Pada akhirnya Malih menyerah dulu. Meski yang dimiliki Malih sekarang adalah otak Malvin yang cerdas itu, tapi tetap saja dia enggak sanggup memikirkan korelasi dirinya yang berubah menjadi Malvin dan kendi ajib itu. Alasan itu juga yang akhirnya membuat Malih mau diajak Sorin pergi. Katanya untuk menyegarkan pikiran yang butek kayak selokan ibu kota.
Sebelum jalan dengan Sorin Malih bersiap dulu. Dia memilih pakaian yang rapi tersusun dalam lemari milik Malvin. Berdasarkan foto-foto Malvin yang Malih dapatkan dari galeri ponselnya, Malih memakai gaya yang serupa dengan Malvin. Ada dompet yang sejak kemarin tergeletak di atas kabinet kayu. Malih ambil itu dan cek isinya. Ada beberapa lembar uang seratus ribuan dan juga kartu-kartu ATM yang enggak mungkin Malih miliki saat dirinya masih menjadi Malih sebenarnya.
Setelah siap Malih masih harus dihadapkan dengan mobil-mobil Malvin. Sekian banyak mobil yang berjajar rapi di garasi enggak ada satupun jenis mobil yang Malih tahu kuncinya. Padahal kunci mobil itu tergantung di kamarnya. Bebas saja mau pakai yang mana. “Urusan mobil aja gue pusing banget.”
Malih enggak berani ambil satupun karena dia enggak yakin bisa mengendarai mobil, ya walaupun dia pernah belajar mobil bersama temannya yang punya toko material bangunan. Saat itu Malih mencoba belajar mengendarai mobil pick-up yang walaupun pada akhirnya dia dimarahi bapak temannya karena mobil tersebut nabrak tong sampah. Teringat mang Sapri akhirnya Malih berpikir untuk disupiri saja.
Dia keluar dari kamarnya. Sorin masih mengobrol dengan Amarillis. Sebelum dia bicara Sorin sudah lebih dulu bicara. “Beb, kita naik mobil aku aja ya. Biar aku yang bawa, kayaknya kamu masih trauma.”
“Hmmm,” balas Malih sok cool. Seperti yang bi Narti katakan kalau Malvin itu simple dalam menjawab, tapi kemudian dalam hatinya Malih berkata. “Anjir! Bukan gue banget.”
Malih dan Sorin berpamitan. Semewah apapun kehidupan yang mereka dapatkan, fakta kalau menghormati orang tua adalah sebuah kewajiban, maka mereka tetap menyalami Amarillis dengan sopan. Amarillis kemudian berkata. “Pulangnya jangan terlalu larut, ya.”
“Iya Mami, Sorin akan pulangin Malvin dengan kondisi selamat tanpa potong satupun anggota tubuhnya,” balas Sorin yang ditimpali Amarillis dengan tawa.
Malih hanya geleng kepala. Ternyata Sorin hidupnya lawak juga. “Kita mau kemana?” tanya Malih begitu mereka keluar dari rumah.
Sorin menekan remote mobilnya sebelum menjawab pertanyaan Malih. “Jenguk Onad, terus makan di kafe.”
Malih melupakan fakta bahwa masih ada sosok Onad yang belum dia temui. Mungkin manusia bernama Onad itu bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi saat malam kecelakaan. Malam yang bisa saja membuat dirinya dan Malvin tertukar. Lagi-lagi Malih kepikiran, kalau dirinya ada dalam kehidupan Malvin, apakah Malvin ada dalam kehidupan dirinya?
“Beb, ayo masuk! Kok bengong di situ kayak lihat pocong.”
Malih buru-buru masuk. Duduk di samping Sorin yang mengemudi. Sabuk pengaman tak lupa ia kenakan. “Masuk ke bulan ini, kita pacaran udah berapa lama ya?”
Ditanya seperti itu tak membuat Sorin menjadi tersinggung. Dia tetap tenang membawa mobilnya keluar dari pekarangan rumah Malvin yang maha luas itu. “Cowok emang pelupa banget urusan hari jadian. Bulan ini kita masuk bulan ke delapan, Sayang.”
“Cukup lama juga ya,” balas Malih mengangguk kayak yang paham siklus orang pacaran. “Aku pernah nyakitin kamu enggak?”
Itu adalah hal pertama kali yang Malvin tanyakan selama mereka pacaran. Jelas saja karena itu sebenarnya bukan Malvin. Sorin tersenyum tipis ternyata Malvin sepeduli itu pada dirinya. “Kamu enggak pernah nyakitin aku yang sampai bikin aku nangis bombay, merana pilu karena ucapan atau sikap kamu. Kamu cuma sering bikin aku kesel aja.”
“Oh, contohnya apa?”
“Aku chat kamu panjang kali lebar, tujuh turunan, tujuh tanjakan, lurus, belok kanan, belok kiri, tapi kamu balasnya cuma Oke, iya, hmm, dan enggak.”
Malih tertawa mendengar penuturan Sorin. “Itu kamu kirim pesan apa mau parkir di pegunungan?”
Tentu saja tawa Malih jadi hal yang langka bagi Sorin. Pasalnya Malvin yang selama dia pacari adalah Malvin yang kalau ketawa cuma sebatas mesem-mesem saja. Enggak lepas seperti tawa Malih sekarang. “Baru kali kamu ketawa lebar begitu. Hati-hati lelet masuk, nanti.”
“Ya kali dalam mobil ada lalat.”
Hati Sorin berdesir karena pria yang dicintainya hari ini lebih banyak mengajaknya mengobrol dan juga tertawa. Sorin jadi ikut tersenyum karenanya. Hal yang jarang sekali dia rasakan saat bersama Malvin yang masih Malvin sesungguhnya.
***
Rumah sakit Dharmawangsa menjadi tujuan pertama. Malih mengikuti setiap langkah Sorin sampai mereka masuk ke kamar rawat Onad—sepupu Malvin. Dibandingkan orang sakit Onad lebih mirip orang kesurupan. Malih sedikit kaget karena saat masuk Onad ketawa-ketawa sambil ngemil keripik kentang. Kepala Malih sedikit miring lihat ke arah layar televisi yang sedang menayangkan film animasi Larva.
“Kaki lo udah mendingan?” tanya Sorin karena tawa Onad enggak mirip orang sakit sama sekali.
“Masih sakit, Rin.”
“Itu lo bisa ngakak.”
“Yang ngakak mulut, bukan kaki,” balas Onad. Dia melambaikan tangannya melihat Malvin yang berdiri di belakang Onad. “Udah sehat lo?”
“Hmmm,” jawab Malih bersikap seperti Malvin.
“Duduk sini, ada yang mau gue tanyain.”
Malih menurut, dia mengambil tempat duduk di sisi tempat tidur Onad. Suasananya jadi serius, Malih berharap apa yang akan Onad bicarakan adalah hal penting yang berkaitan dengan dirinya yang keadaan dirinya sekarang. “Tanya apa?”
“Risol pesanan gue mana?”
“Hah? Risol?!”
Tangan lancang Onad menggeplak belakang kepala Malih. “Sorin bilang lo mau ke sini, jadi sebelum lo datang gue WA lo buat bawain gue risol buatan bi Narti.”
Ya kadang realita jauh berada di luar ekspektasi. Malih menghela nafas kesal. “Gue enggak sampat baca pesan dari lo.”
“Sok ngartis lo! Mentang-mentang banyak cewek yang nge-Wa sampai chat dari sepupu lo yang paling ganteng ini diabaikan,” celoteh Onad mendramatisir keadaanya.
Sorin jadi geli sendiri dengan tingkah Onad. “Ya udah deh gue beliin, kayaknya di depan masih ada tukang gorengan.”
“Nah, gitu dong! Sorin memang peka! Muaccch!”
“Najis!” balas Sorin sebelum berlalu. Menghadapi Onad itu butuh kesabaran setebal tembok China.
“Mau aku antar?” tawar Malih.
“Enggak usah, kamu temenin aja sepupu kamu yang gila itu.”
Onad memperhatikan kepergian Sorin dengan serius. Setelah pintu kamarnya tertutup rapat barulah Onad berani berkata hal sejujurnya. “Malam itu kenapa lo mabuk? Biasanya kalau pun ke pub, lo enggak sampai mabuk. Gue jadi penasaran dengan hal itu.”
Malih enggak tahu alasan kenapa Malvin mabuk. “Enggak tahu, lagi pengen mungkin.”
“Orang mabuk enggak ingat apa-apa, tapi katanya orang mabuk itu jujur. Lo terus bilang maafin aku, maafin aku. Gitu terus, lo habis berbuat salah?”
“Enggak tahu,” balas Malih lagi yang memang kosong pikirannya tentang Malvin yang mabuk.
“Coba deh lo inget-inget lagi. Gue yakin ada yang lo sembunyiin. Vin, waktu lo mabuk selain kata maaf lo juga nyebut nama cewek lain. Daniella. Lo selingkuh dari Sorin?”
“Daniella aja gue baru dengar namanya sekarang, gimana gue mau selingkuh?”
Onad sok serius, meletakan tangannya di dagu. Berlagak seperti detektif handal yang sedang menangani sebuah kasus. “Apa Daniella itu nama artis telenovela yang sering nyokap gue tonton ya?”
“Emang ada?”
“Ada namanya Daniela Lujan. Artis telenovela dia. Nyokap suka banget sama dia.”
Nirfaedah, pembicaraan mereka selanjutnya diisi dengan sejumlah tontonan yang sering dilihat oleh ibunya Onad. Malih merasa terjebak, dia memang suka nonton sinetron, tapi bukan sinetron luar negeri yang namanya saja bikin lidah dia sembelit. Walaupun begitu Malih jadi kepikiran perihal perkataan Onad sebelumnya.
Jika Malvin melakukan sebuah kesalahan, lalu kenapa harus dirinya yang sekarang berakhir menjadi Malvin?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments