6. SLMS

“Senja ... Mas Langit,” tegur Bumi sembari menenteng paper bag makanan lalu meletakkan di atas meja sofa.

“Bumi,” sahut Langit, perlahan mengurai pelukannya dari Senja.

Sedangkan Senja langsung memalingkan wajah. Hatinya masih merasakan sakit akibat ulahnya yang hampir saja merenggut nyawa baby twins.

Menyadari sikap Senja yang kini seolah membencinya, Bumi kembali merasa getir.

Ingin meminta maaf namun dikalahkan oleh rasa egonya yang tinggi.

“Kamu gimana sih! Bukannya menemani Senja malah mementingkan pekerjaan! Apa sebegitu sibuknya dirimu hingga nggak ada waktu untuk Senja?! Suami macam apa kamu ini!” seru Langit dengan kesal.

Bumi menundukkan wajah mendengar ucapan penuh kekesalan dari sepupunya itu.

Langit kemudian duduk di samping Bumi lalu merangkul bahu sang sepupu. Sedikit meremas hingga membuat Bumi meringis.

“Selain pekerjaan, gadis itu, ya Jingga yang tak lain adalah kekasihmu. Jangan pikir selama ini aku nggak tahu apa-apa mengenai hubungan kalian. Sudah beberapa kali aku memergoki kalian check in di hotel. Lepaskan atau lanjutkan,” bisik Langit dengan perasaan geram.

Bumi kembali meringis saat remasan di bahunya semakin kuat. Ia tahu benar seperti apa Langit jika sudah marah.

Perlahan Bumi mengangkat wajah. Mengarahkan pandangan ke arah Senja yang kini berbaring menghadap tembok.

“Ingat, di rahim Senja ada dua malaikat kecil yang sedang tumbuh di sana. Jangan sampai kamu menyesal jika terjadi sesuatu pada mereka bertiga. Atau, jangan salahkan aku jika merebut Senja darimu!” pungkas Langit mengingatkan sekaligus mengancam.

Kamar itu kembali hening ....

Tak lama berselang dokter Syakila beserta asistennya masuk ke kamar sekaligus menyapa.

“Selamat siang, Pak Langit, Bu Senja. Masha Allah, Pak, saya sempat merasa cemas semalam karena kondisi Bu Senja sangat mengkhawatirkan. Apalagi posisi Anda masih di luar kota. Tapi, syukurlah ART dan supir Anda cepat membawa Bu Senja kemari.”

“Apa selama ini Mas Langit yang sering menemani Senja check up kandungan?” batin Bumi. Karena selama ini, ia memang tak pernah sekalipun menemani Senja ke rumah sakit.

Langit mengetatkan rahang, melirik Bumi sekilas dengan tatapan jengkel.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa Bik Riri, Mang Dul yang membawa Senja ke rumah sakit dan bukan kamu?” Pertanyaan itu membuat Bumi semakin menundukkan wajah ke bawah.

Setelah itu, Langit menghampiri dokter Syakila juga Senja.

“Bu Senja, saya periksa dulu, ya.” Dokter Syakila meminta asistennya meletakkan fetal doppler alat pendeteksi jantung janin beserta alat lainnya.

Langit mulai terkekeh saat dokter Syakila mulai menyingkap baju Senja. Ia selalu merasa gemas saat melihat perut buncit sahabatnya itu.

Sedangkan Bumi yang duduk di sofa hanya bisa memandangi mereka dalam diam.

Hatinya tiba-tiba saja bergetar saat mulai mendengar suara detak jantung calon bayinya lewat fetal doppler.

Dan, itu adalah kali pertama ia bisa mendengar suara detak jantung darah dagingnya sendiri. Tanpa ia sadari sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan.

“Alhamdulillah, detak jantungnya sangat kuat. Itu menandakan baby twins sehat. Saya ikut senang, Pak. Semalam detak jantung baby twins nggak sekuat ini, itulah yang membuat saya cemas. Oh ya, Bu Senja, obatnya jangan lupa di minum ya,” peringat dokter Syakila.

Setelahnya, ia dan sang asisten kembali berpamitan sekaligus meninggalkan kamar rawat itu.

“Senja, karena Bumi sudah di sini, aku juga sekalian pamit, ya. Nanti malam aku akan kembali lagi menjengukmu.” Langit mengelus kepalanya lalu turun ke perut.

“Hmm, hati-hati ya, Mas Langit,” ucap Senja dengan lirih.

Langit hanya mengedipkan kedua mata lalu mengulas senyum.

“Bumi, aku pamit. Oh ya, sebaiknya kamu makan saja makanannya. Soalnya aku dan Senja sudah makan tadi.”

Langit kemudian berlalu meninggalkan kamar itu. Sepeninggal Langit, Bumi beranjak dari sofa. Menghampiri jendela sembari melirik Senja yang kembali ke posisi semula.

“Senja.” Bumi memberanikan diri mendekat ke bed pasien.

Menyentuh pundak sang istri lalu duduk di sisi ranjang. “Senja.”

“Menjauhlah dariku. Aku nggak akan membiarkanmu mencoba membu*nuh bayiku lagi,” ucap Senja sambil memegang perutnya.

“A–aku ....”

“Pergi!” pekik Senja lalu turun dari bed pasien. “Sudah beberapa kali kamu melakukan itu padaku!”

“Senja ....”

“Kamu sengaja ingin membu*nuh bayiku! Dengan lantang kamu memintaku untuk menggugurkannya! Pria laknat, kejam juga bejat kamu, Mas!” pekik Senja histeris.

“Senja ....” Bumi mendekatinya.

“Aku mohon jangan bu*nuh bayiku, Mas!” Sambil memegang perut, Senja menangis histeris ketika Bumi semakin mendekat karena takut.

Ia langsung berlutut memegang kedua kaki sang suami sambil memohon.

“Mas, aku mohon. Jangan bunuh bayiku. Biarkan mereka hidup karena masa depannya masih panjang.”

“Senja.” Ia merunduk sekaligus meminta Senja berdiri. Namun, Senja menggeleng dan tetap bergeming masih dengan posisi yang sama.

“Mas, jika kamu masih berniat ingin melenyapkan bayiku maka sekalian lenyapkan aku juga. Agar kami bertiga benar-benar menghilang dari kehidupanmu,” lanjut Senja kini dengan nada dingin.

“Senja, jangan seperti ini. Berdirilah dan kembalilah ke bed,” pinta Bumi.

Senja tetap bergeming di tempat. Air matanya terus menganak sungai.

Karena tak ada jawaban dari Bumi, dengan susah payah Senja perlahan berdiri. Menghampiri jendela sembari menyandarkan bahu juga kepala di tembok.

Tatapannya kini kosong menerawang jauh. Senja mengelus perutnya dengan lembut, menenangkan baby twins yang sejak tadi terus bergerak aktif.

Sedangkan Bumi, terus memandanginya dengan perasaan bersalah sekaligus menyesal.

Ucapan senja barusan secara tak langsung mengibaratkan ia sama kejamnya dengan seorang pembu*nuh.

Ketika mendengar suara detak jantung bayinya yang begitu kuat tadi, hatinya kembali bergetar. Tanpa terasa air matanya menetes.

Menyesal karena beberapa kali ia mencoba ingin melenyapkan dua jiwa yang tak berdosa itu.

“Maafin papa,” ucapnya dengan lirih sambil tertunduk lesu.

Tak lama berselang, ponselnya bergetar. Dengan cepat ia merogoh saku celana.

“Papa?!”

“Hallo, Pah,”

“Bumi, kamu lagi di mana? Kapan kamu akan kembali ke kantor?” tanya Pak Andara.

“Maaf Pah, sepertinya aku nggak kembali lagi ke kantor. Soalnya aku lagi di rumah sakit,” jelas Bumi.

”Apa?! Apa Senja sudah melahirkan? Tapi usia kandungannya belum cukup sembilan bulan!” kata pak Andara terkejut.

“Nggak Pah, semalam Senja mengalami pendarahan. Jadi saat ini dia masih di rawat di rumah sakit,” jelas Bumi.

“Ya sudah, nanti papa hubungi Mang Dul saja. Sekalian langsung ke rumah sakit," cetus Pak Andara. Setelah itu ia langsung memutuskan panggilan telefon.

Bumi memberanikan diri mendekati Senja. Berdiri saling berhadapan lalu memanggilnya. Hatinya seketika mencelos menatap sepasang mata Senja yang terus mengalirkan air mata.

“Senja.”

Senja tetap bergeming dengan pandangan kosong.

“Mas, aku mohon jangan lakukan lagi. Biarkan bayiku hidup.”

Bumi bergeming, kidahnya seketika menjadi keluh. Yang ada hanyalah, penyesalan mendalam menyelimuti seluruh jiwa raganya kini. Ucapan Mang Dul juga Langit kembali terngiang-ngiang.

“Maafkan aku, Senja.” Dengan spontan kalimat itu langsung terucap.

Apakah tulus dari dalam hati ataukah memang spontan saja? Entahlah hanya Bumi seorang yang tahu.

“Pergilah, tinggalkan aku sendiri. Aku nggak butuh kata maaf itu. Kamu tak ada bedanya dengan seorang psikopat juga pembu*nuh!”

Ucapan yang terdengar dingin itu seketika membuat dada Bumi kembali sesak seperti dihantam bongkahan batu besar.

Akhirnya ia terpaksa meninggalkan kamar itu meski enggan.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Jeni Safitri

Jeni Safitri

Jatuh dari tangga biasanya org mormal aja bisa geger otak lah ini kandungan baik" aja apa bisa gitu ya, takutnya anaknya cacat lagi k4n mendapat benturan berkali"

2024-03-29

0

Aisyah Salman

Aisyah Salman

nyesek Thor😭😭😭😭😭,,,
kasian senja sama twein Thor,,,

2023-10-27

0

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

pergi aja Senja usah ditungguin sehingga kembar lahiran..

2023-09-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!