Setelah beberapa jam berada di kediaman Bumi, akhirnya Pak Andara dan Bu Cahaya berpamitan.
“Senja, maafkan papa,” ucap Pak Andara dengan lirih meski tak menjelaskan alasannya.
Senja hanya tersenyum. “Ngapain Papa meminta maaf sedangkan Papa nggak salah apapun. Ya sudah, Papa Mama hati-hati di jalan.”
Begitu mobil mulai meninggalkan perkarangan rumah, Bumi dan Senja ikut berpamitan pada Bik Riri juga Mang Dul.
Di sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Senja hanya diam dengan pandangan kosong ke depan.
Terus seperti itu sehingga keduanya tiba di tempat tujuan.
Tanpa menunggu Bumi, Senja segera mempercepat langkahnya.
“Senja, tunggu!!” Bumi berlari kecil menyusul Senja. Ia langsung menautkan jemarinya.
“Apa sih?!” Senja berusaha melepas tautan jemari itu.
“Senja, biarkan seperti ini. Percayalah padaku jika saat ini kalian adalah prioritas utama bagiku,” ucap Bumi.
“Prioritas utama untuk menyiksaku juga membu*nuh anakku kan? Begitu kan maksudmu?!” balas Senja dengan perasaan geram lalu menghempas kuat tautan jemari hingga terlepas.
Tanpa menghiraukan Bumi, Senja kembali melanjutkan langkah memasuki pusat perbelanjaan itu.
Sedangkan Bumi terpaku sejenak dengan kepala tertunduk. Ia kembali teringat akan ucapan Mang Dul beberapa jam yang lalu.
“Aku akan berusaha keras merangkai kembali puzzle itu supaya kembali terbentuk sempurna,” gumamnya disertai hela nafas.
“Sayang!”
“Jingga,” gumamnya lalu menoleh.
“Jadi, kamu di sini? Sejak semalam aku menghubungi ponselmu tapi di luar jangkauan. Apa kamu sengaja?!” tanya Jingga dengan kesal.
“Ponselku rusak,” jawab Bumi. Saat akan melangkah tangannya di tahan.
“Sayang, kamu kenapa sih, seolah menghindar dariku? Apa kamu sedang bersama Senja?!”
“Jingga, dia istriku dan sedang mengandung anakku. Untuk saat ini, tolong jangan ganggu aku. Soalnya aku lagi menemaninya berbelanja perlengkapan bayi. Kita bertemu nanti malam saja, lagian ada yang ingin aku bicarakan serius tentang hubungan kita.”
“Sayang, kamu apa-apaan, sih!! Pokoknya aku mau kamu menemani aku!” desak Jingga.
“Jingga! Tolong mengerti aku saat ini. Lagian ini pertama kalinya aku menemani Senja!” tegas Bumi.
“Sejak kapan kamu peduli padanya juga bayinya? Apa kamu mulai mencintainya?!!”
“Bayi kami, Jingga! Sudahlah, aku nggak ingin berdebat denganmu saat ini. Kita bertemu nanti malam saja di AG Restauran!” tegas Bumi lagi.
Setelah itu, ia langsung berlalu meninggalkan Jingga yang masih terlihat kesal.
Sementara, Senja yang kini berada di salah satu galeri pakaian khusus bayi, sedang melihat-lihat sembari menyentuh satu demi satu pakaian bayi sambil tersenyum.
“Sayang, rasanya momy sudah nggak sabar ingin melihat kalian mengenakan pakaian ini,” gumamnya lalu kembali melangkah pelan.
Menyusuri toko itu hingga langkahnya terhenti di tempat sepatu bayi. Senyumnya terus terukir merasa gemas.
“Senja!!” Seseorang memanggilnya lalu menghampiri.
“Vio, Leny?” sebutnya sambil melambaikan tangan. “Kalian ngapain di sini? Mau belanja perlengkapan bayi juga?” lanjutnya bertanya sesaat setelah kedua partner kerjanya itu mendekat.
“Nggak, kami kebetulan lewat dan nggak sengaja melihatmu di sini. Oh ya, suami kamu mana?” tanya Vio.
“Hmm, soalnya kami ikut penasaran siapa sosok pria itu,” timpal Leny.
“Mau tahu apa mau tahu banget? Kepo.” Senja kemudian tergelak. Kehadiran teman kerjanya itu seketika membuat hatinya sedikit terhibur.
“Senja.” Bumi menghampiri dengan senyum mengembang.
Ketiga-nya langsung menoleh ke arah sumber suara.
“Apa kamu suaminya Senja?” tanya Leny menatap kagum akan sosok Bumi.
Baru saja Bumi akan menjawab, Senja langsung menyela cepat. “Bukan! Dia sepupu suamiku!”
“Senja, kamu!” Bumi sedikit kesal
“Sepupu?” timpal Vio sambil senyum-senyum.
“Ya, dia sepupu suamiku. Suamiku baru saja meninggal dua Minggu yang lalu. Kenalkan, dia Bumi Azkhara Wasesa, seorang arsitek dan dia masih single lho. Iya kan, Mas Bumi?”
“Senja! Kamu apa-apa sih!” ucap Bumi kesal.
Senja tak menjawab melainkan hanya tersenyum. “Mas Bumi, ini Vio dan Leny. Mereka partner kerjaku dulu waktu masih bekerja di CJ Club'. Kalian bisa mengobrol, aku ingin ke toilet dulu,” kata Senja beralasan.
Ia pun segera meninggalkan tempat itu sekaligus merasa puas. “Bagaimana rasanya nggak dianggap? Sakit bukan? Seperti itulah yang kami rasakan,” batin Senja.
Saat berada di eskalator, ia meringis karena merasakan perutnya tiba-tiba kram. Begitu sampai di tempat makan, ia memesan segelas jus.
“Akh, kenapa perutku tiba-tiba kram begini? Sayang, apa kalian baik-baik saja?”
Setelah mendapat tempat yang kosong, Senja langsung mendaratkan bokongnya di kursi. Mengatur nafas sembari mengelus perut.
Selang beberapa menit kemudian Bumi menegur kemudian duduk di sampingnya.
“Kamu apa-apaan sih, ngomong seperti itu tadi?!”
“Memangnya kenapa? Aku memang sengaja. Mau marah? Silakan saja, itu artinya aku dan baby twins sudah menganggapmu mati,” pungkas Senja.
Bumi tertunduk dengan mata berkaca-kaca disertai sesak di dada. Perlahan menggenggam jemari sang istri sembari menatapnya lekat.
“Maafkan aku, Senja ... tolong maafkan aku. Aku menyesali semua perbuatanku padamu juga anak kita. Tolong beri aku kesempatan kedua demi anak kita, percayalah padaku.”
Senja tetap bergeming bahkan membuang muka. Kebencian yang kini sudah menyelimuti hati, seolah sulit untuk memberi kesempatan kedua pada sang suami.
“Sebaiknya kita pulang saja, perasaanku tiba-tiba nggak enak,” ucap Senja.
Bumi terpekur karena tak mendapat jawaban dari Senja. Hatinya kembali mencelos. Mau tak mau, ia hanya menurut.
“Senja, kamu duluan saja, tunggu aku di mobil. Aku ingin membeli sesuatu dulu,” perintah Bumi sesaat setelah mereka berada di lantai dasar.
“Hmm.”
Keduanya pun berpisah. Senja melanjutkan langkah keluar menuju parkiran sedangkan Bumi ke arah meja kasir.
Senja terus melangkah pelan seolah tak akan terjadi apa-apa. Namun, saat langkah kakinya semakin mendekati mobil, dari arah berlawanan tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Tanpa sempat menghindar, ia langsung ditabrak hingga terpental jauh. Seketika suara teriakkannya terdengar hingga membuat orang-orang yang berada di sana berlarian menghampiri.
“Senja!!!” pekik Bumi. Ia langsung berlari menghampiri Senja yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. “Senja!! Senja!!” panggilnya sekaligus panik.
Langit yang kebetulan baru memasuki area parkir seketika mengerutkan kening. “Sky, hentikan mobilnya, sepertinya ada kecelakaan.”
Begitu mobil berhenti, Langit menghampiri kerumunan itu sekaligus terkejut saat Bumi menggendong Senja.
“Senja, Bumi!!” Tanpa pikir panjang ia langsung berlari menghampiri. “Bumi! Biar aku saja yang membawa mobilnya,” tawarnya tanpa basa basi sesaat setelah mendekat.
Meski penasaran apa yang terjadi, akan tetapi ia tak berani bertanya karena bukan waktu yang tepat.
Melihat keadaan Senja yang tak sadarkan diri juga bersimbah darah, seketika ia menjadi cemas.
Sedangkan Bumi tak bisa berbuat banyak. Ia terus memeluk Senja sambil menangis.
Cemas, khawatir sekaligus takut kini menjadi satu.
Bayang-bayang akan kehilangan baby twins seketika membuatnya menjadi takut. Ia semakin terisak, berusaha menyadarkan Senja.
“Senja, sadarlah jangan seperti ini. Buka matamu! Mas Langit, lebih cepat lagi. Aku takut terjadi sesuatu pada Senja dan baby twins!”
“Bersabarlah, sebentar lagi kita akan sampai,” balas Langit yang tak kalah cemas memikirkan Senja.
“Ya Tuhan, aku mohon selamatkan ketiga-nya,” batin Langit. Sesekali menatap Bumi dan Senja lewat kaca spion tengah.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
Jingga kah yg menabrak Senja??? semoga semoga Senja dan baby twins selamat...
2023-09-17
2