19. SLMS

Malam harinya ....

Di AG Restauran, sejak tadi Jingga sudah menunggu kedatangan Bumi. Senyumnya langsung terukir manis ketika sosok yang di tunggu menghampiri.

“Maaf, aku sedikit telat.” Bumi memilih duduk saling berhadapan dengan jingga.

“Nggak apa-apa, Sayang,” sahut Jingga.

Sebelum memulai obrolan, Bumi dan Jingga terlebih dulu memesan makanan.

Sambil menunggu pesanan keduanya diantar, Jingga terus menatap Bumi yang terlihat memainkan ponselnya.

“Sayang, aku ikut berdukacita atas meninggalnya anakmu. Aku turut prihatin dengan keadaan Senja saat ini.”

Bumi terlihat acuh dan hanya fokus memainkan ponselnya.

“Sayang!” panggil Jingga dengan nada satu oktaf lebih tinggi.

Bumi meletakkan ponsel di atas meja. Mengeluarkan rokok lalu membakar benda itu.

Menatap penuh selidik pada Jingga.

“Jingga, aku ingin berbicara serius tentang hubungan kita.”

“Apa itu artinya kita akan segera menikah?” tanya Jingga kegirangan.

Bumi menghembus kasar asap rokoknya lalu menggeleng pelan.

“Jingga, maafkan aku. Aku rasa cukup sampai di sini hubungan kita. Jujur saja, aku nggak mau kehilangan Senja.”

Ungkapkan itu seketika membuat Jingga bak disambar petir. Terkejut sekaligus tak menyangka jika seenteng itu Bumi mengucapkan kalimat itu.

“Apa?!! Sayang, kamu nggak sedang bercanda kan?! Jangan ngaco deh!”

“Secara nggak sadar, aku mulai mencintai Senja meski aku sering bersikap kasar padanya. Dan, kejadian kemarin benar-benar membuat aku syok sekaligus terpukul. Jujur saja aku nggak ingin kehilangan putraku. Namun, di saat aku mulai sadar dan akan menebus semua kesalahanku, takdir mangatakan lain dengan menghukumku seperti ini,” jelas Bumi.

“Nggak!! Aku nggak bisa menerima alasan itu! Kamu bohong kan?!” pekik Jingga.

Tak pelak, keduanya langsung menjadi pusat perhatian dari para pengunjung restoran yang sedang makan di situ.

“Jingga, sebelum semuanya terlambat, aku ingin memperbaiki serta memulai hubungan pernikahanku dengan Senja. Maaf, hubungan ini kita akhiri dan cukup sampai di sini. Aku mohon jangan ganggu aku lagi. Karena prioritas utamaku saat ini adalah Senja,” pungkas Bumi kemudian menundukkan wajah ke bawah.

Jingga tak bisa berkata-kata mendengar penuturan Bumi. Ia hanya mampu menangis namun dalam hati mengumpat. Benci akan sosok Senja.

“Sayang, kamu tega banget padaku. Jadi seperti ini balasanmu padaku, hah!!” pekik Jingga lagi sembari menangis. Mengepalkan kedua tangan merasa geram.

Tak lama berselang, seorang waiters membawakan makanan pesanan mereka.

“Makasih ya,” ucap Bumi setelah makanan juga minuman itu disajikan. “Jingga, maaf, aku harus kembali ke rumah sakit. Silakan nikmati makan malamnya.”

Bumi meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja kemudian meninggalkan Jingga yang hanya diam terpaku di tempat.

Sedetik kemudian, ia menatap nanar punggung tegap Bumi yang sudah menjauh darinya.

“Aku nggak akan melepaskanmu begitu saja. Senja, wanita itu ... semua masalah berawal darinya. Aku membencimu Senja!”

.

.

.

Sementara di rumah sakit, Bik Riri terus memandangi Senja. Berharap wanita malang itu segera membuka mata.

“Nak Senja, cepatlah bangun Nak. Jangan tidur terus seperti ini,” ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

“Bik,” tegur Langit yang baru saja tiba sambil membawa makanan.

Ia langsung merangkul wanita paruh baya itu sembari mengelus pelan bahunya.

“Aku membawa makanan untuk Bibik. Sebaiknya Bibik makan dulu. Nanti jika Mang Dul datang, pulanglah. Biar aku yang menjaga Senja.”

“Tapi, Nak ....”

“Sudah, nggak usah protes,” sela Langit lalu tersenyum tipis.

Setelah itu, ia mendekati bed pasien. Memandangi Senja yang masih betah memejamkan mata.

*********

Beberapa jam berlalu ....

Saat membuka pintu kamar rawat Senja, Bumi langsung terkejut saat mendapati Langit sedang tertidur dengan posisi duduk di sofa.

“Sejak kapan Mas Langit di sini? Kok, Bik Riri nggak menghubungiku tadi?” gumamnya.

Bumi kembali menutup pintu lalu melirik arloji di pergelangan tangannya. “Sudah jam Sembilang lewat.”

Ia sedikit ragu ingin masuk ke dalam. Namun, tetap memberanikan diri menghampiri kakak sepupunya itu.

“Mas Langit.” Ia menepuk pelan pundak Langit.

“Hmm, ada apa?” sahut Langit sembari memperbaiki posisi duduk. Mengusap mata seraya mendongak. “Bumi?”

Keheningan kembali tercipta yang terdengar hanya suara monitor di ruangan itu.

“Ayo kita cari angin segar sebentar di rooftop. Entah mengapa aku merasa tiba-tiba menjadi gerah,” ucap Langit dengan nada dingin.

Ia pun beranjak dari sofa lalu meninggalkan ruangan itu. Bumi mengerutkan kening, mengarahkan pandangan ke arah Senja.

“Berdosakah aku jika berharap ingatanmu hilang sekaligus melupakan semua perlakuan kasarku padamu? Termasuk kecelakaan yang terjadi kemarin?” gumam Bumi.

Ia beranjak dari tempat duduk menghampiri Senja lalu mengelus jemarinya. Setelah itu, ia menyusul Langit ke rooftop.

Begitu sampai di rooftop, Bumi tak langsung menghampiri Langit. Ia menatap nanar sang sepupu yang terlihat sedang menyesap rokok.

Dengan ragu-ragu ia melangkah kecil menghampiri. Berdiri persis di samping Langit sambil mengarahkan pandangan lurus ke depan.

“Sejak kapan?!” Kalimat itu langsung terucap dengan nada dingin.

Bumi tertunduk. Mengerti apa yang dimaksud oleh Langit. Entah ia harus menjawab jujur atau pun tidak.

“Mas ....”

“Aku bilang sejak kapan ...?!” Kalimat itu kembali diulang oleh Langit sambil menyesap rokoknya. “Katakan semuanya padaku tanpa ada satu pun yang kamu tutup-tutupi. Aku ingin tahu segalanya.”

Lagi ... ucapan bernada dingin itu seolah mengintimidasi seorang Bumi.

“Maafkan aku, Mas.” Bumi menundukkan pandangan wajah.

Mau tak mau ia pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Mulai saat ia melecehkan Senja karena pengaruh minuman alkohol hingga melakukan KDRT pasca menikah.

Beberapa kali mencelakai Senja hanya karena tak menginginkan darah dagingnya sendiri. Sering berkata kasar dan yang terakhir kejadian yang terjadi dua Minggu yang lalu adalah ulahnya juga.

Bugghh!!

Bugghh!!

Bugghh!!

Bogeman bertubi-tubi langsung mendarat di tubuh Bumi.

“Bajingan! Brengsek! Kenapa kamu nggak ceraikan saja dia, hah!! Kenapa harus menyiksanya? Kejam banget kamu ... tega ingin membunuh putramu sendiri!”

Langit kembali melayangkan tinjunya bertubi-tubi ke tubuh Bumi tanpa ampun.

Bumi hanya pasrah mendapat pukulan demi pukulan dari Langit. Ingin melawan pun ia tak bisa mengimbangi sepupunya itu.

“Aku curiga, jika kecelakaan di pusat perbelanjaan itu adalah ulahmu juga. Kamu kan yang sudah menyuruh seseorang untuk menabrak Senja?!!!”

Bugghh!!

Bumi menggeleng pelan. “Aku berani bersumpah, bukan aku pelakunya, Mas. Sejak kejadian dua Minggu yang lalu, aku sudah sadar bahkan takut kehilangan Senja dan putraku. Percayalah padaku Mas,” ucap Bumi dengan suara lirih.

“Kamu pikir aku akan percaya begitu saja?! Bukankah sebelumnya kamu juga sudah beberapa kali melakukan itu?! Pria laknat! Akan aku pastikan ... jika Senja sudah sadar, bersiaplah untuk menerima surat gugatan cerai. Dia nggak pantas hidup dengan monster sepertimu!!”

“Mas Langit, maafkan aku. Aku nggak mau berpisah darinya. Aku sudah berubah Mas, aku menyesal!” ucap Bumi memohon sambil terisak.

Langit menggeleng pelan lalu tersenyum sinis. Mengatur nafas demi meredam amarah yang masih memuncak.

Tak percaya begitu saja dengan ucapan dari suami Senja itu. Setelah itu, ia memilih meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan kondisi Bumi setelah dibabak belur.

...----------------...

Terpopuler

Comments

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

bagaimana Bumi mendapat bogem mentah dari Langit???🤭🤔

2023-09-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!