“Apa kau yakin akan kesana sendirian? Aku bisa ikut dengan mu, ya tapi memang tidak bisa lama-lama.” Ucap Shara sambil membuka sabuk pengamannya.
“Tidak apa, aku sendiri saja. Kau akan ketinggalan pesawat jika ikut denganku.” Jane mengambil tote bag berisi sebuah jaket di kursi belakang. “Selamat honeymoon, pastikan kembali dengan baby, Oke.”
“Jangan seperti itu” Shara tersipu malu sementara Jane sudah keluar dari mobil. “Aku sudah memasukkan obat mu ke dalam tas untuk berjaga-jaga. Ingat, tidak ada lagi alkohol.”
“Iya, iya. Kenapa kamu sangat cerewet.” Cemberut di wajah Jane tak menunjukkan kekesalan tapi malah membuatnya tampak imut dengan pipi nya yang menjadi sedikit menggembung.
“Aish, bocah kecil ku. Awas ya, kau baik-baik disini. Jika terjadi sesuatu segera hubungi Dev. Oke.”
“Hemm, baiklah.”
Jane dan Shara saling melambaikan tangan mereka tanda perpisahan. Shara akan pergi ke Maldives, Maladewa. Sebuah negara kepulauan yang ada di Asia Selatan. Dan sepertinya Shara dan suaminya akan menghabiskan waktu satu hingga dua minggu disana. Berbulan madu. Karena sibuk mengurusi jadwal Jane yang padat, Shara belum sempat untuk pergi berbulan madu. Dan ini lah saatnya karena Jane sedang mengambil cuti. Sudah berjarak dua bulan dari hari pernikahan mereka untuk berbulan madu sekarang.
Jane memandang sekeliling begitu melangkah masuk ke apartemen itu. Ternyata diluar nya lebih mewah ya, batin Jane. Jane menaiki lift menuju lantai atas, lantai lima. Senandung yang diciptakan oleh sepatu heels yang dipakainya mengisi kehampaan lorong.
Begitu sampai di depan pintu, Jane memeriksa sekali lagi isi tas yang di bawanya, memastikan jika didalamnya ada sebuah jaket kulit berwarna hitam. Dia menarik nafas dalam sebelum menekan bel yang ada di samping pintu. Max meninggalkan jaket itu ditubuhnya saat dia kembali dari bar dengan keadaan setengah sadar. Shara meminta alamat Max pada Devan dengan alasan untuk mengembalikan jaketnya. Itu lah niat Shara, namun berbeda dengan Jane. Jaket itu hanya lah alasan baginya untuk bisa bertemu lagi dengan pria itu.
Kejadian malam itu masih mengganggu pikirannya, dan yang pasti dia harus berterima kasih pada Max yang membantunya saat itu. Dia sangat bersyukur. Jane menekan tombol bel sekali lagi dan pintu terbuka. Kepala seorang wanita muncul dari sela pintu.
“Ya?”
Jane terkejut, dia sempat berpikir apakah dia salah atau bagaimana. Dia kembali mengecek nomor yang ada di atas kotak bel. Tidak. Dia benar. Itu kamar apartemennya. Tapi kenapa seorang wanita.
“Hemmm, apa ini—”
“Hei Jane, lama tidak bertemu.” Ucap seorang pria yang tiba-tiba membuka pintu lebar-lebar dan meraih tangannya untuk bersalaman. Sementara wanita dengan piyama tidur yang tipis itu hanya menatapnya tanpa ekspresi sebelum beranjak masuk. “Kau mencari Max, kan? Ayo masuk.”
Apa kita pernah bertemu? Batin Jane. Dia heran dengan kalimat yang diucapkan Dye saat melihatnya.
Dengan keraguan, Jane masuk sembari di arahkan oleh Dye. Dia tidak mengenal pria itu, namun karna dia kenal Max mungkin dia bisa di percaya. Tapi dengan polosnya Jane mengikuti arahan itu dan masuk ke kamar Max. dia mempersilahkan Jane duduk di sofa empuk yang pernah dia duduki sebelum ini.
“Tunggu lah disini. Dia sedang mandi,” Dye berjalan menjauh darinya dan berjalan melewati pintu yang menghubungkan langsung ruangan itu dengan ruang tamu dan dapur.
Jane mengamati sekelilingnya, masih sama seperti pertama kali dia disana. Tapi ada yang hilang, dia tidak lagi melihat foto-foto yang tersusun di dalam rak. Tempat itu hanya di penuhi oleh porselen cantik dan beberapa suvenir manis yang mahal.
Max muncul dengan handuk yang hanya menutup tubuhnya dari pinggang hingga lutut, membuat dada dan perutnya terekspos sangat jelas.
“Jane, kau disini.” Max berdiri di samping sofa sambil memegang handuk kecil di tangannya, mengelap rambutnya yang masih basah. Jane terpaku menatapnya sejenak, ciuman panas mereka di bar membuat wajah wanita itu langsung memerah. Hingga dia tersentak saat Max tiba-tiba duduk di sampingnya.
“Ah. Aku ingin mengembalikan jaket mu,” Jane meletakkan tote bag yang dibawanya di atas meja.
“Benarkah,” mendadak Max mendekatkan wajahnya pada wajah Jane. “Kau tidak bau alkohol, tapi kenapa pipi mu memerah.” Max tersenyum nakal menatap Jane, matanya melirik bibir Jane yang dilapisi lipstik berwarna merah muda. Sungguh manis. Bibir itu berusaha menariknya seperti magnet, menarik dirinya untuk melanjutkan apa yang mereka lakukan malam itu.
“Pizza nya sudah datang,” langkah Dye langsung berhenti di pintu begitu melihat Max dan Jane yang sedang berada dalam posisi yang cukup untuk menciptakan sebuah kesalahpahaman. “Ehmm.”
Dehaman pria itu membuat Jane langsung mengalihkan pandangannya dari Max, “Ah sepertinya kalian sedang berkumpul, maaf aku datang di waktu yang tidak tepat. Aku akan langsung pulang.” Jane berdiri dan hendak pergi melangkah, namun langkahnya terhenti saat sesuatu yang dingin menyentuh pergelangan tangannya. Max menahannya.
“Tetaplah disini, akan lebih menyenangkan jika kau ikut.” Max ikut berdiri di belakangnya.
“Tapi aku—”
“Ikut saja,” Max melewatinya begitu saja, menarik tangan wanita itu untuk bisa mengikutinya. Dye hanya bisa tersenyum lega melihat keceriaan di wajah Max, sudah lama dia tidak melihatnya se--senang itu.
Begitu sampai di sofa depan televisi, Jane duduk dengan sedikit canggung hingga Max memulai pembicaraan.
“Oh ya, kau pasti belum mengenal mereka. Dia Dye dan dia Ellen, mereka--kakak adik. Dan untuk kalian, ini Jane.” Mereka saling bersalaman dan saling membalas senyuman, kecuali Ellen yang masih tanpa ekspresi menanggapi dirinya. Max mengakhiri perkenalan singkat itu dengan cepat karena dia harus memakai bajunya. Tidak mungkin dia berada di sana hanya mengenakan secarik handuk di pahanya. “Bersenang-senanglah, aku akan kembali.” Max mengelus lembut punggung tangannya.
Jane mengangguk. Elusan itu masih terasa hangat—dingin di kulitnya. Kuharap kau kembali dengan cepat. Batinnya.
Tak lama setelah kepergian Max, Dye menyusulnya. Menyisakan Jane dan Ellen duduk di sofa menikmati sepotong pizza sambil menonton film laga di layar televisi. Dalam kecanggungan.
“Apa kau kekasih barunya? Atau hanya wanitanya?” Akhirnya Ellen bersuara.
“Kami hanya teman,” Jane menjawab sejujurnya nya, karena mereka memang hanya teman. Tapi raut wanita itu seakan tidak percaya dengan apa yang dia ucapkan.
“Hemm, begitu, ya.” Ellen kembali menyuap pizza nya dan fokus menonton.
Jane menatap wanita itu, berusaha menangkap maksud dari ucapannya. Atau hanya wanitanya? Pertanyaan itu terngiang di benaknya. Dia berusaha mencari maksud dari kalimat itu tapi tak menemukannya. Dia penasaran.
“Itu—”
“Apa kau haus? Aku akan mengambilkan minuman, sepertinya ada di dalam kulkas. Sebentar.”
Melihat wanita itu pergi berlalu membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya. Bau parfum wanita itu meninggalkan bekas di hidungnya, tapi samar-samar dia juga mencium bau Dye dari sana. Dan benar saja, saat dia mengalihkan pandangan dari televisi dan melihat ke arah dapur, dia tak sengaja menangkap Ellen dan Dye sedang berciuman.
Bukankah merek**a kakak adik—.
“Hei, apa yang kau lihat.” Max tiba-tiba datang dan memakan pizza yang ada di tangannya. Kedatangan pria itu langsung mengalihkan pandangannya, matanya langsung tertuju pada bibir tipis Max, lesung pipi pria itu tetap muncul meskipun saat dia sedang mengunyah makanan.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments