17. SLMS

Keesokan harinya ....

Bumi ke salah satu ruangan Dokter spesialis bedah yang telah di rekomendasikan oleh dokter Syakila.

Karena Senja harus kembali menjalani operasi akibat penggumpalan darah di otak.

“Pak Bumi,” sapa dokter Syakila dengan seulas senyum. “Perkenalkan, ini Dokter Haikal. Beliau yang akan menangani Bu Senja sebentar lagi.”

Bumi mengangguk pelan seraya menjabat tangan dokter Haikal. Setelah itu, dokter Haikal menunjukkan foto-foto X-ray milik Senja sekaligus menjelaskan.

“Pak Bumi, sebenarnya resikonya sangat besar karena kita harus bersiap menerima segala kemungkinan yang akan terjadi. Namun, saya dan team medis akan berusaha yang terbaik,” kata dokter Haikal dengan hela nafas.

“Dok, besar harapan saya supaya operasi ini berjalan lancar. Saya sudah kehilangan putra kembar saya dan saya nggak ingin kehilangan istri saya.” Sepasang mata Bumi kini berkaca-kaca.

“Insha Allah, saya dan team bedah akan berusaha yang terbaik semampu kami. Tolong bantu kami dengan doa.” Dokter Haikal menepuk pundak Bumi.

“Kalau begitu saya ke ruang ICU dulu,” izin Bumi kemudian keluar dari ruangan itu.

Sesaat setelah masuk ke ruang ICU, tubuhnya langsung gemetar memikirkan ucapan dokter Haikal.

“Aku nggak mau kehilangan kamu, Senja. Aku mohon bertahanlah,” ucapnya lirih. Mengelus pelan wajah pucat Senja.

Tak lama berselang perawat masuk ke ruangan itu kemudian mulai mendorong bed pasien menuju ruang operasi.

.

.

.

Sementara di kantor Pak Andara, ia terlihat sedang menunggu seseorang.

“Pak.”

“Ah, Gerry.” Pak Andara mempersilahkan asistennya itu duduk.

“Pak, saya sudah memeriksa CCTV di area parkir tempat kejadian. Setelah saya telusuri lebih lanjut, ternyata mobil yang digunakan pelaku adalah mobil rental dari salah satu showroom.”

“Lalu?”

“Maafkan saya, Pak, untuk menemukan pelakunya sebaiknya kita serahkan kasus ini ke polisi saja. Orangnya termasuk licik dan sepertinya sudah direncanakan dengan matang,” jelas Gerry.

“Apa pelakunya nggak meninggalkan jejak? Maksud saya, semacam KTP?”

“Ada Pak tapi itu juga KTP milik orang lain. Saat memeriksa CCTV di showroom itu, pelakunya mengenakan hoodie, masker juga kacamata sehingga sulit mengenali wajah pelaku,” jelas Gerry lagi.

Pak Andara menghela nafas kasar. Berpikir keras sembari bertanya-tanya. Untuk apa pelakunya melakukan hal kejam itu.

Membuatnya kehilangan cucu serta membuat sang menantu mengalami koma. Apakah karena persaingan bisnis, dendam ataukah masalah pribadi? Entahlah.

“Ya sudah, buat laporan ke kantor polisi sekarang,” perintah Pak Antara.

“Baik, Pak, kalau begitu saya pamit,” balas Gerry lalu meninggalkan ruangan Pak Andara.

“Siapa pun kamu, aku nggak akan membiarkanmu berkeliaran dengan bebas. Kamu hampir merenggut tiga nyawa sekaligus,” batin Pak Andara sembari memijat pangkal hidungnya.

Ia mengangkat tangan menatap arloji, “Sebaiknya aku ke rumah sakit sekarang, hari ini Senja akan di operasi,” gumam Pak Andara.

Sesaat setelah berada di parkiran, Bu Cahaya baru saja tiba. Namun, karena masih merasakan kekesalan, Pak Andara mengacuhkannya.

Memilih masuk ke dalam mobil lalu meminta sang supir mengantarnya ke rumah sakit.

Tak pelak sikap dingin Pak Andara membuat Bu Cahaya menjadi ketar ketir. Sejak kemarin suaminya itu masih memilih bungkam tak menegurnya sama sekali.

“Mau ke mana dia? Bahkan terkesan buru-buru, apa dia mau ke rumah sakit?” Bu Cahaya hanya bisa menerka-nerka kemudian menghela nafas.

.

.

.

“Nak Bumi,” tegur Bik Riri dan Mang Dul bergantian.

Menghampiri kemudian duduk di sampingnya. Mengelus pundak sekaligus merasa iba menatapnya.

“Bik, Mang, aku harus bagaimana? Aku takut jika Senja ....” Bumi tak sanggup melanjutkan kalimatnya. “Baru saja aku ingin memperbaiki hubungan ini tapi ... malah jadi seperti ini. Aku takut Senja semakin membenciku. Dia pasti mengira jika aku adalah pelakunya.”

“Nak Bumi ....”

“Bik, Mang, aku berani bersumpah, bukan aku pelakunya, bukan aku, percayalah padaku,” ucap Bumi sambil terisak. “Bik, Mang, aku memang pernah beberapa kali membuat Senja celaka. Akan tetapi, setelah kejadian dua Minggu yang lalu aku mulai sadar dan nggak mau kehilangan mereka. Senja pasti akan membenciku serta menganggapku sebagai pemb*unuh anak kami.”

Prok ... prok ... prok ....

Suara tepukan serta derap langkah kaki yang semakin mendekat, seketika mengalihkan pandangannya ketiga-nya.

“Nak Langit!”

“Mas Langit!” Dengan susah payah Bumi menelan ludah.

“Aku baru mengerti sekarang.” Langit menggeleng pelan dengan senyum sinis. “Sejak awal aku sudah curiga jika ada yang nggak beres dengan pernikahan kalian.”

Langit mencengkram kemeja Bumi sekaligus memaksanya berdiri. Membenturkan punggung sang sepupu di tembok.

Bugghh!!!

Satu bogem mentah mendarat di rahang hingga membuat Bumi langsung terhuyung.

“Bajingan!” Maki Langit dengan wajah memerah. Ingin kembali menghajar Bumi namun Mang Dul langsung menahan.

“Nak Langit, tahan emosimu. Ini rumah sakit, Nak. Kalian bisa membicarakan hal ini nanti. Tenanglah, Mamang mohon,” bisik Mang Dul sembari menepuk pelan dada Langit.

“Mang, Bik kenapa kalian menyembunyikan ini dariku? Selama menikah dengan Bumi, Senja seringkali mengalami pendarahan, apa itu semua ulah Bumi?”

Tak ada jawaban melainkan keheningan. Amarah yang tadinya memuncak perlahan mereda. Langit menarik nafas sedalam-dalamnya.

“Jika Senja sudah sadar, aku akan membawanya pergi dari sini. Dia nggak pantas hidup dengan monster itu.”

Langit melirik tajam ke arah Bumi dengan tangan terkepal. “Apalagi yang Senja harapkan darinya? Sandhyakala dan Arunika juga sudah tenang di alam baka. Aku benar-benar nggak menyangka Bumi begitu kejam padanya.”

Dalam keheningan itu, Pak Andara menghampiri sekaligus menegur mereka.

“Apa sejak tadi Senja berada di dalam sana?”

“Iya, Pah.”

“Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat tegang?” selidik Pak Andara sembari menatap mereka satu persatu. “Bumi, Langit, papa sudah melaporkan kasus ini ke polisi. Ternyata mobil itu di rental seseorang di salah satu showroom. Papa curiga jika kecelakaan ini sudah direncanakan.”

“Aku sudah tahu, Paman. Kemaren Sky sudah memberikan informasinya. Siapa pun pelakunya aku nggak akan memberi ampun! Bayangkan, pelakunya ingin menghabisi tiga nyawa sekaligus!” ucap Langit dengan perasaan geram.

Ia kembali memberikan tatapan tajam kepada Bumi. Setelah itu ia kembali bersandar sembari memejamkan mata.

...----------------...

Terpopuler

Comments

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

Pak Andara, Langit cari pelakunya sampai ke lubang cacing biar di jeblos ke hotel 5 🌟dan menerima hukuman yg setimpal...

2023-09-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!