Jane terbangun. Matanya berkedip pelan beberapa kali karena silau nya lampu yang ada di langit-langit. Dia menoleh pada Shara yang tertidur dalam posisi duduk di samping tempat tidurnya. Jane mengamati sekelilingnya, dan kembali dia berada di tempat yang tidak dikenalnya. Tapi yang pasti dia yakin berada di rumah sakit karena tangannya terpasang infus dan didekatnya ada serangkaian alat medis. Dia tidak akan asing dengan bau ruang perawatan, tidak akan asing dengan ranjang pasien dan alat medis. Hanya beda ruangan tak membuatnya tidak bisa mengenali dia sedang berada dimana. Rumah sakit.
Detak jarum jam di dinding terdengar sangat jelas. Pukul sebelas malam. Jane kembali mengingat, apa yang terjadi dan mengapa dia bisa ada di rumah sakit dengan selang infus yang tersambung ke tangannya. Tapi ingatannya kabur, dia tidak terlalu ingat. Yang muncul di pikirannya adalah dia terbangun di tempat Max dan setelah itu—apa. “Ashh,” Jane mendesis sakit saat dia menggerakkan kakinya, serasa perih.
******* itu membuat Shara terbangun. Matanya langsung membesar melihat Jane.
“Jane.. Syukurlah… kamu sudah sadar. Apakah sudah terasa baikan? Apa yang kamu rasakan? Apa masih terasa sakit?” Shara memegang telapak tangan Jane dalam dua kepalan tangannya.
“Shara, hem… Apa yang terjadi?”
“Kau tidak ingat? Kau pingsan dan kakimu terluka. Dan itu adalah pecahan kaca, bagaimana bisa ada kaca yang menempel di kakimu. Tapi apa kau sungguh tidak ingat apapun?”
“Aku—entahlah. Apa kau yang menjemput ku?”
“Bagaimana mungkin aku bisa menjemputmu saat aku tidak tahu kau dimana. Aku datang ke apartemen mu pagi ini, tapi kau tidak ada. Di telepon juga ponselmu mati, aku bertanya pada Devan karena kau bilang di antar oleh temannya. Tapi dia bahkan tidak tahu kau datang. Kau tahu betapa khawatirnya aku melihat 3 gelas kosong alkohol di meja itu. Aku tak bisa membayangkan jika kau kumat lagi dan obat yang kau bawa tak akan ada gunanya. Aku langsung panik. Untung saja setelah itu perawat rumah sakit menghubungiku mengatakan kau di rumah sakit.”
Perawat? Apa pria itu tidak pulang? Tapi bagaimana caranya aku bisa ada disini. Batin Jane. Dia hanya berdeham paham mendengar penjelasan panjang lebar dari Shara.
“Istirahatlah, aku akan menghubungi Dev. Dia menunggumu seharian, dan aku baru saja berhasil menyuruhnya pulang, sudah malam dan dia belum makan apapun sejak datang. Tunggu sebentar, ya.”
Shara mengambil ponselnya dan keluar dari ruangan itu.
“Kau menungguku? Untuk apa? Kau membuat semua nya menjadi sulit bagiku, Dev.” Jane meletakkan lengannya menutupi matanya. Dia sungguh ingin menangis melepas rasa sedihnya karena semalam dia tidak bisa menangis. Mungkin jika Shara tidak menyebut nama pria itu dia tidak akan memikirkannya, meski hanya untuk sesaat. Tapi setidaknya dia bisa melupakan orang itu. Meski sebentar.
**
“Jane Morgan? Maksudmu Max bersamanya semalam?” Devan mengepalkan tangannya.
“Tidak-tidak. Dia ingin mengantarkan wanita itu semalam, tapi dia tertidur tanpa menyebutkan alamatnya. Kau tahu, dia harus bergegas kembali ke pestamu untuk hadiah semalam. Dan dia meninggalkannya di apartemennya.” Dye menjelaskan apa yang dia tahu.
“Lalu kenapa dia bisa pingsan dan terluka?” Kepalan di tangannya melemah. Devan mengatur nafasnya pelan.
“Dia juga tidak tahu. Saat dia datang, wanita itu sudah pingsan di lantai. Tunggu… kenapa kau bisa tahu dia pingsan dan terluka? Aku belum mengatakan apapun.” Dye menatap Devan menuntut jawaban. “Oh, ya. Kau direkturnya. Tidak heran kau tahu.”
“Apa? Kau menyelidikinya?”
“Mana mungkin, aku hanya mencari nomor managernya. Tentu saja akan ada nama perusahaannya.”
“Oh. Oke.”
Devan mengalihkan pandangannya dari Dye, dia melirik Max yang terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur. “Jadi, apa dia sakit karena mengingat wanita itu?”
“Hemm. Seperti yang kau lihat, dia tidak henti meracau menyebut namanya. Ditambah lagi dia tak tahan dengan bau rumah sakit, semoga saja dia tidak akan sakit selama seminggu seperti saat itu.”
“Itu salahnya karena menaruh hati terlalu dalam pada seorang wanita.” Devan berdiri dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya. “Dia terlalu mempercayainya.”
Dye dan Devan pergi meninggalkan Max yang masih tak sadarkan diri, dan mematikan lampu sebelum menutup pintu dan keluar dari apartemen pria itu. Sementara Max masih mengigau menyebut nama seorang wanita, Rose.
Rose. Rose, kau akan baik-baik saja… Percayalah padaku… Aku disini.
Ingatan masa lalu muncul dalam tidurnya.
“Tidak bisakah kau berhenti mengikuti ku?” Rose membalikkan badannya dan membentak Max yang berjarak cukup dekat di belakangnya. Max tersenyum dan melangkah maju ke arah wanita itu, dia berdiri di hadapan Rose sehingga menghalangi jalannya.
“Kenapa kau selalu menghindari ku, apa aku melakukan kesalahan padamu?”
“Aku tidak ingin berurusan dengan wanita-wanita yang selalu menempel denganmu itu, jadi berhentilah menggangguku. Dan ladeni saja para wanita mu itu. Oke.” Rose menekankan kalimatnya agar bisa dimengerti dengan baik oleh lawan bicaranya.
“Para wanita itu? Apa kau cemburu? Aku tidak akan dekat dengan wanita lain, asalkan kau jadi kekasihku. Apa pun yang kau mau akan kuberikan, bagaimana?”
“Gila. Yang benar saja, untuk apa aku cemburu. Lagi pula apa yang kau harapkan dariku, aku tidak tertarik untuk menjual tubuhku padamu. Dan juga aku tidak tertarik dengan uangmu itu.” Rose menggeser tubuhnya dan berjalan melewati Max, namun pria itu masih saja mengikutinya dan mengajaknya bicara.
Max Miller, nama itu sudah menyebar di segala penjuru di kampus. Tidak ada satupun wanita yang tidak mengenalnya. Dan awal mula Max mengganggunya adalah saat mereka tak sengaja bertabrakan di kantin dan Rose tidak tahu siapa dia, sejak saat itu Max mencari tahu bagaimana ada wanita yang tidak mengenalnya. Dan akhirnya dia tertarik dengan kesombongan wanita yang tidak tertarik padanya itu.
Hari demi hari berlalu, keduanya perlahan dekat karena Max sering muncul di dekatnya sehingga Rose lama kelamaan bisa menerima keberadaan Max. Meskipun dari awal dia memang sudah menaruh hati saat pertama kali bertemu dengan pria itu. Namun kedekatan yang mereka mulai hanyalah sebatas hubungan tanpa status, hingga saat keduanya lulus di waktu yang sama keduanya sepakat untuk menjalin hubungan. Hubungan kekasih. Cerita cinta mereka di mulai.
Saat itu, Max kembali dari perjalanan bisnisnya dari Italia, tentu saja dia merindukan kekasih tercintanya setelah tidak bertemu hampir dua minggu. Dan dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya dan sudah menyiapkan bunga mawar besar untuk wanita itu. Hingga saat dia sudah ada di depan rumah Rose, dia menerima telepon jika kekasihnya itu mengalami kecelakaan.
Sontak dia langsung masuk ke dalam mobil dan mencampakkan sebuket bunga yang dipegangnya ke kursi sebelah kemudi. Satu persatu mahkota bunga mawar itu berjatuhan ke bawah. Saat kau hanya memperdulikan satu hal maka kau akan melupakan segala**nya. Max melaju sangat cepat dengan kecepatan tinggi.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments