Keluar dari rumah sakit, Malih kini berakhir di warung pecel lele pinggir jalan. Ternyata Sorin enggak protes saat Malih minta makan di tempat itu. Justru Sorin yang kebingungan. “Biasanya kamu enggak mau kalau aku ajak makan di pinggir jalan gini.”
“Ya, sesekali boleh dong?”
“Boleh sih.”
Malih berpikir untuk jujur pada Sorin kalau dirinya bukan Malvin, tapi apa Sorin akan percaya begitu saja? Karena ketiadaan teori pasti soal Malih yang berubah menjadi Malvin setelah minum air dari kendi ajaib itu. Ada kemungkinan Sorin mengatakan dirinya sakit atau efek benturan pasca kecelakaan itu masih ada, dan dia harus segera dioperasi agar. Malih jadi merasa enggak enak sama Malvin karena sudah memacari pacarnya.
Malih memesan dua porsi dengan eskstra lele. Pesanannya tersaji di atas meja. Sejenak Malih terdiam, pikirannya melayang pada keluarganya. Ibu dan adik-adiknya di panti asuhan tempatnya tumbuh besar. Malih tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Wanita yang selalu disebutnya emak itu adalah Bu Lastri pemilik panti asuhan yang sudah kehilangan donator sejak beberapa tahun lalu. Panti asuhan itu adalah rumah bagi Malih.
Diamnya Malih menarik perhatian Sorin. “Kok dilihatin aja?”
“Kasihan lelenya, dia pasti selama hidup enggak tahu kalau tujuan akhirnya adalah digoreng,” celetuk Malih di tengah-tengah kebingungannya.
Sorin tertawa kecil menanggapi perkataan Malih. “Takdirnya memang sekejam itu. Dia dirawat untuk diperjual-belikan, lalu digoreng. So sad.”
Malih memberikan satu ekor lele pada Sorin. “Makan yang banyak.”
“Terima kasih. Rupanya kamu berniat sekali mau bikin saya gendut,” balas Sorin dengan nada jenaka. Enggak masalah sebenarnya, Sorin memang suka makan kok.
Beberapa lama Malih seperti baru menyadari sesuatu. Dia melihat sekelilingnya, ada dua remaja dan juga ibu-ibu yang melihat padanya dengan pandangan memuja. Malih jadi mengerti jika sebelumnya Sorin mengatakan kalau Malvin enggak suka makan di pinggir jalan karena dirinya jadi pusat perhatian. Malih kemudian mendekatkan diri pada Sorin dan berkata. “Mereka enggak pernah lihat manusia ya?”
“Di mata mereka, kamu bukan manusia.”
“Alien?”
“Malaikat pencabut nyawa.”
“Ngelucu kamu?”
“Enggak, cuma lagi ngelenong.”
Malih tersenyum tipis akan jawaban-jawaban yang Sorin berikan. Gadis yang duduk di sisinya sambil menikmati sepiring pecel lele itu adalah gadis yang jenaka. Selalu memberikan positive vibes buat sekitarnya. Malih jadi khawatir kalau apa yang terjadi sekarang akan berdampak buruk untuk Sorin. Bagaimana pun kehidupan Sorin tak lepas dari sosok Malvin. Oke! Sekarang jadi tambah lagi beban pikiran Malih. Antara memberi tahu kebenarannya atau menunda sampai saat yang tepat. Udah kayak jodoh aja.
Saat sedang menikmati makanan bersama Sorin, suara tawa terdengar dari luar. Malih melihat ke arah pintu masuk tenda. Ada Kay, Joni dan juga Hardian. Susah payah Malih menelan ikan lele yang dikunyahnya. Malih takut mereka mengenalinya. Tangannya sedikit gemetar mengambil segelas teh hangat untuk mendorong ikan lele yang nyangkut di tenggorokannya.
Namun ternyata Kay dan temannya berjalan begitu saja melewati mejanya. Kay tak mengenalinya. Malih bernafas lega, tapi juga ingin buru-buru keluar dari tempat itu. Sayangnya dia enggak tega ketika melihat Sorin yang makan dengan lahap. Malih menahan diri untuk enggak buru-buru pergi. Dia melirik Kay yang duduk di sebelah mejanya.
Benar-benar enggak kenal dengan Malih sama sekali. Mungkin sebuah keberuntungan, tapi Malih tetap sedikit takut saat matanya bertatapan langsung dengan Kay. Malih langsung buang muka, pura-pura melihat ke segala arah. Hanya saja Kay malah jadi serius memperhatikannya.
“Lo berdua anak Dallasco, kan?” tanya Kay yang mendekati meja mereka.
“Iya? Lo siapa?” tanya Sorin yang lebih cepat menjawab pertanyaan Kay, karena Malih rupanya terlihat kurang nyaman.
“Kenalin gue Kayi Damara anak SMA lima belas. Itu tuh SMA yang ada di belakang gedung sekolah lo, tahukan?”
Di belakang SMA Dallasco memang ada SMA lima belas yang hanya terpisah oleh satu jalan alternatif. Dua sekolah yang berdekatan, tapi dari fisik bangunan saja jelas sekali kesenjangan di antara dua sekolah tersebut. Anak-anak SMA Dallasco terbiasa dengan hal-hal mewah, tapi pasalnya anak SMA lima belas juga tidak mau kalah. Namun peraturan di SMA negeri sangat ketat perihal seragam, kendaraan dan juga kebijakan sekolah lainnya dibandingkan dengan Dallasco.
“Iya, gue tahu kok. Tetangga gue juga ada yang sekolah di lima belas,” jawab Sorin jujur tanpa dikurangi atau dilebih-lebihkan.
Kay tertarik, dia menarik satu kursi untuk bisa duduk bersama Sorin dan Malih. “Siapa nama tetangga lo?”
“Namanya Safitri, kelas IPA Satu.”
Joni menimpali perkataan Sorin dari mejanya. “Itu bos cem-cemannya si Hardian, tapi Saftri sukanya sama kepala sekolah.”
“Uhuuk! Uhuuuk!” Malih tersedak. Bagaimana bisa si Joni bicara demikian tanpa beban.
Sorin menatap Joni dengan serius. Jadi gossip itu beneran?”
“Iya,” balas Joni semangat. “Itu udah nyebar, tapi kepala sekolah menutupi. Padahal yang tahu enggak sedikit. Temen sekelas gue pernah mergoikin si Saftri lagi pangku-pangkuan di ruang kepsek waktu dia mau minta izin anak KIR yang mau ikut lomba.”
“Pantesan aja ibu-ibu di kompleks rumah gue pada gosipin dia. Gue enggak percaya, karena enggak mungkin kan siswa pacaran sama kepala sekolah? Apalagi Safitri itu pakai keliahatan alim, tapi setelah denger dari lo kayaknya gue percaya deh,” Sorin menimpali cerita Joni dengan antusias.
Kini Malih dan Kay saling bertatapan melihat Sorin dan Joni yang sangat nyambung dalam urusan gossip. Kay jadi kesal sendiri yang berniat mengajak mereka ngobrol, tapi si Joni yang dapat feedback positif dari Sorin. Sedangkan Malih menepuk jidatnya sendiri. Dalam kehidupannya sebagai Malih, Kay dan teman-temannya itu adalah musuh, lalu kenapa sekarang seperti sahabat?
“Enggak benar ini sih,” lirih Malih merasa pertemuannya dengan Kay enggak nyambung sama sekali, tapi yang membuat Malih merasa lebih aneh adalah Kay yang terkesan baik. Jauh sekali sifatnya dengan Kay yang ada dalam kehidupannya sebagai Malih.
Kay menimpali ucapan Malih. “Emang enggak bener, padahal kan gue yang mau pedekate sama kalian. Biar gue punya temen tajir gitu, bosen juga temenan sama gembel.”
Kompak Joni dan Hardian menggeplak kepala Kay. “Bersyukur lo punya temen kek kita. Biar gembel kita setia, anti mendua,” balas Hardian.
“Kalin bertiga cocok,” Malih menambahi.
Joni bergidik ngeri. “Sorry, gue masih normal.”
Lalu mereka tertawa.
***
Sorin masih tertawa terbahak setelah pertemuannya dengan Kay, Joni dan juga Hardian. Mereka cepat sekali akrab sampai-sampai Malih menjadi kikuk sendiri berada di antara mereka ketika makan di warung pecel lele beberapa waktu yang lalu. Sorin mudah sekali bergaul dengan orang yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali.
“Kamu senang ketemu mereka?”
“Iya, mereka lucu. Aku pikir anak SMA lima belas enggak suka dengan anak-anak dari Dallasco, ternyata itu enggak benar.”
“Emang ada yang bilang gitu?”
Sorin mengangguk. Dia teringat cerita-cerita teman sekolahnya yang mengatakan bahwa anak-anak SMA lima belas memusuhi anak-anak SMA Dallasco karena perbedaan kasta yang mencolok. Jauh dari hal tersebut pasalnya ada salah satu siswi SMA lima belas ketahuan hamil oleh anak SMA Dallascco, hanya saja tak pernah ada bukti atau saksi yang mengetahui detail cerita itu, atau pun mengetahui siapa orang-orang yang terlibat di dalam cerita yang pernah santer itu.
“Seram juga ya,” timpal Malih. Dia kembali bertanya pada Sorin. “Itu kejadiannya kapan?”
“Waktu awal masuk SMA,” jawab Sorin sebelum menghentikan laju mobilnya karena lampu merah yang menyala di depan. “Seminggu setelah resmi jadi siswa Dallasco gosip itu nyebar. Mungkin karena masih baru jadi enggak banyak tahu.”
Otak detektif Malih mulai bekerja lagi. Jika hal itu terjadi karena penyebabnya adalah siswa Dallasco ada kemungkinan kasusnya ditutup dengan uang. Hanya saja itu masih kabar burung yang kepastiannya belum bisa dibuktikan. “Sorin?”
“Ya?”
“Lo sayang banget sama Malvin?”
Kening Sorin berkerut, terus ketawa dengan apa yang Malih tanyakan. Nada bicaranya seolah-olah bahwa yang di hadapannya sekarang bukan Malvin, ya walaupun itu benar. Hanya saja Sorin tahunya cowok yang bersamanya itu adalah Malvin. “Sorin sayang banget sama Malvin. Apakah Malvin yang tampan rupawan ini butuh pembuktian dari Sorin yang cantik jelita ini?”
Malih melempar tawa. Ada saja tingkah Sorin yang membuatnya geli. “Lampunya udah ijo.”
“Iya, tahu.”
Mobil yang melaju membuat Malih memejamkan matanya. Mulai hari ini dia harus terbiasa hidup sebagai Malvin sambil terus mencari tahu teka-teki kendi ajaib dan caranya agar bisa kembali menjadi sosok Malih, selain itu Malih juga berusaha untuk memberitahu Sorin bahwa dirinya bukanlah Malvin.
“Beb, di depan ada tukang penjual bakso ikan. Beli yuk?”
Mendengar itu mata Malih melek lagi. Kepalanya miring agar bisa melihat Sorin. “Kamu tadi makan habis dua piring, Sorin.”
“Cuci mulutnya kan belum,” balas Sorin dengan santainya.
“Sejak kapan orang cuci mulut pakai bakso ikan?”
Sorin ketawa lepas sambil terus mengemudi. “Sejak hari ini! Sejak Sorin memutuskan bahwa bakso ikan adalah cuci mulut setelah makan pecel lele.”
“Iyalah,” ujar Malih mengalah. Namun saat mobilnya berbelok Malih melihat seorang wanita yang mirip ibunya sedang berjualan kopi keliling dengan sepedanya. “Sorin! Berhenti di depan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Shogo Makishima
Bravo thor, teruslah berkarya sampai sukses!
2023-08-23
1