ingin bergerak, nafasnya seakan tak ingin lagi untuk keluar. Dia sungguh tidak bisa melakukan apa pun. Hingga secara tiba-tiba bayangan wajah Max muncul di kepalanya, mengisi seluruh ruang dalam pikirannya.
“Apa kau masih tidak mengenaliku? Apa aku perlu melakukannya lagi untuk membuatmu ingat Momo ku?”
Jane menatap Alex dengan tatapan yang tajam dan matanya mulai berkaca-kaca. Dan yang didapatnya dari pria itu adalah tatapan menjijikkan yang pernah dia lihat sepuluh tahun yang lalu. Jane menggenggam gelas anggur begitu erat, sebelum menyiramkannya ke wajah pria yang sekarang berada di hadapannya.
Sontak membuat Alex langsung membuat jarak dengan Jane. Dia menatap Jane dengan raut wajah yang kusut, sementara itu dengan tangannya yang masih gemetar, dia mendorong pria itu sekuat tenaga dan dengan cepat mengambil sebotol anggur yang ada di atas meja.
Prang.
Jane menghempaskan botol itu ke lantai, menciptakan bunyi nyaring dan pecahan kaca dimana-mana, menciptakan genangan anggur. Dye yang sedang menelpon langsung mematikan panggilannya dan berjalan menghampiri Jane.
Namun sudah ada satu potongan pecahan kaca runcing di tangan Jane, dia langsung mengarahkannya pada Dye yang berjalan mendekat ke arahnya dengan tangan yang masih bergetar hebat. Tentu saja kaca itu membuat langkah Dye terhenti dan perlahan melangkah mundur.
“Jane, apa yang terjadi. Tenanglah, itu berbahaya.” Dye berusaha memahami situasinya, Alex tergeletak di lantai dengan wajah yang basah. “Apa yang sudah kau lakukan padanya?”
Sementara itu, pintu terbuka. Max dan Devan langsung masuk dan bergegas menghampiri Jane. Kedua langkah mereka ikut terhenti begitu Jane mengarahkan ujung kaca yang di pegangnya ke lehernya.
“Jangan coba-coba untuk melangkah lebih jauh dari itu.” Ancam Jane. Semua orang disana tampak cemas kecuali Alex, dia malah tertawa dalam situasi yang mencekam itu. Max menjadi berapi-api melihatnya, dia langsung mengubah haluan langkahnya dan mendekat ke arah Alex yang masih terduduk di lantai.
Max menarik kerah baju pria itu untuk membuatnya berdiri tegak di hadapannya. “Apa yang kau lakukan padanya, ha?”
“Aku? Aku tidak melakukan apa pun. Bukankah kau sengaja membawanya kesini untuk bersenang-senang dengan kita? Untuk menyenangkan—.”
Buk. Satu pukulan keras dari Max membuat wajah pria itu langsung terluka. “Jangan coba-coba menyentuhnya.”
Bukannya diam, Alex hanya tersenyum sinis. Dia menatap Jane sekali lagi. “Aku bahkan sudah menyentuh seluruh tubuhnya, bahkan—ah aku ingat sekali saat itu... sangat sempit, apa kau menikmatinya Momo?”
Max mengernyit mendengar ucapan itu, dan untuk kedua kalinya kerah baju pria itu berada dalam genggamannya tapi sekarang ditambah dengan dorongan kasar darinya, “Apa yang kau katakan, berkata lah yang jelas.”
“Kau juga tidak ingat? Apa kau lupa aku hampir mati saat di pukuli oleh ayah? Itu karena wanita itu, ayah memukulku tanpa ampun. Jika bukan karena ibu yang menghentikannya aku tidak akan ada disini sekarang.” Alex meninggikan suaranya.
“Jadi maksudmu, gadis waktu itu—.” Max melirik ke arah Jane, wajah wanita itu tampak sangat frustasi dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. “Kau bajingan gila, brengsek.”
Buk. Buk. Buk.
Pukulan bertubi-tubi mendarat di wajah dan perut pria yang ada di hadapan Max. Dengan cepat Devan meraih tangan Jane dan membuat pecahan kaca di tangannya terjatuh begitu pandangan wanita itu teralihkan pada Max.
Devan langsung memeluk Jane, menenangkannya sebentar sebelum membawanya pergi keluar dari ruangan. Sementara Dye kebingungan harus melakukan apa. Di satu sisi Max tampak berada di puncak amarah, sementara di sisi lain Devan sudah membawa Jane dan menghilang dari pandangannya. Apa sebaiknya dia juga ikut pergi dari sana.
Setetes demi setetes darah jatuh ke lantai, pria yang dipukuli oleh Max tampak babak belur dengan banyak memar dan luka di wajahnya. Bahkan membuat pria itu muntah darah, tidak bisa. Dia tidak bisa membiarkan pria itu mati dan membuat Max menjadi seorang pembunuh. Dengan cepat dan sekuat tenaga dia menarik Max dan menjauhkannya dari Alex yang sudah pingsan tak sadarkan diri.
“Hentikan, kau sudah gila? Kau akan membunuhnya.”
“Dia pantas mati, bajingan ini tidak bisa di biarkan, kau tahu itu. Jika ibuku tidak menyelamatkannya dan tidak bertengkar dengan ayahku, mereka tidak akan kecelakaan.”
“Hei. Tenanglah, aku tahu. Aku tahu apa yang kau rasakan. Tapi itu sudah cukup, sekarang tenanglah. Oke.”
Max melepaskan diri dari Dye yang sedang menahannya, dia mengalihkan pandangannya ke tempat Jane berdiri beberapa saat lalu. “Dimana Jane?”
“Dev membawanya.” Jawab Dye singkat.
“Sial.” Max langsung bergegas keluar dari ruangan itu dengan amarah yang masih berapi-api, dia meninggalkan Dye dengan Alex yang sudah sekarat.
“Hei, kau mau kemana. Bagaimana dengan dia ini.” Dye melirik ke arah Alex yang tak sadarkan diri di dekat kakinya. Dia berjongkok dan meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung pria itu, masih bernafas.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments