2. Anak Tajir

Kepalanya terus memikirkan mengapa dirinya menjadi Malvin. Mengaitkan beberapa kejadian sebelumnya, bahkan setelah keluar dari kamar mandi otak Malih yang jarang dipakai itu kini dipaksa keras untuk mengingat kejadian sebelum hari ini. Kaki bolak-balik di depan pintu kamar mandi.

“Ah! Enggak ada jawabannya. Ini kayak ulangan hari pak Somad. Susah,” Malih mengoceh pada dirinya sendiri.

Lalu kaget ketika Amarillis masuk. “Kok belum pakai seragam?”

“Hehehe… Iya, ini mau kok,” balas Malih canggung.

Amarillis—wanita yang merdu suaranya itu tersenyum pada Malih. “Ya sudah kalau gitu Mami tinggal dulu ya. Nanti kalau sarapannya sudah siap, Mami panggil kamu.”

“I-iya.”

Malih menyambar seragam yang siap di atas tempat tidurnya. Seragam Dallasco international high school yang selalu jadi impian Malih, pagi ini benar-benar dipakainya. Sekolah mahal yang Malih hanya bisa memandanginya ketika pergi dan pulang sekolah. Malih takjub melihat diri sendiri dalam cermin dengan rupa yang menawan. “Ini sebenernya apa yang salah ya? Kok gue berubah jadi Malvin?”

Malih mirip dengan pengantin wanita yang sedang dirias, lama memandangi dirinya dalam cermin. Badannya diputar-putar. Miring ke kiri buat lihat tampilannya, lalu miring ke kanan memastikan kalau itu adalah dia. Ya tetap saja hasilnya Malvin. Malih itu hitam buluk, sedangkan Malvin putih menawan. Kalau suara mami enggak nyaring terdengar, mungkin sepuluh tahun lagi pun Malih akan tetap betah berada di depan cermin.

“Malvin! Sayang! Sarapan dulu, Nak!”

“I-iya!”

Memenuhi panggilan nyonya Amarillis, Malih setengah berlari keluar dari kamarnya. Namun mendadak dia mengerem langkah kakinya saat menyadari bahwa ruangan di luar kamarnya sangat mewah dan megah. Lampu kristal menggantung di atas langit-langit ruangan, tangga spiral klasik terbagi menjadi dua bagian kiri dan kanan membentuk setengah lingkaran. Railing tangga yang dibuat dari besi itu dicat hitam dengan pegangan berwarna emas. Karpet klasik hitam menjadi alas pijakan anak tangga. Malih melongok ke bawah melihat kondisi rumah megah Malvin. Lebih mirip ballroom hotel dari pada disebut rumah pribadi.

Malih menarik nafasnya. Sebisa mungkin dia bersikap normal. Itu adalah hal yang ada dalam pikiran Malih, dia harus menjadi Malvin untuk mengetahui situasinya sekarang. Pelan-pelan dia menuruni anak tangga yang rasanya sayang banget buat diinjak-injak. Seumur hidupnya Malih baru melihat jenis karpet semewah itu. Di rumahnya cuma ada tikar pandan yang dianyam kakeknya dulu. “Ini karpet kalau punya emak gue enggak akan dikeluarin dari lemari, kecuali  pas lebaran.”

Di ujung anak tangga ada Amarillis yang melihat putra semata wayangnya bertingkah aneh. “Kamu kenapa jalannya jinjit begitu?”

Gubrak!

Satu pertanyaan itu lolos membawa Malih pada kecelakaan tali sepatu yang diinjaknya sendiri. Mulus pada lima anak tangga terakhir, Malih nyungsep sampai menyentuh kaki Amarillis. Melihat anak kesayangannya jatuh dengan cara paling enggak aestetik bikin Amarillis histeris. Sampai para asisten rumah tangganya berlarian menghampiri, termasuk sang suami—David.

“Tidaaaaaak!” Amarillis buru-buru memeluk Malih yang masih mencium lantai itu. “Baby, kamu enggak apa-apa? Kamu enggak luka kan?”

“Ada apa ini, Mih?” tanya David yang berlari dari kamarnya karena mendengar teriakan istrinya.

Amarillis menangis, matanya berkaca-kaca. “Your lovely son jatuh dari tangga, Pih! Panggil dokter Sean sekarang!”

Malih buru-buru bangun, melepaskan diri dari pelukan Amarillis. “Saya enggak apa-apa kok. Tadi kepleset aja.”

“Kamu yakin?” tanya David memastikan keadaan penerus tahtanya itu.

“Yakin!” balas Malih mantap.

“Ya sudah kalau begitu sekarang kita sarapan biar kamu enggak telat ke sekolah,” ajak David merangkul putranya menuju ruang makan.

Sedangkan Amarillis masih syok, jantungnya masih kencang bergedup. Sampai-sampai dua asisten rumah tangganya memegangi Amarillis. “Nyonya mau saya buatkan teh melati?”

“Jangan pakai gula ya, Bi.”

“Baik Nyonya,” bi Narti segera saja kembali ke dapur. Nyonya besarnya itu selalu hiperbola ketika menghadapi si putra semata wayang. Ya walaupun begitu bi Narti menyikapinya dengan wajar, karena menurut cerita untuk mendapatkan seorang anak Amarillis harus berusaha selama bertahun-tahun. Menjalani berbagai program kehamilan, tapi selalu gagal. Di usia yang ke tiga puluh tiga Amarillis baru dinyatakan hamil. Penuh kehati-hatian Malvin yang masih janin itu disayang sepenuhnya.

Malvin bagi Amarillis adalah bayi mahal yang dia pertaruhkan dengan nyawanya sendiri. Seekor nyamuk jika berani menyakiti putranya, Amarillis akan menginjaknya sampai tak berjejak.

Di meja makan Malih bukannya menikmati sarapannya, dia justru bengong membuat David keheranan. “Apa menunya kamu enggak suka?”

Mata Malih berkedip beberapa kali. Sosis jumbo, telur mata sapi, roti gandum panggang dan segelas susu low fat. “Ini buat saya makan?”

“Ya iya dong, itu mami kamu yang buatkan. Apa kamu mau ganti menunya?”

“Enggak usah, saya makan ini saja,” sergah Malih dengan cepat. Sosis di atas piringnya dia tusuk dengan garpu, dan hap! Malih menikmatinya. “Ini enak, saya enggak pernah merasakan makan sosis seenak ini.”

Pernyataan Malih tentu saja membuat Amarillis yang baru bergabung di meja makan langsung menatap bingung pada sang suami. Apalagi Malih selalu menyebut dirinya dengan saya. “Bukannya kamu sering makan sosis ini?”

Malih berhenti mengunyah. Mulutnya menggembung penuh, dia menatap Amarillis dengan canggung. “Maksudnya ini… ini rasanya kayak saya baru makan setelah bertahun-tahun.”

“Kamu yakin baik-baik saja, sayang? Kita ke dokter saja gimana? Semalam kamu habis kecelakaan, lalu tadi jatuh. Mami khawatir otak kamu geser sebelah.”

“Mami,” David memperingatkan agar sang istri enggak berkata sembarangan.

“Pih! Mami kan khawatir. Dia anak satu-satunya kita. Papi juga merasakan perjuangan kita selama bertahun-tahun buat dapatin Malvin. Mami enggak rela ya kalau Malvin kenapa-napa.”

“Iya, nanti siang Papi jemput Malvin dari sekolah. Kita ketemu dokter Sean,” bujuk David.

“Pagi ini pokoknya, sebelum ke sekolah. Telat dikit enggak apa-apalah, Papi tinggal bilang ke kepala sekolah kalau Malvin dari rumah sakit.”

Selagi Amarillis dan David berdebat soal pemeriksaan, Malih cuma bisa menyimak. Matanya ikut bergerak melihat giliran siapa yang bicara, tapi mulutnya tetap enggak berhenti makan. Di tengah-tengah perdebatan itu seorang supir menghampiri mereka.

“Maaf, Den Malvin hari ini mau pakai mobil yang mana ya?”

“Hah?! Mobil apa?”

Supir itu melihat pada David, lalu kembali pada Malih. “Mobil, biasanya kan Aden suka kasih tahu saya mau pakai mobil mana buat ke sekolah.”

Ucapan sang supir dibalas oleh David. “Hari ini Malvin ke sekolah dengan saya, Pak.”

“Oh, begitu. Baiklah saya permisi dulu.”

Begitu selesai sarapan David bersiap mengantarkan Malih ke sekolah. Lewat pintu belakang yang terhubung dengan garasi utama, Malih dibuat kaget melihat jajaran mobil mewah di depan matanya. Bengong kayak anak kecil tersesat di keramaian. Dibandingkan garasi, apa yang malih lihat kini lebih mirip disebut dengan pameran mobil. David menepuk pundaknya.

“Itu mobil-mobil kamu, lupa? Kayaknya benar kamu harus segera ke rumah sakit.”

***

   Malih lesu saat sampai sekolah. Pukul setengah sepuluh dia baru datang. berkat kekuatan uang orang tuanya Malih dalam sosok Malvin bisa leluasa izin kapanpun yang dia mau. Dia datang saat jam pelajaran berlangsung, David langsung pergi ke kantor begitu selesai bertemu kepala sekolah dan guru piket. Sekarang Malih sendirian di tengah-tengah lapangan. Bukan! Bukan karena dihukum, tapi dia bingung enggak tahu kelasnya dimana.

“Gue kelas berapa ya? Kelas gue dimana? Ini sekolah apa apartemen?”

Mau tanya ke guru piket, tapi Malih takut. Nanti pasti dikira hilang ingatan lagi, jadi yang dia lakukan berdiam diri di tengah lapangan. Berharap ada teman sekelas yang lihat dia, terus ajak dia masuk, dan benar saja ada seorang siswa yang berteriak padanya.

“Bos! Ngapain lo di situ? Dihukum lo?!” tanya siswa tersebut. Mata Malih memindai cowok itu. Tinggi, kurus dan sedikit cantik untuk seorang cowok. Malih enggak kenal dia, tapi dari cara dia bicara padanya Malih yakin kalau mereka dekat.

“Lagi lihatin langit, bagus.”

“Iseng banget lo,” Rajata—sahabat Malvin menghampiri Malih ke tengah lapangan. “Udah buruan ke kelas, bentar lagi pergantian jam.”

Malih menurut, dia mengikuti langkah Rajata menuju kelas. Anehnya, akses menuju kelas tidak menggunakan tangga. Ada lift khusus yang tersedia untuk para murid, sedangkan tangga digunakan hanya untuk keadaan darurat. Di sekolah negerinya tidak ada lift seperti sekolah ini.

“Si Onad bilang semalam lo kecelakaan sama dia, tapi lo kok baik-baik saja. Lo enggak ada lecet gitu?” tanya Rajata membuat Malih berhenti memikirkan lift bagus itu.

“Kata papi cuma nyerempet tiang listrik aja,” jawab Malih berdasarkan apa yang sudah disampaikan oleh David.

“Cuma nyerempet? Si Onad sampai patah tulang, Bro. Dia masih di rumah sakit.”

Malih garuk-garuk kepala belakang yang sebenarnya enggak gatel. Dia enggak tahu menahu perihal kecelakaan semalam. Aneh juga karena sosok Malvin ini raganya baik-baik saja tanpa gores sedikitpun, tapi karena jiwanya adalah Malih yang kebingungan sampai dikira kepalanya mengalami cedera. Namun hasil CT scan hasilnya baik-baik saja.

“Hehehe… gue belum lihat keadaan Onad,” jelasnya padahal enggak tahu siapa Onad mereka bicarakan.

“Ya sama gue juga belum, gue baru tahu tadi pagi. Siang ini rencananya mau ke sana, ikut ya?”

“Iya.”

Ting!

Pintu lift terbuka. Mereka sampai di lantai tiga. Malih terus mengikuti langkah Rajata menuju kelas, saat Rajata masuk ke kelas IPA satu Malih berhenti melangkah. Kelas unggulan, padahal di sekolahnya dulu dia adalah anak IPS. Mana mungkin bisa bertahan di kelas IPA seperti sekarang ini. Rasanya Malih setres duluan sebelum masuk kelas.

“Guys! Our prince has come!” seru Rajata di depan pintu kelas, dia menyingkir membiarkan Malih masuk.

Seorang murid perempuan berlari menghampirinya, dan langsung memeluk Malih. “Baby, aku khawatir tahu waktu tadi pagi mami bilang soal kondisi kamu. Tadinya aku mau langsung ke rumah kamu, tapi kata mami kamu pergi ke dokter.”

Malih melepaskan pelukan dengan hati-hati. Siswi yang memeluknya itu bernama Sorin Liga Fillosa, dilihat dari name tag yang terpasang di dada. “Saya enggak apa-apa kok.”

Sorin bingung menatap Malih, tapi kemudian dia memaklumi. “Syukur deh kalau begitu. Ayo duduk!”

Saat Malih baru saja duduk, seorang siswa menepuk pundaknya. “Semalam lo kecelakaan dimana?”

“Lupa, habis jalannya gelap.”

“Iya juga ya. Gue tanya si Onad, dia juga bilang lupa. Ogeb sih lo berdua, segala mabuk malah bawa mobil sendiri. Padahal Kan bisa minta gue atau Rajata buat jemput.”

Malih terbantu dengan adanya papan yang terpasang di setiap seragam siswa-siswi, jadi dia tahu siapa yang mengajaknya bicara. Delon Putra Siswondo, keturunan China bermata sipit. “Gue minta papi, tapi papi suruh Onad yang jemput.”

“Iyalah, soalnya kan semalam Onad lagi ada di rumah kamu. Katanya dia lagi minta makan sama mami,” ujar Sorin yang duduk di meja sisi kiri Malih. Menimpali percakapan Delon dan Malih.

“Minta makan?” tanya Malih bingung.

“Onad sepupu kamu tersayang itu hobinya emang minta makan. Enggak di rumah kamu, ya di rumah aku.”

Dari cara bicaranya Malih yakin jika cewek cantik yang memeluknya itu punya hubungan khusus dengan Malvin. “Emang begitu, namanya juga Onad,” balas Malih pura-pura memahami situasinya. Padahal dari tadi Malih terus berpikir tentang siapa Onad? Rupa wajahnya seperti apa? Wangi atau bau tukang ojek?

“Dulu enggak ya, sebelum kita pacaran Onad enggak pernah minta makan ke rumah aku. Kelakuannya udah kayak gembel kere, tiap ke rumah minta makan. Ngabisin stok snack, padahal papanya Onad kan yang punya Lestari Food.”

Rajata dan Delon tertawa mendengar gerutuan Sorin.

“Harusnya dia ngambil aja yang dari gudang Lestari Food,” timpal Rajata.

Delon menambahi. “Onad kalau kelakuannya waras, gue yakin itu bukan Onad. Dia pasti lagi kesurupan.”

   Sementara itu jauh di rumah sakit sana ada sosok Onad yang mengusap telinganya dengan kasar hingga memerah, seolah merasakan bahwa dirinya sedang jadi bahan gossip.

 

Terpopuler

Comments

Drra Andini

Drra Andini

harusnya prince, 😁

2023-09-03

1

Rahma Hayati

Rahma Hayati

semangat!

2023-08-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!