Saat itu...
Ketika baru membuka pintu kamar pasien, Max langsung masuk dengan langkah cepat setengah berlari menghampiri Rose yang terbaring tak sadarkan diri. Dia memegang erat tangannya dan hampir tak bisa memikirkan apapun selain wanita itu. Hingga seorang dokter masuk dan menjelaskan kondisi Rose padanya, dia lega jika wanita itu akan baik-baik saja. Perasaan lega sebelum dokter itu menanyakan pria lain padanya.
“Pria yang bersamanya? Siapa?”
Max mengikuti langkah dokter itu dan masuk ke dalam ruangan yang bersebelahan dengan ruangan yang dimasukinya sebelum ini. Dan seorang pria juga terbaring tak sadarkan diri disana. Untuk sesaat dia masih berpikir apa yang terjadi, hingga Dye datang dan menarik dirinya keluar dari ruangan itu.
“Dia sopir baru Rose,” Dye langsung menyebut kalimat itu bahkan sebelum Max bertanya padanya. Dia tersenyum sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah habis berlari dari parkiran. Dye berbohong. Karena dia masih mengumpulkan bukti--perselingkuhan Rose dan pria itu.
“Oh. Sopir baru, beraninya dia membuat calon istriku kecelakaan. Urus dia,” Max meninggalkan Dye yang masih mengatur nafasnya, dia kembali ke kamar Rose. Dan akhirnya pria itu di penjara atas kelalaian bekerja.
Untuk beberapa waktu, perselingkuhan itu dapat di sembunyikan. Bahkan saat Rose meminta untuk pria itu di bebaskan, Max membebaskannya karena mendengar penjelasan dari Rose yang mengatakan pria itu tidak bersalah ditambah karena wanita itu memohon padanya. Max sempat curiga, namun curiga nya tak berdasar jika itu hanya untuk seorang sopir.
Dan akhirnya setelah hilangnya Rose dari acara pertunangan, barulah Dye mengatakan yang sebenarnya dan memperlihatkan bukti-bukti yang dia punya. Karena jika dia sembarangan menyimpulkan sebelum ini tanpa bukti yang konkret pria yang sangat mencintai wanita nya itu tidak akan percaya padanya. Tapi Dye tidak menyampaikan semua kebenaran yang dia tau.
**
“Jadi kenapa dia tiba-tiba mengincarnya?” Devan minum segelas wine, habis setengah gelas. Bagaimanapun dia harus mendapatkan penjelasan, kalau bisa penjelasan yang dia terima rinci dan mendetail.
Dye mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah foto seorang wanita di pantai yang mengenakan bra dan ****** ***** merah muda pada Devan. “Siapa yang tidak akan tertarik dengannya…”
Devan meletakkan gelasnya di atas meja, mengambil ponsel Dye dan mengamati foto Jane. Dia tersenyum melihatnya, seakan larut dalam suasana pantai dengan desiran pasir menerpa.
“Dia menolak Max, kau juga tahu kan Max tidak akan tahan saat ada wanita yang menolaknya. Dia akan melakukan apapun hingga wanita itu menjadi miliknya.”
“Haha, dia tidak akan bisa.” Devan kembali meminum wine—nya dan meneguknya habis sebelum beranjak pergi dari meja bar panjang yang terletak di dalam sebuah club malam, Ethalos. “Dia terlalu tua untuk bermain-main dengan anak kecil.”
“Hei, kau mau kemana?”
Masih terngiang dalam benaknya foto Jane di pantai. “Aku ingin mengurus adikku.”
“Adik? Memangnya dia punya adik?” Dye bergumam pelan, ingin bertanya namun pria itu sudah menghilang dari pandangan nya, seakan lenyap tak menyisakan jejak. Sementara dia minum sendiri, wine di tangannya terasa nikmat karena sambil memandangi foto Jane di ponselnya. Hingga kehadiran seorang pria mengakhiri kenikmatan itu.
“Hei. Lama tidak bertemu.” Suara berat yang dia dengar langsung membuat pandangannya beralih pada pria yang tiba-tiba duduk di bangku yang sebelumnya di duduki Devan.
“Lery. Kau kah itu?”
“Hei, ayolah. Apa kau sudah tidak mengenaliku.” Lery menepuk dada Dye pelan.
“Bagaimana mungkin aku tidak—apa, Lery.” Dye langsung meletakkan gelas wine nya di meja, menatap pada pria yang duduk disampingnya sebelum matanya mengamati keadaan disekitar. “Kau sudah gila, ya. Apa yang kau lakukan disini. Bagaimana jika ada melihatmu.”
Dye langsung bangkit dari bangkunya, mengambil ponsel sementara tangan satu lagi menarik Lery pergi, langkah Dye tampak tergesa-gesa saat menaiki anak tangga sedangkan pria yang dibelakangnya hanya bisa mengikuti tanpa bertanya. Dan begitu sampai di salah satu ruangan di lantai satu, Dye menutup pintu dan menguncinya.
"Kenapa kau datang kesini? Aku sudah menyuruhmu untuk tetap di sana kan.”
“Aku bosan, kau tau tidak ada yang bisa ku ajak mengobrol disana. Aku hanya kembali untuk melihat-lihat sebentar. Lagi pula ini sudah hampir satu tahun, apa dia masih belum melupakannya?” Lery duduk dengan santai di sofa biru gelap yang ada disana.
“Mau itu satu tahun dua tahun tiga tahun atau berabad-abad sekalipun dia tidak akan lupa jika kau yang membantu wanita itu untuk kabur.”
“Ha. Dia masih menyalahkan ku? Bukankah sudah kubilang aku hanya menolongnya karena dia bilang sedang hamil saat itu. Kupikir dia—”
Dye langsung menutup mulut Lery dengan tangannya agar dia tidak melanjutkan kalimatnya. “Jaga ucapanmu. Aku tidak akan mengambil resiko jika berita itu sampai ke telinga Max.” Dye melepas tangannya.
“Apa? Kau tidak memberitahukan hal itu padanya. Bagaimana mungkin kau tidak mengatakan padanya tentang anaknya.”
“Haha, anaknya? Bodoh. Bisakah kau buang kebodohanmu itu meski hanya untuk sesaat saja. Untuk apa dia kabur dari pertunangannya jika dia sedang mengandung anak Max. Anak itu akan mati bahkan sebelum lahir.”
“Maksudmu anak itu—”
“Ya. Jadi kembalilah ke Indonesia sampai keadaannya membaik disini, jika kau tertangkap oleh Max aku tidak akan bisa menolong mu.”
“Ya, ya. Aku sudah seperti buronan saja sekarang. Padahal aku tidak melakukan apapun. Tapi biarkan aku disini semalam saja, ya. Hanya semalam.”
“Sekarang, aku akan memesan tiket pesawat paling awal untuk mu.”
“Ayolah, sekali ini saja. Kumohon, kak.” Lery menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, memasang wajah memelas dan menatap Dye penuh harap.
“Okelah, hanya malam ini. Besok pagi-pagi kau harus langsung berangkat.” Dye akan membiarkannya kali ini, karena dia tidak akan bertemu dengan Max yang masih terbaring tak sadarkan diri di apartemennya.
“Yes, thank you my best brother.”
Lery Alfred dan Glen Dye adalah kakak beradik. Mereka terpaut umur dua tahun. Keduanya juga merupakan tuan muda di dalam keluarga kaya, namun tetap saja tidak sekaya Max. Dan yang penting nilai kaya itu tidak akan berpengaruh pada persahabatan yang mereka ciptakan sejak kecil. Sebenarnya Lery sudah seperti adik bagi Max dan dia bisa saja mempercayai ucapan Lery karena sifat polosnya.
Namun mengingat temperamen Max yang tak terkendali sejak hilangnya wanita itu membuat Dye dipenuhi keraguan untuk jujur pada Max. Apalagi kemungkinan terburuknya adalah Max akan menyuruhnya untuk membunuh bayi dalam kandungan wanita itu karena rasa cintanya yang sudah berubah menjadi obsesi tak bertepi.
“Seharusnya dia melepaskan Max dari awal,” Dye bergumam begitu Lery keluar dari ruangan dan menyisakan dia sendirian.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments