4. SLMS

Sementara di area parkir hotel, Langit yang baru saja duduk di kursi kemudi, langsung memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.

“Senja.” Ia langsung menyebut nama itu. Mengatur nafas lalu menghembus pelan. “Kok, perasaanku nggak enak begini, ya,” gumamnya.

Langit langsung menghubungi Senja namun panggilan darinya tak kunjung di jawab. Ia kembali mencoba namun tetap sama.

Tak patah arang, ia mencoba menghubungi nomor Bik Riri dan Mang Dul. Namun, lagi-lagi tak ada jawaban.

“Kok, pada nggak diangkat?” Langit menatap layar dashboard mobil yang kini sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit malam. “Pantasan ... mereka pasti sudah tidur.”

Ia mencoba opsi terakhir yaitu menghubungi kontak Bumi. Akan tetapi sepupunya itu juga tak menjawab panggilan darinya.

.

.

.

“Pak, Bu.” Suara seorang dokter seketika membuat Bik Riri, Mang Dul menoleh.

Bik Riri langsung berdiri. “Dok, bagaimana dengan kondisi Nak Senja? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana dengan bayinya apa baik-baik juga, Dok?”

Serentetan pertanyaan itu lolos begitu saja dari Bik Riri dengan wajah cemas disertai derai air mata.

“Bu, syukurlah kalian cepat membawanya kemari. Jika tidak ... baby twins nggak bisa diselamatkan. Apalagi kondisi Bu Senja sangat lemah. Untuk saat ini, Bu Senja harus dirawat sementara di rumah sakit. Sekaligus memastikan kondisinya membaik baru kami izinkan pulang,” jelas dokter Syakila. “Oh ya, Bu, suami Bu Senja kok nggak ada?”

“Suami Nak Senja lagi di luar kota, Dok.” Tanpa ragu Bik Riri menjawab.

“Oh, begitu ya? Tolong segera hubungi beliau ya, Bu,” pesan dokter Syakila dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Bik Riri.

Sepeninggal dokter Syakila, Bik Riri langsung menarik nafas dalam-dalam. Bersyukur sekaligus merasa sedih.

“Pak.” Ia kembali mendaratkan bokongnya di samping sang suami lalu menangis.

“Buk, sudah jangan menangis. Yang terpenting saat ini Nak Senja dan bayinya selamat,” bisik Mang Dul.

“Ayo, kita masuk ke dalam melihat keadaan Nak Senja.”

Keduanya pun masuk ke ruangan IGD. Sejenak Bik Riri dan Mang Dul mematung di tempat. Sedetik kemudian keduanya kembali menangis memandangi wajah pucat Senja.

“Nak Senja,” sebut Mang Dul nyaris tak terdengar sembari mengelus kepala wanita malang itu. “Cepatlah sadar, Nak Senja. Baby twins yang kuat, ya di dalam sana Nak. Jangan menyerah, ada kakek dan nenek yang siap merawat kalian berdua nantinya.”

Setelah berada di dalam ruangan itu selama beberapa menit, Bik Riri meminta Mang Dul Pulang.

“Pak, sebaiknya Bapak pulang. Biar ibu saja yang menemani Nak Senja di sini. Antar mobilnya ke rumah. Nanti Bapak kembali pake motor saja.”

Meski berat meninggalkan keduanya, mau tak mau Mang Dul tetap menurut.

“Kalau begitu, bapak pulang dulu. Bapak akan kembali lagi nanti.”

Sebelum meninggalkan ruangan itu, Mang Dul kembali mengelus kepala juga perut Senja.

.

.

.

Di kediaman Bumi, pria itu sejak tadi duduk di tempat Senja terjatuh. Menatap noda darah sang istri dengan tatapan nanar.

“Apa yang sudah aku lakukan,” ucapnya lalu menarik rambut merasa frustasi.

Dalam keheningan malam, memori ingatannya kembali memenuhi benaknya. Dengan kejinya beberapa kali mencelakai Senja.

Semua ia lakukan semata-mata ingin melenyapkan dua jiwa yang sedang berkembang di rahim sang istri.

Tak lama berselang, suara mesin mobil terdengar memasuki garasi. Bumi langsung berdiri lalu mengarahkan pandangannya ke pintu utama.

“Mang Dul,” ucapnya sesaat setelah sosok pria paruh baya itu membuka pintu.

“Nak Bumi, Mamang nggak pernah menyangka jika kamu bisa setega itu pada Nak Senja. Bahkan hampir saja merenggut nyawa darah dagingmu sendiri. Apa nggak ada sedikit saja rasa empatimu pada Nak Senja? Ingatlah Nak, kamu juga terlahir dari seorang wanita. Jadi Mamang mohon hargailah istrimu sebelum penyesalan itu datangnya terlambat.”

Mendengar ucapan bernada dingin itu, hati seorang Bumi langsung mencelos. Tak biasanya sang supir mengatakan hal seperti itu.

“Mang, di rumah sakit mana kalian membawa Senja?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Bumi.

“Rumah sakit utama Kota J. Nak Senja masih berada di ruangan IGD,” jelas Mang Dul dengan nada dingin. Melanjutkan langkah tanpa menoleh sedikit pun.

*********

Begitu tiba di rumah sakit utama Kota J, Bumi langsung ke ruangan IGD.

Seketika dadanya berdebar kencang, tangan yang sedang memegang gagang pintu ikut bergetar. Perlahan mendorong benda itu lalu masuk ke dalam.

Ia langsung mematung memandangi Senja yang masih belum sadarkan diri. Perasaan bersalah seketika menyelimuti dirinya.

Bik Riri yang masih setia menunggu Senja, tak menegur majikannya itu. Hatinya ikut merasa sakit.

“Bik ....”

“Lebih baik Nak Bumi pulang saja,” sela Bik Riri dengan cepat.

Ucapan yang terdengar sama dinginnya dengan Mang Dul memaksa Bumi meninggalkan tempat itu.

Sebelum benar-benar pulang, ia terlebih dulu ke bagian administrasi.

Meminta supaya sang istri dipindahkan ke kamar VIP. Begitu urusan selesai Bumi langsung meninggalkan tempat itu dengan perasaan getir.

********

Keesokan harinya ....

Ponsel milik Senja kembali bergetar. Mang Dul yang sejak tadi sudah tampak rapi, celingukan mencari sumber getaran ponsel.

“Ponsel Nak Senja,” gumamnya saat mendapati layar ponsel Senja menyala. “Nak Langit?” Alisnya kini bertaut. Mang Dul langsung menggeser tombol hijau.

“Senja, apa kamu baik-baik saja?” Pertanyaan itu yang langsung menyapa gendang telinga Mang Dul.

“Nak Langit,” jawab Mang Dul.

Langit langsung mengerutkan kening. Heran sekaligus bingung.

“Loh, Mang ... Senja mana?” tanya Langit.

“Nak Senja ada di rumah sakit. Semalam dia pendarahan,” jelas Mang Dul.

“Apa, kenapa bisa?! Mang, di rumah sakit mana Senja dirawat? Nanti aku akan ke sana menjenguknya!” tegas Langit.

“Rumah sakit utama Kota J,” jelas Mang Dul.

“Ya sudah, aku akan ke sana nanti.” Langit langsung memutuskan panggilan telefon.

Mang Dul kembali mematung. Secara tak sengaja kini membandingkan sikap kedua pria yang masih bersaudara itu.

Ia merasa jodoh Senja seperti tertukar. Seharusnya Langit lah yang menjadi suami Senja bukan Bumi. Meski Bumi berstatus suami namun pria itu sama sekali tak pernah peduli pada Senja.

Sebaliknya Langit, pria yang tak memiliki ikatan apa pun dengan Senja, justru sangat peduli pada wanita malang itu.

Saat larut dengan pikirannya, suara Bumi seketika membuyarkan lamunan Mang Dul.

Ia pun segera meninggalkan kamar menghampiri Bumi. “Sudah mau berangkat ke kantor?”

“Hmm.” Hanya itu jawaban dari Bumi.

.

.

.

Sementara itu di kediaman Langit, pria itu tampak sedang bersiap-siap.

“Apa yang terjadi sampai Senja bisa pendarahan? Lalu ... baby twins, Ya Tuhan, semoga nggak terjadi apa-apa pada mereka.”

Langit menghubungi sang asisten lalu meminta semua jadwal shooting-nya dibatalkan hari ini. Ia beralasan jika ada urusan mendadak dan itu urgent.

Selang beberapa menit kemudian Langit akhirnya meninggalkan kediamannya.

Tujuannya kini tentu saja ke rumah sakit. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.

Cemas sekaligus khawatir. Di sisi lain ia merasa selama ini Senja seperti menyembunyikan sesuatu darinya.

Senja yang dulu ia kenal adalah gadis yang periang, ceria dan supel kini berbanding terbalik. Sejak menikah dengan Bumi semua sifatnya itu bak hilang ditelan bumi.

Setibanya di rumah sakit, ia langsung ke bagian administrasi untuk bertanya. Setelah mendapat jawaban, ia langsung mencari kamar rawat Senja.

“Bik, Senja,” sapa Langit sesaat setelah membuka pintu.

“Nak Langit?” sahut Bik Riri setelah Langit menghampiri. “Bagaimana Nak Langit tahu ...."

“Mang Dul yang memberitahu,” sela Langit lalu mengelus perut buncit Senja.

“Semalam, karena panik kami nggak sempat memikirkan apa pun, Nak. Yang kami pikirkan adalah keselamatan Nak Senja juga si kembar,” jelas Bik Riri dengan suara lirih.

Langit menghela nafas lalu mengelus lengan Bik Riri. Setelah itu, ia kembali memandangi Senja yang masih memejamkan mata.

...----------------...

Terpopuler

Comments

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

sedih bgt dgn Senja...semoga baby twins gak papa dan sihat hingga lahir... Bawa Baby twins menjauh dari Papa bejat mereka....

2023-09-16

0

Ulyanti Yanti

Ulyanti Yanti

semoga jodoh nya senja langit ya thoorr..🥺

2023-08-27

0

LANY SUSANA

LANY SUSANA

lanjut up yg banyak donk
ayok Langit bawa Senja pergi menjauh dari Bumi ya
biar Bumi menyesal telah menyia2 kan ank istri

2023-08-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!