11. SLMS

Sepeninggal Mang Dul, tak lama berselang ponsel Senja bergetar.

“Siapa, ya?” gumamnya kemudian menghampiri meja.

Senyumnya langsung terukir manis saat menatap layar ponsel. Menggeser tombol video lalu melambaikan tangan.

“Senja,” sapa Langit dengan senyum lebar. “Apa kamu sedang di rusun?”

Langit langsung menebak karena merasa tak asing dengan background tempat Senja berdiri.

“Iya Mas, kok tahu?” tanya Senja. “Aku akan menginap soalnya kangen banget sama tempat sederhana ini. Oh ya, apa shooting-nya sudah kelar?”

“Ya, ini sudah siap-siap mau pulang. Apa kamu sudah makan?” tanya Langit.

“Sudah Mas,” jawab Senja sembari terkekeh.

“Syukurlah, ingat pesanku ya, jaga kesehatan dan jangan lupa minum obat.”

“Iya, aku ingat Mas, sudah kek suami posesif saja kamu. Oh ya, semoga kamu dan team tiba di kota J dengan selamat.”

Dari layar ponsel, Langit mengangguk sembari melambaikan tangan. Setelah itu, ia pun memutuskan panggilan video.

“Sebaiknya aku kirim pesan saja untuk Mas Bumi,” gumam Senja sembari menuju pantry.

Setelah mengirim pesan, ia langsung menonaktifkan ponselnya kemudian lanjut mengisi kulkas dengan barang belanjaannya tadi.

“Pokoknya hari ini aku ingin bersantai ria sendirian. Haaah ... aku kangen banget saat-saat seperti ini,” gumam Senja yang kini sudah berada di kamar

Berbaring sambil menatap langit-langit. Mengelus perut dengan senyum yang terus terlukis di wajah.

.

.

.

✉️ : Mas, maaf, hari ini aku nggak pulang ke rumah. Aku sedang berada di suatu tempat karena ingin menyendiri sekaligus menenangkan pikiran.

Seperti itulah pesan yang baru saja Bumi baca lewat benda pipih miliknya.

“Senja,” gumamnya lalu melirik Jingga.

“Sayang, bagaimana istrimu tahu tentang hubungan kita? Apa selama ini dia memata-matai kita? Atau kamu sendiri yang mengatakan padanya?” tanya Jingga menyelidik.

“Dia tahu dengan sendirinya,” jawab Bumi apa adanya.”

Jingga menghela nafas. Menggenggam tangan Bumi lalu memeluknya.

“Sayang, aku ingin pernikahan kita nanti digelar dengan mewah. Jangan seperti saat kamu menikahi wanita itu. Cuma nikah siri,” bisik Jingga.

“Dia punya nama, Jingga! Senja, itulah namanya dan jangan lagi menyebutnya dengan sebutan ‘WANITA ITU!” tegas Bumi.

Jingga langsung melepas pelukannya. Menatap tajam wajah Bumi lalu tersenyum sinis.

“Apa sekarang kamu peduli padanya? Atau ... kamu sudah jatuh cinta pada wanita itu?!” Jingga mulai emosi.

“Senja! Namanya Senja Kirana Maharani. Apa belum jelas!” ucap Bumi dengan nada satu oktaf lebih tinggi.

“Sayang, apa barusan kamu membentakku hanya karena membela wanita itu!” balas Jingga.

Gadis itu langsung memukul dada Bumi bertubi-tubi karena jengkel.

“Cukup! Aku nggak mau kamu menyebutnya lagi dengan sebutan WANITA ITU, karena dia punya nama, SENJA! Tolong hargai dia sebagai istriku!” tegas Bumi lagi.

“Apa?! Hargai dia! Apa aku nggak salah dengar?Kamu saja nggak menghargai dia sebagai istrimu, jangan konyol kamu!” pungkas Jingga, kesal luar biasa.

Bumi tak menjawab melainkan memegang kedua tangan Jingga. Beranjak dari sofa lalu menghampiri pintu.

“Silakan tinggalkan ruanganku sekarang. Karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!” tegas Bumi sembari membuka pintu.

Mau tak mau Jingga menurut. Dengan terpaksa ia beranjak dari sofa. Menghampiri Bumi lalu memeluknya erat.

“Sayang, aku mencintaimu.” Gadis itu mengurai pelukannya lalu mendaratkan kecupan di pipi juga bibir Bumi.

Bumi tetap bergeming tak membalas. Hatinya kembali merasa getir sekaligus dilema.

Sepeninggal Jingga, ia langsung menutup pintu. Menghampiri meja kerja lalu menghambur semua benda yang ada di atasnya.

“Argh!! Kenapa malah jadi kacau begini!” pekiknya kemudian menunduk. “Senja.”

Ia segera merogoh saku celana mengeluarkan ponsel lalu menghubungi Senja. Seketika emosinya kembali meledak.

Prakk!!

Benda pipih itu langsung melayang mengenai tembok.

“Si*al, selalu saja seperti ini!” umpat Bumi karena nomor Senja di berada diluar jangkauan.

Demi memenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk, ia menghampiri meja sofa lalu mengambil rokok juga pemantiknya. Membakar benda itu lalu menyesapnya.

“Sebenarnya di mana tempat itu? Senja, aku nggak ingin berpisah darimu. Aku ingin memulai ikatan pernikahan kita dari nol lagi. Beri aku kesempatan, aku akan berubah demi kalian, kamu dan anak kita.”

‘Sudahlah, yang aku pikirkan saat ini hanyalah baby twins. Meski mereka nggak mendapat pengakuan darimu, sudah nggak masalah bagiku. Tanpamu pun aku bisa menghidupi keduanya. Lagian, baby twins nggak pantas memiliki ayah berjiwa psikopat juga pembu*nuh sepertimu.’

Ucapan itu kembali memenuhi benaknya. Hingga tak terasa air mata pria arogan itu langsung menetes.

“Jika Mas Langit tahu aku memperlakukan Senja dengan nggak manusiawi, maka tamatlah riwayatku. Dia pasti akan merebut Senja dariku,” gumam Bumi dengan perasaan getir. “Nggak ... nggak ... ini nggak boleh terjadi. Aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Aku nggak mau kehilangan mereka.”

********

Sore harinya ...

Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung merasakan suasana yang sedikit berbeda.

Hampa ....

Itulah yang Bumi rasakan kini tanpa kehadiran Senja. Wanita yang selalu setia menyambutnya saat pulang kerja, meski pun ia selalu mengabaikannya.

“Senja,” ucapnya lirih sambil melangkah lunglai.

Mendaratkan bokong di sofa ruang tamu sembari bersandar. Memijat kening turun ke batang hidung.

Saat Mang Dul akan melewati ruang tamu, Bumi langsung bertanya, “Mang, tadi Mamang mengantar Senja ke mana?”

“Mamang nggak mengantarnya karena Nak Senja menolak. Dia lebih memilih naik taksi online. Katanya pengen ke suatu tempat. Hanya saja Nak Senja nggak memberitahu di mana tempat itu?” jelas Mang Dul terpaksa berbohong.

Bumi menghela nafas kasar, kecewa karena tak mendapat jawaban yang ia inginkan.

‘Sebenarnya kamu ke mana Senja? Apa ke Panti Asuhan? Tapi di mana? Apa nama yayasan itu? Argh!’

.

.

.

“Langit, ngapain kamu ke tempat ini? Kurang kerjaan apa? Bukannya langsung pulang malah mampir di sini,” gerutu Sky.

“Kepo!” Langit terkekeh seraya membuka pintu mobil. Setelah itu ia meminta Sky melanjutkan perjalanan.

Begitu mobil menjauh, Langit langsung mempercepat langkah kakinya.

“Syukurnya rusun ini dilengkapi dengan lift. Jika nggak, apa jadinya dengan Senja yang harus menaiki tangga hingga ke lantai sepuluh. Haaah, coba dia pindah ke apartemenku saja,” gumam Langit sesaat setelah masuk ke dalam elevator.

Selang beberapa menit kemudian, benda itu terbuka. Langit langsung mengambil langkah seribu. Seolah sudah tak sabar ingin bertemu dengan sang sahabat.

Ia langsung mengetuk pintu unit Senja sesaat setelah sampai di tempat yang dituju. Alisnya langsung bertaut saat memegang gagang pintu.

“Kok nggak dikunci? Anak ini kebiasaan banget, ceroboh! Bagaimana jika ada yang tiba-tiba masuk?” gerutunya.

Langit langsung menekan saklar lampu, karena ruangan itu terlihat gelap. “Pasti dia lagi molor,” tebaknya sembari terkekeh.

Begitu masuk ke kamar, ia kembali menekan saklar. Langit kembali terkekeh sekaligus merasa gemas menatap Senja yang sedang tertidur.

Tanpa basa basi, Langit ikut berbaring di samping wanita hamil itu. Mengangkat tangan menatap arloji. “Sudah jam tujuh lewat dua puluh menit malam.”

Ia memiringkan badan menatap wajah teduh Senja. Mengelus wajah lalu turun ke perut buncit.

“Aku numpang tidur seperti biasa. Ngomelnya urusan belakangan, terserah.” Langit kembali terkekeh membayangkan wajah kesal Senja.

...----------------...

Terpopuler

Comments

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

semoga Langit dan Senja berjodoh...Langit terlalu mengambil tahu keadaan Senja...tidak seperti Bumi

2023-09-17

2

LANY SUSANA

LANY SUSANA

semoga Senja cerai dan nikah dgn Langit ya 😍

2023-09-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!