Bertemu lagi

Jane meninggalkan ruangan pesta setelah selesai menyapa orang-orang yang dikenalnya, melewati pintu yang langsung membuatnya bisa melihat langit malam, dia duduk di salah satu kursi kosong dekat kolam yang dipenuhi mawar merah mengambang. Sedangkan Shara berlalu pergi dan hanya meninggalkan tasnya pada Jane. Meja panjang dihadapannya cukup untuk beberapa kursi, Jane duduk di paling ujung. Dan berjarak beberapa kursi darinya sudah di isi oleh orang lain. Orang asing.

Sudah berlalu dua puluh menit, wine di gelasnya sudah habis dan dia masih sendiri. Dia meraih gelas yang serupa di atas meja, dan kembali menikmati minuman yang sama sambil menunggu Shara kembali padanya. Wanita itu tampak masih sibuk menyapa dan mengobrol kesana kemari, memang sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa lepas darinya. Jane melirik sekeliling nya, sesekali matanya tertuju pada panggung yang ada di dalam ruangan. Panggung yang menjadi singgasana tuan rumah yang sedang bertunangan. Di atasnya bertuliskan Devan & Katty.

Tampak para tamu bergantian untuk berfoto dengan mereka, Jane tersenyum lebar melihatnya dan kali ini dia langsung meminum habis segelas bir yang ada di tangannya. Dan dengan kebetulan seorang pelayan lewat di depannya dengan beberapa gelas yang masih berisi dalam nampan yang di bawanya. Dengan cepat Jane menghentikannya dan mengambil satu gelas wine lagi.

Jane tidak tahu berapa lama lagi dia akan menunggu. Setengah jam? Satu jam? Dia sungguh ingin pergi dari sana, tak ada yang ingin diajak nya bicara. Dan sepertinya juga tidak ada yang ingin bicara dengannya. Jane mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, dia melihat jam begitu layar ponselnya menyala. Sudah hampir jam sebelas malam, dia menghembuskan nafas singkat, meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali minum sedikit demi sedikit. Asalkan ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya dia bisa menunggu. Meskipun itu hanya air, lebih tepatnya alkohol.

Tapi—dia bosan. Jane merebahkan dagunya di meja dan menjadikan tangannya sebagai alas sambil memainkan sisa wine yang masih ada di dalam gelas. Tapi baru beberapa saat, dirinya sudah dikejutkan oleh suara seorang pria. Suara yang pernah didengarnya—di suatu tempat.

“Apa kursi ini kosong, nona?”

“Ya,” balas Jane cepat begitu dia menegakkan kembali kepalanya melihat pada seorang pria yang sudah duduk dihadapannya. Dia mencermati pria tampan yang datang tiba-tiba menghampirinya itu, dia yakin pernah melihatnya. Saat pria itu tersenyum, menampakkan lesung pipinya membuat Jane menambah keyakinannya. Namun dia tidak ingat dimana dan siapa pria bermata biru itu.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Jane memberatkan suara saat bertanya karena takut salah mengenali orang dan membuat suasananya tidak nyaman. Apalagi jika di kira dia sedang menggoda pria dibalik pakaian rapi berjas biru itu, pria dibalik pakaian dan aksesoris yang tampak mahal. Max Miller.

“Oh kamu, kamu wanita yang di pantai itu kan?”

“Kamu pria itu? Ternyata matamu berwarna biru.” Ucapan Jane diikuti oleh tawa kecil di bibirnya. Ternyata dia lebih tampan dengan mata aslinya, batin Jane.

“Kamu menyadarinya, ya,” Sadar jika penyamarannya gagal, Max ikut tersenyum dan kembali lubang di pipinya muncul. Dia mengulurkan tangannya, “Max Miller, sepertinya saat itu kita belum berkenalan dengan baik.”

“Jane Morgan,” tak ada keraguan lagi padanya, Jane menjabat tangan Max. Tangan yang dingin.

Suasana tampak canggung karena Max hanya diam dan Jane ikut diam. Hingga seorang tamu menyapa Max. Seorang lelaki tua yang tampak sudah beruban, tapi tak terlalu tua untuk di panggil kakek. Mungkin umurnya sekitar empat puluh—an. Dia mengobrol dengan Max sebentar sebelum pergi meninggalkan mereka, Jane hanya membalas dengan senyum begitu pria tak dikenalnya itu melihat ke arahnya sebelum berlalu pergi. Max dan Jane kembali berdua, dalam kecanggungan.

“Apa kau menunggu seseorang?” tanya Max sambil mengambil segelas minuman yang ada di atas meja. Dia melihat tiga gelas kosong di depan Jane, sepertinya wanita itu sudah duduk cukup lama disana.

Jane melirik ke arah Shara yang tampak masih mengobrol dengan beberapa orang. “Ya. Aku menunggu temanku. Bagaimana denganmu? Apa kau juga sedang menunggu seseorang? Kekasih?”

Oh Jane, apa yang kau katakan. Kekasih? Jane menggerutu dalam batinnya, baru kali ini dia bertanya tentang kekasih pada seseorang, apalagi seorang pria yang baru dua kali ditemuinya.

Tawa kecil kembali muncul di wajah Max, “Aku baru sampai. Masih banyak antrian disana, aku menunggu antrian itu berakhir.”

“Hemm. Ya, banyak yang mendoakan hubungan mereka.” Jane kembali melirik untuk yang ke sekian kalinya ke dalam ruangan. Dia berusaha menutupi kesedihan yang dia rasakan, dia sudah cukup berusaha. Tapi Max dapat melihatnya dengan jelas, jika dia kecewa. Matanya tampak berkaca-kaca tapi sepertinya tidak. Namun hati kecilnya berkata jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja.

“Mantan kekasih?” Tiba-tiba pertanyaan Max mengejutkannya.

Dengan cepat dan sedikit terbata-bata Jane menjawab tidak. Tidak mungkin, menjalin hubungan saja tidak pernah. Bagaimana bisa orang itu menjadi mantan kekasihnya. Tapi setidaknya pertanyaan itu menyadarkan dirinya, apa yang dia sedih kan. Aku bukan siapa-siapa, batin Jane. Dan max hanya mengangguk-angguk seakan mengerti maksud wanita itu, mengerti bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi dia tak ingin merusak sesuatu yang bahkan belum dia mulai.

“Aku hanya asal bicara. Tapi sekedar saran dariku, jika kau menatap mereka seperti tadi. Orang akan salah paham padamu.”

“Hemm. Terimakasih sarannya.” Jane kembali tersenyum, berusaha untuk tersenyum. Dia kembali melirik ke dalam ruangan.

“Sepertinya sudah sepi disana, apa kau tidak mengucapkan selamat pada—nya?”

Max melihat jam tangannya, dia masih punya cukup waktu hingga pukul dua belas. “Nanti saja, aku sudah terlalu nyaman untuk duduk disini. Atau apa aku membuatmu tidak nyaman?"

"Ah tentu saja tidak, kau bisa duduk dimanapun kau mau."

"Oke, tapi sepertinya kau mengenalnya, oh maksudku Devan?”

“Mungkin, tapi juga tidak bisa dibilang mengenalnya. Dia hanya seniorku saat kuliah.” Jane berpaling dari Max dan kembali memainkan sedikit sisa wine yang ada di dalam gelasnya. Sesekali melirik pada tas Shara yang ada di sampingnya, berharap wanita itu datang dan segera membawanya pergi dari sana. Secepat mungkin untuk pergi dari saja, untuk menghindari pertanyaan lain yang akan di ajukan oleh Max padanya.

“Benarkah? Aku—” Kalimat Max terhenti begitu melihat seorang wanita dari kejauhan dibelakang Jane, wanita itu tampak ingin menghampirinya.

Sial. Apa yang dia lakukan disini.

“Oh ya, aku melupakan sesuatu. Aku akan segera kembali,” Max berlalu pergi dengan cepat, menghilang dari pandangan Jane di balik kerumunan orang yang lalu lalang.

...----------------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!