Sudah hampir setengah jam, Langit berada di kamar rawat Senja.
Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Itu pasti pegawai hotel,” tebak Langit. Sebelumnya ia sudah meminta salah satu karyawan hotel mengantar makanan ke rumah sakit.
Dan benar saja, saat pintu dibuka salah satu karyawan hotel sedang menenteng paper bag makanan. “Pak, ini makanan pesanan Anda.”
“Makasih ya.”
“Apa masih ada yang Bapak butuhkan?” tanya karyawan hotel.
“Sepertinya sudah cukup. Jika pun ada, nanti aku langsung hubungi kalian,” jawab Langit dengan senyum ramah.
Karyawan hotel hanya mengangguk sekaligus berpamitan. Sepeninggal karyawan tadi, Langit dengan telaten menata makanan di atas meja.
“Bik, sarapan dulu.”
“Nanti saja Nak. Bibik tunggu Nak Senja bangun.”
“Tapi, Bik ... sejak tadi Bibik belum sarapan.” Langit menghela nafas.
Ia tampak merenung sekaligus merasa heran. Sejak tadi Bumi belum juga menampakkan batang hidungnya. Sehingga ia mulai berspekulasi sendiri.
“Biiiik ....” Suara lirih Senja seketika membuyarkan lamunan Langit..
“Senja.” Langit langsung beranjak lalu menghampiri wanita hamil itu.
“Nak Senja, syukurlah kamu sudah bangun,” ucap Bik Riri dengan mata berkaca-kaca.
Senja langsung meraba perutnya. “Syukurlah, kalian nggak kenapa-napa, Sayang. Momy bisa gila jika kehilangan kalian,” gumamnya dalam hati.
Air mata Senja langsung menetes mengingat kejadian semalam. Ia tak menyangka jika Bumi kembali tega melakukan hal yang sama agar bayi yang dikandungnya meninggal. Bahkan pria itu seolah tak merasa bersalah.
“Senja,” tegur Langit lalu duduk di sisi ranjang. Mengelus perutnya dengan lembut.
“Mas Langit.” Sepasang mata sendu Senja kembali menganak sungai. Ia kemudian melirik Bik Riri.
Hening sejenak ....
Sebelum akhirnya pintu terdengar dibuka oleh seseorang.
“Buk, Nak Senja, Nak Langit,” sapa Mang Dul seraya menghampiri mereka. “Paman sekalian membawakan pakaian juga makanan. Nak Langit, sudah lama?”
“Lumayanlah Mang. Tapi nggak masalah jika itu bersangkutan dengan Senja.” Langit mengukir senyum.
“Bik, sebaiknya Bibik sarapan dulu. Setelah itu, pulanglah beristirahat karena sudah semalaman Bibik menemaniku di sini,” saran Senja.
“Apa yang dikatakan Senja ada benarnya, Bik. Jangan khawatir nanti aku yang menemani Senja di sini. Sekalian, sambil menunggu Bumi,” timpal Langit dengan seulas senyum.
“Baiklah, bibik akan kembali lagi nanti siang. Kalau begitu sebaiknya kita sarapan bersama saja,” cetus Bik Riri.
.
.
.
Sementara di kantor, Bumi terus memandangi design gambar yang belum selesai ia kerjakan. Pensil yang sejak tadi berada di selah jari hanya ia ketuk-ketukkan di atas meja.
Pikirannya melayang jauh, merenung sekaligus menelaah ucapan sang supir tadi malam.
“Mamang nggak pernah menyangka jika kamu bisa setega itu pada Nak Senja. Bahkan hampir saja merenggut nyawa darah dagingmu sendiri. Apa nggak ada, sedikit saja rasa empatimu pada Nak Senja juga calon bayimu? Ingatlah Nak, kamu juga terlahir dari seorang wanita. Jadi Mamang mohon, hargailah istrimu sebelum penyesalan itu datangnya terlambat.”
“Ssstt.” Ia mendesis lalu menyandarkan punggung di kursi kerja. Memejamkan mata sembari memijat kening. “Apa Mang Dul melihat semuanya semalam?”
Kepalanya seketika merasa pening tak bisa fokus menggambar. Bumi meraih rokok yang ada di atas meja lalu membakarnya.
Bayangan akan kejadian semalam kembali bermain di mata.
“Maafkan aku Senja, aku khilaf dan kalap mata.” Ia beranjak dari kursi kerja. Menghampiri dinding kaca sembari menyesap rokok.
Ingatannya kembali berputar tujuh bulan yang lalu.
Seperti biasa, setelah memenangi tander proyek, Bumi mengajak teman-temannya ke club' malam.
Tepatnya di CJ Club'. Sebuah club' malam elit tempat Senja bekerja sebagai manager. Malam itu, Jingga yang tak lain adalah kekasih Bumi turut bergabung. Namun gadis itu pulang lebih awal.
Cukup lama mereka berada di CJ Club' bahkan hingga menjelang dini hari. Sehingga satu per satu teman-teman Bumi mulai meninggalkan tempat itu.
Senja yang saat itu masih bekerja, tak sengaja melihat Bumi yang terlihat sudah mabuk berat di salah satu ruangan VIP.
“Mas ... Mas ...” tegur Senja.
“Jingga ... Sayaaang ....” Bumi meracau sembari menarik lengan Senja.
“Maaf Mas, kamu salah orang. Ayo, sebaiknya aku mengantarmu ke kamar saja,” tawar Senja karena tak tega melihat kondisi Bumi.
Dengan susah payah Senja menggotong tubuh besar Bumi hingga berada di dalam kamar.
Saat tubuh keduanya terhempas di atas ranjang, Bumi langsung mengungkung Senja.
“Mas, lepasin!!” Senja meronta berusaha lepas dari serangan mendadak Bumi.
“Sayaaang, ayolah ... ini bukan yang pertama. Kita sudah sering melakukannya. Bahkan kamu yang meminta. Kenapa malam ini kamu malah menolak,” bisik Bumi sembari menggerayangi tubuh Senja.
Sontak saja racauan Bumi itu, semakin membuat Senja panik berselimut takut. Sekuat tenaga meronta sembari berteriak tatkala seragam kerjanya mulai dilepas paksa.
“Mas, aku bukan kekasihmu! Tolong lepasin aku! Lepasin!” teriak Senja ketakutan sambil menangis.
Ia sempat lepas dari kungkungan Bumi dan berusaha lari. Namun, dengan cepat Bumi kembali menarik tangannya.
Sekuat tenaga ia meronta, berontak dan berteriak. Namun, apalah daya pada akhirnya ia kalah tenaga dari Bumi.
Hawa nafsu yang sudah merasuki Bumi membuat pria itu kalap. Ia mengira jika Senja adalah Jingga.
Namun, ia salah dan baru menyadari saat pagi menjelang. Saat mendapati dirinya dan Senja dalam keadaan polos, ia langsung panik.
Sebelum meninggalkan Senja, Bumi meninggalkan sejumlah uang. Pikirnya Senja adalah salah satu PSK di club' malam itu.
“Sayang,” bisik seseorang sambil memeluknya dari belakang.
Seketika lamunan panjang Bumi langsung membuyar. “Jingga,” ucapnya nyaris tak terdengar.
Melepas kedua tangan yang melingkar di perut liatnya. Tanpa berbalik Bumi masih mengarahkan pandangan lurus ke depan.
“Ada apa kamu kemari?” Sambil melirik arloji di pergelangan tangan.
“Ingin mengajakmu makan siang.”
Bumi bungkam tak memberi jawaban. Ia seolah tak berselera. Benaknya kini malah memikirkan Senja.
“Bagaimana dengan keadaannya juga bayinya?” batinnya sembari memijat kening.
“Jingga, lain kali saja,” tolak Bumi.
Jingga menghela nafas kecewa. “Baiklah jika kamu nggak mau. Kalau begitu kita bahas yang lain saja. Kapan kamu akan menceraikan wanita itu?”
“Aku nggak ingin membahas itu sekarang. Tolong, tinggalkan aku sendiri. Jika kamu berada di sini, aku nggak bisa fokus menggambar!” Bumi berdalih lalu sedikit menjauh dari Jingga.
Menghampiri pintu sekaligus mempersilahkan Jingga untuk keluar. Sikap Bumi yang terkesan dingin bahkan acuh membuat Jingga bingung.
Tak seperti biasa kekasihnya itu bersikap demikian.
“Baiklah, aku kembali lagi ke butik.” Jingga memeluknya sejenak lalu mendaratkan kecupan di bibir.
Sepeninggal Jingga, Bumi kembali ke meja kerja sekaligus melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Beberapa jam berlalu ....
Saat jam makan siang, Bumi memilih meninggalkan kantor. Tujuannya kini adalah ke rumah sakit.
Tanpa meminta dijemput, Bumi memilih menggunakan kendaraan Pak Andara. Sebelum benar-benar tiba di tempat tujuan, tak lupa ia membeli makanan untuk Senja dan Bik Riri.
.
.
.
“Mas Langit, pulanglah. Sejak pagi kamu menemaniku di sini. Apa kamu nggak ada jadwal shooting hari ini?”
“Nggak ada. Soalnya aku cancel semua jadwalku demi kalian.” Sambil menggelengkan kepala, Langit mengukir senyum.
Mengelus perut Senja dengan lembut layaknya seorang suami yang begitu posesif. Ia terkekeh saat merasakan tendangan kecil di telapak tangannya.
Perlakuan tulus dari Langit selalu membuat Senja terharu sekaligus dihargai.
“Mas Langit, mendekatlah,” pinta Senja.
Dengan patuh Langit mendekati Senja. “Ada apa, hmm? Kenapa mata ini kembali mengembun?” bisik Langit.
Senja tak menjawab tapi memeluknya. “Langit Alfarellza Azure, seindah namamu yang selalu menenangkan hati,” bisik Senja. “Andai waktu bisa diputar dan kita terlahir kembali maka, aku mendambakan pria seperti dirimu. Apakah kamu akan mencintaiku dengan tulus, jika kita ditakdirkan menjadi pasangan hidup yang nyata?”
“Senja,” sebut Langit seraya mengangguk.
Dari untaian kata itu, entah mengapa Langit merasakan seperti tersirat seribu satu luka di hati seorang Senja.
Tanpa mereka sadari, Bumi kembali memergoki keduanya berpelukan. Meski hanya pelukan biasa namun sukses membuat hati seorang Bumi menjadi panas.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂
Bumi sudah kepanasan🔥🔥 melihat keakraban Langit dan Senja...lepasin saja Senja drp di sakiti oleh kamu... fuuhhh dasar suami durjana...
2023-09-16
0
LANY SUSANA
next up yg banyakin donk thor
2023-08-28
1