9. SLMS

Pagi menjelang ....

Ketika Senja membuka mata, ia langsung terkejut karena mendapati Bumi tidur di sampingnya. Ingin rasanya ia menendang pria itu namun tak bisa dilakukannya.

Dengan kasar memindahkan tangan suaminya yang masih berada di atas perut. Perlahan merubah posisi menjadi duduk.

Menatap benci wajah pria yang masih memejamkan mata di sampingnya.

“Jadi semalam ... itu bukan mimpi? Menyebalkan!” gerutunya dalam hati.

Ia perlahan menjauh lalu ke kamar mandi membersihkan diri.

Beberapa menit kemudian ....

Saat akan keluar kamar, ponselnya bergetar. Dengan cepat, Senja mengambil benda itu dari meja nakas.

“Mas Langit.” Ia langsung tersenyum lalu menjawab panggilan itu sambil berjalan keluar kamar.

“Hallo Mas, kurang kerjaan, ya sepagi ini sudah menelfon,” ucapnya sambil terkekeh.

“Di sini sudah jam delapan, Senja,” balas Langit.

“Kok cepat banget, ya? Padahal di sini baru jam enam. Kapan Mas Langit pulang?” tanya Senja.

“Jika nggak ada halangan kemungkinan sore. Namun, bisa juga cepat. Bagaimana dengan keadaanmu dan baby twins?”

“Kami baik-baik saja, baby twins pun sehat malah semakin aktif.”

“Syukurlah, mendengar kalian baik-baik saja aku sudah merasa senang. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Jaga kesehatanmu, ya, jangan lupa sarapan dan jangan lupa minum obat,” pesan Langit.

“Iya, Mas Langit, makasih ya,” balas Senja lalu memutuskan panggilan telefon.

Sky yang sejak tadi mendengar pembicaraan Langit, hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Sudah?” tanyanya. “Udah kek suami posesif saja kamu, padahal ... lagian salah siapa? Kamu kalah cepat sih, dari si Bumi.”

“Ck, sudahlah ... yang penting kami masih bisa berhubungan baik, itu sudah cukup, tapi nggak menutup kemungkinan jika aku bakal merebutnya jika Bumi masih berhubungan dengan Jingga.”

“Haaah ... sepertinya kamu sudah nggak waras,” ledek Sky lagi sembari geleng-geleng kepala.

Langit terkekeh, setelah itu ia mengajak Sky menuju lokasi shooting sekaligus meninggalkan kamar hotel.

Sementara itu, Senja tampak memejamkan mata sambil bersandar di sofa. Ia tak menyadari jika percakapannya di dengar oleh Bumi yang sejak tadi sudah bangun.

Seketika pria itu mengepalkan kedua tangan karena kesal dan cemburu.

“Mas Langit ... lagi-lagi dia. Selalu dia, dia dan dia lagi!”

Sedetik kemudian Bumi menunduk menatap lantai. Tadinya ia berharap jika Senja akan membangunkannya. Namun, harapannya tak sesuai keinginan.

Ia kemudian keluar dari kamar lalu menuju lantai dua. Sedangkan Senja memilih ke dapur lalu membantu Bik Riri memasak.

Satu jam berlalu ....

Setelah menata makanan di atas meja, Senja menyusul ke kamar Bumi untuk menyiapkan pakaian kerja.

Ia langsung mengernyit sesaat setelah berada di dalam kamar. Suaminya itu sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

‘Tumben dia sudah rapi. Jika tahu begitu, ngapain aku capek-capek ke kamar ini? Hish, menyebalkan!’ batinnya kesal.

Senja tak mengeluarkan sepatah kata pun. Saat akan keluar dari kamar itu, Bumi memanggilnya.

“Senja.”

Senja acuh tak menghiraukan. Ia mempercepat langkahnya. Kejadian dua Minggu yang lalu masih membekas di ingatan.

Tak ingin kejadian itu terulang lagi, Senja cepat-cepat menuruni anak tangga lalu menuju ke meja makan.

“Nak Senja,” tegur Bik Riri. “Ini susunya, minumlah selagi anget.”

“Makasih Bik,” ucapnya lalu duduk di kursi.

Tak lama berselang Bumi ikut bergabung. Duduk di samping Senja lalu tersenyum.

‘Dia kemasukan jin apa?’

Senja tetap bergeming terlihat acuh. Ia menebak-nebak, jika suaminya bersikap baik padanya pasti ada yang tak beres.

Senja langsung menyentuh perut buncitnya. Takut jika Bumi sedang merencanakan sesuatu untuk melenyapkan bayinya lagi.

“Senja, aku ingin, nanti siang kamu mengantarkan makanan ke kantorku,” pinta Bumi.

“Hmm.” Hanya itu jawaban dari Senja tanpa menoleh sedikit pun. “Bik, yuk kita sarapan bareng, sekalian panggil Paman ke sini.”

“Kami sudah sarapan, Nak Senja. Kalian berdua sarapan saja,” kata Bik Riri dengan seulas senyum.

Keduanya hanya mengangguk lalu melanjutkan sarapan hingga tuntas. Setelah itu, Bumi berpamitan lalu mengajak Mang Dul menuju kantor.

.

.

.

Andara Wasesa Desain ....

Setibanya di kantor, Bumi meminta Mang Dul kembali ke rumah. Dan, memintanya kembali saat menjelang siang bersama Senja.

Sesaat setelah masuk ke ruangannya, ia langsung menghampiri meja kerja. Memulai aktifitasnya seperti biasa.

Profesinya sebagai arsitek sekaligus wakil direktur di kantor itu, memaksa Bumi harus selalu profesional dalam bekerja.

Saat sedang serius menggambar, ponselnya bergetar. Dengan cepat ia menjawab panggilan itu.

“Ya, Pah, ada apa?”

“Bisa ke ruangan papa sekarang? Sekalian bawa desain gambar yang masih kamu kerjakan,” perintah Pak Andara.

“Baik, Pah.”

Bumi segera menggulung lembaran kertas itu lalu membawa ke ruangan Pak Andara. Begitu ia masuk ke ruangan sang Papa, alisnya langsung bertaut.

“Paman,” sapanya dengan ramah. “Apa Paman yang ....”

“Ya, gambar bangunan yang sedang kamu desain itu, milik Paman. Paman ingin memintamu merubah sedikit desain-nya,” jelas Pak Fajar.

“Tentu saja boleh, Paman. Sesuai permintaan klien,” kelakar Bumi sembari terkekeh.

“Baiklah, kalau begitu kita perlu merubah di bagian mana?” tanya Bumi sekaligus menunjuk gambar itu.

Mereka pun melanjutkan perbincangan sekaligus merubah sedikit desain bangunan sesuai permintaan Pak Fajar.

Begitu sudah pas seperti yang diinginkan, barulah mereka mengobrol santai. Sebelum akhirnya Pak Fajar dan Pak Andara meninggalkan kantor.

Sedangkan Bumi kembali ke ruangannya melanjutkan pekerjaan hingga menjelang siang.

*********

Setelah selesai menata wadah box ke dalam tas bekal khusus, Senja terus menatap benda itu. Ia kembali mengelus perut buncitnya.

“Sayang, momy takut jika pria kejam itu akan mencelakai kalian lagi,” ucap Senja dengan lirih.

“Nak Senja, ayo Nak, kita berangkat sekarang,” ajak Mang Dul.”

Senja hanya mengangguk pelan lalu berpamitan pada Bik Riri. Menenteng tas bekal menyusul Mang Dul.

“Paman, entah ... jin apa yang masuk ke tubuh pria kejam itu. Tiba-tiba bersikap manis bahkan menebar senyum,” celetuk Senja setelah Mang Dul mulai melajukan mobil.

“Positif thinking saja, Nak sekalian doain. Paman perhatikan sejak kejadian malam itu, dia memang mulai berubah,” kata Mang Dul.

Senja menghela nafas lalu menatap keluar jendela. Meskipun Bumi sudah berubah, ia tetap sudah bertekad akan membawa kedua bayinya pergi.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir empat puluh menit, mereka pun tiba di kantor itu.

“Ayo, Nak Senja, paman antar sampai di dalam. Ruangan Nak Bumi ada di lantai lima paling ujung.”

“Iya, Paman,” sahut Senja sembari menggandeng lengan Mang Dul.

“Masuklah, hubungi paman jika kamu sudah mau pulang,” pesan Mang Dul sesaat setelah menekan tombol lift.

Dengan patuh Senja menurut lalu mengangguk. Begitu pintu lift tertutup, ia menghela nafas. Memandangi pantulan diri lewat pintu besi.

Tak lama berselang, elevator itu berhenti lalu terbuka. Dengan malas, ia melangkah keluar lalu menuju ruangan sang suami.

Sesaat setelah sampai di depan pintu, ia mengerutkan kening saat mendengar Bumi sedang berbicara dengan seseorang.

“Sayang, kenapa sih, akhir-akhir ini kamu agak dingin padaku? Apa karena wanita itu?! Mana janjimu jika kamu akan menceraikannya? Apa aku ini hanya sebagai pelampiasan hasratmu?!”

“Jingga, Sayang, jangan seperti ini. Kamu tahu sendiri kan, Senja sedang hamil. Jadi nggak mungkin aku menceraikannya dalam keadaan berbadan dua.”

“Lantas? Bagaimana dengan rencanamu yang ingin melenyapkan bayi itu, demi memuluskan niatmu untuk segera menceraikannya? Apa kamu sudah lupa?! Sayang, aku nggak mau terus-terusan hanya menjadi pelampiasan hasratmu. Ceraikan dia atau kita putus!” tegas Jingga dengan emosi memuncak.

Luruhlah sudah air mata Senja mendengar percakapan itu. Memegang perut sembari mengatur nafas.

Menyeka air mata kemudian menenangkan pikirannya sejenak. Setelah merasa tenang, ia pun mengetuk pintu lalu masuk ke dalam.

Kehadiran Senja sontak membuat Jingga dan Bumi terkejut. Keduanya langsung mematung saat memandangi Senja yang sedang tersenyum.

‘Jadi, gadis ini yang bernama Jingga?’

“Ah, rupanya ada tamu ya, Mas? Maaf, jika kedatanganku mengusik kebersamaan kalian.”

Senja menghampiri sofa. Mendaratkan bokong kemudian meletakkan tas bekal di atas meja.

...----------------...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!