Malih duduk tenang di dalam mobil bersama David. Entah apa yang akan dilakukannya nanti ketika bertemu klien dari David. Malih enggak mengerti sama sekali soal bisnis, tapi mungkin posisi dirinya sebagai Malvin bisa membantu. Tatapan mata Malih ke luar jendela mobil, melihat jalanan ibu kota yang padat. Mobil-mobil berdesakan, gedung-gedung tinggi menjulang dengan sombong.
Pernah, bahkan nyaris sering Malih bermimpi mempunyai rumah mewah dan kendaraan yang nyaman. Sekarang semuanya seakan nyata terwujud, namun sayangnya Malih tidak menikmati itu. Dia rindu panti asuhan tempatnya tumbuh. Malih ingin menikmati segala kemudahannya bersama orang-orang di panti. Malih yang banyak diam itu rupanya menarik perhatian David.
“Apa ada yang kamu pikirkan, Son?”
“Ibu kota selalu macet. Kayaknya aku mau buat transportasi udara kayak di film Doraemon,” balas Malih dengan kekehan kecil. Otaknya seketika membayangkan jika ada banyak mobil-mobil kecil terbang di udara tanpa harus repot macet.
“Sejak kapan kamu nonton kartun? Biasanya kamu nonton berita, atau debat politik.”
Seumur hidup Malih suka sekali kartun. Dia menonton acara tersebut ketika libur bersama adik-adiknya di panti. “Entahlah, kayaknya otak aku butuh hiburan,” balas Malih kali ini dia menatap wajah David dengan cengiran kecil.
“Kamu liburan kemana? Eropa? Afrika? Tinggal sebut saja, nanti Papi siapkan segalanya.”
“Hiburan Pih, bukan liburan. Hiburan itu enggak harus keluar negeri. Diam di rumah sama keluarga, makan-makan atau memancing bersama. Itu rasanya udah cukup.”
Hembus nafas bersalah terdengar berat keluar dari mulut David. Sedikit banyak pria itu jelas merasa bersalah. “Maafkan Papi, tapi Papi akan selalu berusaha ada untuk kamu. Begitu juga dengan Mami.”
Malih mengerti akan kesibukan orang-orang kaya seperti David. Setiap detik yang mereka lewati adalah uang. Seolah tak ada waktu barang berhenti sejenak untuk sebuah tawa lepas tanpa memikirkan pekerjaan. “Aku ngerti kok, Pih. Sekarang bisa sama Papi aja aku udah seneng.”
Lantas David membawa Malih ke dalam pelukannya. Mengusap punggungnya lembut. David juga mencium puncak kepalanya. “Kapapun kamu butuh Papi, tinggal bilang ya. Jangan sampai kamu merasakan segalanya sendirian.”
“Hmmm,” gumam Malih membalas ucapan David sebelum pelukan itu dilepas lebih dulu olehnya. “Jadi kita mau ketemu siapa, Pih?”
“Kamu ingat pak Sandjaya Bong? Pemilik maskapai penerbangan Seven Dragon Air? Dia bilang akan membantu kamu untuk bisa sekolah penerbangan di Amerika. Seperti yang kamu mau. Beliau mempunyai kenalan di sana, kalau kamu setuju bulan depan Papi akan terbang ke Amerika dengan beliau untuk bertemu temannya itu.”
Rasanya mudah sekali hidup menjadi Malvin, namun di sisi lain Malih merasa kalau segala kemudahan itu ternyata menjadi beban. Seakan-akan dirinya hanya bisa mengandalkan kekuasaan orang tuanya saja. “Pih, kayaknya aku mau berusaha sendiri dulu deh. Lagian sekolah penerbangan di dalam negeri juga ada yang bagus.”
Padahal Malih sama sekali enggak berminat jadi pilot. Heran saja dengan Malvin yang ingin jadi pilot saat dirinya jelas-jelas menjadi pewaris tunggal perusahaan keluarganya. Walau begitu dia harus tetap bersikap seperti Malvin yang seolah-olah mau menjadi seorang pilot di hadapan David.
“Lho bukannya kamu mau ambil yang di Amerika?”
“Iya sih, Pih. Cuma kalau dipikirkan lagi kayaknya aku belum siap jauh dari Mami, Papi dan juga Sorin,” alasan yang mungkin bisa diterima David.
“Ya sudah, tapi Papi akan tetap bicara dengan pak Sandjaya. Siapa tahu kamu berubah pikiran.”
“Ya, Pih.”
Malih kembali fokus melihat jalanan. Dunianya benar-benar berputar jauh dari apa yang dimpikannya selama ini. Bukan maunya menjadi Malvin, namun Malih harus menjalani kehidupannya sebagai Malvin untuk beberapa waktu ke depan. Setidaknya sampai dia menemukan cara untuk menjadi Malih lagi.
***
Malih itu anak yang sangat sopan, walaupun kadang-kadang sangat lawak. Bertemu pak Sandjaya membuat sisi sopan Malih keluar. Pria berpakaian sporty itu menyapanya dengan hangat. Sebagai balasan Malih menyalami Sandjaya hikmad. Bahkan membiarkan puncak kepalanya diusap oleh pria itu.
“Calon penerus JF memang enggak main-main,” katanya memuji Malih. “Gimana sekolah kamu?”
“Baik, Om.”
“Ya.. saya mendengar itu dari anak saya kalau Malvin selalu jadi idola di sekolah.”
Malih jadi bertanya-tanya tentang siapa anak dari Sandjaya. “Anak Om siapa namanya?”
“Adellia Odetta, adik kelas kamu. Mungkin kamu enggak kenal, tapi setelah ini kamu harus kenalan dulu ya.”
Sangat enggak menyangka ketika seorang cewek datang menghampiri mereka, dan duduk di sisi Sandjaya. Cewek itu berpenampilan sangat feminim. Dress selutut berwarna peach dengan tas putihnya mengalung di pundak. Sandjaya memperkenalkan cewek itu pada Malih dan juga David. Lagi-lagi insting Malih menajamm. Sepertinya akan ada udang di balik batu,
“Wah! Putri Anda sangat cantik,” puji David melihat pada rupa Adellia Odetta yang memang cantik, dan tak jemu untuk dipandang.
“Pih, ingat ya Papi udah punya mami. Jangan genit sama daun muda,” seloroh Malih mengundang tawa Sandjaya dan juga putrinya. Malih melirih Odetta sesaat. Manis.
“Papi cuma ngomong hal yang sebenarnya, bukan mau makan daun muda, Malvin.”
“Hehehe,” secara gentle Malih mengulurkan tangannya lebih dulu pada Odetta. “Malvin.”
“Adellia, tapi aku lebih suka dipanggil Odet.”
“Kayak nama tokoh princess di film Barbie,” balas Malih mengingat adiknya di panti asuhan suka sekali menonton film Barbie.
Odetta tersenyum manis memperlihatkan lengsung pipinya. “Kak Malvin tahu itu?”
“Hmmm,” diam sejenak sebab Malvin tidak mungkin menyebutkan nama adiknya dalam percakapan mereka. “Sorin kadang suka nonton itu.”
“Owh,” balas Odetta dengan kepalan tangan kesal ketika Malvin menyebutkan nama Sorin, tapi wajahnya tetap menunjukkan seulas senyum. “Kak Malvin makin serasi ya dengan kak Sorin. Teman-teman sekelas aku sering membicarakan kalian.”
“Oh ya? Ngomongin yang baik apa yang buruk?”
“Emangnya apa lagi kalau bukan keduanya? Cewek-cewek kan suka bergosip,” balas Odet dengan kekehan kecilnya.
David dan Sandjaya yang melihat interaksi mereka jadi saling lirik. Senang sekali karena anak-anak mereka bisa cepat akrab. Sandjaya lantas berkata pada putrinya. “Odet, ajak Malvin jalan-jalan di sekitar.”
“Iya, Pap.”
Malih dan Odetta beranjak meninggalkan para orang dewasa di sana. Sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk bicara. Lapangan golf yang luas dilengkapi fasilitas lengkap. Keduanya memilih untuk berjalan-jalan di sekitar menikmati angin sore yang berhembus. Rambut panjang Odetta tertiup angin lembut.
“Gue enggak pernah lihat lo di sekolah,” ungkap Malih memulai pembicaraan.
“Ya wajar sih, lagian di sekolah aku juga lebih sering ada di perpustakaan dari pada ngobrol sama temen-temen.”
“Kenapa?”
“Soalnya mereka berisik. Ngomonginnya cowok-cowok ganteng, patah hati atau gosip artis idola mereka.”
“Lo enggak suka?”
“Bukan enggak suka, sesekali aku juga nimbrung bergosip untuk hiburan. Kalau sering-sering malah jadi enggak baik, nanti keterusan.”
Mereka berdiri di bawah pohon yang daun-daunnya menguning. Hembus angin menjatuhkan daun-daunnya. Satu dari daun itu jatuh di atas kepala Odetta. Malih dengan sikap gentlenya berkata. “Maaf, ada daun di rambut kamu.”
Jarak menipis ketika Malih selangkah mendekat. Harum manis yang menguar dari tubuh Odetta bisa tercium oleh Malih. Tangannya terulur mengambil daun dari kepala Odetta. Jarak sedekat ini membuat keduanya bisa saling memandangi wajah satu sama lain. Lebih jelas dan sedikit mendebarkan.
“Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments