Kendinya sama persis dengan kendi dari rumah mewah itu. Bedanya kendi yang sekarang lagi dipandangi Malih kosong sama sekali enggak ada airnya. Diletakan di tengah-tengah meja, Malih memperhatikan kendi tersebut dengan seksama. Setiap detailnya diteliti secermat mungkin. Enggak boleh ada yang terlewat, tapi lama-lama Malih merasa kayak orang enggak waras karena kendi tanah liat itu dipandangi bak wajah seorang kekasih.
“Apa kalau gue usap bakal keluar jin?” tanya Malih pada dirinya sendiri, tapi benar-benar dilakukan. Malih ambil kendi itu, dan pelan-pelan diusap sayang. “Enggak ada jinnya. Apa kendinya palsu? Tapi jin kan keluarnya dari teko yang bagus. Warnanya emas, bukan kendi item kayak punya pendekar di sinetron kolosal Angling Dharma ini.”
Tok! Tok!
“Malvin, sayang! Ada dokter Sean nih, Mami minta datang sekalian buat cek kondisi kamu. Kayaknya kamu perlu vitamin.”
Suara Amarillis terdengar dari sebelah. Malih menunda dulu rasa penasarannya pada kendi tersebut. Dia membuka pintu perpustakaan pribadi milik Malvin, melihat Amarillis berdiri di depan pintu kamar. “Dokter Sean?”
“Lo ternyata kamu di situ,” Amarillis berbalik melihat Malih berdiri di pintu lainnya. “Udah ayo! Dokter Sean ada di bawah. Katanya pagi tadi kamu enggak mau diresepkan vitamin, jadi sekalian saja Mami minta ke sini.”
Malih mengikuti langkah Amarillis menuju ruang keluarga dimana dokter Sean sudah menunggunya. Kalau versi Malih apa yang dilakukan oleh Amarillis ini sangat berlebihan. Saat dia menjadi Malih yang benar-benar Malih kalau lagi sakit paling mahal dibawa ke puskesmas. Terus dikasih obat paracetamol sejuta umat. Jadi Malvin meski pagi tadi sudah ke rumah sakit langsung, siangnya masih saja dipanggilkan dokter.
“Apa kamu merasa kelelahan?” tanya dokter Sean sembari membongkar tas berisi peralatan kedokterannya.
“Saya lelah karena tadi pulang sekolah latihan basket, Dok. Bukan lelah karena kurang gizi, apalagi kurang duit. Itu enggak sama sekali.”
Dokter Sean tertawa dengan kalimat yang Malih lontarkan. “Saya tahu, kamu enggak mungkin kekurangan uang, tapi saya akan tetap kasih kamu vitamin. Kali ini kamu pasti nurut,” mata dokter Sean melirik Amarillis.
Kalau pagi tadi Malih bisa menolak vitamin yang diresepkan padanya, tapi kali ini dengan adanya Amarillis, dokter Sean sangat yakin Malih enggak akan bisa menolak. Malih menghela nafas saat dokter Sean mengambil tangannya untuk memastikan kondisi tekanan darahnya masih dibatas normal. Amaryllis duduk memperhatikan sambil melipat kedua tangannya di dada. Titah Amarillis itu seperti titah ratu yang enggak bisa dibantah.
“Masih normal.”
“Serius Dok? Enggak kurang setetes darah pun?” tanya Amarillis mengundang tawa kecil dokter Sean.
“Enggak Mbak, ini mungkin karena pola hidup Malvin yang lagi kurang sehat saja,” balas dokter Sean. Dia memasukan kembali alat tensi darahnya. “Kapan terakhir kali kamu latihan fisik?”
Ya jelas aja Malih enggak tahu. “Lupa.”
Kata lupa diartikan dokter Sean bahwa Malvin sudah terlalu lama enggak berolahraga. “Jangan mabuk-mabukan lagi, itu enggak sehat buat jantung. Kamu masih muda, kalau bosan kamu puterin aja tuh lapangan golf di belakang rumah.”
Dokter Sean tahu banyak hal semua tentang Malvin. Malih tentu saja berpikir kalau hubungan dokter yang sedang memeriksanya itu lebih dari sekedar dokter pribadi. Apalagi interaksinya dengan Amarillis. Wanita yang sekarang jadi mami-nya itu terlihat menyayangi dokter Sean. Malih jadi menatap curiga, lebih karena penasaran bukan curiga dalam konteks negatif.
“Justru karena masih muda, jadi harus mencoba banyak hal. Hehehe,” balas Malih cengengesan.
Amarillis menatap Malih penuh sayang. “Boleh-boleh saja, tapi jangan berlebihan.”
“Anjir! Jadi Malvin hidupnya gampang banget. Coba kalau gue ngomong gitu ke emak pasti diomelin,” ucapnya dalam hati. Bicara soal emaknya, Malih jadi kepikiran. Kira-kira emaknya lagi apa ya? Bisa hidup tanpa dia enggak? Atau siapa yang angkatin kerupuk gendar yang lagi dijemur di atas genteng rumah?”
“Mami?”
“Iya, Sayang?”
“Saya mau keluar ya?”
“Boleh, tapi diantar Sapri ya?”
“Iya,” jawaban paling aman biar enggak ditanya-tanya banyak hal. Kembali ke dokter Sean, mata Malih teliti memperhatikan apa yang dokter Sean ambil dari tasnya. “Dok, vitaminnya jangan banyak-banyak ya.”
“Ini hanya untuk seminggu,” jawab dokter Sean, lalu memberikan vitamin dalam botol kecil pada Malih. “Biasanya kamu senang kalau dapat vitamin, kok tumben sekarang enggak mau.”
“Ya lagi enggak mau aja.”
Selesai memberikan vitamin, dokter Sean berpamitan pada Amarillis dan Malih. Amarillis mengantar sampai ke depan pintu sedangkan Malih langsung kembali ke perpustakaan milik Malvin. Malih masih penasaran dengan kendi yang ada di sana. Saat Malih masuk kendi itu sudah tidak ada di meja. Kendinya kembali ke tempat semula.
Malih terbengong-bengong. Dia melirik meja yang kosong, lalu ke rak buku tempat kendi itu berada. Lihat lagi ke meja, lihat lagi ke kendi. Terus begitu sebab bingung. Tiba-tiba pintunya dibuka oleh bi Narti. “Bibi pindahin ke tempatnya, soalnya den Malvin suka marah kalau kendi itu ada di tempat lain.”
“Apa? Gimana, Bi?”
“Tadi bibi beresin ruangan ini, dan kendinya ada di meja. Biar aman, jadi bibi simpan lagi ke atas rak.”
“Owh, jadi kendi ini bibi yang pindahin bukan pindah sendiri?”
Bi Narti tertawa renyah. “Ya enggak mungkin dong pindah sendiri, emangnya kendi itu punya kaki.”
“Hehehe… yakan siapa tahu tiba-tiba dia punya kaki terus pindah ke sana.”
Bi Narti jadi bengong karena tuan mudanya itu jadi lebih banyak bicara. Biasanya Malvin hanya akan menjawab seperlunya. “Aden baik-baik saja kan?”
“Emang ada yang salah dengan saya, Bi?”
“Biasanya Aden cuma jawab ‘iya’ atau ‘hmm’ gitu, Den.”
Malih berpikir kalau Malvin sosok cowok cool seperti dalam tokoh sebuah novel. Malih salah bertindak lagi. Dia menggaruk pantatnya, sampai bi Narti yang melihat itu semakin terheran-heran. Malvin itu enggak pernah melakukan hal memalukan. Apalagi garuk-garuk pantat sambil berjalan ke luar dari perpustakaan. Itu bukan Malvin banget.
***
Malih masih berpikir dengan kerasa perihal hubungan kendi yang dilihatnya di rumah mewah itu dengan kendi yang ada di perpustakaan Malvin. Apakah dua kendi itu kembar yang terpisah? Atau mereka jodoh yang belum bertemu. Pusing! Kepala Malih rasanya mau pecah cuma karena mikirin kendi jadul itu. “Enggak mungkin gara-gara gue minum air dari kendi itu terus gue berubah jadi Malvin? Eh, kalau ternyata itu beneran gimana?”
Pikiran Malih enggak bisa diam sejenak sampai kedua kakinya juga melakukan hal yang sama. Dia mondar-mandir di depan tempat tidurnya sambil gigitin kukunya. “Tapi kendinya Malvin enggak ada airnya? Apa gue isi air dulu terus gue minum biar gue jadi Malih lagi? Ah! Benar! Itu ide yang bagus.”
Buru-buru Malih ke luar dari kamarnya, turun dari anak tangga tanpa jinjit lagi karena takut karpetnya kotor. Malih saat sampai ke ruang keluarga jalan begitu saja melewati maminya yang lagi ngobrol dengan Sorin. Tentu saja dua wanita itu keheranan melihat Malih yang buru-buru ke dapur.
“Malvin ke dapur kok buru-buru banget?”
“Dia enggak lihat kita apa ya?”
Belum juga terjawab pertanyaan itu, Malih sudah kembali dari dapur dengan membawa sebotol air mineral sambil berlari. Lagi-lagi melewati maminya dan Sorin. Benar-benar matanya picek enggak lihat dua wanita yang secantik bidadari lagi duduk manis di sana. Mereka bengong keheranan. Malvin enggak pernah lari-larian begitu di dalam rumah. Malvin itu ekstra kalem, enggak pecicilan kayak Malih. Sayang mereka enggak tahu kalau di dalam tubuh Malvin ada Malih.
Begitu sampai di perpustakaan kendi itu Malih turunkan lagi dari rak, dia simpan di atas meja. Tutupnya dibuka sebelum sebotol air dia tuang ke dalamnya, tapi yang buat Malih keheranan adalah enggak ada setetes pun air yang tersimpan dalam kendi itu. Seperti menuang air dalam gurun pasar, airnya langsung menyerap dan hilang.
“Bocor nih kendi?”
Malih angkat kendinya, memeriksa bagian bawahnya. Enggak ada yang bocor, masih penasaran Malih tuang lagi sekaligus sisa air dari botol. Hasilnya tetap saja, meski Malih jungkir balikkan kendinya tetap saja enggak ada sisa air yang berjejak dari kendi itu. “Fix! Ini kendi ajaib, tapi hubungan sama gue apa?”
Enggak ada satupun jawaban yang muncul di kepala Malih. Si kendi ajaib masih menyimpan tabir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Abdul Rahman
Wah, cerita ini seru banget, bikin ketagihan!
2023-08-23
1