20. SLMS

Waktu terus berlalu, hari terus berganti, tanpa terasa sudah satu bulan Senja terbaring di bed pasien. Entah apa yang membuatnya masih betah memejamkan mata hingga tak kunjung kembali ke dunia nyata.

Meski Bumi disibukkan dengan pekerjaan di kantor, ia tetap terus mengawasi sang istri lewat CCTV yang terhubung di ponselnya.

Rasa bersalah, penyesalan yang terus menghantui diri, membuat seorang Bumi tak bisa merasa tenang.

Setiap hari setelah pulang kantor, Bumi lebih memilih langsung ke rumah sakit hanya untuk memastikan Senja selalu dalam keadaan baik-baik saja meski belum merespon.

Pun begitu dengan Langit, pria itu selalu memastikan Senja selalu dalam keadaan aman. Karena ia takut sewaktu-waktu, bisa saja ada bahaya yang mengancam jiwa sang sahabat.

********

Siang harinya di kantor ....

Bumi baru saja keluar dari ruangan meeting.

Baru saja ia akan memegang gagang pintu, suara seorang wanita langsung membuatnya menoleh.

“Jingga, mau apalagi dia ke sini?” gumamnya dengan alis menukik tajam.

“Sayang,” ucap Jingga.

“Jangan memanggilku lagi dengan sebutan itu, Jingga. Kamu bukan siapa-siapaku lai,” protes Bumi lalu membuka pintu.

Begitu ia mendaratkan bokong di sofa, Bumi meletakkan lembaran kertas yang dibawanya tadi ke atas meja.

“Ada apa kamu kemari? Jika kamu ingin membahas tentang hubungan kita, aku rasa sudah nggak ada yang perlu dibahas!” tegas Bumi.

“Bumi, jangan seperti ini. Aku nggak bisa menerima jika kita putus begitu saja. Lagian apa lagi yang kamu harapkan dari istrimu itu! Ini bahkan sudah satu bulan lebih tapi dia belum juga sadar dari koma.”

“Pria bukan hanya aku, Jingga. Tolong, aku nggak mau kamu menggangguku lagi. Jangan pernah berharap lagi padaku. Karena saat ini, aku ingin fokus untuk kesembuhan Senja. Aku rela menunggu sampai kapan pun, demi menebus semua kesalahan juga perbuatan kejiku padanya dan putraku,” pungkas Bumi lalu beranjak dari sofa.

“Bumi!!” pekik Jingga. Menghampiri mantan kekasihnya itu lalu memukulnya bertubi-tubi sambil berteriak histeris.

“Jingga! Hentikan!”

Tak lama berselang, Pak Andara membuka pintu lalu menegur keduanya. Ia yang tadinya melewati ruangan sang putra, merasa penasaran karena mendengar suara keributan di ruangan itu.

“Ada apa ini?!” Pak Andara mengerutkan kening sambil menatap menyelidik pada keduanya.

“Om, aku dan Bumi masih berhubungan meski dia masih berstatus suami Senja. Bahkan kami sering melakukan hubungan terlarang di belakang Senja!” Dengan entengnya Jingga mengatakan hal yang tak sepantasnya ia katakan.

Akan tetapi, ia juga tak ingin membuang kesempatan untuk mengatakan kebenarannya. Pikirnya, ini adalah keputusan yang tepat. Tentu saja supaya Bumi akan segera menikahinya.

Plak!!

Satu tamparan keras langsung mendarat di pipi Bumi.

“Pria macam apa kamu ini, hah?! Istrimu lagi berjuang untuk kembali ke dunia nyata, Bumi! Sedangkan kamu malah asik bermain gila dengan Jingga!” hardik Pak Andara.

Pria paruh baya itu memberikan tatapan tajam pada Jingga.

“Dan kamu, sebagai seorang wanita, apa kamu nggak punya harga diri?! Dengan gampangnya mau ditiduri oleh pria yang belum tentu akan menikahimu!” sindir Pak Andara.

Seusai menuntaskan kelimat itu, ia pun meninggalkan ruangan kerja Bumi dengan perasaan marah.

“Apa kamu sudah puas?!!” bentak Bumi. “Aku minta mulai detik ini, besok dan seterusnya, jangan pernah lagi menampakkan batang hidungmu di hadapanku! Keluar sekarang juga!!”

“Bumi a ....”

“Keluar!!” Dengan perasaan dongkol, Bumi mencengkram pergelangan tanga Jingga. Menarik paksa gadis itu hingga berada tepat di depan pintu lalu mendorongnya keluar.

Brakk!!!

Suara bantingan pintu cukup jelas menegaskan jika ia dalam keadaan marah.

Jingga langsung mengepalkan kedua tangan. Tak terima dengan ucapan yang terlontar dari Bumi.

“Aku nggak akan melepaskanmu begitu saja. Aku rela menghalalkan segala cara demi memilikimu, Bumi!”

.

.

.

Rumah sakit umum kota J.

Langit yang baru saja masuk ke kamar rawat, langsung menghampiri bed. Menarik kursi lalu duduk.

“Senja, sampai kapan kamu akan seperti ini terus? Ayo, bangunlah, buka matamu. Apa kamu nggak kangen padaku? Nggak kangen mendaki gunung bareng teman-teman yang lain? Aku mohon bangunlah dari tidur panjangmu itu.”

Langit mengelus pelan jemari Senja. Menatap nanar wajah yang terlihat begitu tenang serta teduh dalam tidurnya.

Tak bisa lagi menahan air mata yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk mata, pada akhirnya harus tumpah juga tanpa bisa dicegah.

“Nak Langit.” Mang Dul mengelus punggung pria itu. “Percayalah, Nak Senja pasti akan bangun jika sudah tiba waktunya.”

“Mang, ini sudah sebulan lebih. Satu hal yang membuatku khawatir adalah, jika dia tersadar dari tidur panjangnya, dia malah mengalami amnesia. Dan, lebih menakutkan lagi jika dia nggak akan pernah membuka matanya,” ucap Langit dengan suara tercekat.

Semua interaksi Langit di kamar rawat Senja, dapat dilihat jelas oleh Bumi lewat ponselnya. Bukan cuma kali ini saja ia melihat pemandangan seperti itu, melainkan hampir setiap hari.

Jelas saja ia semakin ketar ketir. Secara, Langit adalah sahabat Senja bahkan terkesan sangat melindungi wanita malang itu.

Namun, bukan itu saja yang membuat Bumi ketar ketir. Melainkan ia tak bisa menampik jika Langit terlihat sangat mencintai istrinya itu.

...----------------...

Terpopuler

Comments

LANY SUSANA

LANY SUSANA

dah lepaskan Senja unt Langit sj Bumi kl Senja msh inget km jg ga maafin km lo apalg baby twin ninggal

2023-09-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!