Saat Senja terjaga dari tidurnya, keningnya berkerut tipis.
“Sudah jam berapa ini?” gumamnya lalu merubah posisi menjadi duduk. “Suara apa itu?”
Ia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan keluar. Saat matanya tertuju ke arah jam dinding, Senja terkejut karena arah jarum jam sudah menunjukkan angka dua dini hari.
“Ya Tuhan, rupanya sudah subuh,” gumamnya sembari melanjutkan langkah ke pantry. “Mas Langit?”
Pria itu sedang menyeduh kopi. Senja tersenyum sambil menghela nafas. Menghampiri Langit yang belum menyadari kehadirannya.
“Mas Langit,” tegur Senja.
“Senja ... sudah bangun? Kemarilah,” pinta Langit.
“Apa Mas Langit baru saja tiba?” tanya Senja.
“Beberapa jam yang lalu tepatnya sejak kamu masih tertidur. Lain kali pintunya dikunci. Kamu ini selalu saja ceroboh. Gimana jika ada orang jahat yang masuk?!” omel Langit lalu mengajak Senja duduk.
“Aku lupa, Mas,” balas senja kemudian duduk di kursi.
“Lain kali lebih hati-hati lagi. Aku takut jika kalian sampai kenapa-napa,” kata Langit.
Hening sejenak ....
Senja menyentuh dada turun ke lengan Langit. Mengikuti ukiran lukisan di tubuh pria tampan itu.
“Apa nggak sakit tubuhmu diukir dengan lukisan seperti ini, Mas?”
Langit menggeleng lalu mengulas senyum. “Nggak, karena itulah caraku mengekspresikan perasaanku. Oh ya, apa Bumi tahu jika kamu menginap di sini?”
“Hmm.”
“Aku numpang tidur di sini, ya.”
Mendengar ucapan itu, Senja memicingkan mata.
“Satu ... dua ... tiga.” Di hitungan ke-tiga, Langit langsung meringis saat Senja menarik rambutnya. “Aku sudah menduganya.”
“Makanya cepetan nikah,” ledek Senja lalu tertawa.
“No komen.” Langit ikut tertawa. “Mau aku bikinkan kopi juga nggak?”
“Nggak usah Mas, ini saja sudah cukup. Segelas kita berdua seperti biasanya.”
Sudut bibir Langit mengukir senyum. Menatap lekat wajah Senja. Menggenggam erat jemari wanita yang usianya berjarak sepuluh tahun darinya.
.
.
.
Sementara di kediaman Bumi, pria itu belum bisa memejamkan mata. Pikirannya terus melayang memikirkan Senja
Ingin menghubungi akan tetapi ponselnya sudah rusak. Ingin meminjam ponsel Mang Dul dan Bik Riri, ia sungkan karena keduanya sudah tidur sejak tadi.
“Besok kan hari Minggu, aku ingin mengajaknya berbelanja perlengkapan bayi,” gumam Bumi.
Ia kemudian ke kamar sebelah. Memindai ruangan itu yang sudah dua Minggu tak di tempati Senja. Sehingga matanya tertuju ke arah meja nakas.
Ia menghampiri kemudian menarik laci meja. Tubuhnya seketika gemetar saat mengambil foto USG baby twins dari tempat itu.
“Putraku,” ucapnya nyaris tak terdengar. Menatap satu per satu foto USG baby twins.
Bumi langsung terisak mengingat kembali perbuatan kejinya kepada Senja.
“Maafkan papa. Senja, aku berjanji akan menjadi suami juga ayah yang bertanggung jawab bagi baby twins. Maafkan aku, aku mohon sekali ini percayalah padaku jika aku akan berubah.”
Serentetan kekerasan yang ia lakukan kepada Senja memenuhi benaknya. Bahkan sengaja ingin melenyapkan darah dagingnya sendiri demi memuluskan niatnya untuk menikahi Jingga.
.
.
.
Waktu terus berputar, arah jarum jam kini telah menunjukkan hampir jam lima dini hari.
Sejak tadi Senja merasa gelisah bahkan keringat kini bercucuran di wajah. Memegang perut dan sesekali meringis juga meracau.
“Senja kenapa, ya?” gumam Langit yang masih berhadapan dengan laptopnya. Ia pun duduk ke sisi ranjang lalu menyeka keringat di wajah Senja.
“Senja ... Senja,” panggilnya. Mengelus lembut perut Senja sembari terus memanggil wanita hamil itu. “Sepertinya dia sedang bermimpi buruk.”
Langit mengerutkan kening saat Senja terus mengatakan 'Jangan bunuh bayiku, Mas.' Terus seperti itu sambil memeluk perutnya.
“Senja!!” panggil Langit dengan suara sedikit tinggi.
Langit terpaksa menepuk pipi senja sedikit keras. Sehingga membuat wanita hamil itu langsung membuka mata.
“Mas!” ucap Senja dengan lirih sembari meraba perutnya.
“Sepertinya kamu bermimpi buruk.” Langit membantunya duduk, memberi air yang ada di meja nakas. “Minumlah, setelah itu tarik nafas dalam-dalam.”
Dengan tangan gemetaran Senja mengambil gelas itu. Meneguk airnya hingga tandas.
“Mas Langit, aku takut jika terjadi sesuatu pada baby twins, aku takut kehilangan mereka,” ucap Senja dengan suara bergetar.
“Nggak akan terjadi apa-apa pada mereka,” balas Langit. “Itu hanya bunga tidur.”
“Tapi, seperti nyata, Mas. Aku takut kehilangan bayiku.”
Langit terdiam, mengelus punggung Senja sembari menenangkan sang sahabat.
“Biasanya insting seorang ibu itu kuat. Ya Tuhan, jangan sampai hal buruk itu menimpa Senja juga baby twins,” batin Langit.
“Sandhyakala dan Arunika itulah nama untuk putraku, Mas. Keduanya memiliki arti yang indah.”
“Nama yang bagus,” timpal Langit. “Biasanya jika bayi kembar namanya pasti sama persis. Tapi kamu beda sendiri.”
Senja tersenyum. Namun, hatinya kini diselimuti dengan kekhawatiran.
“Berbaringlah dan lupakan mimpi buruk itu,” kata Langit. Dengan patuh, Senja menurut.
‘Kenapa dadaku tiba-tiba sesak begini? Perasaanku juga nggak enak. Ya Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja,’ batin Langit.
*********
Pagi hari, tepatnya pukul 08:30, Senja dan Langit kini sudah berada di pantry.
“Makasih, ya, Mas sudah mau memasak untukku,” ucap Senja dengan senyum manis.
“Mumpung lagi berdua,” balas Langit lalu duduk di kursi satunya. “Yuk, sarapan, setelah itu kita kembali ke aktivitas semula.”
Senja mengangguk, setelah itu keduanya melanjutkan sarapan hingga tuntas.
Beberapa menit kemudian ....
“Senja, sebaiknya kita pulang bareng saja. Sky sudah menunggu di bawah,” cetus Langit.
“Nggak usah Mas, aku naik taksi online saja. Mas Langit duluan saja,” tolak Senja lalu memberikan ransel serta tas laptop sang sahabat.
“Baiklah, kalau begitu aku pamit,” izin Langit lalu membuka pintu.
“Hati-hati ya, Mas.” Langit mengangguk pelan lalu meninggalkan Senja.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
LANY SUSANA
next...up banyakin thor
2023-09-02
0