Malih berdiri di garasi mobil sambil tolak pinggang. Matanya menyapu semua jenis mobil yang terparkir di garasi. David bilang itu adalah mobil koleksi Malvin seutuhnya. Enggak ada mobil David di garasi tersebut. Mobil David ada di garasi paling belakang, katanya David cuma punya lima mobil. Malih hanya tersenyum kaku mendengar kata ‘cuma’ yang diucapkan David.
Kembali pada jajaran mobil milik Malvin yang masih dipandangi Malih dengan takjub. Bengong beberapa menit rasanya membuat Malih kehilangan kesadaran. Dia harus buru-buru memilih salah satunya. Hal yang mudah terpikir kemudian, Malih ambil mobil paling depan biar gambang keluar dari garasi.
“Oke gue pakai yang ini,” Malih meneliti jenis mobil itu untuk memastikan jenis kuncinya. Setelah yakin dengan tipe-nya, Malih kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil kunci. Sangat tidak efisien memang, tapi begitulah Malih suka sekali membuat rumit hidupnya sendiri.
“Kamu mau kemana?” tanya Amarillis yang melihat menuju garasi.
“Ketemu Sorin.”
“Mau bawa mobil sendiri? Udah enggak mabuk kan?” tanya Amarillis dengan kekehan kecil.
“Aman Mih,” jawab Malih walaupun sebenarnya dia deg-degan takut enggak bisa bawa mobilnya Malvin. Modalnya hanya yakin kalau otak dan kemampuan Malvin masih berfungsi dengan baik. Buktinya di sekolah Malih bisa mengikuti pelajaran dan bermain basket walapun sebelumnya Malih enggak terlatih sama sekali.
“Oke, kalau gitu hati-hati ya.”
“Siaap!” Malih tegap berdiri memberi hormat sebelum kemudian uji nyali dengan salah satu mobil Malvin. Berdo’a saja dalam hati semoga enggak pindah alam.
Satu mobil mantap jadi pilihan Malih. Kelihatannya juga paling gampang dan paling normal untuk dikendarai. Malih duduk dengan jantungnya yang jedag-jedug. Tangannya juga gemetar waktu narik sabuk pengaman, sampai meleset beberapa kali sebelum bunyi klik terdengar sebagai tanda sudah terpasang pas.
Pelan-pelan Malih menekan gas mobilnya, secara spontan otak dan gerakan tangannya sinkron untuk melajukan mobil yang dikemudikan. Malih sampai tercengang karena selancar itu dia mengeluarkan mobil dari garasi sampai ke gerbang rumahnya. “Anjir! Si Malvin multifungsi juga orangnya. Ahahaha… serba bisa maksudnya.”
Malih mengemudi dengan sempurna. Jantung yang sebelumnya berdetak kacau sudah kembali stabil. Malih menghela nafas lega. Sambil mengemudi, Malih berpikir tentang keberadaan Malvin. “Kalau gue ada di posisi Malvin sekarang, terus Malvin ada di mana? Sedangkan yang jadi gue di panti bukan Malvin. Gue harus cari tahu dimana tentang kendi itu?”
Ternyata otak Malih sangat berisik. Terus berputar segala macam pikiran yang belum ada jawabannya. Malih enggak paham dengan situasinya sekarang, meski pun dia cukup menikmati statusnya sebagai Malvin. Hanya saja Malih ini manusia normal yang ingin kehidupannya kembali normal. Ini bukan dongeng fantasi.
Matanya mungkin fokus pada jalanan, tapi Malih tetap memikirkan cara agar dunianya kembali seperti semula. Beberapa lama berpikir di perjalanan akhirnya Malih sampai juga di kediaman Sorin. Rumah besar Sorin tidak seperti kebanyakan rumah-rumah mewah di ibu kota yang bangunannya bergaya modern. Kediaman Sorin mengusung tema rumah adat Jawa Tengah. Bentuk rumah Joglo langsung menghadap ke gerbang.
Ada juga beberapa patung di sisi kiri dan kanan jalan menuju rumah. Sangat tradisonal. Kayu-kayu jati dan bata ekspose menjadi pondasi bangunan yang kokoh. Malih enggak mengira kalau rumah Sorin sangat tradisional. Mobil Malih diparkir di halaman berumput depan rumah. Sangat luas dan hijau. Ada juga beberapa pohon besar yang menaunginya. Alih-alih sejuk di mata Malih pohon-pohon itu terlihat sangat angker.
Dari dalam mobil Malih bisa melihat Sorin yang keluar dari rumah menyongsong dirinya. Cewek itu berdiri di sisi pintu mobil. Malih menurunkan kaca jendelanya. “Kok enggak bilang mau main ke sini?”
“Kesal di rumah,” balas Malih.
Sorin kemudian menyingkir dan membiarkan Malih turun dari mobil. “Tumben banget kamu mau kesini, biasanya juga ke apartemen.”
“Emang enggak boleh ke rumah calon mertua?” tanya Malih menggoda Sorin.
“Boleh aja sih, cuma serius deh aku kaget waktu lihat mobil kamu udah ada di sini.”
Malih sebenarnya enggak ngerti kenapa Malvin enggak pernah datang berkunjung ke kediaman orang tua Sorin. “Sesekali.”
Jika Malih adalah Malvin, maka Malvin akan memilih apartemen Sorin yang akan dikunjunginya. Bahkan saat Sorin mengatakan kalau dia ada di rumah orang tuanya, Malvin akan tetap meminta Sorin bertemu di apartemen. Hari ini jadi aneh karena Malvin yang Sorin kenal tidak mempermasalahkan bertemu di kediaman orang tua Sorin. “Di sini cuma ada eyang. Mama sama papa lagi kerja. Enggak apa-apa, kan?”
“Emangnya eyang kamu suka makan daging manusia?”
“Ya enggak. Aku takutnya kamu enggak nyaman aja sama eyang kayak waktu kamu ketemu di hari ulang tahun eyang,” jelas Sorin mengingat kejadian saat ulang tahun neneknya beberapa waktu yang lalu, tetapnya sehari sebelum Malih berubah menjadi Malvin.
“Mungkin waktu itu aku grogi. Sekarang kayaknya aku harus berusaha mendekatkan diri deh sama eyang kamu biar dapat restu.”
Sorin memukul lengan Malih sekuat tenaga yang dia bisa sampai Malih terhuyung. “Ih! Omongan kamu bikin aku malu tahu.”
Malih mengusap lengannya. “Malu sih malu, tapi jangan pakai nabok juga Sorin. Ini namanya KDP.”
“Hah?! KDP apaan?”
“Kekerasan Dalam Pacaran, hehehe.”
“Pacar aku yang ganteng ini makin hari makin enggak waras. Jadi makin sayang akunya,” ujar Sorin dengan kedua tangannya mencubit pipi Malih.
Dan tiba-tiba saja detak jantung Malih jadag-jedug lagi ketika tatap mata mereka bertemu.
***
Malih diajak berkeliling rumah oleh Sorin. Sejauh yang Malih lihat isi rumah Sorin ini sangat tradisonal sekali. Ketika Malih menatap wajah Sorin, jelas jauh berbeda dengan isi rumahnya. “Rumah orang tua kamu tradisional banget ya, tapi muka kamu bule.”
“Itu karena papa sangat mencintai mama,” jelas Sorin berbangga dengan darah campuran yang dimilikinya dan juga bangga dengan tanah airnya. “Kamu tahu enggak kalau aku bisa masak di tungku?”
Kening Malih berkerut. “Emang masih ada di Jakarta yang pakai tungku?”
Tanpa menjawab pertanyaan Malih, Sorin dengan cepat menarik tangan Malih. Membawa cowok itu menuju bagian belakang dari rumahnya. Melewati dapur bersih dan juga kamar asisten rumah tangga. Sedikit turun mengundaki tiga anak tangga, mereka sampai. Di tempat yang dipijak Malih sekarang jelas sangat-sangat tradisional.
Dindingnya masih berupa dinding bambu dengan jendela kayu yang terbuka lebar. Ada tumpukan kayu di sisi ruangan, dan juga beberapa panci dan wajan penggorengan menggantung di dinding dengan bagian belakang yang hitam. Tungku kayu tepat berada di bawah jendela. Terbuat dari bata dan tanah liat yang diplester semen unfinished. Ada dua lubang tungku untuk memasak, satu tungku tampak masih mengepul.
Tiba-tiba Malih berteriak kaget. “Ayam!” tepat ketika eyang-nya Sorin masuk ke dapur lewat pintu belakang yang terbuka.
Mata eyang menatap Malih dengan tajam. Rambut putihnya yang digelung dengan beberapa helai lepas dari gelungan membuat Malih teringat dengan film horror yang ditontonnya. “Maaf Eyang, saya kaget tadi.”
Lantas Malih buru-buru mendekati eyang membantu wanita berkebaya itu untuk jalan, tapi eyang menepis tangan Malih. “Saya bisa sendiri.”
“I-ya, silahkan Eyang.”
Malih mengalah dengan membiarkan eyang berjalan sendiri. Wanita tua itu mengambil wadah berisi sayuran dari atas meja kayu. Rupanya hendak memasak lodeh. Sorin lalu menghampiri Malih yang masih bengong dengan apa yang eyang lakukan.
“Eyang sudah biasa masak di tungku, dan kadang eyang enggak mau makan kalau masakannya enggak dimasak di tungku,” jelas Sorin mengundang Malih untuk lekat memandangnya.
“Kok gitu?”
“Eyang enggak mau melupakan dari mana dia berasal, gitu katanya.”
Kembali memandangi dapur kesayangan Eyang, mata Malih menyapu seluruhnya. Sampai di melihat sebuah kendi serupa berada di rak kayu tempat penyimpanan gerabah koleksi eyang. Pelan-pelan Malih mendekati rak itu, sangat penasaran dengan kendi yang tenang tersimpan di sana. Namun saat Malih hendak meraihnya, tongkat eyang melayang memukul lengannya.
“Jangan disentuh!” seru Eyang melotot pada Malih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments