Chapter 13

Malam harinya.

Celvin dan Viona sudah pulang dari rumah Zara. Mereka pulang ke apartemen Viona, dan sejak kejadian kemarin sampai saat ini mereka tidak mengobrol sama sekali karena Viona masih kesal dengan perlakuan Celvin itu.

"Kenapa mengantar segala, aku bisa sendiri." Viona dengan kesal.

"Kau masih tetap tanggung jawabku," Celvin.

Viona berdecih tersenyum, lalu dia menoleh ke Celvin, "Tanggung jawab?" Tanya Viona dengan heran.

"Sudah aku bilang jangan mencintaiku. Jangan menganggap serius hubungan kita, bersikap saja seperti awal kita bertemu. Yang aku lakukan padamu kemarin-kemarin itu karena aku menyukai tubuh sexymu," Celvin sambil tersenyum sinis, lalu dia pergi keluar.

Viona berdecih kesal, "Hah~ aku benar-benar ingin merobek mulutnya," Geram Viona.

Celvin tidak ingin pulang ke rumah kakaknya, dia ingin sendiri dulu. Celvin memutuskan untuk menginap di hotel agar dia bisa tenang.

Pikiran Celvin berantakan sekarang, dia merasa tidak punya harga diri, dia merasa jahat, karena mempermainkan Viona. Bahkan saat ini dia mandi pun dia masih memikirkan semua perbuatannya itu. Dan pikirannya merambat kemana-mana, dia membenci posisinya sekarang, dia menyesal telah menghancurkan masa depan Viona, dia ingin berhenti, dia ingin hidup damai tanpa memikirkan dendam. Dia hanya ingin hidup bebas tapi dia tidak bisa, dendam-dendam itu seakan-akan telah menjeranya, dia sulit untuk keluar dari situasi ini, dan yang bisa dia lakukan saat ini adalah menangis.

Setelah selesai mandi Celvin duduk di sofa sambil minum kopi, dia hanya diam dan mengelamun, hatinya sangat kosong, pikirannya buntu, dan dia membenci dirinya sendiri.

"Mama.... jika mama disini apa yang mama akan katakan padaku... " Lirih Celvin dengan sedih.

Keesokan harinya.

"Apa kakak yakin dia mau kesini?" Hendrik dengan heran, dia tidak yakin Celvin bisa datang kesini karena dia tahu pasti Celvin sibuk memikirkan urusannya. Celine dan Hendrik membuat surprise untuk Celvin karena mereka merindukan Celvin, Celine juga sudah menelepon Celvin agar datang.

"Kakak," Panggil Celvin.

"SELAMAT DATANG CELVIN," Ucap mereka, dan Hendrik meniup terompetnya dengan heboh, Celine memukul pelan Hendrik karena dia terlalu heboh. Celvin tersenyum melihat mereka, "Ada apa ini?" Tanya Celvin dengan heran.

"Tiup dulu kuenya," Hendrik dengan kesal, lalu Celvin meniupnya tanpa tahu arti dari pemberian kue ini.

"Kita membuat perayaan untuk kedatangan Celvin, kita merindukan kamu." Celine sambil tersenyum.

"Iya ngeselin banget sih, sekarang jarang main denganku.... " Hendrik dengan kesal.

"Ah maaf ya aku akhir-akhir ini sibuk," Celvin dengan tersenyum malu.

"Kalau begitu traktir kami," Hendrik.

"Iyakah mau?" Celvin menoleh ke Celine karena Celine tidak yakin bisa keluar di tengah keramaian.

"Kalau begitu kita nginep saja di vila, vilanya dekat pantai tapi jauh kok dari penduduk. Bagaimana?" Celvin.

"Okeyyy aku siapppppp...." Hendrik dengan heboh.

"Kakak juga," Celine sambil tersenyum.

"Kalau begitu ajak mama papa aja biar tambah seru," Celvin.

"Oke aku akan memberitahu mereka untuk bersiap-siap, apa vilanya searah dengan desaku?"

"Jalannya searah kok, kita bisa jemput mama papa sekalian." Celvin.

"Oke siap, aku pulang dulu bye.... " Hendrik lari keluar begitu saja, "Lho? ini semua makanannya siapa yang habisin?" Celvin dengan heran.

"Kamu lah, kakak juga mau siap-siap," Celine pergi masuk ke kamarnya.

Celvin berdecih tersenyum, dengan begini saja dia bahagia, dan dia berharap bisa seperti ini terus, melihat kakaknya bahagia dan sahabatnya juga.

Dan mereka bersiap untuk pergi ke vila milik Celvin, mereka juga sudah menjemput mama papa Hendrik karena memang jalannya searah dengan rumah Hendrik. Ini pertama kalinya mereka melakukan liburan bersama, selama ini mereka hanya fokus dengan bekerja terutama Celvin, dan hari ini dia mewujudkan keinginan kakak dan sahabatnya itu.

Sampai disana, mereka menata barang bawaan mereka ke kamar masing-masing, Celine tidur dengan mama Hendrik, sedangkan para laki-laki tidur bersama, sebenarnya masih ada 2 kamar lagi tapi mereka ingin tidur bersama.

Para laki-laki sedang asik bermain voli di pinggir pantai, sedangkan Celine dan mama Hendrik hanya melihatnya dari kejauhan, karena Celine juga takut ada banyak orang disana.

"Mereka terlihat bahagia ya," Mama Hendrik sambil tersenyum melihat 3 laki-laki yang dia sayangi itu.

Celine ikut tersenyum melihatnya, "Terimakasih sudah menyayangi adikku, bi... " Celine.

Mama Hendrik mengusap rambut Celine, "Mama. bukan bibi. Celine.... kamu mama lihat sudah sembuh loh, kamu mau berinteraksi sama papa,"

"Iya aku sudah sembuh, dan aku harap adikku juga.... daripada aku dia lebih banyak menanggung beban. Anak kecil yang polos itu sudah berubah menjadi dewasa, setiap hari aku selalu mencemaskannya, aku takut dia terluka dengan keputusan yang sudah dia pilih," Celine dengan menatap Celvin, dia terlihat sedih saat mencurahkan isi hatinya ke mama Hendrik.

"Dia tumbuh sangat baik, dia hebat, dan kuat... mama yakin dia pasti biasa mempertanggungjawabkan semua yang sudah dia putuskan," Mama Hendrik sambil tersenyum ke Celine, Celine mengangguk tersenyum menanggapi mama Hendrik.

Malam harinya.

Mereka makan-makan di atas balkon bersama, mama Hendrik memasak banyak daging dan makanan lainnya.

"Wah aku suka udara disini," Hendrik sambil mengunyah.

"Tinggal saja disini kalau begitu." Sahut Celvin.

"Aku harus kerja kali,"

"Kita jarang-jarang loh bisa liburan bareng, besok udah pulang lagi.... besok pagi kita foto bareng ya buat kenang-kenangan." Pinta mama Hendrik.

"Oke ma," Celvin sambil tersenyum.

Setelah selesai makan malam dan mengobrolkan banyak hal, mereka kembali ke kegiatan masing-masing. Mama Hendrik menonton TV dia menonton film melow kesukaannya, papa Hendrik mendengarkan musik jazz jaman dulu di kamar, Celine melanjutkan merajut syal, sedangkan Celvin dan Hendrik berada di luar rumah karena mereka ingin mengobrol berdua.

"Bagaimana apa semuanya lancar?" Hendrik.

Celvin berdecih tersenyum, "Semakin kesini semakin rumit. Banyak hal yang harus aku buang untuk semua ini."

"Apa maksudmu?" Hendrik dengan heran.

"Ayah tiba-tiba memberiku surat wasiat asli dan dia kabur begitu saja, menurutmu kenapa ya dia melakukan itu? apa dia tahu siapa aku?" Celvin dengan heran.

"Apa maksudnya surat warisan asli?" Hendrik dengan heran. Dan Celvin mulai menceritakan semua tentang keluarganya ke Hendrik, dan tentunya Hendrik sangat terkejut dan tidak menyangka jika Celvin adalah ahli waris asli dari JB Group.

"Wahhh gila... kenapa ya hidupmu itu selalu saja ada yang mengejutkan." Hendrik dengan heran.

"Entahlah. Mulai sekarang aku akan mengambil tempatku yang sebenarnya." Celvin.

"Lalu bagaimana jika mereka tahu kalau kau menikahi keponakan mu sendiri?" Hendrik dengan heran.

"Itu tidak akan terjadi. Bagaimanapun juga aku suaminya Viona yang akan mewarisi juga,"

"Tunggu, jadi kalau seandainya kau meninggal baru warisan itu diberikan ke suami mamanya Viona?"

"Iya...."

"Ah~ makanya itu mereka mengincar kau ya," Hendrik dengan heran. "Celvin apa ayahmu tahu kalau ini kau? makanya dia memberikan itu padamu?"

"Entahlah, aku juga bingung soal itu. Aku mencarinya kemana-mana tapi tidak ada, kemana ayah sebenarnya," Celvin dengan resah, meskipun dia membenci ayahnya tapi dia tetap cemas jika terjadi sesuatu ke ayahnya.

Karena semakin malam udaranya semakin dingin, mama Hendrik menyuruh mereka untuk masuk ke dalam, lalu mereka tidur bersama dengan papa Hendrik. Di saat mereka berdua pulas tertidur hanya Celvin yang masih belum tidur, dia memikirkan banyak hal untuk langkah selanjutnya yang akan dia jalankan, dia ingin cepat-cepat menjatuhkan Zara.

"Kebanyakan mikir bikin cepet tua loh," Ucap papa Hendrik.

Celvin menoleh ke papa Hendrik, "Lho papa belum tidur?"

"Sudah tapi tidak nyenyak, karena papa merasa anak papa tidak tenang di sini,"

Celvin tersenyum, dia senang dan bersyukur masih punya orang tua Hendrik, meskipun bukan kandung tapi mereka sangat baik dan perhatian dengannya, Celvin selalu berandai-andai jika ayahnya seperti papa Hendrik mungkin semuanya ini tidak akan terjadi dengannya.

"Aku hanya memikirkan kerjaan," Celvin sambil tersenyum.

"Tidurlah, masalah apapun yang terjadi jangan terlalu di pikirkan tapi jalani saja nanti membaik sendiri," Papa Hendrik dengan penuh kepercayaan diri. Celvin terkekeh mendengarnya.

"Papa ini sudah puluhan tahun hidup jadi papa memberikan tips untukmu,"

"Iya pa, makasih ya... " Celvin sambil tersenyum.

"Kalian kenapa berisik sekali...." Ucap Hendrik setengah sadar.

"Tidur saja," Ucap papa Hendrik setelah memukul pelan pantat mereka.

...Bagaimana pun juga, anak tidak bisa memilih siapa orang tuanya. Jadi bagaimanapun ayahku dia tetaplah ayahku, yang bisa aku lakukan hanya mengatasi perbuatannya. ...

...-Celvin-...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!