Dua minggu kemudian, pertunangan Devan.
Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Jane, pesan masuk dari Shara. Dalam pesan itu Shara menanyakan kepastian Jane untuk hadir di acara pertunangan Devan yang akan berlangsung malam hari. Jane yang saat itu sedang mengeringkan rambutnya selesai mandi membalas Shara dengan pesan suara jika dia akan hadir tapi agak terlambat.
Tidak mungkin dia tidak hadir di hari berbahagia pria yang sudah memperlakukannya dengan baik selain Shara, meskipun kata ‘teman’ lebih cocok disebutkannya untuk Shara dari pada pria itu. Karena dia menaruh hati pada pria yang akan bertunangan, pernah atau mungkin—masih.
Jane yang dengan kebetulan bertemu Devan yang menjadi seniornya saat itu. Mereka sering berada dalam salah satu organisasi kampus yang membuat keduanya saling mengenal dan menjadi dekat. Meskipun awalnya mereka sama-sama sendiri, tidak punya kekasih. Namun satu semester berlalu sejak kedekatan mereka Devan menjalin hubungan dengan seorang wanita dari jurusan seni, Hanna Gerald. Wanita yang akan bertunangan dengannya sekarang.
Pernah suatu ketika Jane menjaga jarak dari Devan namun pria itu tetap mendekatinya, karena dimatanya Jane adalah seorang ‘adik perempuan’. Lebih dari seorang teman namun tidak lebih lagi dari itu. Hingga sudah lulus dari kampus mereka masih dekat hingga saat ini. Tidak ada yang tahu hubungan ‘adik kakak’ itu akan berakhir kapan. Bisa jadi setelah pertunangan ini atau bisa jadi saja hubungan itu akan tetap bertahan hingga nantinya.
Pukul 09.00 pm.
Waktu berlalu begitu cepat, malam datang dengan sigap. Jane dan Shara sudah berencana untuk datang terlambat. Shara sudah ada di parkiran bawah depan gedung apartemen tempat tinggal Jane. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menunggu Jane masuk ke mobilnya, Jane langsung bergegas turun saat beberapa menit setelah dia menerima pesan jika Shara sudah ada di parkiran. Tak ingin berlama-lama, mobil itu berangkat meninggalkan halaman parkir dan melaju ke sebuah hotel terkenal yang akan menjadi tempat pertunangan ter—mewah malam ini. Butuh waktu setengah jam untuk sampai disana.
“Apa kamu yakin akan datang? Kamu bilang kepalamu masih sakit tadi, jangan dipaksakan.” Shara melirik Jane yang duduk disampingnya sembari mengemudi dengan baik. Meskipun dirinya tidak pernah mendengar pengakuan dari Jane jika dia menaruh hati pada Devan, namun dia sudah cukup peka dengan apa yang dia lihat. Hanya saja dia tak ingin memperumit hubungan yang sudah terjalin. Dia tidak akan merusak itu.
“Aku baik-baik saja. Bagaimana mungkin aku tidak datang,” Jane menjawab tanpa melihat ke arah Shara, dia masih melihat keluar jendela sejak dirinya duduk bersandar sedari masuk ke mobil putih itu. Shara hanya menanggapinya dengan anggukan mengerti tak ingin bertanya lagi. Lima menit berlalu, Jane tidak lagi melihat ke luar jendela, dia menatap lurus ke depan dengan mata terpejam.
“Mungkin malam ini akan jadi malam terakhir aku bertemu dengannya.” Jane bergumam begitu pelan, hanya suara bisik tak jelas yang dapat Shara dengar dan membuatnya penasaran.
“Kamu sedang menggumamkan apa?” Mata Shara menyiratkan rasa ke—ingin tahuannya. Namun Jane tak ingin menyebutkan apa yang sedang dia pikirkan dan dia gumamkan. Dia tak ingin terlihat sedih di hari berbahagia orang yang dia sayangi. Untuk saat ini masih dia—cintai.
Diparkiran bawah gedung bertingkat, hotel bintang lima yang sudah diakui tampak puluhan mobil mahal terparkir di sekitar mobil Renault Koleos milik Jane. Mobil yang hanya dia beli seharga lima ratus jutaan bulan lalu. Mobil yang tidak bisa dibandingkan dengan mobil seharga milyaran yang ada di sekelilingnya.
Jane dan Shara masuk ke dalam lift untuk sampai ke tempat acara. Sesaat sebelum pintu lift terbuka, Jane menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dan begitu pintu terbuka, matanya langsung dimanjakan oleh kilauan lampu dan ratusan atau mungkin ribuan hiasan kristal yang menggantung di langit-langit gedung.
**
“Ho, kau terlihat lebih ‘wah’ dari biasanya,” Dye berdiri dari sofa abu-abu sambil mengangkat kedua tangannya sejajar bahu. Dia berjalan menjauh dari sofa yang sudah dia duduki sejak sampai apartemen Max setengah jam yang lalu. Pria itu mendekat pada Max yang baru saja keluar dari kamarnya. “Sepertinya kau ingin jadi bintangnya ya malam ini, alih-alih tuan rumah acara nanti. Tunggu apa ini?” Dye mendekatkan kepalanya pada Max, dia mengamati dengan seksama sesuatu yang mengganggu penglihatannya. Sebuah luka goresan di bawah mata pria itu.
Max langsung membuat jarak dari Dye saat tangan pria itu ingin menyentuh wajahnya. “Jangan coba-coba menyentuhku.” Melihat ekspresi Dye membuatnya penasaran apa yang dilihat pria itu diwajahnya. Max membelakanginya begitu saja tanpa berkata lagi, berbalik ke kamarnya tanpa menutup pintu. Dia menatap pantulan dirinya di cermin panjang yang ada di ruangan yang dipenuhi oleh beberapa lemari yang di isi oleh banyak pakaian. Dia melihat wajah tampan yang tampak bersinar karena mata birunya. Tapi bukan itu yang ingin dia lihat, dia mengamati wajahnya lagi dan ternyata ada satu goresan di wajahnya. “Hanya goresan kecil,” gumamnya.
Ternyata Dye ikut masuk ke dalam kamarnya. Dia mengikuti Max ke ruangan itu, “Apa kau ke tempat kakak mu tadi?” dia bertanya sambil melihat-lihat jam tangan yang berjejer rapi dalam kotak yang tertutup kaca. Dia mengambil satu, jam tangan hitam—silver keluaran terbaru. Edisi terbatas.
“Ya, asal kau tahu saja. Aku kesana untuk mengunjunginya setelah lama tidak bertemu, kau tahu apa yang ku dapat pertama kali? Satu tamparan, dia tiba-tiba menamparku. Sial, ini pasti karena kukunya. Untung saja hanya tergores sedikit, kalau tidak dia tidak akan tahu berapa kerugian yang sudah dia perbuat untuk wajah tampanku ini.”
“Haha, bukankah itu pantas untukmu. Satu tamparan saja tidak cukup menurutku untuk orang yang menghilang setelah membuat kekacauan di hari pernikahannya.” Dye tertawa kecil. “Aku pakai jam tanganmu ya.” Dia memperlihatkan jam tangan yang sudah ada di pergelangan tangannya.
Sepertinya itu bulan lalu, di hari pernikahan kakak perempuannya yang berlangsung di salah satu penthouse milik keluarga Miller. Pernikahan Anya Miller dengan Dom Perl, seorang pengusaha kaya raya dari Italia. Tentu saja Max sebagai adik hadir dalam pernikahan itu, yang jadi masalahnya adalah sifat playboy nya dan rayuan maut yang dia punya. Tanpa dia sadari dia menggoda seorang wanita yang seharusnya menjadi adik ipar kakaknya, saudara iparnya.
Dia sungguh tidak tahu saat itu, karena saat pertemuan antar keluarga dia tidak datang sebab ada perjalanan bisnis ke Kanada. Dan adik kakak iparnya itu sepertinya juga tidak mengenalinya, percumbuan mereka di lorong tanpa sengaja tampak oleh Dom yang saat itu berencana ke kamar kecil. Dia mengenali adiknya namun tidak dengan Max yang saat itu membelakanginya. Melihat itu, Dom bergegas menghampiri dan satu pukulan keras mendarat di Max. Dom memukulinya beberapa kali hingga membuat tubuhnya roboh dan terjatuh ke lantai.
Beberapa tamu melihatnya, sehingga menjadi gosip hangat di hari berbahagia itu. Anya yang menyadari pria yang dipukul oleh suaminya adalah Max langsung memisahkan mereka. Hubungan gelap antar adik ipar? Itu sama sekali tidak lucu. Ya, begitulah kekacauan yang diciptakan oleh Max saat itu.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
YouTube: hofi_03
Nggak kerasa dah sampe sini bacanya
2023-09-22
1