Bel berbunyi sebagai tanda kegiatan belajar mengajar hari ini usai adalah hal yang paling menyenangkan untuk didengar oleh hampir seluruh siswa-siswi Dallasco. Termasuk si Malih yang sejak tadi sudah gelisah di tempat duduknya. Mirip kayak cewek lagi datang bulan yang takut bocor. Onad sampai bertanya berkali-kali karena Malih pantatnya gerak-gerak terus. Enggak tahan ingin buru-buru keluar dari kelas.
“Heran gue dari tadi lo gelisah banget,” keluh Onad melihat Malih yang memasukan alat tulisnya dengan cepat. “Lagian lo enggak bisa buru-buru balik. Heksa minta kita datang ke markas.”
“Ini lebih mendesak dari pada urusan geng motor. Bilang ke Heksa kalau gue enggak jadi tertarik jadi penerus dia,”
“Hah?! Serius lo? Eh Malvin! Lo itu kandidat paling kuat. Heksa sendiri yang pilih lo. Temen-temen seangkatan kita yang join Heksa juga pada setuju sama lo.”
“Setelah dipikir-pikir lagi kayaknya mereka setuju karena gue punya duit,” balas Malih setelah sebelumnya dia mendengarkan segala obrolan Onad, Rajata dan juga Delon terkait pencalonan dirinya.
“Vin, lo kok berubahnya mendadak banget sih? Gini deh, gimana kal….”
“Gue buru-buru!” Malih begitu selesai memasukan semua alat tulisnya, langsung berlari ke luar kelas. Bahkan Sorin yang memanggilnya pun diabaikan. Rencana hari ini harus tercapai. Malih enggak mau menyia-nyikan waktu lebih lama lagi untuk mencari tahu cara agar dirinya kembali.
Dan keputusannya adalah dengan cara menyelesaikan teka-teki tentang keberadaan Malvin yang asli, juga rahasia kendi ajaib itu. Malih sudah bertekad, dia enggak akan mundur selangkah pun. Pulang sekolah hari ini dia mengendarai mobilnya keluar dari gerbang sekolah menuju Tanjung Priok. Jalanan macet ibu kota sedikit menghambat perjalanan Malih. Semeraut jalanan serupa dengan pikirannya akhir-akhir ini.
Saat lampu merah menyala Malih mengalihkan perhatiannya pada beberapa penjual makanan dan minuman yang turun ke jalan. Teringat masa-masa ketika dia benar-benar menjadi Malih. Ada banyak harapan dari setiap dagangan yang dibawa. Ketika seorang anak kecil menyodorkan minuman lewat jendela, Malih menurunkan kacanya. Seulas senyum terbit di bibirinya. “Ada berapa minumannya?”
“Ada sepuluh botol, Kak.”
Malih melihat pada kardus yang dijadikan wadah oleh anak kecil dengan kulit hitam dan rambut kemerahan akibat terlalu lama hidup di jalanan. “Kakak mau satu.”
Namun uang yang diberikan Malih lebih banyak dari harga sebotol minuman yang dibelinya. “Kak uangnya kebanyakan.”
“Buat kamu,” balas Malih.
Belum sempat bocah lelaki itu membalas, lampu yang menyala merah sudah mengalihkan perhatian Malih untuk segera melajukan mobilnya. Sebotol air mineral dingin Malih buka sambil mengemudi. Air segar membasahi tenggorokannya yang kering. Dahaganya hilang, lebih dari cukup untuk Malih merasa tenang.
Malih belum tahu benar letak pasti rumah singgah yang sering dikunjungi Malvin, namun ada secarik kertas terselip dalam buku harian Malvin yang dipenuhi dengan gambar-gambar buatan tangan seseorang. Mengandalkan Global Positioning System Malih melajukan mobilnya mengikuti arahan yang tertera.
Mobilnya berhenti di depan sebuah warteg paling dekat dengan lokasi yang ditujunya. Malih perlu bertanya pada penduduk sekitar untuk sekedar mencari informasi tambahan. Meski terkesan terlalu mencolok, namun Malih bisa menyesuaikan dirinya. Turun dari mobil, Malih langsung masuk ke dalam warteg.
“Bu, saya mau pesan.”
Seorang wanita berdaster datang menghampiri. Berdiri di balik etalese. “Mau apa, Den?”
“Ayam goreng, tumis kangkung, tempe orek sama sambel.”
“Terus minumnya mau apa?”
“Es teh aja, Bu.”
“Baik,” wanita pemilik warteg mengambilkan pesanan Malih dengan telaten. “Aden udah lama enggak ke sini, ibu pikir udah enggak ketemu lagi sama Daniella.”
Mendengar kalimat itu tentu saja Malih langsung kaget, tapi sebisa mungkin dia bersikap santai agar tak mengundang curiga. “Lagi sibuk sama sekolah, Bu.”
“Owh begitu. Sejak Aden enggak datang, Daniell juga enggak datang. anak-anak di rumah singgah pada tanyain kalian.”
“Daniella enggak datang kenapa ya, Bu?” tanya Malih penasaran.
Wanita itu—bu Laras memberikan sepiring nasi pesanan Malih. “Ibu enggak tanya. Cuma terakhir kali Daniella pesan makanan di sini itu sekitar seminggu yang lalu, lebih malah.”
“Ibu tahu enggak dimana rumahnya Daniella?” tanya Malih lagi.
“Lho memangnya Deniella enggak kasih alamatnya ke Den Malvin?”
“Enggak, Bu.”
Bu Lastri mengangguk seakan mengerti sesuatu. “Oh iya, ibu ngerti. Daniella memang sangat tertutup. Ibu juga enggak tahu secara langsung, tapi waktu itu dia order makanan banyak dan minta dikirim ke rumahnya. Sebentar kayaknya ibu masih simpan alamat rumahnya,” bu Lastri lantas masuk lewat sebuah pintu dengan tirai biru.
Malih menunggu sambil pelan-pelan makan. Bu Lastri kembali dengan memberikan potongan kertas berisi alamat rumah Daniella. Dia meletakan itu di atas meja Malih.
“Terima kasih, Bu.”
“Sama-sama.”
Tak ingin terlalu lama menunda, Malih kemudian segera membayar makanannya dan keluar dari warteg itu. Dia harus segera memecahkan satu persatu dari teka-teki yang sedang dihadapinya sekarang.
***
Mobil Malih berhenti enggak jauh dari rumah Daniella. Kalau menurut alamat yang dikasih bu Laras, Malih yakin rumah berpagar hitam itu milik Daniella. Cuma ada dua rumah di sana, selebihnya lapangan bola. Malih lihat ke arah lapangan ada banyak anak-anak kecil bermain bola di sana. Ada juga yang asyik makan batagor.
Inisiatif akhirnya Malih memilih turun untuk bergabung bersama bocah-bocah itu. Cara paling gampang ya tanya penduduk sekitar. Walau udah makan, Malih tetap beli batagor. “Mang, saya mau satu ya. Sambel kacangnya banyakin dikit.”
“Oke!”
Malih lihat dua anak kecil yang asyik makan batagor dalam plastic. Dia ikut nongkrong sama dua bocah itu. “Di sini suka rame ya?”
“Dih? Abang siapa dah?! Sok akrab banget sama kita,” balas bocah bertubuh gempal pada Malih. Matanya sinis melihat Malih yang enggak dikenalnya itu.
“Nama abang Malih,” ujar Malih memperkenalkan diri, namun langsung disambut tawa dua bocah itu.
“Ahahaha…. Gila aja namanya Malih. Enggak seusai bang sama mukanya. Ganti aja sih, em… gimana kalau jadi Michaell?”
“Eh! Bocah, nama itu pemberian orang tua. Ada do’anya, enggak boleh main ganti sembarangan.”
Teman si bocah gempal bergigi ompong itu menarik ingusnya dengan santai. Tiba-tiba selera makan batagor Malih jadi anjlok. “Lo jorok banget jadi bocah.”
“Yakan lagi musim pilek, Bang.”
Tukang batagor memberikan Malih sekantong batagor dengan harga lima ribuan. “Ini batagornya.”
“Makasih Bang,” Malih menerimanya, tanpa berniat dimakan. Dia kembali pada dua bocah itu. “Kalian tinggal di sekitar sini?”
“Dari orok gue, Bang. Nape lo? Mau tanya alamat?” si bocah gempal kembali bersuara, lalu menyedot es teh plastiknya.
“Tahu aja lo.”
“Ya tahulah, gue sering tuh ditanya orang asing soal alamat rumah. Lo mau cari rumah siapa?”
Malih geleng kepala dengan anak jaman sekarang. Ngobrolnya sudah seperti orang dewasa, kadang melupakan kesopanan antara yang muda pada yang tua. Meski begitu Malih enggak mau repot-repot membicarakan sopan santun pada mereka. “Rumahnya Daniella, tahu?”
“Oh kak Daniella, yang rambutnya panjang itu kan? Noh! Rumahnya pagar item, tapi kak Daniella-nya enggak ada.”
“Kemana?”
“Kata emak gue sih di rumah sakit. Kagak sadar dia, apa ya namanya?” si gempal melirik pada temannya yang ompong. “Apa tuh kata bu RT kemarin?”
“Koma.”
“Nah, iya koma.”
Malih takjub karena anak-anak yang mengobrol bersamanya tahu benar informasi di sekitarnya. Lebih takjub lagi ketika tukang batagor menambahi. “Non Daniella koma itu karena disakitin. Kata ibu-ibu di sini dia hamil terus cowoknya enggak mau tanggung jawab.”
“Hah?! Abang tahu juga gosip begituan?”
“Ya tahu dong, orang tiap hari saya mangkal di sini. Bocah-bocah tuh kalau jajan kadang sama emak-emaknya.”
Menggali lebih dalam lagi Malih bertanya kembali. “Kejadiannya kapan, Bang.”
“Kabar hamilnya sih udah lama. Neng Daniella selama ini bertahan, tapi kayaknya kemarin-kemarin depresi banget. Saya tawarin batagor, eh diem aja. Ngelamun.”
Malih diam melihat ke arah rumah Daniella. Seseorang keluar dari sana. “Odetta?”
“Itu sepupunya,” jawab si bocah gempal. “Kak Odet suka main ke sini juga.”
Hendak menghampiri, tapi Malih mengurungkan niat ketika sebuah mobil datang menjemput Odetta dan berlalu dari sana lewat jalan berlawanan. Akhirnya Malih memutuskan untuk berlama-lama di pinggir lapangan mencari informasi apapun yang ingin diketahuinya tentang Daniella. Sesekali melawak bersama bocah-bocah di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments