Karena ingin memberikan bos besarnya ketenangan, Levi berjinjit melangkah pergi dari sana dengan diam-diam. Rasanya lebih baik membiarkan bos besarnya itu melamun seharian. Jadi paling tidak ia bisa membeli secangkir kopi dan sepiring kue kesukaannya di kantir perusahaan. Bersantai sejenak sebelum bosnya itu memanggilnya lagi.
...*******...
Setelah Kaylee pergi dari kediaman Runako. Anneke merasa lega karena tidak perlu melihat paras munafik sepupunya yang tidak sedarah dengannya itu. Didepan semua orang, Kaylee tampak begitu lembut dan penyayang.
Tapi siapa yang menyangka kalau wanita itu bahkan tanpa segan melumuri tangan kotornya dengan darah orang lain demi mendapatkan keinginannya.
Sudahlah! Anneke tidak ingin memikirkan wanita ular beludak itu. Saat ini belum tiba waktunya bagi Anneke untuk membuka topeng Kaylee. Sejak Anneke bangkit dari kematian, ada begitu banyak hal yang terjadi.
Terutama adalah kecelakaan yang terjadi padanya. Perlahan dia bangkit dan berjalan menuju kamar pribadinya yang dirindukannya itu!
Anneke membuka pintu dan mengarahkan pandangannya menyusuri setiap sudut yang ada disana. Semua perabotan dan segala barang miliknya masih ada disana, semua tetap sama tidak ada satupun yang berubah.
Senyum menghiasi wajah Anneke yang berjalan beberapa langkah merasakan kembali tubuhnya yang telah remuk redam itu.
Kemudian dia meletakkan tasnya dan paket hadiah dari kakeknya, lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang terbuat dari busa yang sangat nyaman dipadu dengan bahan katun, kasmir dan sutera yang terasa lembut itu.
“Ah...nyaman sekali!” gumam Anneke sambil menatap langit-langit kamarnya. “Rasanya dirumah ini aku merasa jauh lebih baik.”
Warna putih gading dengan ornamen-ornamen alam, membuat kamar itu terasa sejuk….sangat sejuk malah sampai-sampai mengantarkan Anneke kedalam alam mimpi. Dalam sekejap dia sudah tertidur pulas dan tak lama terdengus suara dengkuran halusnya. Tanpa dia sadari kalau kenyamanan itu membuatnya tersenyum saat tidur.
Kali ini Anneke harus benar-benar beristirahat dan memulihkan kekuatannya untuk memulai hari barunya besok untuk melaksanakan rencananya. Sementara itu, Alfred Runako sedang berada diruang kerjanya.
Sepertinya dia sedang menyiapkan sesuatu untuk menyambut kepulangan anak perempuannya. Ya, Alfred sudah lama sekali menunggu kepulangan putri semata wayangnya.
Dia menarik laci meja kerjanya dan mengeluarkan sebuah kotak besar yang terasa berat itu. Perlahan, Alfred mengambil kotak itu dan membuka isinya, hanya untuk melihat dan memastikan isi didalamnya masih sama.
Benar, itu adalah hadiah yang sudah Alfred persiapkan dua tahun lalu. “Semoga saja Anneke menyukai hadiah ini.”
Tetapi sayangnya, kepergian anaknya secara tiba-tiba membuat Alfred tidak bisa memberikan hadiah itu pada Anneke. Dengan langkah pasti, Alfred Runako yang pendiam itu berjalan menuju kamar putrinya yang saat ini tengah tertidur lelap. Mendengar suara dengkuran lembut putrinya itu membuat Alfred menyunggingkan senyum.
Dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putri kesayangannya. Lalu dia meletakkan kotak hadiah itu diatas meja, Alfred segera berlalu meninggalkan Anneke yang saat ini tengah tidur pulas sambil memeluk guling yang besar itu.
...*****...
Beberapa hari kemudian, di perusahaan Arsenio, tampak Levi sedang sibuk membantu Noah yang sedang memimpin rapat pemegang saham dengan terampil. Rapat itu begitu penting karena dihadiri oleh semua pemegang saham di perusahaannya termasuk Nyonya Besar yang sangat ingin bertemu dengan cucu yang dirindukannya itu.
Beberapa hari yang lalu, Nyonya Besar itu sudah menelepon cucunya yang dingin itu untuk segera berkunjung ke kediamannya. Tapi sayangnya telepon Noah selalu saja dijawab oleh asistennya Levi yang mengatakan bahwa bosnya sedang ada rapat. Noah ingin bersembunyi dari Nyonya Besar dan memakai asistennya untuk mengelabuinya!
Dasar cucu kurang ajar! Mengingat asisten Levi itu tidak pernah bisa diajak bekerjasama, maka Nyonya Besar pun merasa sangat jengkel. Jika Nyonya Besar tidak bisa menggaet hati Levi untuk menjadi mata-matanya, maka terpaksa dia akan memakai cara yang lain untuk mengawasi cucu nakalnya itu. Mungkin saja…….
Dengan memasang kamera pengintai, menyewa detektif atau bahkan membeli satelit untuk merekam jejaknya! Ya, Nyonya Besar pasti akan melakukan semua yang dia bisa untuk mengawasi cucu nakalnya itu.
Dia tidak akan membiarkan para wanita diluar sana bisa menikmati kekayaan cucunya. Setelah rapat pemegang saham selesai dan semua orang pergi meninggalkan ruang rapat.
Kini tinggal Noah dan neneknya saja didalam ruangan itu. Tidak lama menunggu sang Nyonya Besar bergegas menghampiri Noah dan langsung memukul bahunya yang kokoh dengan tongkat kayu yang dipegangnya. Keras! Nyonya besar memukulnya dengan sangat keras! “Dasar anak kurang ajar! Anak tidak tahu diri! Awas saja kau!”
Dia bahkan mengerahkan seluruh tenaganya yang dia miliki di usia senjanya untuk memukul cucunya itu. “Aww! Nenek!” teriak Noah sambil meringis menahan nyeri di bahu kirinya yang dipukul oleh wanita tua itu dengan menggunakan tongkat kayunya.
“Lihatlah! Kau sangat kurang ajar!” kata si nenek menghentikan pukulannya.
Bukankah ini sangat memalukan? Seorang CEO besar yang terkenal sangat dihormati dan disegani seantero negeri telah dipukul dengan tongkat neneknya! Bagaimana dia akan menghadapi publik jika sampai ada yang mengetahui tentang ini? Benar-benar memalukan sekali! Jika ada lubang maka dia sudah akan menyembunyikan dirinya.
“Bocah nakal! Kemana saja kau beberapa hari ini, hah? Bukankah aku sudah menyuruhmu pulang kerumah dan menemaniku di kediaman Arsenio? Tapi kau malah...aduh---aduh----aduh---duh kepalaku!” tangan keriput itu memegangi kepalanya yang terasa sakit tapi pura-pura. Dia bahkan berakting sempurna seolah hendak pingsan membuat Noah terkejut.
Nyonya besar itu merasakan sakit dikepalanya yang tiba-tiba menjalar. Dia langsung memegang dan mengusap-usap pelipisnya yang tidak sakit itu dan memperlihatkan betapa menderitanya dia di usinya yang sudah sangat tua!
Napasnya pun sengaja dibuat-buat seolah sesak bak orang sakit asma, entah bagaimana caranya dia bisa mengubah semuanya dalam sekejap.
“Nenek, mana yang sakit?” Noah terlihat panik melihat neneknya mengaduh kesakitan.
“Dasar bocah bodoh! Aku sakit karena tak tahan dengan tingkah lakumu!” Nyonya besar mulai lagi akting dasyatnya yang selalu berhasil mengelabui cucunya itu.
Mendengar kata-kata neneknya, Noah terlihat sedikti kesal. Namun dia menurunkan ego-nya supaya neneknya yang sudah tua itu tidak terlihat menderita.
“Baiklah….baiklah….aku akan pulang dan menemani nenek dirumah.” ucapnya sambil memapah neneknya yang rapuh, Noah berjanju untuk menenangkan hati neneknya itu. Entah, dia bisa memenuhi janjinya atau tidak yang pasti untuk saat ini hanya itu saja yang bisa dilakukannya. Memberi sedikit janji manis pada nyonya besar.
“Anak pintar! Uhuk….uhuk….” Nyonya besar tersenyum dengan sangat puas. Jika saja ia tahu kelemahan Noah adalah kesehatan tubuhnya yang telah tua itu, mengapa tidak dari dulu saja dia berakting seperti ini? Melihat Noah sudah berada dalam genggamannya, Nyonya Besar pun bergegas untuk segera pulang.
Malam ini dia ingin mempersiapkan makanan lezat kesukaan cucu menantunya itu. Tapi saat ia baru sampai di lobi perusahaan, Nyonya Besar mendengar suara bisik-bisik para wanita yang ada disana.
“Wah CEO Noah tampan sekali ya!” kata seorang karyawan wanita yang memakai rok begitu ketat.
“Ya benar sekali! Dengar-dengar katanya Tuan Noah belum memiliki kekasih.”
“Iya, sangat tampan mungkin nanti saat dia keluar aku ingin sedikit menggodanya.” kata yang lain.
“Cih! Jangan harap! Mungkin aku duluan yang bakal mendapatkannya!” jawab yang lainnya.
Mendengar semua kata-kata bualan itu, Nyonya Besar sedikit tidak terima! Setiap kali cucunya muncul ke publik pasti menimbulkan keolahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussemangat
2024-03-17
0