Ini mirip kayak waktu pertama kali Malih menjadi sosok Malvin. Suara merdu Amarillis terdengar lagi menyanyikan lagu yang sama. Minggu pagi Malih terasa bagaikan di surga. Enggak ada suara dangdut koplo, juga enggak ada suara kuncing tetangga lagi kawin. Rasanya makin malas buat membuka mata, tapi Malih ingat kalau pagi ini dia ada misi merampok mini market rumah Malvin.
Malih membuka matanya, melihat Amarillis yang duduk di kursi goyang dekat jendela. Malih jadi heran kenapa di kamar Malvin ada kursi goyang yang biasanya untuk nenek-nenek, dan satu pertanyaan lagi kenapa Amarillis pagi-pagi selalu ada di kamarnya? Selalu bernyanyi lagu yang sama. Kalau kemarin sambil merajut, kali ini Amarillis sambil membuka-buka album masa kecil Malvin.
“Mami lagi lihat apa?” tanya Malih begitu bangun dari tidurnya.
“Oh, kamu sudah bangun,” sambutan hangat Amarillis dibarengi senyum nyatanya masih membuat Malih ngeri. “Mami lihat foto-foto kamu waktu kecil. Lucu-lucu, mau lihat?”
Malih menggeleng, dia turun dari tempat tidur. “Saya mau keluar ya, Mih.”
“Kok kamu masih pakai kata saya? Apa efek kecelakaan kemarin masih ada?”
Malih jadi gugup sendiri. Dia enggak tahu Malvin darinya apa pada keluarganya. Menghindari canggungan itu, Malih pintar mengelak. “Mami enggak suka ya? Gimana kalau Malvin pakai kata Ogut aja?”
Amarillis geleng kepala. “Jangan ah! Mami dengernya kayak nama onta. Udah, kayak biasanya aja pakai nama sendiri. Enggak usah aneh-aneh.”
Nah! Akhirnya Malih jadi tahu harus menyebut apa untuk dirinya. Kembali dia bertanya. “Jadi Malvin boleh pergi enggak, nih?”
“Kemana?”
“Jalan-jalan aja, bosan di rumah terus.”
Amarillis tidak langsung menjawab. Dia diam sesaat lalu bertanya. “Sorin ikut? Rajata atau Delon?”
“Malvin mau jalan sendirian, Mih. Enggak apa-apa kan?”
“Ditemani pak Sapri ya?” Amarillis masih menawar, masih tergurat raut bingung di wajahnya.
Kini giliran Malih yang diam, rasanya kemarin dia bilang mau keluar gampang sekali dapat izinnya. Sekarang seperti dipersulit seperti saat membuat kartu sehat di kelurahan. “Waktu kemarin mami kasih izin, tapi Malvin enggak jadi pergi karena diajak Sorin.”
Amarillis mendekati Malih, meraih kedua pundak putranya itu dan mengusapnya lembut. “Kemarin kan karena ada Sorin. Kalau hari ini kan kamu mau sendiri. Ingat kamu baru saja kecelakaan, Mami khawatir. Jadi diantar pak Sapri aja ya?”
Pada akhirnya Malih mengangguk setuju. Lagi pula tujuannya adalah panti asuhan tempatnya tinggal. Malih ingin membagi makanan dengan anak-anak di sana. “Oke, tapi aku mau bawa makanan yang banyak dari sini.”
“Ambil aja, kamu mau apapun silahkan ambil.”
“Terima kasih, Mami.”
“Ya sudah kalau gitu Mami tunggu di meja makan ya,” ucap Amarillis lalu mengusap puncak kepala Malih.
Selepas Amarillis berlalu Malih jadi curiga. Lagi-lagi jiwa sok detektif-nya keluar. Otaknya penuh dengan kecurigaan-kecurigaan yang enggak masuk akal, tapi versi Malih kecurigaannya sangat masuk akal. “Maminya si Malvin agak aneh sih. Patut dicurigai, oke gue harus buat daftar orang-orang yang gue curigai, tapi sekarang gue harus mandi dulu.”
Belum juga Malih masuk kamar mandi, matanya teralihkan oleh album yang sebelumnya dilihat oleh Amarillis. Tiba-tiba saja jadi tertarik. “Gue intip sebentar saja kali ya.”
Album di atas kursi goyang itu Malih buka. Halaman pertama menampilkan foto ulang tahun Malvin yang ke tujuh tahun. Malih jadi termenung karena foto masa kecil Malvin sangat mirip dengannya. Rupa wajahnya sama persis, bedanya Malih enggak punya foto ulang tahun seperti Malvin. Halaman-halaman berikutnya dibuka perlahan, bahkan sampai di usia Malvin yang ke sepuluh tahun, wajahnya masih sama dengan Malih. Penuh rasa penasaran Malih mencari beberapa album foto lagi.
Wajahnya serupa dengan Malvin, namun dari semua itu hal yang paling mengganjal adalah tidak adanya foto-foto saat bayi.
“Ini sebenarnya kehidupan gue atau Malvin? Ada apa sih ini?” tanya Malih kesal sendiri. Dia tutup albumnya, lalu disimpan lagi ke atas kursi. “Ini yang salah kendi ajaib itu, apa Tuhan salah kasih gue kehidupan?”
Enggak ada satu jawabanmu yang terlintas di otak Malih. Sampai Malih semakin kesal dengan mengacak-acak rambutnya. “Apakah ini karena gue masih bau iler makanya, kepala gue rasanya mau pecah? Ya! pasti karena bau iler gue. Oke! Gue harus mandi.”
***
Panti asuhan Selaras masih sama seperti kali terakhir Malih menempatinya. Anak-anak di sana berlarian di halaman. Malih bisa menebak kalau di dalam sana, tepatnya di dapur ibunya—Ani Wibowo pasti sedang memasak untuk anak-anak yang tanpa ikatan darah dengannya, namun Ani menyayangi mereka seperti anak-anak yang lahir dari rahimnya.
“Aden mau turun apa mau ngeliatin aja?” tanya Sapri yang bingung dengan tingkah tuan mudanya. Sejak sampai sekitar lima belas menit yang lalu, Malih belum juga turun dari mobil. Hanya termenung memandangi panti asuhan itu.
“Menurut Pak Sapri gimana?” Malih balik tanya tanpa ekspresi bikin pak Sapri makin bingung.
“Aduh Den, jangan buat saya tambah bingung dong. Bulan ini saya sudah cukup bingung sama biaya sekolah anak-anak saya. Si sulung mau masuk kuliah, anak tengah mau study tour, terus si kembar mau masuk TK, dan sekarang Aden tanya saya untuk masuk atau cuma lihatin aja pantai asuhan itu? Itu sama dengan menambahi beban hidup saya.”
Otomatis mata Malih langsung mengarah ke pak Sapri yang curhat padanya. “Hidup pak Sapri masih lebih beruntung dari pada saya.”
“Lah?!” pak Sapri jadi semakin setres. “Jadi Aden ini maunya gimana? Terus terang aja deh Den, jangan kasih kode-kode. Enggak paham saya.”
Malih menepuk keningnya, tiba-tiba merasa bodoh karena perihal turun dari mobil atau hanya melihat panti saja jadi sangat drama. “Saya turun, Pak.”
Pintu mobil akhirnya dibuka. Malih turun dengan membawa beberapa kantong makanan yang dia bawa sendiri dari rumahnya. Sempat ditanya macam-macam oleh David, akhirnya Malih mengatakan hal yang sebenarnya. Ya walaupun enggak benar-benar banget, karena Malih mengatakan kalau temannya ada yang mau mengunjungi panti asuhan, dan dia diajak. Biar makanan di rumahnya bermanfaat, makanya Malih bilang kalau dia mau bawa makanan ke panti.
Alasan logis yang enggak mungkin ditolak David, bahkan David memberinya beberapa lembar uang cash untuk panti tersebut. Cash dalam amplop cokelat yang Malih yakini jumlahnya enggak sedikit. Pak Sapri juga ikut turun, membantu membawa sisa barang bawaan.
Seorang anak kecil cewek menghampiri Malih. “Kakak siapa?”
“Nama kakak Malvin.”
“Owh kak Malvin. Aku Nanda, kakak mau ketemu ibu?” meski sebenarnya Malih tahu siapa anak itu, tapi dia pura-pura datang sebagai orang asing.
“Iya, ada?”
“Ibu lagi di dapur, lagi masak.”
Benarkan emaknya lagi masak? Nanda berlari masuk sambil teriak memanggil emaknya dengan suaranya yang jenaka. Malih mengikuti, beberapa anak di halaman memperhatikan Malih. Mata-mata mereka tampak berniar senang ketika melihat bungkus-bungkus snack mengintip keluar dari kantong plastik yang penuh. Malih tahu perasaan itu, dia pernah merasakan hal yang mereka rasakan ketika melihat seseorang yang datang ke panti dengan membawa buah tangan.
Anak-anak di panti asuhan Selaras tidak selalu mendapatkan bantuan dari pemerintah. Tidak juga mengandalkan dari orang-orang dermawan yang datangnya hanya sesekali. Hal yang wajar ketika anak-anak itu melihat ada yang datang membawa makanan. Mereka akan senang, paling tidak punya stok makanan di lemari yang bisa dinikmati bersama saat nonton tv.
Malih berhenti di depan pintu ketika di berhadapan dengan Malih lainnya. Cowok itu tersenyum padanya. Ramah seperti dirinya. “Lo yang semalam, kan?”
“Iya, gue sengaja ke sini mau kasih makanan buat mereka,” balas Malih dengan matanya yang melirik anak-anak di halaman.
Malih lainnya jadi terharu. “Senang banget gue masih ada anak muda yang dermawan kayak lo. Mau gue bantu?”
“Oh iya ini,” Malih memberikan kantong-kantong makanan itu pada Malih lainnya. Agak aneh buat Malih karena harus ketemu Malih. “Ibu ada?” tanyanya sopan. Enggak mungkin kalau dia sebut emak.
“Ibu masih di dapur. Semalam ibu senang karena lo kasih duit lebih, jadi pagi ini anak-anak bisa makan ayam goreng.”
Padahal hanya ayam goreng seperti yang Malih tahu. Anak-anak di sini jarang sekali bisa makan-makanan enak. Emaknya biasanya beli ayam ketika ada uang lebih, kalau lagi enggak ada ya emaknya masak tempe sama kangkung untuk sepuluh anak yang dirawatnya. Malih menghela nafas lega, rasanya seperti pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments