7. Bukan Ibu

Malih turun terburu-buru mengejar wanita yang menggoes sepeda. Itu sama seperti emaknya yang saat malam hari sering sekali berjualan kopi keliling secara diam-diam. Jika Malih tahu, maka akan langsung dilarang atau Malih langsung menggantikan ibunya berjualan. “Bu! Berhenti, saya mau kopinya!”

Sepedanya berhenti dikayuh. Lebih menepi ke trotoar. Malih terdiam melihat rupa wanita itu. Benar itu adalah emaknya. Malih ingin memeluknya, tapi sekarang posisinya sebagai Malvin. Malih khawatir jika wanita itu enggak mengenali dirinya sama kayak Kay dan teman-temannya. “Ibu kenal saya enggak?” tanya Malih kemudian.

Wanita itu melihat Malih dengan bingung. “Saya baru kali ini lihat anak muda yang guanteng kayak artis sinetron secara langsung mau beli kopi saya. Biasanya kan anak muda belinya di tempat kopi yang adem. Aden artis ya?”         

“Bukan, Bu. Saya pikir ibu kenal saya karena ibu mirip dengan orang yang saya kenal. Lagian Bu, rasa kopi buat saya dimana pun tetap sama.”

“Owh, begitu. Kopinya jadi? 

“Jadi, Bu.”           

Malih diam melihat wanita itu menyeduh kopi pesanannya. Tatapan matanya enggak bisa bohong kalau dirinya menyimpan rindu pada sosok itu. Malih lantas memberanikan diri untuk mengajaknya ngobrol. “Ibu tinggal dimana?”            

“Itu di panti asuhan Selaras. Aden tahu?”   

“Tahu, pernah lewat. Apa di panti ada anak cowok seusia saya, Bu?”           

Sejenak wanita itu melihat Malih. “Ada, namanya Malih. Dia kalau tahu saya jualan di sini pasti marah.”           

Terang saja Malih kaget karena mendengar ucapan tersebut. Ada Malih lain selain dirinya. Apakah itu sosok Malvin yang menjelma menjadi dirinya? Sekarang beban pikiran Malih bertambah lagi, tapi wanita penjual kopi keliling itu menyadarkan dirinya dari lamunan dengan memberikan kopi pesanannya.           

“Ini kopinya, Den.”  

“Terima kasih, Bu.”    

Pundak Malih ditepuk Sorin yang baru saja datang setelah mencari tempat parkir. “Turun buru-buru cuma buat kopi?”           

“Bukan kopinya,” balas Malih. Dia melihat pada wanita itu. “Kasihan ibunya.”

Sorin jadi terenyuh dengan apa yang Malih lakukan. Cepat Sorin mencium pipi Malih. Rasanya bikin Malih mati kutu. Seumur hidupnya baru kali ini dia dicium makhluk berjenis kelamin wanita selain ibunya dan juga anak-anak kecil di pantai asuhan tempatnya tumbuh. Seketika Malih jadi kaku. Rasa panas menjalar dari ujung kaki dan berakhir di pipi. Merah-merah kayak habis ditonjok.         

“Baik banget, kamu,” ujar Sorin tanpa sedikitpun merasa berdosa karena sudah menodai pipi perjaka Malih. “Lo kok kamu diem aja? Kenapa?”

Malih berusaha menetralkan rasa deg-degannya akibat ulah Sorin yang sembarangan. Senang, tapi juga malu. “Bisa enggak lain kali jangan cium aku di tempat umum gini.”

“Enggak suka? Bukannya kamu biasanya yang suka cium aku sembarangan.”

Pluk!

Kopi dalam gelas plastik di tangan Malih jatuh tanpa aba-aba. Sorin ini mulutnya selain asal cium, juga asal jeplak aja kalau ngomong. Jantung Malih masih belum stabil pasca dicium barusan, tapi Sorin seenak jidat mengklaim kalau dirinya yang suka sembarangan menciumnya di tempat umum. Meski Malih tahu kalau yang melakukan itu adalah Malvin, bukan dirinya.

“Yah… kopinya jatuh,” ujar Sorin sedih melihat kopi itu jatuh.

“Makanya lain kali jangan sembarangan kalau ngomong.”

“Enggak boleh sembarangan cium, enggak boleh juga sembarangan ngomong. Terus yang boleh apa? Di kamar berdua enggak apa-apa?” tanya Sorin menggoda dengan matanya yang berkedip-kedip manja.

Sepertinya mulai sekarang Malih harus berhati-hati dengan Sorin. Dia harus selalu ingat bahwa ada banyak godaan dari seorang cewek. Tanpa perasaan telapak tangan Malih mendarat sempurna di wajah Sorin, dan mendorongnya menjauh. “Enggak usah genit, Sorin.”

Tangan Sorin memukul lengan Malih yang asal menempel di wajahnya. “Jahat banget sama pacar sendiri.”

Tiba-tiba seseorang datang menghampiri wanita penjual kopi. “Bu! Kok ibu jualan lagi, aku kan sudah bilang ibu jangan jualan kopi malam-malam begini. Ayo Bu, kita pulang.”

Malih dalam rupa yang berbeda. Itu bukan dirinya. Ada rasa sedih, tapi juga bahagia karena masih ada yang menjaga ibunya seperti dirinya. Malih berdiri, lalu memberikan dua lembar uang seratus ribuan pada wanita itu dengan dilipat. “Bayarnya, Bu.”

“Ada uang kecil, Den? Lho! Ini ada dua lembar,” ujarnya menatap Malih bingung.

“Untuk Ibu. Terima kasih sudah bertahan menjadi seorang ibu,” lalu Malih beralih pada cowok seusia dirinya yang baru saja datang. Malih menepuk pundaknya. “Jagain ya, Bro.”

Saat berbalik Malih meneteskan air matanya. Perasaannya sesak, bahkan enggak peduli pada Sorin yang melihatnya heran sama seperti wanita dan anak penjual kopi itu. Terdiam melihat Malih yang berlalu, berjalan menjauh. Namun juga ada do’a dan syukur yang terucap.

***

Malih duduk termenung di lantai. Bersandar pada tempat tidurnya. Senang banget bisa ketemu sama ibu, tapi juga Malih merasa sangat sedih karena dia enggak bisa sama-sama lagi kayak dulu. Sisi rapuh Malih jelas terlihat. Dia menangis sambil memeluk lututnya sendiri. Malih rindu ibunya. Rindu masakannya yang sederhana dan juga rindu celoteh anak-anak panti yang bertahan bersama dirinya.           

“Ini anugerah atau bencana, Tuhan? Sebenarnya apa rencana-Mu? Kenapa karena air dari kendi itu gue jadi Malvin?”  tanya Malih di sela-sela tangisnya. Dia menarik lendir dari hidungnya kuat-kuat sampai suara khas nyaring terdengar.

Malih menangis enggak lama. Setelahnya dia langsung berdiri, dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka. Malih jadi lapar karena sedih barusan. Begitu selesai cuci muka dia langsung pergi ke dapur. Rumahnya yang besar itu sangat sepi saat malam begini. Enggak ramai kayak panti tempatnya tinggal. Enggak ada juga suara mesin tetangga motong keramik, atau suara dangdut.         

Pintu kulkas empat pintu menyala saat diketuk. Malih ambil segelas air minum lebih dulu sebelum membuka pintunya. “Kalau di panti pintu kulkasnya aja udah reot, udah gitu banyak saljunya lagi. Kalau kata Nanda enggak usah ke Eropa juga dia bisa lihat salju di kulkas ibunya.”

Malih ngoceh sendiri sambil pilih-pilih beberapa makanan yang bisa dia santap. Ada sosis, telur dan juga sawi. “Mie instan di mana?” Malih menutup pintu kulkas, dia mencari-cari mie instan di antara kabinet-kabinet dapur.

Di dalam set kabinet itu enggak ada satupun yang menyimpan mie instan. Malih jadi garuk-garuk kepala. Bi Narti lalu datang karena melihat lampu dapur yang menyala. Agak bingung karena tengah malam begini tuan mudanya ada di dapur.

“Aden cari apa?”  

“Indomie, ada?”  

“Kok tumben makan mie? Biasanya juga aden nolak kalau bibi tawarin mie.”

“Tapi ada kan?”

“Ada, sebentar bibi ambilkan.”

Malih penasaran kemana bi Narti melangkah. Dari dapur lewat lorong, lalu masuk ke sebuah pintu. Saat dibuka Malih kaget bukan main. Ruangan itu seperti minimarket. Lebih luas dari kamarnya di panti, dan juga sangat penuh dengan makanan. Rak-rak kayu yang tingginya menyentuh langit-langit ruangan itu diisi penuh oleh berbagai kebutuhan rumah tangga. Dipisahkan berdasarkan kegunaannya.

“Ini stok buat berapa tahun, Bi?” tanya Malih iseng.

Bi Narti ketawa ringan. “Katanya sih stok buat tiga sampai enam bulan, tapi nyatanya setiap sebulan sekali diisi.”

“Siapa yang makan semua ini?”

“Kalau udah akhir bulan bibi keluarin stok lama. Terus dibagi-bagi, titah nyonya begitu biar enggak kadaluarsa.”

Malih mengangguk mengerti. Kemudian dia jadi berpikir tentang anak-anak panti. “Kalau aku minta banyak boleh enggak, Bi? Aku bagiin ke teman-teman?”

“Ya boleh dong. Semua ini kan memang punya Aden, cuma Aden-nya saja yang enggak suka ngemil.”

Saat menemukan rak berisi makanan instan Malih langsung berbunga senang. Ada beberapa rasa dan juga merk mie instan yang tersedia di mini pantry itu. Malih mengambil satu yang dia mau, tapi juga jadi tertarik dengan beberapa snack. Satu dua snack berakhir dalam pelukan Malih dan dia bawa keluar. Hal lain yang bi Narti temukan dari tuan mudanya.

“Akhirnya nyonya enggak sia-sia buat Alfamei sendiri di rumah,” lirih bi Narti senang karena setelah sekian tahun bekerja untuk keluarga Jefferson baru kali tuan mudanya masuk ke pantry dan mengambil makanan sendiri. Biasanya Malvin selalu malas makan cemilan.

Jelas saja yang untung para asisten rumah tangganya atau teman-teman Malvin yang mampir ke rumah, terutama Onad. Anak pemilik Lestari Food selalu girang kalau ada di rumah Malvin. Katanya kayak ada di gudang makanan Lestari Food.

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!