Kepikiran Max

Sudah hampir tengah malam, udaranya menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Jane pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, meskipun tidak bisa menghangatkan namun setidaknya air bisa membuatnya merasa lebih segar. Apalagi sepertinya dia memang harus ke kamar mandi, dia harus buang air.

Di kamar mandi, Jane mencuci tangannya lama, lalu menambah goresan lipstik di bibirnya yang tampak memudar. Melihat bibir nya yang merah mengingatkannya pada wanita yang menghampirinya beberapa saat yang lalu.

“Ehm, maaf. Apa kau melihat pria yang baru saja duduk disini?” tanya wanita itu sambil menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di depannya. Jane hanya menggeleng tak menjawab. Dia tidak bohong, dia memang tidak tahu kemana pria yang duduk disana sebelumnya pergi kemana.

“Ash, kemana dia, aku yakin melihatnya disini.”

Wanita itu melihat sekelilingnya, dia tampak sedang mencari seseorang. Dan yang terbayang dalam pikiran Jane hanya satu, Max. Pria yang baru saja berbicara dengannya sebelum wanita itu datang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mungkin kata terimakasih atau—semacamnya, wanita itu berjalan menjauh tanpa menoleh ke arah Jane. Seakan wanita itu tidak pernah berbicara dengannya. Tapi memang cukup langka sekarang ini untuk dapat melihat seorang yang punya tatakrama.

“Kenapa aku tiba-tiba memikirkan dia.” Jane memasukkan lipstiknya ke dalam tas, mencuci tangannya lagi dan mengambil tisu yang ada dalam kotak coklat yang menggantung di dinding samping cermin. “Tapi katanya akan kembali, kan? Apa dia sungguh kembali kesana lagi?” Dengan cepat Jane mengelap sisa air di tangannya dan menyempatkan diri untuk bercermin sekali lagi sebelum keluar dari kamar mandi mewah yang penuh dengan lampu indah dan dekorasi cerah.

“Oh ya, aku lupa mengabari Shara.” Jane memperlambat langkahnya, berniat untuk mengambil ponsel di dalam tasnya.

"Dimana, kok ponsel ku ga ada, apa tertinggal di kamar mandi ya.” Jane mengecek tas nya sekali lagi untuk memastikan, dan memang tidak ada ponselnya disana. Dia berbalik dan kembali ke jalan yang baru saja dia lewati, kembali ke kamar mandi. Untung saja dia berjalan tak terlalu cepat, dia masih berjarak beberapa langkah dari sana.

Langkahnya langsung terhenti di depan pintu saat mendengar suara pintu di banting di dalam kamar mandi. Dia yakin saat masuk dan keluar tidak ada orang lain selain dirinya. Dia takut, tapi juga penasaran di tambah lagi dia harus memastikan ponselnya memang tertinggal di kamar mandi. Jane sengaja membiarkan matanya terbuka lebar tak berkedip sekalipun, dia membuka pintu.

Seorang wanita dengan rambut yang sedikit berantakan dan gaun yang sedikit kusut melihat ke arahnya. Jane memperhatikan wanita itu dari ujung kepala hingga ujung high hells yang di pakainya. Itu dia, itu adalah wanita yang bertanya padanya beberapa saat lalu. Tapi seingatnya, wanita itu tak berpenampilan seperti sekarang ini. Itu bukan urusannya, dia tidak peduli dan juga sepertinya tidak sopan baginya untuk bertanya.

Jane tersenyum pada wanita itu sebelum mengalihkan matanya ke meja wastafel panjang berlapis keramik berwarna gelap yang terhubung dengan cermin kaca di sana. Dia berharap bisa melihat ponselnya dari kejauhan, tapi dia tidak mendapatinya. Namun Jane tidak yakin dengan penglihatannya, dia berjalan ke arah wanita itu, melewati nya. Dia kembali ke tempatnya bercermin beberapa saat yang lalu. Dia mengamati dari ujung kanan hingga ujung kiri, atas dan bawah wastafel. Tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan ponselnya.

Apa tertinggal di sana, ya.

Jane berbalik dan dikejutkan karena matanya bertemu dengan wanita itu, atau mungkin wanita itu memang tidak mengalihkan pandangannya sejak Jane masuk. Sepertinya begitu. Jane kembali tersenyum padanya sebelum pergi, namun dengan senyum yang berbeda dengan yang dia lontarkan saat masuk.

Senyumnya menjelaskan kecanggungan yang dia rasakan. Dia keluar dan menghilang dari balik pintu yang sudah tertutup. Sedangkan wanita itu membasuh tangannya, bercermin dan merapikan gaunnya yang tampak sedikit berantakan.

“Apa kamu tidak akan keluar? Sudah tidak ada orang.”

Tiba-tiba seorang pria muncul dari balik pintu yang ada dibelakangnya. Dia bisa melihat wajah pria itu dengan jelas dari pantulan cermin, dan juga bisa melihat jika pria itu berjalan ke tempatnya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu. ‘kamar 304,’ bisik nya pelan sambil menggigit kecil telinga wanita itu.

“Ahh—eehmm. Ada apa? Tidak biasanya kamu menunda, Max?”

“Aku sedang menyiapkan hadiah untuk Dev, duluan saja. Aku akan menyusul.”

Satu kecupan di bibir wanita itu sebelum dirinya pergi. Pria itu adalah Max, sedangkan wanita yang dipeluk dan diciumnya adalah seorang artis, Ziya Lewis. Bukan artis yang berada di peringkat paling atas namun masih dalam urutan yang cukup mendominasi di dunia hiburan. Dan dia baru saja kembali dari syuting film di London, tentu saja niatnya awalnya adalah menghadiri undangan dari acara pertunangan yang diadakan malam itu. Dia tidak menyangka akan bertemu teman lama di acara itu, atau—lebih tepatnya teman ranjangnya.

Jane kembali ke tempat duduknya di tepi kolam, dia mencari ponselnya tapi tetap tidak ada. Dia bahkan berjongkok untuk melihat apakah ponselnya jatuh ke bawah meja dan terkejutnya begitu dia hendak akan berdiri ponselnya melayang di depan matanya. Bukan, seseorang memegang ponselnya. Max tersenyum dan kembali menampakkan lesung pipinya, Jane langsung berdiri dan mengambil ponselnya.

“Ponselku, aku pikir aku menghilangkannya.”

“Ya, tampaknya kau meninggalkan ponselmu di—”

“Terimakasih. Aku mencari-carinya dari tadi, ternyata benar ponselku tertinggal disini ya. Dan—kamu, kupikir kau tidak akan kembali kesini.”

“Apa kau menungguku kembali?” Max menatap mata Jane, mereka bertatapan. "Tidak." Jane membohongi dirinya.

Hampir saja Max keceplosan mengatakan jika dia mendapati ponsel itu tertinggal di toilet. Untung saja. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi matanya jelas menatap pada bibir Jane yang tampak lebih merah dan menggoda dari sebelumnya, lebih dari saat pertama kali dia menghampiri wanita itu.

“… ku antar?” Max tidak mengucapkan kalimatnya dengan jelas. Dia melihat Jane yang tampak sudah bersiap untuk pergi dari sana, dan wanita itu tampak sedang mencari temannya yang katanya datang bersamanya. Jane menaikkan alisnya, dia tidak yakin dengan apa yang dia dengar.

“Ingin ku antar? Sepertinya kamu ingin pulang dan temanmu masih belum kembali.” Lanjut Max.

“Hemm, tapi aku mungkin akan merepotkan mu. Apartemen ku cukup jauh dari sini, aku akan menghubungi temanku saja.” Jane mengambil kembali ponsel nya di dalam tas, menelpon Shara. Dering ponsel berbunyi didekatnya, itu dering ponsel Shara. Bunyi itu berasal dari dalam tas yang ada di samping kursi yang dia duduki sebelum ini. Dia tidak membawa ponselnya. Jane melirik ke arah Max yang juga mendengar dering itu.

“Sepertinya teman mu masih lama, aku akan mengantarmu, lagi pula ini sudah malam. Tidak mungkin aku membiarkanmu pulang dengan taksi bukan?”

Pria itu benar, Jane mengangguk setuju.

...----------------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!