7. SLMS

Dua Minggu berlalu ....

Setelah dirawat selama empat hari, Senja akhirnya diizinkan pulang dengan catatan mengurangi aktivitas berlebihan.

Sejak pulang dari rumah sakit, Senja memilih pindah ke kamar bawah. Ia tak ingin kejadian itu terulang kembali.

Sikapnya pun sedikit berubah, ia lebih banyak diam bahkan terkesan dingin kepada Bumi. Namun, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.

Kecuali jika berurusan dengan aktivitas ranjang. Terhitung sejak keduanya menikah, Bumi sama sekali tak pernah menyentuhnya. Meski pun Bumi menginginkan, Senja pasti akan menolak mentah-mentah.

Sedangkan Bumi, aktivitas panas itu sering dilakukannya bersama Jingga tanpa sepengetahuan Senja.

*****

Seperti yang terjadi saat ini, sejak pulang dari kantor, ia malah singgah di apartemen Jingga.

Keduanya baru saja menuntaskan permainan panas itu.

“Sayang,” bisik Jingga sembari memainkan jari lentiknya di dada Bumi.

“Hmm, ada apa?” Bumi menghela nafas sambil memejamkan mata.

“Sampai kapan kita akan seperti ini terus? Kapan kamu akan menceraikan wanita itu lalu menikahiku? Lagian hubungan kita sudah sejauh ini. Gara-gara wanita itu kita malah nggak jadi menikah!” ucap Jingga kesal.

Tak ada jawaban dari Bumi, entah mengapa pikirannya malah melayang memikirkan Senja. Mencoba mengingat-ingat kembali kejadian saat ia melecehkan wanita itu.

Kala itu, ia sempat cukup lama memandangi wajah Senja sebelum meninggalkannya. Selama menjadi salah satu member di CJ club', ia memang jarang melihat Senja.

Pikirnya, mungkin Senja adalah salah satu primadona di club' malam itu. Wajah serta kulit khas wanita Indonesia begitu mendominasi pada Senja. Memiliki daya tarik tersendiri. Wanita itu tak bosan dipandang mata.

Bumi mende*sah pelan lalu merubah posisi menjadi duduk. “Sudah jam berapa ini?”

“Apa kamu mau pulang?”

“Menurutmu?”

“Sayang, sebaiknya kamu menginap saja. Lagian kamu sudah nggak pernah menginap di sini sejak bersama wanita itu!”

“Dia istriku, Jingga!” tegas Bumi.

“Sejak kapan kamu menganggapnya istri!” Sindir Jingga

Bumi tak menjawab melainkan beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Sedangkan Jingga terlihat sangat kecewa.

“Jika bukan karena dia, aku dan Bumi pasti sudah menikah,” ucap Jingga dengan lirih.

.

.

.

Sementara di kediaman Senja ....

“Nak Senja, akhir-akhir ini, bibik lihat Nak Bumi sudah mulai berubah,” kata Bik Riri.

Senja mengelus perut sembari tersenyum sinis. “Biarkan saja Bik, jika dia berubah syukurlah. Lagian nggak ada untungnya juga bagiku.”

Bik Riri menatap wajah ayu nan teduh Senja dengan tatapan sendu.

“Nak Senja, jika Nak Bumi benar-benar berubah demi kalian bertiga, apakah kamu akan memberi kesempatan kedua untuknya?” tanya Bik Riri

“Entahlah, Bik. Aku juga nggak tahu. Ucapan serta perbuatannya begitu keji kepada kami,” jawab Senja dengan suara lirih.

Mendengar jawaban ragu-ragu dari Senja, Bik Riri menghela nafas. Melirik sang suami yang sejak tadi mendengar percakapan keduanya.

“Oh ya, Pak, Nak Bumi kok, belum pulang, ya? Padahal ini sudah larut malam.”

“Katanya, dia masih ada urusan dengan temannya. Makanya dia menyuruh bapak pulang saja tadi siang,” jelas Mang Dul.

“Ya sudah, Bik, Paman, aku kembali ke kamarku lagi. Maaf sudah mengganggu keromantisan kalian.” Senja terkekeh kemudian perlahan bangkit berdiri.

Setelah itu, ia keluar dari kamar Bik Riri. Merasa belum mengantuk, ia memilih ke area kolam renang.

Ia langsung tersenyum lebar sekaligus menghirup udara segar. Memilih duduk di kursi santai sembari menatap indahnya langit malam bertabur beribu bintang.

“Langit ... Mas Langit,” ucapnya sambil senyum-senyum membayangkan wajah pria itu.

Sambil mengelus perut, ia mengajak calon bayinya berbicara. Sesekali ia tertawa merasakan tendangan yang begitu terasa mengenai telapak tangan.

“Sehat-sehat terus, ya kesayangan momy.”

Saking senangnya, Senja masih betah berada di area kolam renang itu. Udara dingin yang berhembus seolah membawanya berada di atas puncak.

Destinasi yang begitu disukainya karena ia dan langit memiliki hobi yang sama yaitu mendaki gunung.

Perlahan Senja memejamkan mata sehingga tak terasa ia mulai masuk ke alam bawah sadar.

Bumi yang baru saja pulang, tampak mengerutkan kening sembari bergumam, “Sepi banget. Apa mereka sudah tidur, ya?”

Ia melirik sekilas ke arah pintu kamar Senja yang terlihat gelap. Pikirnya mungkin istrinya itu sudah tidur. Ia kembali mengayunkan langkah menuju kamar.

Beberapa menit kemudian ....

Bumi kembali ke lantai satu. Menuju kamar Senja lalu memutar handle pintu. Alisnya bertaut karena pintunya tak terkunci.

“Tumben?” gumamnya lalu masuk ke dalam. Menyalakan lampu sekaligus terkejut karena sang empunya kamar tak berada di tempat. “Senja, ke mana dia?”

Ia kembali ke lantai dua lalu ke kamar yang sebelumnya ditempati Senja. “Kok, nggak ada!”

Perasaannya langsung menjadi gusar, dadanya seketika berdebar kencang. Merasa getir jika Senja meninggalkan rumah.

“Senja!" ucapnya nyaris tak terdengar sembari memegang dada. “Apa di rooftop? Biasanya dia berada di atas.”

Bumi segera berlari kecil menuju rooftop. Namun, ia semakin merasa getir saat tak mendapati Senja di sana. Sepasang mata pria arogan itu mulai berkaca-kaca.

Ia kembali lagi ke lantai satu menuju kamar Bik Riri. Ingin mengetuk pintu sekaligus ingin bertanya akan tetapi ia urungkan niatnya.

Dengan langkah gontai kakinya kembali terayun ke arah kamar Senja. Namun teralih saat melihat pintu pembatas area kolam terbuka.

Sesaat setelah langkah kakinya terhenti di ambang pintu, ia langsung menarik nafas sedalam-dalamnya.

Matanya kembali berkaca-kaca saat mendapati Senja sedang tertidur di kursi santai sambil memeluk perutnya.

“Senja,” ucapnya lirih seraya menghampiri. Duduk di kursi satunya sembari menatap lekat wajah serta sekujur tubuh sang istri.

Tangannya pun perlahan menyentuh perut buncit Senja. Selama tujuh bulan terakhir inilah kali pertama ia mengelus perut Senja dengan tulus.

Sudut bibirnya seketika melukis senyum saat merasakan tendangan kecil dari calon bayinya. Ia terus mengikuti arah gerakan itu yang seolah mengajaknya bermain.

“Maafkan papa,” bisik Bumi lalu menempelkan pipi di perut Senja. Hatinya kembali bergetar ketika tendangan itu semakin terasa mengenai wajah.

Selama beberapa menit, Bumi masih betah menempelkan wajah di perut Senja. Setelah merasa puas barulah ia menegakkan badan.

“Senja ... Senja ....” Sambil menepuk pelan pipi istrinya. “Senja, bangun di sini udaranya semakin dingin.”

“Mas,” ucap Senja sesaat setelah membuka mata. Sejenak ia bergeming dengan alis bertaut. “Sudah jam berapa ini?”

“Hampir jam dua belas malam,” jawab Bumi. “Kenapa kamu tidur di sini? Nanti kamu bisa masuk angin.”

Senja perlahan merubah posisi menjadi duduk. Menarik nafas seraya menenangkan pikirannya sejenak. Tersenyum sinis lalu membuang muka. Untuk sejenak ia bergeming. Sebelum akhirnya ia kembali menatap Bumi.

Bukan tatapan biasa seperti hari-hari sebelumnya. Melainkan tatapan benci. Hatinya masih saja merasakan sakit.

“Mau aku masuk angin, sakit bahkan akan mati sekali pun, aku nggak peduli. Itu jauh lebih baik. Lantas, sekarang, apa pedulimu!” sindir Senja.

Bumi tertunduk, sadar jika selama ini ia memang selalu mengabaikan Senja. Bahkan sama sekali tak pernah mau tahu keadaannya meski tinggal dalam satu atap.

...----------------...

Terpopuler

Comments

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

dasar jalang dan suami durjana.... masing2 tdk bisa menjaga kehormatan diri.... hnya nafsu serakah yg di utamakan tanpa ikatan sah suami istri... mereka sering melakukannya, terutama Bumi tanpa ada rasa bersalah pd Senja istri sah di hukum agama dan negara...semoga Bumi dan Jingga mendapat karmanya nnti....

2023-09-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!