“Itu Noah Killian Arsenio!” teriak salah seorang di kerumuman wartawan yang ada disana.
“Benar! Itu CEO Arsenio!” yang lain menambahkan.
Mengetahui bahwa seseorang yang mereka tunggu dalam waktu lama telah datang, tanpa pikir panjang lagi mereka pun segera berlari untuk menyerbunya.
“Tuan Arsenio! Bisakah anda sampaikan alasan anda pulang saat ini?”
“CEO, bagaimana perkembangan perusahaan di luar negeri?”
“Apakah anda sudah memiliki kekasih?”
“Bagaimana perasaan anda saat ini?”
“Apakah kepulangan anda kali ini untuk sebuah pernikahan?”
“CEO Arsenio, berapa lama anda akan menetap kali ini? Apakah anda akan pergi ke luar negeri lagi?”
Suara-suara dari para wartawan terdengar bersahut-sahutan memenuhi lobi bandara dimana Noah Killian Arsenio berada saat ini. Suasana sangat riuh dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan para wartawan kepadanya.
Noah Killian Arsenio tidak mempedulikan semua pertanyaan para wartawan yang terus mencecarnya tanpa henti. Dengan sikapnya yang dingin dia tetap melangkah keluar menuju kedalam sebuah mobil yang telah menunggunya. Desakan para wartawan yang mengejar berita utama pun gencar tak mau kehilangan kesempatan langka ini.
“Tolong beri jalan!” para pengawal terlihat mendorong seluruh orang yang berusaha menghalangi langkah Noah untuk memasuki mobil berwarna hitam yang telah terparkir dan menunggu disana.
“Tuan Arsenio, silahkan masuk.” dengan cepat asisten Levi segera menutup pintu mobil itu dan melangkah ke depan untuk duduk bersama supir perusahaan Arsenio.
Mobil mewah berwarna hitam itu langsung melaju kencang meninggalkan bandara menuju ke jalanan perkotaan yang mulai ramai oleh pengendara lain. Jalanan nampak lancar tak sepertinya biasanya.
“Tuan, kemana anda mau pergi sekarang?” asisten Levi bertanya untuk mengkonfirmasi keinginan bos besarnya itu.
“Kediaman Arsenio!” jawabnya sembari melihat kaca samping tempatnya duduk saat ini hanya untuk sekedar menikmati suasana kota dimana dia dilahirkan dan sudah ditinggalkannya sekian lama. Entah mengapa saat ini Noah teringat pada kakeknya yang sudah membesarkannya. Teringat semua kasih sayang yang diberikan kepadanya sejak kecil.
Sayangnya kakeknya itu telah meninggal dunia tepat setelah dia memenuhi wasiatnya untuk menikahi wanita bodoh, gila dan kotor itu! Benar, sang kakek telah memaksanya menikahi seorang wanita gila yang suka berdandan seperti orang-orangan sawah! Apakah kakeknya dulu sedang bercanda? Dan anehnya mereka selalu mengatakan orang-orangan sawah itu sangat cantik?
Apa yang ada di pikiran kakeknya sehingga memintanya untuk menikahi wanita gila itu! Yang anehnya selalu saja dipuji sang kakek sebagai gadis yang sangat cantik. Noah Arsenio menutup matanya berharap dia tidak akan pernah bertemu dengan wanita itu setelah hari ini. Dia berharap wanita itu akan menyerah mengejarnya dan berhenti mengganggu kehidupannya.
“Levi!” panggilnya pada asisten pribadinya yang saat ini duduk di depannya.
“Iya Tuan Arsenio.” dengan sigap Levi segera menjawab panggilan bosnya.
“Suruh pengacara Juan untuk memberikan laporannya sore ini.” Noah tampak tak sabar untuk segera mendengar kabar baik dari pengacara itu.
“Baik Tuan.” jawab Levi dengan tegas sembari menganggukkan kepalanya karena dia sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh atasannya itu.
...*******...
Didalam sebuah apartemen mewah berlantai marmer yang berkilauan tampak seorang wanita cantik berkulit seputih batu pualam dengan rambut hitam panjang yang tergerai terlihat sedang memperhatikan bingkai-bingkai foto pernikahannya yang masih kosong. Tatapannya nanar dan matanya berkabut, terlihat dia sangat sedih.
Dulu, dia sangat yakin kalau suatu saat nanti ia akan berhasil mengisi bingkai-bingkai foto yang sengaja dipasangnya terlebih dahulu itu. Keyakinannya seakan semakin besar sehingga ombak lautpun rasanya tidak mampu untuk menghapusnya. Tapi sayanganya, pernikahan ini hanyalah sebuah lelucon dan tidak pernah ada. Dan sampai kini bingkai foto itu tak pernah diisi dengan foto pernikahannya.
Bingkai foto yang kosong itu adalah bukti nyata dari kisah pernikahannya yang tidak pernah dirayakan maupun di publikasikan sehingga tidak ada yang tahu selain orang-orang yang berada di lingkaran mereka. Dan itu hanya segelintir orang saja hingga sampai saat ini dia pun tidak pernah bertemu lagi dengan suaminya yang langsung pergi ke luar negeri setelah mendaftarkan pernikahan itu.
Anneke meninggalkan bingkai itu, mengarahkan pandangan matanya ke seluruh ruangan itu. Dia memperhatikan semua benda yang berada diruang tamu itu. Matanya menatap semua perabotan yang pernah dipakai oleh Noah Arsenio. Dia ingat, dulu dia memaksa untuk tinggal di tempat ini dan meminta dukungan nenek mertuanya .
Di tempat ini pada malam pertama pernikahannya karena dia sangat ingin memiliki Noah Arsenio. Tetapi sayangnya, pada malam itu juga Noah Arsenio rupanya lebih memilih untuk pergi ke London untuk mengurusi bisnis keluarga yang ada disana. Tak ada malam pertama yang indah layaknya pengantin baru, tak ada pesta pernikahan mewah.
Tentu saja itu kepergiaannya ke London hanyalah alasannya belaka untuk menghindarinya. Dengan sinis Anneke terlihat tersenyum mengingat semua hal di hidupnya yang lama. “Sungguh memalukan!” Anneke mengumpat dirinya sendiri yang tak tahu malu dan sangat murahan. Ketika itu, ia telah merendahkan dirinya sendiri dengan memaksa tinggal di apartemen The Bright Condominium milik Noah Arsenio.
Tempat terkutuk yang telah menjauhkan dirinya dari semua orang-orang yang dicintainya. Wanita itu beranjak dari sana dan mengedarkan pandangannya yang kini tertuju pada kamar utama yang menjadi tempatnya menangis dan menunggu kepulangan suaminya. Kamar utama itu terletak dilantai dua, dengan langkah perlahan dia menuju kesana. Memegang handle pintu itu dan mendorongnya.
Sebuah kamar tidur berukuran besar seakan menyapa Anneke untuk segera masuk kedalamnya. Setelah meletakkan sebuah tas berwarna pink yang didapatkannya dari rumah sakit itu ke atas meja. Anneke lalu membaringkan tubuhnya sejenak disebuah kasur empuk berukuran king size yang selalu menemaninya untuk tidur sendirian selama dua tahun ini.
Anneke merasa sakit hati! Sangat….sangat sakit hati! Setelah merasa cukup beristirahat, ia segera bangkit menuju dressing room dimana seluruh pakaiannya berada. Ia mengambil beberapa koper dan mulai mengemasi semua pakaian dan barang-barang miliknya untuk segera pergi meninggalkan tempat yang bukan miliknya ini.
Tempat yang seharusnya tidak pernah ia masuki sejak awal. Dengan cepat Anneke mengambil semua pakaiannya itu, namun belum sempat dia memasukkannya ke dalam koper tiba-tiba ia mendengar suara ponselnya yang berdering. Anneke melihat siapa yang meneleponnya, ternyata itu adalah pengacara Juan, dia adalah pengacara Noah Arsenio.
Sang pengacara itu beberapa kali kerap datang untuk merayunya supaya segera menanda tangani surat perceraian. Anneke kembali mengingat jika dia tidak salah, di kehidupannya sebelumnya ini adalah hari dimana Noah Arsenio mengajukan surat perceraian yang kedua kali padanya. Sambil tersenyum sini, Anneke tanpa ragu menjawab panggilan telepon yang dianggapnya tak penting itu.
“Halo, Pengacara Juan!” katanya menyapa pria diseberang telepon dengan nada yang tegas dan suara yang terdengar tajam.
“Maaf jika saya mengganggu waktu anda Nyonya. Bisakah kita bertemu hari ini, ada hal penting yang harus saya sampaikan pada nyonya.” jawab Pengacara bernama Juan itu setelah teleponnya direspon. Dia langsung bicara tanpa banyak basa-basi lagi.
Pengacara Juan adalah pengacara tua berambut putih, bertubuh pendek yang merupakan orang kepercayaan Noah Arsenio yang selalu nampak serius, malah dia sangat serius dalam menangani perceraian mereka. Anneke benar-benar membencinya! Pengacara itu selalu saja mengejarnya kemanapun untuk mendapatkan tandatangannya di surat perceraiannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
asmara wati
💪
2024-01-11
0
Rina
.
2024-01-04
1
Tua Jemima
certanya ini bertele tele
2023-09-27
2