“Apakah ini tentang perceraian?” tanya Anneke dengan serius. Dia langsung menjurus pada inti permasalahan karena sekarang ia tidak mau lagi membuang-buang waktunya yang berharga lagi untuk hal-hal yang berkaitan dengan suami batunya yang tak berperasaan itu! Cukup sudah dia menghabiskan dua tahun hidupnya untuk sebuah pernikahan sia-sia.
“I---iya Nyonya!” sebelum pengacara Juan menyelesaikan kalimatnya, Anneke sudah lebih dulu memotong perkataannya dan tak memberikan kesempatan pada pengacara itu untuk bicara banyak.
“Kalau begitu kita tidak perlu bertemu lagi.” kata Anneke dengan nada begitu santai. “Hari ini saya sangat sibuk, ada hal yang sedang saya urus sekarang.”
Begitu mendengar bahwa Anneke Lemuella menolak untuk bertemu, seketika itu juga pengaraca Juan merasa khawatir. Wanita itu pasti berencana untuk menghindari perceraian lagi, pikirnya. Bagaimanapun pengacara Juan akan memastikan bahwa wanita itu akan menemuinya dan menyelesaikan penandatanganan surat perceraian. Hal ini tidak bisa ditunda-tunda lagi.
“Nyonya….tapi….Tuan pasti marah.” ucapnya terbata tapi belum sempat melanjutkan kalimatnya, perkataannya kembali dipotong oleh Anneke.
“Aku akan menceraikannya. Jangan khawatir! Jadi kita tidak perlu bertemu lagi. Kirimkan saja surat cerainya padaku dan lakukan secepatnya jangan membuang-buang waktuku.” ucap Anneke tegas.
Pengacara Juan sangat terkejut mendengar perkataan wanita itu. ‘Apa? Benarkah wanita itu mau bercerai kali ini?’ gumamnya didalam hati. Dia masih tidak percaya kalau kali ini wanita itu bersedia untuk bercerai. Rasa-rasanya tidak mungkin wanita yang menjadi Nyonya-nya itu mau melepaskan CEO Arsenio begitu saja.
Bukankah selama ini Anneke yang sangat jelek itu tidak pernah mau diceraikan? Sebelumnya juga dia bersikeras menolak perceraian dan bahkan marah-marah dan mengancamnya. Apakah dia tidak salah dengar barusan? Apakah ini benar-benar terjadi? Begitu mudahnya tanpa perlu membujuknya sama sekali? Pengacara itu masih tercekat dan tidak tahu harus mengatakan apa.
Benaknya dipenuhi berbagai macam pemikiran yang bergejolak didalam pikirannya. Rasanya Anneke yang sekarang ini terdengar sangat berbeda dari sebelumnya. Dia terdengar lebih tegas dan terburu-buru seakan tidak ingin membuang waktunya yang berharga. Ini bukan seperti Anneke yang dikenalnya selama ini. Padahal selama ini sangat sulit untuk bicara dengan wanita itu.
“Tapi dengan satu syarat!” suara Anneke kembali terdengar. Nada suaranya terdengar tenang dan begitu dingin dan dalam. Ini sungguh bukan seperti Anneke yang biasanya. Padahal tadi pengacara Juan baru saja akan mengagumi perubahan yang terjadi pada wanita itu. Tetapi dia malah sudah dikejutkan dengan pernyataan Anneke yang meminta syarat.
Hah, ternyata wanita ini tidak berubah! Syarat itu pasti akan sulit dipenuhi, sudah kuduga dia hanya pura-pura saja, memasang taktik dengan memberikan syarat. Dasar wanita licik! Batinnya.
“Baiklah nyonya. Katakan saja apa syaratnya maka Tuan Arsenio pasti akan memenuhinya.” kata pengacara itu dengan penuh keyakinan.
Jika wanita itu menginginkan rumah, vila, mobil atau bahkan sebuah pulau pun pasti Tuan Arsenio akan mengabulkannya yang penting bisa segera berpisah dengan wanita itu. Aihhh bagaimana bisa pria tampan dan kaya raya seperti Tuan Arsenio mempunyai istri sangat jelek seperti itu. Begitu banyak wanita-wanita cantik dan berkelas yang bisa dipilih Noah Arsenio.
Dasar sombong! Maki Anneke didalam hatinya. Apakah mereka mengira aku menginginkan sesuatu dari pria brengsek itu? Cih! Aku tidak menginginkan apapun dari pria brengsek itu!
“Aku tidak menginginkan apapun. Hanya surat cerai saja! Lakukan secepatnya!” jawab Anneke dengan tegas. Lalu dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya lagi.
“Tolong sampaikan padanya bahwa aku dan dia tidak saling kenal dimasa lalu begitu juga di masa depan. Jika bertemu lagi jangan pernah bertegur sapa. Apakah kau mengerti pengacara Juan?.”
Pernyataan itu berhasil membuat pengacara itu terkejut untuk kedua kalinya, hampir-hampir jantungnya mau lepas kalau saja dia tidak memegangi dadanya.
Matanya membelalak tak percaya pada apa yang barusan didengarnya. Wanita itu benar-benar sudah mengalami perubahan besar. “Benarkah Nyonya? I--itu saja?” tanya pengacara itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
‘Apa ini Nyonya Muda yang menikah dengan Tuan Arsenio? Kenapa dia tidak menolak perceraian seperti sebelumnya?’ gumamnya.
Dia pun berpikir keras sehingga dia menanyakan sekali lagi untuk memastikan saja. “Apakah Nyonya tidak menginginkan hal lainnya? Hanya itu saja yang harus saya sampaikan pada Tuan?” tanya Juan lagi masih tak percaya. Ini benar-benar aneh karena selama ini Anneke sangat sensitif setiap kali disinggung soal perceraian.
Sambil memainkan rambutnya yang panjang tergerai melewati bahunya, Anneke yang mendengar pertanyaan itupun tanpa ragu sedikitpun menjawab, “Ya benar. Terlebih lagi dia tidak perlu memberiku kompensasi apapun. Karena akulah yang meminta cerai! Dan selama ini dia juga sudah membiayaiku.” ujarnya menambahkan sambil tersenyum.
Mendengar itu pengacara Juan lebih tercengang lagi dibuatnya! Apakah dia bermimpi saat ini? Tidak….tidak….pasti bumi sudah terbalik kali ini. Semua pembicaraan ini benar-benar berada diluar perkiraannya. Sambil terbata-bata pengacara itu kemudian berkata, “Baiklah Nyonya. Saya akan sampaikan semuanya kepada Tuan Arsenio.”
Setelah menutup teleponnya Anneke merasa puas meskipun ada rasa perih direlung hatinya yang paling dalam. Karena bagaimanapun rasa cinta itu sedikit masih berbekas didadanya. Tapi dia tahu bahwa dirinya harus mengubur perasaan itu dalam-dalam dan mengucapkan goodbye masa lalu. Dan dia akan hidup lebih bahagia mulai dari sekarang.
Sementara itu, dikediaman Akasha, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun terlihat berjalan mondar mandir didepan pintu masuk rumahnya, seakan dia sedang menunggu kedatangan seseorang. Parasnya yang bengis seakan menyiratkan sebuah ke khawatiran akan sesuatu yang tidak dapat terkatakan. Suasana hatinya sangat buruk dan dia tidak tenang saat ini.
Setelah beberapa saat, sebuah pesan muncul dilayar ponselnya yang membuatnya semakin geram. Ya, pesan itu berasal dari seorang pria yang menjadi orang suruhannya untuk melenyapkan Anneke.
Dari : YYY
Wanita itu masih hidup dan sudah keluar dari rumah sakit.”
Begitu pesan yang membuat Kaylee merasa sangat murka dengan isi pesannya. Anneke sepupunya itu rupanya tidak mati! Keberuntungan apa yang dimiliki wanita itu sehingga dia masih bisa bertahan hidup setelah mengalami kecelakaan hebat? Kenapa dia tidak mati? Dengan kecelakaan seperti itu harusnya dia sudah mati kan?
“Arrrgggg! Sialan!” makinya kemudian sambil memukulkan kepalan tangannya ke sandaran sofa yang ada di sebelahnya. Tidak berapa lama kemudian, kehadiran seseorang yang sangat ditunggu Kaylee pun akhirnya datang. Tanpa menunggu lebih lama lagi sampai orang itu masuk, Kaylee telah lebih dulu melontarkan kata-kata yang kasar melampiaskan kemarahannya.
“Papa, mengapa wanita itu tidak mati? Hah? Bukankah ayah sudah berjanji kalau dia akan mati dan aku akan menggantikannya menikahi Noah Arsenio?” sambil bicara dengan amarahnya hingga menampakkan urat-urat di lehernya yang muncul menonjol seakan ingin meloncat keluar dari kulitnya.
Marah! Benci! Dendam! Kaylee saat ini merasakan semuanya itu. Padahal dia sudah sangat yakin kalau Anneke akan mati pada kecelakaan lalu lintas yang dirancangkan oleh ayahnya Jose Akasha. Tetapi kenyataannya sepupunya itu masih hidup sampai detik ini. Ini benar-benar tidak adil! Kenapa sibodoh itu bisa seberuntung ini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
2024-03-17
0
Rina
.
2023-11-16
1
titiek
bknnya udah dimakam ya. klo skrg hidup. nah td sebelumnya koma drmh sakit.
2023-11-15
1