Bagaimana mungkin para itik buruk rupa ini mampu bersaing dengan Anneke-nya? Karena merasa jengkel, Nyonya Besar itu memutuskan berjalan dengan perlahan dan dengan sengaja menabrak para gadis itu yang sedang membawa cangkur kopu panas di tangannya.
‘Huh…..wajah biasa-biasa saja, mana bisa bersaing dengan cucu menantuku yang cantik.’ bisiknya dalam hati.
“Aww! Aduh! Aduh! Panas!” kata mereka semuanya yang terguyur tumpahan kopi di baju dan roknya.
“Oh maaf. Nenek tidak sengaja.” kata Nyonya Besar diiringi oleh anggukan para wanita yang bergegas pergi mengganti pakaiannya. Sekelebat senyuman licik terlihat menghiasi wajah wanita tua itu. ‘Hahaha….rasakan! Seenaknya saja membicarakan cucuku’
Dia pun melangkah keluar dari gedung itu dan menaiki mobilnya yang sudah menunggunya didepan pintu masuk, ia segera meminta supirnya untuk mengantarkannya pulang ke kediaman Arsenio.
Setelah Nyonya Besar kembali kerumahnya, Noah terlihat mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja kerjanya. Sesekali dia membolak balikkan dokumen dihadapannya itu namun seakan ada hal yang sedang dipikirkannya.
Dari arah luar, nampak asistennya mendongakkan kepala untuk mengintip apa yang sedang bosnya itu lakukan. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, asisten Levi segera masuk untuk menyerahkan beberapa dokumen penting lainnya.
Levi berdiri dihadapan Noah tanpa mengucapkan sepatah katapun. Meskipun sudah dipanggil beberapa kali, namun bosnya itu belum juga merespon keberadaannya disana.
“Tuan….” Levi kembali memanggilnya namun bosnya itu terlihat masih saja asyik dengan dunianya sendiri dan tak menyadari kalau asistennya itu sudah berdiri disana sejak tadi.
“Tuan Noah….” ini panggilan yang entah sudah keberapa kali. Tapi tetap saja tidak direspon.
Entah mengapa, kali ini Noah merasa kesulitan untuk fokus pada pekerjaannya, seakan ia sedang memikirkan sesuatu.
Tapi apakah sesuatu itu, hanya dia dan surga saja yang tahu. Saat lamunannya telah menjeratnya, samar-samar dia mendengar suara dehaman dari asisten yang seakan menuntut untuk mendapatkan perhatiannya.
“Ehem...Ehem...Tuan Noah, ini adalah laporan yang anda minta.” ujar Levi memperhatikan reaksi bosnya itu.
Levi menyerahkan berkas yang ada ditangannya itu. Tanpa merespon asistennya itu, Noah terdengar memberikan sebuah pertanyaan lain yang tidak dipahami oleh Levi.
“Dia….dimana?” Noah bertanya sambil mengetik sesuatu dilayar laptopnya. Noah bertanya dengan nada datar dan dingin yang membuat asistennya merasa kebingungan dengan pertanyaan itu.
“Ehm...dia...dia….dia siapa yang Tuan maksudkan?” Levi mengeryitkan dahinya mencoba berpikir siapa kira-kira orang yang dimaksudkan oleh bosnya ini. Setelah berpikir sejenak, Levi tetap tidak mengerti orang yang dimaksudkan oleh bosnya. Huh! Apakah bosnya ini mengira dia adalah seorang peramal masa depan?
Melihat keberadaan Levi yang sedang menggaruk tengkuknya dengan ekspresi kebingungan, Noah pun kembali berkata, “Memangnya ada wanita lain yang pernah kusebutkan?” ujar Noah menaikkan intonasi suaranya karena tidak suka dengan respon dari asistennya yang sangat lambat. “Wanita-wanita itu hanya untuk pajangan. Apa aku pernah tahu nama mereka?”
Levi terkejut mendengar ucapan bosnya itu. Ya, benar. Selain Nyonya Muda, istri yang tidak pernah disukai oleh bosnya ini, rasanya Levi tidak pernah mendengar bosnya membicarakan wanita lainnya selain Shelly tapi itupun hanya soal kontrak kerja.
“Oh, Nyonya Muda. Kalau Nyonya, saya tidak tahu sedang ada dimana Tuan!” jawab Levi dengan santainya seakan itu bukanlah masalah besar.
Ya benar. Selama ini Anneke tidak pernah berarti bagi Noah Arsenio sehingga Levi tidak pernah terlalu peduli untuk mengurusi wanita yang terabaikan itu. Mendengar asistennya tidak bisa menjawab pertanyaannya, ekspresi wajah Noah pun berubah menjadi menggelap! Raut wajahnya bagaikan pusara kekelaman yang hitam dan siap menelan.
“Apa?” sambil menutup laptopnya dengan keras, Noah terlihat marah dengan nada suaranya yang tinggi. Melihat bosnya bersikap seperti itu, Levi mulai bercucuran keringat dingin.
Aduh, sepertinya ia telah mengatakan sesuatu yang salah! Bagaimana ini? Dengan gemetaran Levi kemudian memperbaiki kata-katanya. “Apa maksudmu tidak tahu dimana?”
“Maaf Tuan Noah, saya akan segera mencari tahu keberadaan nyonya.” Levi seketika itu juga bergegas keluar ruangan yang menyeramkan itu untuk mencari tahu informasi keberadaan wanita itu.
Kali ini Ceo Noah terlihat sangat garang. Levi harus segera keluar untuk menyelamatkan dirinya! Dia sangat ketakutan melihat eksprsi Noah seperti itu.
“Cepat cari tahu dimana dia dan laporkan padaku!” Noah bicara dengan menaikkan intonasi suaranya. Dia marah….ya sangat marah! Entah mengapa perasaannya kacau setiap kali dia mengingat istri gila dan jeleknya itu! Tapi kenapa baru sekarang dia merasa begitu tak nyaman? Apa karena wanita itu tidak mengejarnya lagi seperti biasanya?
Tak terasa waktu berjalan cepat, sore pun menjelang. Di kediaman Keluarga Runako, Anneke terlihat begitu cantik dan elegan dengan memakai dress selutut berwarna putih dengan tampilan atas sedikit terbuka menampilkan kulit putih yang halus dan menawan. Ini adalah dirinya yang sebenarnya, dia memandangi pantulan dirinya di depan cermin.
Rambut hitam lebatnya yang tergerai halus dan berkilau, kedua matanya yang berwarna indah, bulu matanya yang panjang dan lentik. Hidungnya yang mancung dan bibir warna merah mudanya yang ranum membuat bunga-bunga ditaman itu seakan merasa iri pada keindahannya. Ah, sepertinya memoleskan sedikit riasan tipis akan menarik ya? Pikirnya.
Sore ini Anneke terlihat sedang berjalan-jalan di taman bunga mawar kesukaannya! Sudah lama dia tidak menikmati keindahan yang menakjubkan ini. Dahulu, dia yang menanam seluruh bunga yang ada disana satu persatu.
Coba, lihatlah sekarang semua bunga-bunga itu sudah tumbuh subur dan memenuhi keinginan dan kebun jadi terlihat lebih berwarna warni penuh keceriaan.
Sebenarnya Anneke tidak terlalu pintar dalam hal pendidikan di sekolah, tapi dia hebat dibidang musik. Selain itu dia juga menyukai melukis dan menanam bunga, Anneke merasa menikmati hobinya menanam dan merawat semua bunga itu. Sungguh mudah baginya untuk melakukannya karena dia menyukai keindahan.
Saat dia memandangi hamparan bunga mawar merah yang memanjakan matanya, Anneke sangat tergoda untuk memetik beberapa tangkai untuk diletakkan diatas meja makan mereka malam ini.
“Pasti indah.” gumamnya dalam hati. Namun sebelum dia meletakkan bunga-bunga itu dikeranjangnya dan sedikit merangkainya, sepertinya ada sesuatu yang harus dilakukannya terlebih dahulu dengan bunga-bunga itu.
Sembari membuka sebuah kotak hadiah yang diberikan oleh ayahnya beberapa waktu lalu, Anneke terdengar bersenandung dengan riangnya. Benar! Itu adalah kotak peralatan lukis lengkap dengan kanvasnya.
Sudah lama sekali dia tidak menyalurkan hobinya melukis, di kehidupan yang lalu dia sibuk mengejar-ngejar Noah kemanapun.
Alfred sangat mengenal putrinya itu. Meskipun anaknya tidak pintar dalam bidang pendidikan, tetapi dia memiliki kelebihan dalam melukis! Karena itulah dia memberikan hadiah peralatan melukis untuk putri tunggalnya itu.
Alfred tidak pernah memaksa putrinya untuk bekerja di perusahaan, dia memberikan kebebasan padanya untuk melakukan apa yang dia sukai.
Setelah mengatur semuanya, Anneke kemudian mulai duduk diatas rumput dan memandang bunga yang akan dilukisnya. Bunga-bunga itu begitu cantik, namun entah mengapa hati Anneke sedikit merasa tergores sebelum melukisnya. Perasaan itu begitu mendominasi sehingga ia kemudian mengambil kuasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trusberkarya
2024-03-17
1
asmara wati
Thor menggambarkan detail seorang MC seharusnya gak perlu di ulang ulang terus, membosankan, cukup dengan panggilan,sitampan atau sicantik, biar gak kepanjangan keterangan gak ada dialog 😁
2024-01-12
1
Rose Linim
semangat thor..karya yg bagus
2023-12-31
0