19. Gudang Plus-plus

Di mejanya sudah ada beberapa hadiah-hadiah kecil dari beberapa penggemarnya. Malih mengeluhkan kepopuleran Malvin, apalagi dalam kondisi sekarang. Sorin yang cemburu dengan Odetta bertambah cemburu ketika melihat meja kekasihnya penuh hadiah. Bukan kali pertama memang, tapi hari ini Malih mendapatkan hadiah lebih banyak dengan posisinya sebagai Malvin. Pasalnya itu adalah hadiah untuk pertandingan persahabatan sore ini.

   Kartu-kartu ucapan ditulis dengan kata-kata manis, semanis kue-kue yang mereka berikan. “Buat kalian aja,” ujar Malih menghindari amarah Sorin. Bukannya apa-apa, tapi Malih sudah enggak sanggup kalau harus berdebat lagi dengan Sorin.

   “Kalau kamu mau ambil aja,”          Sorin berkata pada Malih seolah-olah memberikan izin, namun faktanya kalimat itu adalah sebuah sindirian keras.

“Aku bawa bekal,” balas Malih menunjukkan tas bekalnya sebelum kemudian memindahkan hadiah-hadiah dari penggemarnya ke meja Rajata dan Delon. “Buat kalian.”

“Yakin lo? Biasanya lo ikut makan. Apalagi kue cokelat dari siapa tuh, Ja?” tutur Delon memanasi Sorin. Tahu benar kalau sahabatnya sedang ada masalah dengan Sorin.

Rajata dengan kurang aja membalas semangat perkataan Delon. “Lasmi! Anak IPS dua yang emaknya punya toko kue itu. Si Malvin kadang pulang sekolah mampir ke sana, iyakan Vin?”

Rasanya ingin sekali Malih melempar dua sahabat Malvin itu ke kutub utara. Semalam sampai pagi ini Malih berusaha menenangkan Sorin dengan susah payah, duo kampret itu malah memanasi Sorin yang belum benar-benar tenang. “Jangan mancing emosi gue.”

Sorin membanting tasnya ke meja, lalu duduk hingga kursinya berderit. Sorot mata teman-teman sekelasnya langsung tertuju pada Sorin. Enggak terkecuali Malih. Saat matanya bertemu dengan tatapan tajam Sorin, Malih langsung tersenyum kaku.

“Enggak usah cengengesan! Jelek!” balas Sorin.

Sontak Rajata dan Delon tertawa ngakak. Untungnya ada Onad yang sejak tadi diam kini angkat bicara. “Vin anter gue ke kamar mandi yuk, kaki gue masih enggak nyaman nih dibawa jalan.”

Malih mengangguk. Dia membantu Onad berdiri. Senggak jauh lebih baik dari pada harus terlibat dengan kecemburuan Sorin dan juga keisengan dua temannya itu. Malih menemani Onad berjalan ke kamar mandi, memapahnya untuk beberapa saat sampai sedikit jauh dari kelas Onad menyingkirkan tangan Malih dari pundaknya.

“Enggak usah rangkul-rangkul. Jijik gue,” seloroh Onad memasang mimik wajah kesalnya. Pura-pura tentu saja.

“Apalagi gue.”

“Lo lagi ribut apa sama Sorin?” tanya Onad sambil membenarkan letak kruk yang dipakainya.

“Cemburu sama Odetta.”

Sejenak Onad menghentikan langkahnya sampai Malih mengikuti. Tatapan Onad serius padanya. “Lo enggak curiga sama tuh cewek?”

“Odetta? Curiga apa?” tanya Malih pura-pura enggak tahu apapun.

Sambil terus berjalan Onad bercerita. “Lo inget enggak sih kalau tuh cewek bocah SMP Pandawa yang ngaku kalau dia fans lo waktu kita masih kelas sepuluh?”

Jika ditanya soal ingatan Malvin terang saja Malih enggak tahu. “Lupa gue, tapi apa yang salah dengan ngaku sebagai fan?”

“Pertama pesona lo menyebar setelah kasus kehamilan siswa SMA belakang dengan anak Dallasco. Kedua Odetta memperkenalkan dirinya sebagai penggemar lo, terus sekarang dia jadi adik kelas kita? Dia deketin lo, kan? Deketnya enggak alami gitu?”

“Ya, gue rasa dia minta tolong sama bokapnya buat dekat sama gue.”

“Bokapnya teman bokap lo?”

“Hmmm,” balas Malih mengangguk.

“Vin, lo harus hati-hati deh sama tuh cewek. Gue dengar dia punya hubungan sama cewek SMA belakang,” Onad memperingatkan sambil menepuk pundak Malih. “Dugaan gue, Odetta mau balas dendam, dan gue yakin langkah awal dia adalah menghancurkan lo lewat Sorin.”

Malih enggak percaya kalau ternyata Onad punya pemikiran sejauh itu tentang Odetta. Hal bagus untuk Malih karena dia punya sekutu untuk membantunya. Malih pikir mungkin Onad adalah orang pertama yang haru tahu kalau dirinya bukan Malvin. “Nad, gue mau kasih tahu lo hal penting….”

“Lo dengar sesuatu enggak?” tanya Onad memotong perkataan Malih.

Malih yang belum selesai bicara itu tentu saja memfokuskan pendengarannya seperti yang Onad lakukan. “Itu suara... Dari gudang kayaknya.”

“Masa iya ada yang anu-anu di sekolah?”

Tapi karena rasa penasarannya mereka akhirnya mendekati gudang. Mengintip dari jendela dan keduanya melotot tak percaya dengan yang mereka lihat. Mulut mengangang mereka menjadi tanda bahwa apa yang dilihat adalah hal luar biasa!

***

Dua sisiwi Dallasco berjalan malu-malu keluar dari gudang. Onad dan Malih yang memergoki mereka sampai geleng kepala. Salah satu dari mereka berkata. “Kak jangan laporin ke pihak sekolah ya? Sebagai gantinya aku rela deh lakuian apa aja.”

“Iya, kak. Aku mohon.”

Malih baru tahu kalau Dallasco menyimpan pasangan sesama jenis. “Kalian kelas berapa?”

“Kelas sepuluh.”

“Seangkatan sama Odetta?” tanya Malih lagi.

Mereka mengangguk kompak. Kesempatan emas bagi Malih.

“Kalau kalian enggak mau kami laporkan, bisa saya minta tolong?”

“Apa itu kak?”

“Awasi Odetta. Kalau ada hal-hal mencurigakan lapor ke saya.”

“Iya Kak,” balas salah satu dari mereka. “Tapi gimana caranya kami kasih tahu ya?”

Malih kemudian mengeluarkan ponselnya. Secara suka rela dia memberikan nomornya pada dua cewek itu. Mereka saling bertukar nomor ponsel. “Gue cuma minta kalian kasih informasi apapun seputar Odetta, jangan sampai terlihat mencurigakan.”

“I-iya, Kak.”

“Ya udah kalau gitu kalian balik sana ke kelas,” usir Malih kemudiah bergidik ngeri. “Gila ya bocah jaman sekarang nekadnya kebangetan.”

Onad yang sejak tadi hanya menyimak kini tertawa. “Mereka cuma lagi uji coba. Eh ternyata enak, jadi keterusan deh.”

Mereka sama-sama tertawa. Malih enggak menyangka kalau aka menemukan hal sekotor itu di sekolah Malvin. Lingkukan mempengaruhi seseorang itu memang benar. “Onad?”

“Apa?”

“Gue bukan Malvin,” ujar Malih menjelaskan apa yang sebelumnya tertunda.

Onad mengerut bingung menatap Malih. “Lo udah dua kali lho bilang kalau lo bukan Malvin. Ini lo serius?”

“Serius, semua ini terjadi karena gue minum air dari kendi ajaib.”

Onad menepuk keningnya. “Yasallaaaaam! Kendi ajaib segala dibawa-bawa. Perasaan pas kecelakaan itu yang parah kondisinya gue, tapi kok yang enggak waras sampai sekarang lo?” seloroh Onad, tapi Malih enggak menjawab pertanyaan Onad, tapi menatapnya dengan serius. Sangat serius sampai Onad yang tadinya mau ketawa enggak jadi karena tatapan mematikan Malih. “Lo serius bukan Malvin?”

“Nama asli gue Malih…” perkataan Malih terhenti saat tiba-tiba angin berhembus kencang. Baik Onad maupun Malih sama-sama enggak bisa menahannya. Rasanya mereka kayak mau terbang terhempas angin yang bertiup itu. Tongkat Onad lepas dari genggaman hingga dia jatuh tersungkur.

Malih yang melihat itu berusaha menolong Onad, melawan kuatnya angin yang berhembus. “Pegang tangan gue!”

Onad berusaha menggapai tangan Malih. Lalu saat tangan mereka saling bertautan Onad melihat Malih berubah menjadi sosok Malvin, kemudian berubah lagi menjadi Malih. Terus begitu untuk beberapa saat sampai Onad pingsan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!