10. SLMS

Senja kemudian mengajak Bumi dan Jingga ikut duduk bergabung di sofa.

“Mas, aku membawakanmu makan siang, sesuai request. Kebetulan kamu ada tamu jadi nggak apa-apa kalian makan berdua,” kata Senja sambil tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.

Dengan telaten ia menata makanan di atas meja. Mempersilahkan Bumi dan Jingga menyantap makanan yang telah ia sajikan.

“Ayo dicicipi makanannya, Mas, Jingga,” tawar Senja. “Ini masakan aku sendiri meski nggak seenak makanan di restoran berkelas.”

‘Kok, dia tahu namaku? Apa Bumi sudah berterus terang tentang hubungan kami?’ batin Jingga bertanya-tanya.

Senja menatap keduanya yang masih mematung di tempat. Ia tetap tersenyum ramah.

Karena pasangan kekasih itu enggan mendekat, ia pun kembali membuka suara.

“Nggak usah takut Mas, Jingga. Aku nggak membubuhkan racun kok, di dalam makanan ini.” Senja mencicipi satu demi satu makanan yang telah ia tata di atas meja.

“Lihat, aku baik-baik saja kan,” sambung Senja.

Bumi dan Jingga seketika merasa canggung. Apalagi melihat gelagat Senja yang terlihat santai bahkan terus menebar senyum manis.

“Apa kalian akan terus berdiri di sana? Kemarilah, setelah selesai makan baru kita akan mengobrol,” tutur Senja.

Mau tak mau Bumi dan Jingga terpaksa maju lalu duduk di sofa.

‘Sepertinya Senja nggak mendengar pembicaraanku dengan Jingga tadi. Haah ... Syukurlah,’ batin Bumi sembari memandangi wajah ayu sang istri.

“Kamu nggak ikut makan?” tanya Bumi.

Senja tersenyum lalu menggeleng pelan. “Aku sudah makan di rumah tadi, bareng Bik Riri dan Mang Dul. Kalian makan saja.”

Tahu jika kehadirannya membuat Jingga menjadi canggung, Senja kemudian beranjak dari sofa. Memilih menghampiri dinding kaca lalu menatap keluar.

‘Jadi itu alasanmu ingin melenyapkan bayiku, Mas? Apa untungnya jika kamu melenyapkan bayiku dan tetap membiarkan aku hidup? Lebih baik kamu sekalian melenyapkan aku juga.’ Sepasang mata Senja kini berkaca-kaca.

Sesekali Jingga melirik Senja yang terlihat begitu tenang sembari mengelus perutnya. Pun begitu dengan Bumi.

Beberapa menit berlalu ....

Senja kembali bergabung setelah Bumi dan Jingga selesai menyantap makan siang. Ia kembali membereskan wadah box makanan.

Semua gerak gerik Senja tak luput dari perhatian sepasang kekasih yang sedang duduk di hadapannya.

Sesekali Bumi dan Jingga saling berpandangan karena merasa tak nyaman dengan keberadaan wanita hamil itu.

“Sebelum kita mengobrol santai, sebaiknya kita memesan sesuatu, kopi atau teh mungkin?” saran Senja.

Bumi bergeming sedangkan Jingga menatap sang kekasih lalu kembali ke Senja.

Karena tak ada jawaban dari suaminya, Senja kembali tersenyum lalu menghela nafas pelan. Ia kemudian menatap Jingga.

“Jingga ... kamu Jingga kan, kekasih Mas Bumi?” Pertanyaan pertama itu langsung tertuju kepada Jingga. Sekaligus membuat gadis itu merasa canggung. “Jangan canggung atau nggak enak begitu padaku, biasa saja.”

Senja kembali mengarahkan tatapannya pada sang suami yang sejak tadi menatapnya dengan wajah gusar.

“Aku benar kan, Mas? Dia Jingga ... kekasihmu? Nama yang terus kamu sebut saat ... ah, sudahlah lupakan,” ucap Senja tak meneruskan kalimatnya demi menjaga perasaan Jingga.v

“Jingga, sebaiknya kamu kembali ke butik,” pinta Bumi.

“Jangan, tetaplah di sini. Kita perlu berbicara sekaligus meluruskan semuanya agar tak terjadi kesalahpahaman lagi!” tegas Senja.

“Senja ... kamu!” Bumi mulai kesal.

“Jangan emosi begitu, Mas. Kan, nggak ada salahnya meluruskan semuanya. Aku hanya ingin nanti di kemudian hari hidupku berjalan apa adanya. Seperti hari-hari sebelum menikah denganmu. Aku ingin hidup tenang bersama anak-anakku, itu saja nggak lebih,” pungkas Senja.

Senja kembali mengukir senyum. Memejamkan mata sejenak lalu mengatur nafas.

“Jingga, sebelumnya aku minta maaf padamu. Aku tahu, gara-gara diriku kalian batal menikah sekaligus membuat hubungan kalian menjadi renggang.”

Jingga dan Bumi terus menatapnya. Sedangkan Senja tetap santai dan kembali melanjutkan ucapannya.

“Maaf, saat itu, aku hanya meminta keadilan untuk bayiku supaya Mas Bumi bertanggung jawab. Berharap jika menikah dengannya hidupku akan berubah seperti protagonis wanita yang ada di dalam cerita novel.”

Senja tersenyum miris seolah mengejek pada dirinya sendiri.

“Sayangnya, cerita indah seperti di dalam novel tak seindah di kehidupan dunia nyata. Salahku yang mengharapkan lebih dari Mas Bumi. Karena di hatinya hanya ada satu nama yang dia cintai yaitu kamu Jingga,” sambung Senja dengan senyum tipis.

‘Senja,’ batin Bumi. Sepasang mata pria itu tak lepas menatap wajah sendu sang istri.

Meski senyumnya terus terukir manis di wajah, akan tetapi sepasang mata itu tak bisa berbohong jika hati seorang Senja menyimpan luka.

Sedangkan Jingga tertunduk lesu seolah tak sanggup menatap mata serta wajah istri dari kekasihnya itu.

“Mas Bumi, Jingga. Aku nggak masalah jika kalian ingin menikah. Aku siap dipoligami. Tapi, setelah aku melahirkan izinkan aku menggugat cerai. Biarkan aku hidup damai bersama bayiku. Aku nggak akan menuntut apapun darimu, Mas,” pungkas Senja.

Setelah selesai bertutur, Senja perlahan berdiri. Mengambil tas bekal lalu mengayunkan langkah meninggalkan ruangan itu.

“Senja!” panggil Bumi lalu ikut berdiri mengejarnya.

Sedangkan Jingga tetap di tempat. Entah mengapa ia merasa bersalah pada Senja.

“Senja!” Suara Bumi kembali bergema memanggil sang istri yang kini sudah berada di depan pintu lift.

Senja menoleh lalu tersenyum tipis. Tetap berdiri di tempat sembari menunggu.

“Kembalilah, Mas. Sepertinya Jingga gadis yang baik. Buktinya selama menjadi istrimu, dia nggak pernah menggangguku.”

Ucapan itu lolos begitu saja sesaat setelah Bumi berdiri tepat di hadapannya.

“Aku sadar, kita ... aku, dia dan kamu bak langit dan bumi. Kalian sama-sama berasal dari keluarga terpandang sedangkan aku hanya wanita biasa. Jauh dari kriteria wanita serta menantu idaman orang tuamu terutama Mama. Hanya satu permohonanku, JANGAN BUN*UH BAYIKU, Mas.”

“Senja.” Bumi mematung. Kalimat terakhir yang terucap seketika membuat dadanya sesak.

Menyesali perbuatannya yang sejak awal memang ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri. Tanpa memikirkan keselamatan Senja yang harus berulang kali menahan sakit.

“Maafkan aku, Senja!” ucapnya dengan lirih.

Namun, ucapan itu sudah tak didengar oleh Senja, karena wanita hamil itu sudah masuk ke dalam lift.

Sesaat setelah sampai di loby, Senja melangkah pelan menuju arah parkiran. Ia tersenyum saat memandangi Mang Dul yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.

“Sudah mau pulang, Nak?” tanya Mang Dul setelah Senja mendekat.

“Iya, Paman. Tapi aku ingin pulang ke rusun. Sudah dua Minggu aku nggak ke sana. Kemungkinan aku akan bermalam.”

“Baiklah, Nak Senja. Seperti biasa, Paman nggak akan memberitahu alamat itu pada Nak Bumi,” kata Mang Dul.

“Makasih ya, Paman. Nanti aku sendiri yang akan menghubungi Mas Bumi. Sekalian memberi alasan yang tepat. Jadi Paman nggak usah khawatir,” balas Senja lalu membuka pintu mobil.

Beberapa menit kemudian, Mang Dul mulai melajukan kendaraan itu menuju ke tempat yang di maksud.

.

.

.

Setibanya di rusun, Mang Dul mengantar Senja hingga ke unitnya.

“Paman, makasih, ya,” ucap Senja.

“Sama-sama Nak Senja. Oh ya, belanjaannya Paman letakkan di meja dapur. Jika ada apa-apa, langsung hubungi paman, ya.”

“Iya, Paman.”

Mang Dul kemudian mengelus kepala Senja lalu turun ke perut. “Sehat- sehat terus ya, Nak. Kakek yakin, kalian pasti akan setangguh ibumu.”

“Makasih, Kakek,” ucap Senja menirukan suara anak-anak sembari terkekeh. Ia kemudian memeluk Mang Dul karena merasa terharu. “Terima kasih, Paman. Hati-hati di jalan.”

Setelah mengurai pelukan, Mang Dul akhirnya meninggalkan Senja.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Murti Ningsih

Murti Ningsih

ceritanya bagus dan penuh bawang /Puke/

2025-01-19

0

Jeni Safitri

Jeni Safitri

Ah banyak cerita kamu senja, mmg apa bedanya pergi skrg dgn pergi saat kamu sdh lahiran, bagusan skrg kamu pergi jauh kalau sdh lahiran 2 bayi yg akan urus di perjalanan, niat pergi atau engak sih atau bicara hanya cari simpati

2024-03-29

0

Aisyah Salman

Aisyah Salman

yaalla nyesek Thor😭😭😭😭😭😭😭

2023-10-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!