11. Teman Main

Ternyata Malih enggak bisa move on dari kendi yang ada di rumah Sorin. Walau belum sempat menyentuh karena dihalangi eyang, tapi Malih yakin kalau kendi itu adalah kendi serupa dengan yang dilihatnya di rumah mewah itu, dan juga kendi yang ada di perpustakaan pribadi Malvin. Kendi yang selalu kembali ke tempatnya ketika Malih memindahkannya.

Pusing mikirin si kendi ajaib, Malih tiba-tiba saja dikagetkan dengan hadirnya sosok Leonardo Fahlevi alias Onad. Cowok itu nyelonong masuk ke kamarnya dengan iringan ketukan tongkat yang membantunya berjalan. Kaki kirinya masih diperban, tapi Onad santai saja. Enggak peduli dengan Malih yang kesal menatapnya.

“Mami enggak masak ya hari ini?” tanya Onad pada Malih.

“Mami arisan. Bi Narti yang masak,” balas Malih. Dia mengambil tempat duduk di sofa, dekat Onad. “Kok udah keluar dari rumah sakit?”

“Lo ngarep gue selamanya di sana?”

“Enggak, harusnyakan lo keluar lusa.”

“Kelamaan. Mana susternya tua-tua lagi, enggak asyik.”

Malih mengambil toples berisi kue cokelat, membuka tutupnya dan memberikan itu pada Onad. Ada tujuannya, Malih enggak akan serepot itu memberikan Onad makanan karena menurut cerita Sorin, tanpa diberipun Onad sudah pasti akan menghabiskan makanan yang ada di rumah. Jika saja perutnya itu selebar TPA Bantar Gebang. “Buat lo.”

“Tumben baik lo,” seloroh Onad dengan tajam menatap Malih. “Ada maunya ya?”

“Hehehe… tahu aja lo.”

“Mau apa lo?” tanya Onad. Tangannya meraih toples itu dan memeluknya. Mulutnya penuh terisi.

“Em… itu…” Malih menggeser duduknya semakin mendekat pada Onad, dan itu mengundang kengerian bagi Onad.

“Ngapain lo? Jangan mepet-mepet, bukan angkot.”

“Iya Maaf,” Malih kembali bergeser. “Em… itu waktu gue mabuk, lo inget enggak gue ngomong apa aja? Atau apa yang terjadi sama gue malam itu, sebelum dan sesudah kecelakaan?”

“Sumpah lo ya! Gue jadi makin yakin kalau ada sesuatu antara lo sama cewek yang lo sebut-sebut itu. siapa? Daniella… iya, dia. Siapa sih? Kok lo enggak pernah cerita kenal sama cewek namanya Daniella?”

“Ya gue enggak tahu. Asal sebut aja kali, namanya juga orang mabuk.”

“Masalahnya lo itu kayak orang depresi, sedangkaan hubungan lo sama Sorin lagi baik-baik saja. Pasti si Daniella itu kan yang buat lo depresot?”

“Serius Onad, gue enggak tahu siapa Daniella.”

“Terus lo terinspirasi dari mana nyebut nama Daniella? Dari telenovela yang emak gue tonton? Kan ngaco!”

Malih tahu ini tidak akan ada ujungnya jika diperpanjang urusan Daniella, namun dia masih sangat penasaran. Malih enggak bisa berkata apapun karena dia memang benar-benar enggak tahu siapa sosok Daniella yang sekarang mereka bicarakan. Akhirnya hanya helaan nafas yang terdengar. Malih menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa. Matanya dipejam ringan.

“Apa Malvin punya rahasia?”

Mendengar pertanyaan itu Onad yang mau makan kuenya, akhirnya enggak jadi. Onad melirik Malih tajam. “Kan lo Malvin, bego.”

“Gimana kalau ternyata gue bukan Malvin?”

“Terus siapa? Zian Malik? Atau Iron Man?” Onad tergelak dengan ucapan Malih yang terkesan bercanda bagi Onad, namun serius bagi Malih.

Malih menegakan punggungnya. Serius, dia melipat kakinya ke atas sofa dan menghadap Onad. “Gue serius. Kalau misalnya jiwa Malvin ketuker sama jiwa orang lain gimana?”

“Itu namanya lo ngarang. Mana ada manusia jiwanya ketuker,” balas Onad realistis yang langsung membuat bahu Malih merosot.

Benar memang apa yang Onad katakan. Tidak akan ada yang percaya ucapannya kecuali Malih bisa membuktikannya secara langsung.

***

  Sore ini selain kedatangan Onad, kediaman Jefferson juga kedatangan dua teman Malvin lainnya. Rajata dan Delon, keduanya datang dengan membawa beberapa buku pelajaran. Ini adalah rencana Sorin untuk belajar bersama di rumah Malvin. Teras belakang menjadi tempat berkumpul. Alas karpet berbulu terhampar dengan bantal-bantal empuk yang disiapkan bi Narti. Di tengah karpet ada meja kayu sebagai tempat buku, dan juga makanan.

“Sorin mana sih? Dia yang ngajak, dia juga yang ngaret,” keluh Rajata sebab Sorin terlambat lima menit.

“Gue di sini!” serunya yang baru saja datang. “Tadi ban motor gue pecah.”

“Naik motor?” tanya Malih sedikit khawatir.

“Iya, biar cepet aja.”

Sorin duduk bergabung bersama mereka. Matanya tertuju pada Onad yang sejak tadi tidak berhenti mengunyah. Sorin hanya bisa geleng kepala dengan tingkah Onad, lalu lebih memilih mengeluarkan buku-bukunya. Apa yang dilihat Malih sekarang jauh berbeda dari gambaran Malih tentang kehidupan anak-anak yang terlahir kaya raya sejak kecil. Malih pikir mereka akan menghabiskan waktu dengan belanja, bermain atau apapun yang menghabiskan uang orang tua mereka. Ternyata ada juga belajar bersama di rumah.

“Kata coach Rudi kalau nilai ujian kita di bawah KKM, fix! Kita enggak boleh ikut tanding basket tahun ini,” ucap Delon memperingatkan teman-temannya.

“Iya gue tahu,” balas Onad kecut. “Lagian gue bakal tetap enggak ikut juga sih.”

Nyatanya ucapan Onad malah membuat Malih merasa bersalah, karena Onad kecelakaan bersama Malvin yang sekarang adalah dirinya. “Sorry, harusnya kan lo tetap ikut kalau enggak jemput gue malam ini.”

“Enggak masalah gue, asal lo bawa nama sekolah menang. lumayan hadiahnya gede, ahahaha.”

Onad mendapatkan pukulan ringan dari Rajata. “Nad, duit lo itu kan udah banyak. Ngapain ngarep duit dari tanding? Mendingan kasih ke anak-anak beasiswa basket.”

“Yakan gue mau jatahnya juga. Serebu gitu, buat beli es kenyot Widuri.”

Obrolan itu menarik perhatian Sorin dan Malih. Keduanya menyimak, tapi Sorin yang penasaran bertanya. “Widuri siapa, Nad?”

“Hehehe… itu anak yang punya warung di pengkolan sekolah. Dia jualan es kenyot.”

“Otak lo isinya cewek sama makanan aja,” balas Sorin, lalu mulai berfokus pada tugas mereka kali ini. Dia menatap Malih. “Sayang, kamu buka halaman lima puluh dan kerjain soal nomor satu sampai sepuluh. Aku halaman berikutnya, dan soal sebelas sampai dua puluh.”

Malih menyodorkan bukunya pada Sorin. “Aku mau tidur aja.”

Sorin melotot melihat buku pelajaran Malih yang di atasnya ada buku tugas. “Udah kamu kerjain? Kapan?”

“Tadi sebelum kamu ke sini. Biar enggak suntuk,” jawab Malih. Padahal dia sedang berusaha mengalihkan pikirannya tentang teka-teki hidupnya sekarang.

“Ya, tapi kamu jangan tidur juga. Aku sama yang lainnya masih perlu kamu, soalnya kadang kita enggak ngerti.”

Rajata dan Delon mengangguk membenarkan perkataan Sorin, lain lagi dengan Onad yang masih sibuk makan. Malih melihat itu, agak kesal juga dengan tingkah Onad. “Ya udah kalau gitu aku tetap di sini.”

“Yes!” seru Sorin spontan mencium pipi Malih.

“Anjir!” Malih menjerit dalam hati. Lagi-lagi Sorin melakukan hal tak senonoh padanya sampai-sampai membuat Malih beku seketika. Bahkan lalat terbang hinggap di ujung hidungnya pun enggak membuat Malih bergerak untuk menepisnya.

Justru Onad yang memukul lalat itu dari hidung Malih dengan nampan kosong dari atas meja.

Plak!

“Setan lo, Nad! Sakit bego!” Malih berteriak histeris hingga berdiri lalu kaki panjangnya kepentok meja dengan kuat. “Kampret!”

Kekonyolan Malih menjadi bahan tawa bagi tiga temannya, namun Sorin sigap membantu Malih yang kesakitan. Hanya saja bukannya menolong dengan baik dan benar kaki Sorin malah tersandung karpet nyaris jatuh tersungkur kalau Sorin tidak berpegangan pada Malih, namun akibatnya adalah Malih yang terdorong karena belum siap menerima Sorin. Fix! Malih berguling dari lantai teras ke rumput hijau halaman.

“Mau jadi kambing lo?!” seru Delon dengan gelak tawa.

Teman-temannya memang kampret, bukannya menolong malah sibuk mentertawakannya. Sedangkan si Onad tersedak karena mencoba menahan tawa. Cowok itu batuk-batuk menambah ramainya sore ini. Jatuhnya Malih kali ini seakan-akan ada soundtrack Sial milik Mahalini. Apes!

 

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!