Setibanya di depan gedung hotel, Senja menyeka air mata.
“Awas saja jika kamu membuatku malu!” ancam Bumi lalu membuka pintu mobil.
“Nak Senja ....”
”Nggak apa-apa Paman, aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku,” sela Senja sembari tersenyum tipis.
Sesaat setelah keluar dari mobil, Bumi langsung memberi tatapan menghunus tajam.
“Lama banget, sih!!” bentaknya dengan rahang mengetat. Menautkan jemarinya dengan kuat sehingga membuat Senja meringis.
“Andai saja aku nggak dalam keadaan hamil. Akan aku pastikan kamu nggak akan bisa semena-mena kepadaku,” batin Senja.
Keduanya sama-sama bungkam ketika berada di dalam lift sehingga benda itu terbuka. Tanpa menghiraukan Senja, Bumi langsung meninggalkannya menuju ballroom sendirian.
Sedangkan Senja, tak langsung ke ballroom melainkan memilih ke toilet untuk memperbaiki riasan di wajahnya.
Hatinya langsung menciut sesaat setelah berada di dalam toilet.
“Mama,” ucapnya lirih.
Bu Cahaya langsung mencengkram kuat pipi sang menantu. Memberikan tatapan tajam sekaligus benci.
“Gara-gara kamu, aku dan suamiku sering bertengkar karena dia lebih membelamu. Berapa banyak lagi pria yang akan kamu jebak, hah!! Wanita murahan sepertimu, pasti nggak akan puas hanya dengan satu lelaki!” tuduh Bu Cahaya.
“Dan ini!” Bu Cahaya menyentuh perut buncit Senja lalu mendorongnya. “Aku yakin, itu bukanlah anaknya Bumi. Tapi, anak haram dari salah satu pria yang menidurimu. Iya kan!”
“Mama!” Senja balik membentak tak terima dengan tuduhan keji sang mertua.
Dua tamparan keras langsung mendarat di wajah Senja. Sang mertua kemudian memakai Senja.
“Berani-beraninya kamu membentakku!! Wanita sampah nggak jelas. Ingat ya, sampai kapan pun aku nggak sudi punya menantu juga cucu darimu! Kamu dan bayimu itu seperti kotoran bagiku, menjijikkan!”
Setelah itu, ia meninggalkan senja dengan wajah memerah karena emosi.
Seketika air mata Senja langsung luruh. Ia terisak sambil memegang dada lalu turun ke perut buncitnya. Sesak sekaligus sakit luar biasa di hatinya.
*******
Seperti tak terjadi apa-apa, Senja mengayunkan langkah memasuki ballroom hotel. Dengan ramah ia menyapa para tamu yang menegurnya sembari tersenyum manis.
Meski merasa hati dan raganya kini tak baik-baik saja, ia tetap bersikap biasa-biasa saja.
Ketika langkah kakinya menuju ke arah panggung, ia tak sengaja menabrak seseorang sehingga membuat minuman di tangan gadis itu tumpah.
“Punya mata nggak sih, kamu?!!” bentak gadis itu sembari membersihkan gaunnya dengan kesal.
“Maaf, aku nggak sengaja,” ucap Senja.
Mendengar ada keributan, sontak saja keduanya langsung menjadi pusat perhatian.
“Senja, Jingga, ada apa ini?!” tegur Riksa, kakaknya Bumi.
“Kak, aku nggak sengaja menabraknya,” sahut Senja dengan perasaan bersalah.
“Sudah! Sudah! Menyebalkan,” ucap Jingga kesal lalu meninggalkan tempat itu.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, tatapan menghunus tajam Bumi langsung tertuju ke arah Senja.
“Wanita sia*lan itu! Bisa nggak sih, dia nggak membuat masalah!” umpat Bumi dalam hati.
“Kak, maafkan aku,” ucap Senja lagi. “Aku benar-benar nggak sengaja.”
“Sudah, nggak apa-apa Senja. Yuk kita ke atas panggung. Acaranya sudah mau dimulai,” balas Riksa.
Sesaat setelah keduanya berada di atas panggung, Senja langsung menghampiri mertuanya lalu memberi selamat.
Jika Pak Andara sangat bahagia beda halnya dengan Bu Cahaya, wanita paruh baya itu malah membuang muka.
“Aku kan sudah bilang jangan membuatku malu,” bisik Bumi sembari merangkul pinggang Senja.
Meremas kulit istrinya sehingga membuat Senja meringis pelan sambil memejamkan mata menahan sakit.
“Pah, Mah, Kak, sepertinya aku bergabung dengan para tamu undangan saja. Soalnya aku nggak kuat berdiri lama,” izin Senja beralasan.
Tubuhnya seperti ingin ambruk menahan sakit bertubi-tubi, ditambah lagi kepalanya yang semakin berat karena pusing.
“Ya sudah, nggak apa-apa, Nak. Papa mengerti,” sahut Pak Andara.
“Itu jauh lebih baik karena kamu memang nggak pantas berada di sini. Jika bukan karena permintaan papa, aku pun nggak sudi mengajakmu kemari!” bisik Bumi dengan sinis.
********
Sudah satu jam berlalu pesta itu berlangsung. Senja mulai bosan berada di tempat itu. Ia memutuskan berpamitan lalu meninggalkan ballroom hotel.
Sedangkan dari kejauhan, Bumi terus memandanginya hingga menghilang dari keramaian pesta.
“Mau ke mana dia? Selalu saja seperti ini jika di ajak menghadiri acara keluarga.” Sepasang alis seorang Bumi menukik tajam.
Sedangkan Senja yang baru saja tiba di atas rooftop langsung mematung sejenak.
“Mas Langit,” ucapnya lirih menatap nanar punggung tegap pria itu seraya menghampiri.
“Loh, Senja,” tegur langit ketika membalikkan badan lalu melepas jaketnya. “Sedang apa kamu di sini? Apa pestanya sudah selesai?” Langit kemudian memakaikan Senja jaket.
“Belum Mas, aku bosan berada di sana,” balas Senja.
Hening sejenak ....
“Ada apa, hmm,” ucap Langit lalu mengelus perut buncit Senja. “Apa baby twins semakin nakal di dalam sana?”
Senja bergeming tak menjawab. Namun, menatap Langit yang terus tersenyum mengelus perut buncitnya.
Dalam hatinya berkata, “Andai saja Mas Bumi sepertimu ... aku merasa kalian seperti dua pria yang tertukar. Kamu begitu peduli dengan keadaanku juga baby twins. Tapi dia sang calon ayah malah menginginkan darah dagingnya tiada.”
Perlahan Senja membenamkan wajah di dada Langit. Memejamkan mata sejenak merasakan tulusnya elusan lembut di perutnya.
“Mas Langit, terima kasih untuk semua waktu yang telah kamu luangkan untukku. Kamu ibarat malaikat yang selalu hadir di saat aku membutuhkan.”
Langit lalu tersenyum tipis lalu berbisik, “Kamu adalah sahabatku sekaligus sudah seperti adik bagiku. Sudah seharusnya seperti itu.”
Namun tetap saja hatinya selalu mengartikan sesuatu yang beda dengan perasaannya pada Senja.
Tanpa keduanya sadari, Bumi yang baru saja tiba di tempat itu, seketika mengepalkan kedua tangan. Darahnya seolah mendidih melihat pemandangan yang tersaji di depan mata.
Meski tahu jika keduanya bersahabat, namun tetap saja Bumi selalu merasa cemburu jika melihat keduanya bersama.
“Dasar wanita murahan!” umpatnya dalam hati. Bumi menarik nafas dalam-dalam demi meredam emosinya.
“Senja, Mas Langit.” Bumi menghampiri keduanya dengan senyum penuh kepalsuan.
“Bumi,” sahut Langit. Perlahan mengurai pelukannya dari Senja. Membalas senyum adik sepupunya itu.
“Kamu membuatku khawatir saja. Rupanya kamu di sini,” kata Bumi. Merangkul sang istri seolah-olah ia benar-benar cemas. “Mas Langit, aku dan Senja sekalian pamit.”
“Baiklah, kalian hati-hati di jalan,” pesan Langit.
Bumi hanya mengangguk pelan. Mengajak Senja meninggalkan tempat itu menuju lift.
“Wanita murahan!” maki Bumi lalu menampar Senja. Begitu pintu lift terbuka, ia langsung mendorongnya dengan kasar.
”Mas!”
Tamparan keras kembali bersarang di wajah Senja. Tak cukup sampai di situ, Bumi kembali memukul perut Senja sehingga membuatnya langsung terduduk.
“Akkhh!!” Suara rintihan Senja terdengar bergetar.
Sedangkan Bumi hanya menatap Senja sambil tersenyum sinis merasa tak bersalah.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Jeni Safitri
Ada ya laki kejam gini
2024-03-29
1
Mustarika
uwihhh kejam kli ya thor.. yg baca ikut dek dekan jg takut😢
2023-12-05
2
IndraAsya
👣👣👣
2023-10-02
1