Dalam keheningan malam keduanya sama-sama bergeming, diam seribu bahasa. Mengarahkan pandangan yang sama ke arah air kolam.
“Senja, maafkan aku.” Untuk yang kedua kalinya, Bumi mengucapkan kata ‘MAAF’.
Senja tersenyum sinis mendengar ucapan itu. Ia merasa tak yakin apakah Bumi benar-benar tulus atau sebaliknya.
“Mengenai kejadian tujuh bulan yang lalu ....”
“Lupakan! Sangat menyakitkan jika diingat kembali. Semuanya sudah terjadi bahkan telah menghasilkan dua jiwa yang nggak berdosa akibat perbuatan bejatmu itu!”
Bumi tertunduk mendengar ucapan bernada dingin dari Senja.
“Sebuas-buasnya harimau dia nggak akan memangsa anaknya sendiri. Lantas, kamu yang punya akal pikiran sebagai manusia, ternyata lebih kejam melebihi hewan buas itu!”
“Senja a ....”
“Sudahlah ... yang aku pikirkan saat ini hanyalah baby twins. Meski mereka nggak mendapat pengakuan darimu, sudah nggak masalah bagiku. Tanpamu pun aku bisa menghidupi keduanya. Lagian, baby twins nggak pantas memiliki ayah berjiwa psikopat juga pembu*nuh sepertimu,” pungkas Senja.
Mendengar penuturan Senja, seketika Bumi mematung. Sekujur tubuh tiba-tiba menjadi dingin. Tak mampu berkata-kata melainkan tertunduk lesu.
Entah mengapa ia takut jika Senja akan pergi dan takkan kembali.
Hening sejenak ....
“Mas, apa kamu tahu? Aku hanya seorang gadis biasa, yatim piatu yang mencari nafkah di tempat itu.”
Bumi mengangkat wajah menatap Senja dengan lekat.
“Sejak kecil aku hidup dan besar di panti asuhan. Sekolah hingga kuliah dengan biaya sendiri dari bekerja paruh waktu. Syukurnya aku terbantu dengan beasiswa karena berprestasi di bidang akademik.”
“Setelah lulus kuliah, aku langsung memasukkan lamaran kerja di CJ Club'. Karena aku tahu gaji di sana sangat tinggi. Syukurnya aku langsung diterima menjadi manager karena posisi itu kebetulan lagi kosong. Dengan gaji yang lumayan tinggi, setidaknya aku bisa membantu adik-adikku di panti asuhan.”
Senja kembali menghela nafas seraya memejamkan mata sejenak.
“Maafkan aku karena meminta keadilan serta pengakuan untuk baby twins kala itu. Tadinya aku berharap bayiku nggak bernasib sama sepertiku. Tapi ....”
Senja tertunduk sambil tersenyum mengejek pada dirinya sendiri.
“Tapi kenapa?” sambung Bumi yang sejak tadi tak mengalihkan pandangannya dari Senja.
“Kamu juga nggak menginginkan bahkan berulang kali ingin membu*nuhnya,” lanjut Senja disertai kristal bening yang jatuh tanpa permisi. “Aku mohon untuk yang terakhir kalinya, Mas. Jangan bu*nuh bayiku. Dia anakku darah dagingku. Meski kamu nggak mengakuinya, nggak masalah yang penting biarkan dia hidup bersamaku,” pungkas Senja lalu menyeka air mata.
Bumi terpekur sekaligus merasa bersalah karena beberapa kali mencoba melenyapkan darah dagingnya sendiri.
Sedangkan Senja harus berulang kali merasakan sakit luar biasa demi mempertahankan baby twins. Bukan cuma harus menahan sakit fisik tapi juga mental, karena ia harus menerima perlakuan kasar serta kata hinaan dari suaminya.
“Mas, ini sudah larut. Sebaiknya kamu tidur. Aku juga ingin kembali ke kamarku. Maaf, karena diriku mungkin hubunganmu dengan kekasihmu menjadi renggang. Jika ada waktu, pertemukanlah aku dengannya. Aku ingin meminta maaf secara langsung.”
Bumi ikut berdiri saat Senja mulai melangkah. Menahan lengannya sambil mengerutkan kening.
“Bagaimana kamu tahu? Apa Mas Langit yang memberitahu?” tanya Bumi menyelidik sekaligus merasa getir.
Senja tersenyum tipis sambil menggeleng. “Bukan Mas Langit tapi kamu. Saat kamu melecehkanku malam itu, kamu terus menyebut namanya. Jingga ... itulah nama yang terus kamu sebut malam itu.”
Senja melepas genggaman tangan Bumi kemudian melanjutkan langkahnya.
.
.
.
.
Jauh dari kota J tepatnya di kota P, Langit yang berada di salah satu hotel tampak belum bisa memejamkan mata.
Pikirannya terus melayang memikirkan keadaan Senja.
“Kamu kenapa sih? Sejak tadi gelisah begitu?” tanya sang asisten. “Jangan-jangan mikirin istri orang lagi, ya?” ledek Sky sambil terkekeh.
“Ck.” Langit berdecak lalu bangkit dari tempat tidur. Mengambil rokok serta pemantik kemudian keluar ke balkon.
“Ada apa? Apa aku benar?” tanya Sky lagi sesaat setelah ia berdiri di sebelah Langit.
Langit membakar rokok lalu menyesap benda itu dalam-dalam. Memilih bungkam sekaligus mengiyakan pertanyaan Sky dalam hati.
“Andai waktu bisa diputar dan kita terlahir kembali maka, aku mendambakan pria seperti dirimu. Apakah kamu akan mencintaiku dengan tulus jika kita ditakdirkan menjadi pasangan hidup yang nyata?”
Ucapan itu seolah kembali terngiang di telinga Langit. ‘Padahal aku sudah berencana melamarmu ketika sudah kembali dari Melbourne. Sayangnya, aku malah shock saat tahu kamu sudah menikah dengan Bumi,’ batinnya.
“Oh ya, Sky, besok hari terakhir kan kita shooting di sini?”
“Ya, jam sembilan pagi di area MR, lokasinya dekat laut. Pokoknya view-nya ok banget,” jelas Sky.
“Menunya?”
“Masih berhubungan dengan seafood.”
“Oh ya, besok sebelum shooting, kamu pesan tiket penerbangan sore. Aku merasa sudah terlalu lama berada di kota ini,” keluh Langit.
Sky tergelak sembari merangkul bahu sang sahabat. “Baru seminggu Langit, belum lama. Padahal aku masih ingin di sini beberapa hari lagi.”
“Nggak masalah, kamu bisa menyusulku belakangan,” kata Langit lalu melepas rangkulan tangan Sky. Ia kembali ke kamar lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
.
.
.
Sudah tiga puluh menit berlalu sejak Senja meninggalkan tempat itu. Bumi masih betah duduk di kursi santai sambil melamun.
Ucapan serta permohonan Senja kembali membuat hatinya tercubit. Rasa bersalah itu kembali menggerogoti dirinya.
Betapa kejam dan kejinya ia memperlakukan Senja. “Maafkan aku Senja. Dia juga darah dagingku.”
Bumi kemudian beranjak dari kursi lalu menyusul ke dalam rumah. Sesaat setelah berdiri didepan kamar Senja, ia menatap nanar daun pintu itu.
Mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam. “Apa dia sudah tidur?”
Bumi kemudian memutar handle pintu lalu masuk ke dalam kamar. Perlahan menghampiri Senja yang terlihat gelisah.
“Senja!” panggilnya kemudian duduk di sisi ranjang.
Wanita hamil itu sesekali meringis sambil membolak-balikkan badan seolah mencari posisi yang nyaman.
Bumi mengganjal pinggulnya dengan bantal kemudian mengelus perutnya pelan. Dan, itu berhasil membuat Senja kembali tenang.
“Apa setiap malam dia gelisah seperti ini?” gumam Bumi merasa bersalah.
“Maafkan papa karena berkali-kali ingin melenyapkan kalian. Papa janji nggak akan melakukan hal keji itu lagi. Papa ingin kita hidup bersama sebagai keluarga yang utuh.”
Merasa seperti mendengar seseorang sedang berbicara, Senja membuka mata. “Mas ...” ucapnya lalu kembali menutup mata.
Senja mengira jika dia sedang bermimpi. Karena sekilas melihat sosok suaminya yang sedang tersenyum kepadanya.
Nyaman ....
Itulah yang dirasakan Senja kini.
Melihat Senja sudah kembali memejamkan mata, Bumi memilih ikut tidur di sampingnya dengan posisi miring saling berhadapan.
Menatap lekat wajah sang istri dengan perasaan bersalah.
“Apakah kamu mau memberiku kesempatan kedua? Aku berjanji akan berubah,” ucapnya meski ucapan itu tak mungkin di dengar oleh Senja.
Perlahan Bumi mendekatkan wajah lalu mendaratkan kecupan di kening Senja. Membelai wajah sang istri yang sedikit chubby.
Membawanya masuk ke dalam pelukan lalu perlahan memejamkan mata.
Entah angin apa yang membuat Bumi seketika peduli pada Senja. Apakah ia akan berubah ataukah hanya bualan semata dengan niat tersembunyi? Who knows.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Jeni Safitri
Ck. Senja sdh jelas suami spikopat masih aja bertahan kalau mau pergi ya pergi aja ngk perlu bilang" biarkan penyesalan yg dia rasakan, kalau dia tau kamu mau pergi di ambilnya anak mu nanti bagaimana
2024-03-29
0
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
aku gak percaya pd Bumi.... Senja usah termakan dgn kata2 manis Bumi supaya stay bersamanya... llki psycophat gak boleh di percayai...🤔🤭
2023-09-16
0
LANY SUSANA
jangan mau Senja kr Bumi msh bersama Jingga
lbh baik bersama Langit yg tulus mencintai km sjk dulu
2023-08-29
0