“Halo Anneke.”
“Iya ada apa Kay? Kenapa suaramu seperti orang ketakutan?”
“Ak----aku tadi dikejar orang. Sekarang aku lagi bersembunyi. Aku takut sekali, keke. Bisakah kau datang menjemputku?” ujar Kaylee.
“Ya. Katakan saja kau ada dimana sekarang?”
“Aku----aku berada tidak jauh dari proyek. Mobilku mogok, tolong datang kesini secepatnya.”
“Baiklah. Kau tunggu saja disana. Aku segera menjemputmu.”
“Oke oke…...” jawab Kaylee dengan suara bergetar ketakutan.
Anneke bergegas meraih tas selempang dan kunci mobilnya lalu keluar dari rumah. Hari ini kakek dan ayahnya sedang berada di kantor cabang diluar kota. Sedangkan dia tadinya mau pergi ke salon untuk menyenangkan diri namun tiba-tiba mendapat telepon dari sepupunya.
Anneke melajukan kendaraannya menuju kearah proyek perumahan yang sedang dikerjakan perusahaan ayahnya. Jaraknya sekitar setengah jam dari rumahnya, tidak terlalu jauh makanya dia menyetujui permintaan Kaylee. Anneke yang fokus mengemudi melajukan kendaraannya dengan kencang agar segera sampai ditujuan.
Namun saat berada di pertigaan menuju ke lokasi proyek, sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan. Pengemudi truk tampak sedang berbicara di telepon sehingga tidak memperhatikan jalan.
BRAKKK! BRAAKKK!
Anneke yang terkejut tidak sempat menghindar hingga truk itu menabrak mobilnya hingga terlempar jauh dan terbalik. Sedangkan truk besar itu berhenti sejenak, menoleh kearah belakang memperhatikan mobil yang ditabraknya ringset lalu melaju kencang meninggalkan lokasi kecelakaan.
Sementara di lokasi proyek, Kaylee masih menunggu kedatangan Anneke sambil sesekali melirik jam tangannya. Tampak dia gelisah lalu meraih ponsel dari dalam tasnya lalu mencoba menghubungi Anneke namun panggilan tidak tersambung. ‘Kemana sih dia? Tadi katanya mau jemput aku kesini.’ keluhnya kesal lalu mencoba menelepon kembali.
Kaylee masuk kedalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang. ‘Dasar sialan! Kenapa aku harus memakai mobil jelek ini sih? Harusnya aku bisa punya mobil mewah seperti Anneke! Ck! Mama nggak mau belikan aku mobil semewah itu. Selalu saja alasannya sama, tidak punya uang. Fuuh!’
Saat sampai di pertigaan tiba-tiba matanya menatap kearah sebuah mobil yang ringsek didekat pohon. Kondisi kendaraan itu ringsek berat. “Akhhhh! it---itu kan mobil Anneke?” segera dia menepikan mobilnya lalu turun. Dengan langkah cepat dia menghampiri mobil yang sudah rusak berat itu. Dengan eskpresi bergidik ngeri Kaylee menatap sosok yang dikenalnya.
“Aaan---ann---annekeee…..ohhh…..kenapa jadi begini?” suaranya bergetar lalu mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto serta video. Setelah itu dia menghampiri kearah kemudi, dia melihat tubuh Anneke yang berlumuran darah dalam kondisi terjepit. Kaylee langsung menghubungi nomor darurat untuk melaporkan kecelakaan.
Satu jam kemudian, Kaylee masih berada dirumah sakit bersama ibu dan ayahnya. “Apa kau sudah menghubungi kakek dan pamanmu?” tanya Marisa pada putrinya.
“Belum ma. Aku masih syok dan lupa menghubungi mereka. Apa mama juga belum menghubungi mereka?” tanya Kaylee yang melihat ibunya menggelengkan kepala. “Mama harus hubungi mereka sekarang. Jangan sampai mereka marah pada kita.”
Marisa tiba-tiba tersadar, sambil menggoyangkan kepalanya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya. Dia pun menghubungi ayah dan saudara laki-lakinya. Dia berjalan agak menjauh lalu berbicara selama beberapa saat dan kembali duduk disamping Kaylee. “Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya.
“Aku juga tidak tahu ma. Saat aku hendak pulang dari proyek aku melihat mobilnya disana.”
Pintu ruang IGD terbuka dan seorang dokter keluar sambil melepaskan maskernya. “Keluarga korban?”
“Iya iya dokter. Kami keluarganya. Bagaimana keadaannya dokter?” tanya Marisa gugup.
“Maaf. Kami sudah berusaha yang terbaik tapi korban tidak bisa bertahan. Kami turut berdukacita.”
“Ahkkk…..” tubuh Marisa lemas sambil berpegangan pada bahu Kaylee.
“Ma…..duduk dulu.” ujar Kaylee membantu ibunya duduk. “Dokter, boleh saya melihat sepupuku?”
“Silahkan. Kami akan segera memindahkannya ke ruang jenazah.” ujar dokter itu lalu meninggalkan Marisa dan Kaylee.
“Mama nggak mau melihat Anneke untuk terakhir kalinya?” tanya Kaylee setelah dokter dan perawat meninggalkan mereka.
Marisa menghapus airmatanya dengan cepat lalu berdiri. “Ayo…..mama juga pengen melihatnya.”
Keduanya masuk kedalam ruangan itu. Kaylee langsung menutup pintu dan berjalan menghampiri Anneke yang terbujur kaku diatas brankar. Senyum menyeringai muncul diwajah cantik Kaylee saat dia memandangi sekujur tubuh kaku itu.
‘Dimana aku? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku? Ahhh…...sepertinya aku dirumah sakit. Tapi ada apa ini?’ gumam Anneke. Dia ingin membuka matanya namun tidak bisa, seolah matanya tertutup rapat dan sekujur tubuhnya kaku tak bisa digerakkan. Rasa takut menyelimutinya, dia mendadak panik dan hendak berteriak.
Namun dia tidak bisa menggerakkan mulutnya. ‘Ya Tuhan! Ada apa ini? Apa yang terjadi padaku?’ dia berusaha keras menggerakkan jari tangannya namun gagal. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara-suara disekitarnya.
Anneke mencoba mempertajam pendengarannya, seperti suara dua orang atau mungkin tiga orang yang sedang berbincang-bincang didekatnya.
Namun dia tidak bisa membuka matanya untuk melihat siapa yang ada disana. Suara-suara itu masih terdengar samar-samar namun perlahan dia bisa mendengar dengan jelas.
“Ah bukankah itu suara Tante Marisa dan Kaylee? Dan suara pria itu? Siapa yang satunya lagi? Sepertinya bukan Om Jose, aku kenal betul suaranya tapi ini bukan suara Om Jose.’ gumamnya dalam hati.
Tapi Anneke hanya mendengar suara pria itu sebentar lalu sepertinya pria itu keluar dan hanya ada Marisa dan Kaylee saja diruangan itu. Anneke berusaha keras untuk menggerakkan tubuhnya.
“Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa kecelakaan?” tanya Marisa dengan suara pelan.
“Aku juga tidak tahu Ma. Seperti yang kuceritakan tadi, aku memang tadi sempat bicara padanya tapi saat aku dalam perjalanan pulang dari proyek aku melihat mobilnya sudah ringsek.” jawab Kaylee. Memang benar apa yang dikatakannya namun tidak sepenuhnya benar.
“Jangan membohongi mama! Apa kamu ada hubungannya dengan kecelakaan ini?” tanya Marisa lagi. “Katakan Kaylee! Mama harus tahu apa yang kau lakukan diluaran sana.” Dia merasa tidak puas dengan jawaban putrinya karena dia tahu betul kalau putrinya itu sangat membenci Anneke karena merasa iri dan cemburu pada sepupunya yang kaya raya.
“Ck! Mama harusnya senang dia sudah mati! Kita tidak perlu berurusan dengannya lagi.” ucap Kaylee seraya memandang tubuh terbujur kaku diatas brankar. “Sebenarnya aku memang memintanya untuk menjemputku. Aku kesal karena mobilku tidak sekeren mobilnya, tadi pagi aku ingin meminjam mobilnya tapi dia tidak menolak. Jadi---”
“Jadi? Kamu sengaja merencanakan kecelakaan ini?” tanya Marisa. “Kaylee! Kenapa kau tidak bilang dulu sama mama? Kenapa harus bertindak sendiri kalau ingin menyingkirkannya? Bagaimana kalau sampai kakek dan pamanmu mengetahui ini, hah?” ujar Marisa geram dengan tindakan ceroboh anaknya. Dia mengepalkan kedua tangannya menatap tajam pada Kaylee.
“Mama nggak usah takut. Tidak akan ada yang mengetahui kejadian sebenarnya. Toh dia juga sudah mati. Tidak akan bisa menceritakan apapun!” ujar Kaylee dengan tenang.
“Bagaimana jika polisi menyelidiki kecelakaan ini? Bisa saja mereka akan menemukan pelakunya. Kaylee! Cepat katakan kalau bukan kau yang menabraknya? Mama tidak mau kau sampai dipenjara gara-gara ini.”
“Ck! Mama terlalu overthinking deh! Tenang saja Ma. Semuanya aman kok, kita tidak akan tersangkut dalam masalah ini karena bukan aku yang menabrak mobilnya. Itu orang bayaran papa! Lagipula pria itu bukan supir beneran, dia juga mencuri truk itu untuk menabrak mobil Anneke.”
“Lalu? Ceritakan semuanya pada mama.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussemangat
2024-03-17
0