Begitu tiba di rumah, Senja langsung menyapa Bik Riri dengan senyum ramah.
“Rumah ini sepi banget tanpa kamu, Nak.”
Senja mengulas senyum. Mengajak Bik Riri masuk ke kamarnya.
“Kemarin Nak Bumi sangat mencemaskanmu. Dia sempat bertanya tentang yayasan panti tempat kamu dibesarkan.”
“Tapi untuk apa Bik?” Senja mengerutkan kening.
“Mungkin dia mau menyusul ke sana barangkali.”
Senja geleng-geleng kepala. “Mana mungkin dia mau ke tempat seperti itu, Bik. Darah dagingnya saja mau dia lenyapkan secara sadar apalagi jika harus berhadapan dengan anak-anak di panti itu. Dia nggak akan betah!” ucap Senja sinis.
Hening sejenak ....
“Nak senja.”
“Iya Bik.”
“Nak Bumi sangat mencemaskanmu bahkan terlihat nggak tenang. Semalam pun bibik perhatikan dia terlihat gelisah. Sepertinya dia sudah berubah nggak seperti sebelumnya.”
“Bik, seseorang nggak begitu mudahnya berubah dalam jangka waktu yang singkat. Mungkin saja dia punya niat tertentu!” tegas Senja.
“Nak Senja, jika dia benar-benar berubah dan akan memperbaiki semuanya, apa kamu akan memaafkan serta memberinya kesempatan kedua?” selidik Bik Riri.
“Aku nggak yakin, Bik. Terus terang saja aku mulai membencinya. Bayangkan, sejak menikah dengannya aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, melayaninya dengan setulus hati. Namun, semuanya nggak dihargai melainkan mencaci maki, melakukan KDRT juga berusaha melenyapkan anaknya sendiri.”
Senja menundukkan pandangan wajah ke bawah. Sepasang mata kini berkaca-kaca.
“Jika aku boleh jujur, perasaan cinta itu ada walau hanya secuil. Akan tetapi sudah lenyap ditelan bumi ibarat nama pria bia*dap itu. Jika dia ingin berubah maka buktikan karena hatiku kini mulai membatu bahkan seakan sulit ingin menerimanya.”
Seketika dada seorang Bumi bak dihantam sebongkah batu besar. Sakit dan sesak mendengar penuturan panjang sang istri.
Ia memundurkan langkah. Sebuah tepukan di bahu membuatnya terkejut. “Mang Dul.”
“Nak Bumi, puzzle yang telah terburai nggak akan mudah untuk dirangkai kembali. Butuh sebuah perjuangan juga ketelatenan agar ia bisa terbentuk lagi dengan sempurna.”
“Kamu pasti tahu arti dari kalimat itu. Ketahuilah Nak, di saat kesempatan kedua itu datang maka, jangan sia-siakan tapi yakinkan. Karena jika kamu gagal memanfaatkan kesempatan kedua maka Nak Senja akan membencimu seumur hidup,” peringat Mang Dul.
Bumi menatap lekat wajah Mang Dul. Memeluknya sambil meneteskan air mata. Ia berbisik, “Maka bantu aku untuk menyakinkan Senja, Mang. Karena kalian berdua sangat dekat dengannya.”
“Paman dan Bibik juga nggak yakin, kamu sudah dengar sendiri kan ucapan Nak Senja barusan. Sebelum hatinya benar-benar membatu maka segeralah lembutkan. Kerena jika sudah membatu maka semuanya akan berakhir."
Mang Dul menepuk punggung sang majikan. Perlahan melerai pelukan kemudian meninggalkan pria arogan itu.
*********
Siang harinya ....
“Senja.” Bumi menghampiri dengan senyum tulus.
“Dia kenapa?” batin Senja curiga. Ia langsung memegang perut. “Ada apa?!” sahutnya ketus.
Bumi langsung duduk di samping sang istri lalu mengelus lembut perutnya. Bukannya senang Senja malah semakin curiga jika Bumi punya niat tak baik padanya.
Dengan kasar Senja menepis tangan yang masih menempel di perut. Penolakan Senja secara tak langsung membuat hati Bumi kembali seperti ditusuk oleh ribuan jarum.
“Senja, maafkan aku. Mari kita memperbaiki ikatan pernikahan ini. Kita mulai dari nol lagi. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik serta bertanggung jawab. Aku nggak ingin kita berpisah. Aku mengaku salah, percayalah padaku sekali ini saja. Aku akan berubah aku nggak mau kehilangan bayi kita,” tutur Bumi sungguh-sungguh.
“Bayi kita?! Bukan KITA melainkan hanya AKU! Apa kamu lupa? Sejak dia tumbuh di rahimku, dengan lantang kamu mengatakan GUGURKAN, AKU NGGAK MENGINGINKAN BAYI ITU!” Senja tersenyum sinis
“Bukan cuma kamu tapi Mama juga. Kalian berdua adalah orang yang paling membenci bayiku. Hanya Papa dan Kak Riksa yang menerima kehadirannya. Dua Minggu yang lalu itulah hari terakhir aku dan bayiku berharap padamu.” Senja beranjak dari sofa menghampiri jendela.
“Maafkan aku Senja, tolong beri aku kesempatan kedua,” mohon Bumi.
Senja bergeming tak menjawab. Memilih diam karena masih merasakan sakit di hati. Di tambah lagi setelah mendengar pembicaraan Bumi dan Jingga.
Bumi kembali menghampiri, memegang tangan Senja lalu berkata, “Aku ingin mengajakmu berbelanja perlengkapan bayi. Sebaiknya kamu ganti baju, aku akan menunggu di sini.”
“Mereka nggak butuh pemberian darimu. Karena perlengkapan mereka sudah aku siapkan sendiri,” tolak Senja.
“Senja, jangan seperti ini. Mereka juga anakku darah dagingku. Biarkan aku bertanggung jawab penuh. Jangan biarkan aku menjadi ayah yang buruk bagi mereka.”
Senja mengepalkan kedua tangan, benci mendengar ucapan yang baginya hanya sebatas kepura-puraan penuh kebohongan.
Ia langsung memukul dada suaminya itu bertubi-tubi, berteriak histeris meluapkan semua amarah yang selama ini terpendam tanpa memperdulikan keadaannya.
“Senja! Jangan seperti ini, kamu bisa kembali pendarahan. Ingat kata dokter kamu nggak boleh stress.” Bumi memegang kedua tangan Senja lalu mendekapnya.
“Apa pedulimu, hah?!” Senja meronta kemudian mendorong Bumi lalu kembali meluapkan emosinya.
“Senja, Bumi!!”
Keduanya langsung menoleh karena merasa tak asing dengan suara itu.
“Papa, Mama,” ucap keduanya serentak.
‘Aku nggak menyangka jika selama ini anak dan istriku tega pada Senja. Ya Tuhan, di mana rasa empati keduanya?’ batin Pak Andara.
“Pah, Mah, sejak kapan kalian di situ?” tanya Bumi dengan gugup.
“Barusan,” sahut Pak Andara berbohong sembari melirik sang istri.
Seolah tak mendengar apapun, Pak Andara menghampiri Senja dengan senyum ramah. Mengelus kepala lalu turun ke perutnya.
“Apa si kembar baik-baik saja di dalam sana? Oh ya, papa lupa, apa kamu sudah memiliki nama untuknya?” tanya Pak Andara.
“Mereka baik-baik saja, Pah. Aku sudah memiliki nama untuk keduanya. Yang kakak Sandhyakala dan adik Arunika,” jelas Senja lalu mengajak kedua mertuanya duduk di ruang santai.
Keheningan seketika tercipta. Meski saat ini Pak Andara sedang marah, akan tetapi sebisa mungkin ia meredamnya.
Namun, tetap saja sepasang mata yang terlihat begitu tajam menatap Bumi juga Bu Cahaya tak bisa berbohong.
“Pah, Mah, Mas, aku tinggal sebentar, ya. Aku ke dapur dulu,” izin Senja dengan senyum tipis.
Ketiga-nya hanya mengangguk. Sepeninggal Senja Pak Andara menatap anak dan istrinya bergantian.
“Bumi, nanti malam papa ingin kamu ke rumah. Papa ingin berbicara padamu dan juga Mama.”
Ucapan yang terdengar dingin itu membuat Bumi menunduk sekaligus bertanya-tanya. Pun begitu dengan Bu Cahaya.
Sementara itu, Senja yang kini berada di dapur sedang membantu Bik Riri menyiapkan minuman.
“Nak Senja, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu dan Nak Bumi habis bertengkar?” tanya Bik Riri dengan raut wajah sedih.
“Saat ini aku nggak baik-baik saja, Bik. Aku benci Mas Bumi yang tiba-tiba peduli padaku dan bayiku. Entahlah, sejak semalam perasaanku nggak enak, aku bermimpi buruk. Seperti akan terjadi sesuatu.”
Senja memeluk Bik Riri lalu terisak. “Bik, jika terjadi sesuatu padaku tolong selamatkan bayiku. Bawa mereka pergi jangan biarkan mereka berada di tangan Mas Bumi.”
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Jeni Safitri
Malas kali dengar keluhan senja tidak baik" saja dan sll merasa dlm bahaya saat di dekati bumi tapi ngk mau jg pergi jauh bawa kandungannya biar selamat lahiran
2024-03-29
0
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
firasat seorg istri... semoga mereka selamat...
2023-09-17
0
LANY SUSANA
semoga bayi Senja di rawat Langit ya kl.ada apa2 dgn Senja
2023-09-02
0