Sebelum meninggalkan rumah sakit, sejak tadi Bumi terus memandangi Senja. Sekujur tubuh wanita malang itu terpasang alat medis.
“Senja maafkan aku. Semua salahku karena membiarkanmu berjalan sendirian. Bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini padamu nanti.”
“Bumi, pulanglah. Biar aku saja yang menemani Senja di sini. Sandhyakala dan Arunika harus segera dimakamkan. Paman dan Tante pasti sudah menunggu di rumah. Yang sabar yang kuat,” bisik Langit lalu memeluknya sekaligus menguatkan.
“Baiklah, aku titip Senja, Mas.” Bumi mengurai pelukannya. Kembali memandangi Senja sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Bumi, Langit langsung menghubungi Sky. Meminta sang asisten untuk menyelidiki kejadian di area parkir pusat perbelanjaan itu.
Selesai menghubungi Sky, Langit memandangi Senja. Air matanya langsung menetes. Mengelus dada yang tiba-tiba menjadi sesak.
“Pak Langit,” tegur dokter Syakila seraya menepuk pelan pundak pria itu. “Saya turut berdukacita. Maafkan saya karena nggak bisa menyelamatkan baby twins.”
“Dokter sudah melakukan yang terbaik. Jadi jangan merasa bersalah seperti itu.”
“Ayo, ikutlah ke ruangan saya sebentar. Ada yang perlu kita bicarakan. Ini menyangkut tentang Bu Senja.”
“Hmm.” Langit mengangguk pelan seraya menyusul dokter Syakila ke ruangannya.
Sesaat setelah keduanya duduk saling berhadapan, dokter Syakila menghela nafas.
“Pak Langit, saat ini Bu Senja mengalami koma. Saya nggak bisa memprediksi kapan dia akan sadar. Selain benturan yang cukup keras di perut, kepalanya juga terbentur hingga menyebabkan Bu senja mengalami gegar otak. Kemungkinan dia akan kembali dioperasi karena ada darah yang membeku di otak.
“Maksudnya, bukan dalam hitungan hari?” tanya Langit tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
“Ya.” Dokter Syakila mengangguk pelan.
Langit langsung tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca. “Aku takut jika dia amnesia dan nggak mengingatku.”
.
.
.
Kediaman Bumi ....
Ia langsung disambut oleh kedua orang tuanya, Bik Riri juga Mang Dul. Pak Andara tak kuasa menahan kesedihan.
“Cucuku,” ucapnya nyaris tak terdengar disertai tangis.
Sedangkan Bu Cahaya mematung menatap kedua jasad sang cucu. Penyesalan langsung menyelimuti dirinya.
Ia seolah melihat Bumi ketika masih bayi. “Mereka mirip sekali dengan Bumi.”
“Nak Bumi, sebaiknya kamu ganti pakaian dulu,” cetus Bik Riri.
Tanpa banyak kata, Bumi mengangguk. Melanjutkan langkah menuju kamar.
Sedangkan Pak Andara, Mang Dul dan Bu Cahaya terus menatap baby twins sambil menangis.
Sambil menunggu Bumi, Mang Dul menyempatkan diri menggendong tubuh mungil Sandhyakala dan Arunika bergantian.
Selang beberapa menit kemudian, Bumi pun menghampiri. Ikut bergabung di shaf paling depan untuk menyolatkan putra kembarnya itu.
Setelah selesai, mereka pun kembali menaiki mobil ambulance menuju tempat pemakaman.
*********
Sebelum meletakkan kedua bayinya ke liang lahat, Bumi terus menatap jasad putranya sambil menangis. Memberi kecupan sebagai pertemuan pertama sekaligus yang terakhir.
“Maafkan papa. Papa akan selalu mengirim doa untuk kalian.”
Dengan berat hati, Bumi membaringkan kedua putranya di liang lahat. Mengumandangkan azan dengan suara bergetar.
Tangisannya langsung pecah saat liang lahat itu mulai ditimbun. Pun begitu dengan Bik Riri, Mang Dul, Pak Andara juga Bu Cahaya.
Begitu proses pemakaman selesai, Bumi menatap nanar pusara sang putra. Semua perlakuan keji juga niat yang pernah terbersit, kembali terbayang.
Menyesal ....
Itulah yang kini menyelimuti dirinya.
Beberapa jam berlalu ....
Sejak tadi Pak Andara menatap tajam putra dan istrinya.
“Papa benar-benar nggak menyangka jika kalian berdua ternyata berhati iblis!” Ucapan dingin itu membuat Bumi dan Bu Cahaya tertunduk.
Pak Andara beranjak dari tempat duduk, menghampiri Bumi lalu mendaratkan tamparan yang cukup keras di wajah.
Mencengkram baju sang putra supaya berdiri sejajar dengannya. Kembali mendaratkan bogem mentah ke wajah Bumi.
“Dan kamu, Mah ... masihkah pantas dirimu disebut IBU?!!” Pak Andara menggelengkan kepala seolah tak percaya. “Pantasnya disebut apa kalian ini? Apa kecelakaan tadi adalah bagian dari rencana keji kalian? Jika sampai kalian terlibat maka, papa nggak segan-segan mencebloskan kalian berdua ke penjara!!”
“Nggak, Pah!! Aku berani bersumpah jika kecelakaan itu nggak ada hubungannya denganku. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Percayalah padaku, Pah! Bukan aku dalangnya.”
Bumi berlutut sambil menangis sedangkan Bu Cahaya hanya menundukkan pandangan wajah.
Tak berani menatap wajah suaminya.
“Kamu pikir papa akan percaya begitu saja?! Papa mendengar semua ungkapan kekesalan Senja tadi siang! Jika kamu bukan dalangnya lalu siapa?! Mama?!” Pak Andara mengarahkan pandangannya ke arah Bu Cahaya.
“Bukan mama, Pah,” kata Bu Cahaya.
“Kalian camkan kata-kata papa ini. Jika sampai kalian terlibat dan ternyata dalang dari kecelakaan itu, maka papa pastikan kalian akan dipenjara!!” ancam Pak Andara lalu meninggalkan ruang tamu.
Setelah itu, ia mengajak Bik Riri dan Mang Dul ke rumah sakit. Tanpa menghiraukan Bumi dan Bu Cahaya yang masih terpekur di tempat.
*********
Setibanya di rumah sakit ....
Ketiga-nya langsung menangis memandangi Senja lewat kaca transparan.
“Pak, Nak Senja,” bisik Bik Riri.
“Langit, apa sejak tadi Senja seperti itu?” tanya Pak Andara dengan suara tercekat.
“Paman, Senja dalam keadaan koma,” jelas Langit lalu memeluk Pak Andara. “Dokter juga nggak bisa memastikan kapan dia akan sadar. Terjadi benturan yang cukup keras di kepala bahkan dia mengalami gegar otak. Kemungkinan dia akan dioperasi lagi karena ada darah yang membeku.”
Air mata Pak Andara kembali menganak sungai. Menepuk pelan punggung Langit lalu mengurai pelukannya.
“Paman, aku sudah meminta asistenku menyelidiki kejadian ini. Mudahan-mudahan kita akan segera menangkap pelakunya.”
“Tega sekali orang itu,” timpal Bik Riri sembari menyeka air mata.
“Paman nggak akan membiarkan pelakunya lolos begitu saja. Dia harus membayar mahal karena sudah membuat Senja koma juga kehilangan bayinya,” ucap Pak Andara dengan perasaan geram.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
semoga pelaku kasus cubaan membunuh Senja terungkap...perlakunya tega sekali membunuh baby twins...
2023-09-17
0
Ulyanti Yanti
ya Allah kejam bgd dah bikin si kembar meninggal😭
2023-09-06
0
Bunda HB
Buat air mata ku meleleh thor...😭😭😭😭😭😭
2023-09-06
0