Teman-teman Malvin yang sekarang jadi teman Malih sudah pulang, kecuali Sorin. Cewek itu masih menempel pada Malih. Duduk di sofa sambil menonton televisi. Sekalipun di sisinya ada Sorin, tapi pikiran Malih tertuju pada seseorang bernama Daniella. Malih sangat penasaran, sudah ingin mencari tahu namun Sorin jadi kendalanya hari ini.
“Beb, kamu masih suka datang ke rumah singgah itu?” tanya Sorin. Kedua tangannya memeluk Malih, kepalanya bersandar di dada bidangnya.
Malih jadi bingung ditanya seperti itu, tapi kemudian ingat kalau dirinya sekarang menjadi Malvin. “Rumah singgah yang mana?”
“Rumah singgah yang diurus cewek itu, biasanya tiap minggu kamu datang. Cuma kemarin kata mami, kamu pergi ke panti.”
Rumah singgah? Cewek itu? Malih kembali berpikir. “Aku lupa.”
“Bagus deh, lagian aku juga enggak senang kalau kamu datang ke sana.”
Malih tidak merespon ucapan Sorin. Otaknya masih berpikir akan sesuatu yang mungkin bisa jadi petunjuk. “Gimana kalau kita ke rumah singgah sekarang?”
“Hah?!” Sorin kaget seraya bangun dari pelukan Malih. “Ke Priok? Yang benar aja, macet kali sore-sore gini.”
“Barang kali kamu jadi suka sama rumah singgah itu,” balas Malih berusaha menarik Sorin agar terus memberikannya petunjuk.
“Ogah!” Sorin berdiri, melempar bantal sofa ke pangkuan Malih. “Kamu aja sendiri. Aku mau pulang!”
Reaksi Sorin jelas mengundang tanya dalam benak Malih. Cowok itu berdiri, menyusul Sorin dan menahan langkahnya. “Anggap aja ini akan jadi hari terakhir aku ke sana kalau kamu mau ke sana sore ini.”
“Malvin dengar baik-baik ya, rumah singgah itu selamanya enggak akan pernah aku datangi selama cewek enggak tahu diri itu ada di sana.”
“Siapa yang kamu maksud?”
Dada Sorin naik turun menahan amarah, tapi juga dia menjadi sangat bodoh karena enggak tahu cewek yang dicemburuinya itu. “Aku enggak tahu namanya. Selama ini aku diam-diam ngawasin kamu, tapi aku enggak pernah tanya langsung soal cewek itu ke kamu.”
“Kamu cemburu?”
“Yailah Malvin! Cewek mana yang enggak cemburu kalau lihat cowoknya dekat sama cewek lain.”
Malih kembali berusaha memancing Sorin. “Sejak kapan kamu diam-diam ngawasin aku?”
“Dua bulan belakangan ini, soalnya ada rumor yang nyebar di sekitar cewek-cewek kalau kamu pernah jemput cewek lain dari SMA Lima Belas. Aku enggak mau nuduh kamu sebelum punya bukti yang pasti.”
Malih menunduk untuk bisa menatap Sorin lebih dekat. “Tapi kamu mengawasi aku, itu artinya kamu enggak percaya sama aku.”
“Bukan enggak percaya Malvin. Aku cuma mau buktiin kalau omongan cewek-cewek itu enggak benar biar mereka enggak bergosip hal-hal miring lagi tentang kamu.”
Malih enggak marah karena sejatinya yang cewek-cewek gosipkan itu bukan dirinya, hanya saja Malih jadi sangat tertarik dengan pembahasannya kali ini. “Memang apa lagi yang mereka gosipin tentang aku?”
Ada helaan nafas kecil yang keluar dari mulut Sorin. “Mereka bilang kalau kamu cowok yang hamilin anak SMA Lima Belas itu.”
“Buktinya?”
“Pertama kamu itu cucu dari pemilik yayasan Dallasco, kedua mami pemilik salah satu media berita terbesar di Indonesia. Dua kemungkinan itu jadi alasan kenapa kasus itu enggak menyebar ke jagat media. Alasan ketiga adalah papi kamu yang maha kaya raya itu. Uang dan kekuasaan.”
Penjelasan Sorin membuat Malih terdiam. Jika dipikirkan lagi ada benarnya juga. Malvin ini bukan anak sembarangan. Tentu saja keluarga Jefferson tidak ingin citra keluarga mereka tercoreng jika gosip yang pernah santer itu benar adanya. “Aku enggak tahu ternyata kamu punya pemikiran sejauh itu, tapi Sorin enggak seharusnya kamu mendengar kabar miring itu sampai kamu mencurigai pacar kamu sendiri.”
“Ya terus apa sekarang ada buktinya kalau memang itu bukan kamu?”
“Apa yang harus aku buktikan kalau aku enggak merasa melakukan apa yang kamu tuduhkan itu,” balas Malih tajam. Sedikit tersinggung karena ternyata Sorin tidak mempercayai sosok Malvin yang kini raganya disewa olehnya.
“Beb, aku minta maaf. Aku janji enggak akan curigain kamu lagi.”
“Udah, sekarang kamu pulang terus istirahat. Besok aku jemput ke sekolah.”
Sorin cemberut karena Malih merajuk.
***
Apa-apa yang Sorin sampaikan tentang keluarga Malvin membuat Malih membuka laptop dan mencari lebih detail lagi tentang keluarga Jefferson. Menulis lebih lengkap nama Amarilis yang ternyata bukan hanya pemilik yayasan Rumah Jenaka, tapi juga pemilik stasiun televisi swasta di negerinya. Beberapa media cetak dan online berada di bawah naungan A-Net Television.
Malih mencari tahu juga sosok David. Informasi tentangnya, bahkan jumlah kekayaannya tertulis di berbagai media online. Hanya satu yang janggal tentang keluarga Jefferson, yaitu enggak banyak informasi tentang Malvin. Di kolom pencarian Malvin hanya dijelaskan sebagai putra tunggal keluarga tersebut.
“Enggak ada informasi apa-apa soal Malvin,” ujar Malih masih terus menelusuri kolom pencarian. “Aneh enggak sih? Biasanya kan anak orang terkenal paling enggak bakal ada sedikit hal-hal tentang hidupnya yang ditulis media. Apalagi Malvin ini kan terkenal di sekolah. Kok bisa di google cuma disebut anak dari pasangan David dan Amarillis Jefferson?”
Menduga-duga tentang seberapa kuat power orang tua Malvin untuk membungkam media dalam negeri rupanya menjadi kecurigaan Malih. “Pasti ada apa-apanya ini.”
Lalu Malih menggeser kursinya, dia membuka laci meja belajar Malvin. Ada buku harian kecil, dan juga kotak kayu yang Malih belum sempat membukanya karena kotak kayu itu dikunci. Malih penasaran dengan isinya, belum lagi buku harian itu warnanya merah muda. Malih yakin itu punya cewek, tapi enggak ada tulisan dalam buku itu. Hanya ada gambar-gambar seketsa yang diarsir dengan pinsil. Gambar-gambar itu seolah-olah menunjukkan kegiatan apa yang dilakukan dua manusia dalam gambar tersebut. Gambar cowok dalam buku itu adalah Malvin, dan ceweknya jelas bukan Sorin.
“Apa dia Daniella? Oke! Kalau gitu kita bawa ini. Gue harus ke Priok.”
Tok! Tok!
Pintu kamarnya diketuk. Malih urung beranjak. Ternyata David yang datang ke kamarnya. Dilihat-lihat dari pakaiannya, pria itu pasti baru pulang kerja. “Kamu sibuk, Nak?”
“Enggak? Kenapa, Pih?”
“Sore ini temani Papi ketemu klien, yuk. Dia mau kenal dengan kamu.”
Berpikir sejenak, Malih kemudian mengangguk. “Apa aku harus berpakaian formal?”
“No, casual saja. Kita ketemu dia di lapangan golf.”
“Lapangan golf belakang rumah?”
David tertawa. “Bukan, tapi lapangan golf Blue Yard. Bisa?”
“Bisa, Pih.”
Malih enggak mungkin menolak, meski sebenarnya bisa saja dia beralasan. Namun Malih ingin lebih tahu sosok David secara pribadi. Beberapa hari ini setelah dia terbangun menjadi sosok Malvin, pria itu sangat sibuk. Hari-harinya dihabiskan dengan bekerja, hari liburpun masih ada waktu beberapa jam untuk bekerja. Sama sibuknya dengan Amarillis. Malih jadi berpikir tentang betapa sepinya hidup Malvin di dalam rumah.
“Oke, Papi tunggu di bawah.”
“Siaap!”
Malih pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Sejak menjadi Malvin ada banyak hal yang harus Malih pahami, salah satunya gaya hidup dan mempunyai orang tua. Sebagai anak yang tumbuh di panti asuhan, Malih merasa iri karena Malvin punya orang tua seperti David dan Amarillis. Ya walaupun tetap Amarillis masih dalam daftar kecurigaannya.
Gara-gara hal tersebut pula Malih yang tadinya sudah berhenti bertanya pada Tuhan tentang orang tuanya, kini kembali mempertanyakan. Seperti apa orang tuanya sekarang? Apa masih mengingat dirinya yang dibuang itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments