10 Tahun Kemudian.
"Semua sudah beres kan, ada lagi apa tidak jadwal saya hari ini?" Tanya seorang pria berusia 26 tahun. Dia sangat gagah dan tampan. Dia adalah CEO perusahaan makanan, dia punya cafe yang terkenal dan dia juga punya restoran yang sangat terkenal dan sekarang sudah di semua kota cabangnya bahkan luar negeri juga. Dan dia juga seorang pelukis. Dia menjual lukisannya sampai ke luar negeri dengan harga milyaran rupiah.
Dia adalah seorang anak laki-laki 10 tahun yang lalu, Celvin.
Sejak kejadian itu dia harus berjuang untuk dirinya dan kakaknya. Kakaknya mengalami trauma yang berat, dia hanya mengurungkan diri di kamar. Dan dia hampir meninggal karena dia sengaja menabrakan dirinya dan sekarang dia lumpuh akibat kecelakaan itu.
Perjuangan Celvin sangat berat saat itu, tapi dia lega akhirnya ayahnya tidak kembali lagi. Dia kerja sambil sekolah. Dia berusaha keras untuk menjual apapun yang dia bisa. Dia menjual roti yang dia buat, dan dia menjual lukisannya di taman-taman bermain.
Dia mulai merintis usahanya sendirian. Dan dari hasil itu dia bisa membayar biaya perawatan kakaknya itu.
Sekarang dari hasil kerja kerasnya, Celvin hidup dengan berkecukupan. Dia bisa membelikan rumah yang mewah dan nyaman untuk kakaknya sekarang.
Dan setelah selesai dengan semua kerjaannya, Celvin pulang ke rumah. Dia tinggal di perumahan elite.
Celvin pulang sambil membawakan kue kesukaan kakaknya, "Kakak aku pulang," Celvin sambil tersenyum, Celine menoleh ke Celvin sambil tersenyum. Celine juga sedikit demi sedikit bisa sembuh, dia sekarang bisa ngomong lagi dengan Calvin, dulu dia sangat takut untuk bicara. Celine juga dalam perawatan psikolog.
"Kakak sudah makan siang?" Celvin sambil jongkok di depan kakaknya, dan kakaknya mengangguk tersenyum. "Kita makan lagi yuk," Ajak Celvin.
Lalu mereka makan berdua di ruang tamu. Meskipun kaya raya tapi Celvin tidak punya pembantu. Dia mengurus semuanya sendirian, dia takut kalau kakaknya tidak nyaman karena orang lain di rumahnya.
"Kakak, kita jalan-jalan ke pantai yuk!" Ajak Celvin, Celine menggelengkan kepalanya dan dia melihat kakinya. Dia ingin bilang jika dia akan menyusahkan jika diajak jalan-jalan. "Enggak kok, Hendrik kan ada jadi aku tidak merasa kesusahan kok," Celvin sambil tersenyum. Celine menggelengkan kepalany. "Iya baiklah," Celvin sambil tersenyum.
Setelah itu Celvin mendorong kursi roda kakaknya menuju ke kamar, lalu dia memindahkan kakaknya ke kasur, "Kakak istirahat ya... " Celvin sambil tersenyum, Celine mengangguk. Lalu Celvin keluar kamar dan dia masuk ke kamarnya.
Celvin melihat di berita-berita tentang CEO perusahaan emasa atau JB Group yang mengalami kenaikan saham karena mereka meluncurkan produk baru. Celvin tersenyum, "Dia robot kah," Gumamnya. Lalu raut wajahnya berubah menjadi datar.
"Celvin aku bawa ayam... " Teriak Hendrik dari luar, Celvin segera keluar kamar dan dia melihat sahabatnya itu yang sedang asik menata ayam yang dia bawa di piring, "Kau ini telat." Celvin. "Lo kak Celin sudah tidur?" Hendrik. Celvin mengangguk, "Baiklah aku sisihkan untuk kak Celine."
Celvin tersenyum, "Mentang-mentang punya restoran ayam kesini bawa ayam mulu," Candanya.
"Mentang-mentang pengusaha kue, pulang-pulang bawa kue mulu." Sahut Hendrik. Dan mereka saling tertawa.
"Kau tidak sibuk kah?" Celvin.
"Aku ingin istirahat makanya aku di sini, malam ini aku nginep ya, ada pertandingan voli di TV seru kan berdua nonton." Hendrik.
"Lihat saja sendiri aku mau tidur," Celvin meninggalkan Hendrik dan masuk dalam kamarnya. "Kan maksudku nanti malam." Hendrik dengan kesal.
Hubungan pertemanan mereka masih baik, dan sekarang pun mereka masih jadi tetangga meskipun Hendrik sering menginap di rumah Celvin, tapi Celine tidak keberatan juga karena dia mengenal Hendrik.
Kamar Celvin.
Hendrik merebahkan dirinya di sofa sedangkan Celvin sibuk dengan kerjaannya. "Kau masih mencari ayahmu?" Hendrik. "Kenapa?" Celvin. "Aku penasaran saja,"
"Kenapa aku harus mencarinya, dia akan datang padaku.. " Celvin sambil tersenyum ke Hendrik.
"Apa maksudmu?" Hendrik dengan heran.
"Datang dong ke pameran ku besok selasa,"
"Ah aku malas bertemu banyak orang, pusing aku lihat kepala banyak orang." Hendrik.
"Kau nanti akan ketemu dengan dia loh," Celvin sambil tersenyum.
"Iyakah?"
Celvin tersenyum.
"Aku muak dengan ini," Ucap seorang wanita yang sedang duduk di depan piano itu. "Nona, nanti nyonya bisa marah loh kalau nona begini." Ucap pembantunya.
"Aku sudah 24 tahun, apa aku akan tetap harus menuruti semua keinginan mama?" Omel wanita itu, dia adalah Viona. Putri pemilik perusahaan emas itu. Pembantu itu hanya diam, dia tidak berani menjawab apapun.
"Bik, pria itu kemana tadi?" Tanya Viona. "Tuan menghadiri wawancara nona," Jawab pembantu itu. "Mau sampai kapan dia sanggup jadi robotnya mama... " Ucapnya sambil tersenyum kecil, "Tapi kalau di pikir-pikir aku juga robotnya mama....kita berdua sama-sama menyedihkan ya... " Viona sambil menoleh ke pembantunya, pembantunya hanya diam dan menundukkan kepalanya.
Lalu Viona melihat fotonya dengan mamanya yang dia pajang di meja belajar, "Mama bagaimana bisa sehebat ini mengendalikan semuanya... " Gumam Viona sambil tersenyum sinis.
"Nyonya Zara melakukan semuanya untuk kebaikan anda, nona." Ucap pembantu itu.
"Bukan bi, bibik salah... bukan untukku tapi untuk kepuasannya sendiri." Viona.
"Mama itu benar-benar tidak boleh di remehkan," Gumamnya sambil tersenyum sinis.
Lalu Viona beranjak dari tempat duduknya, lalu dia mengambil tasnya, "Kalau mama tanya bilang ya aku lagi main." Ucap Viona lalu dia keluar.
Pembantu itu menghela nafas dengan resah, dia takut nyonyanya tahu kalau Viona malah main bukan berlatih, padahal besok dia ada kompetisi.
Viona adalah putri satu-satunya pemilik perusahaan emas itu. Dia sangat cantik, pintar, dan berbakat bermain piano. Sebenarnya dia dipaksa oleh mamanya untuk bermain piano, dan sekarang dia banyak memenangkan juara kompetisi piano, dia menjadi terkenal dan banyak di undang di acara-acara besar.
Tapi dibalik itu, dia orang yang dingin, dan malas bertemu banyak orang. Dia menyukai kebebasan tapi kebebasan itu tidak pernah ada di hidupnya.
Dia sering membangkang ke mamanya tapi dia tetap kena hukumannya juga.
Viona tidak pernah punya teman, dia di jauhi teman-temannya karena Viona punya segalanya. Viona tidak ambil pusing dengan itu. Dia tidak peduli dengan apapun yang penting dia bisa melakukan apa yang dia inginkan.
Saat tidak ada kegiatan Viona menghabiskan waktu di cafe sendiri sambil membaca buku, setelah itu dia belanja sendirian.
Dia sebenarnya kesepian tapi dia bisa menutupi semua perasaannya dengan uang yang dia punya.
Beberapa hari kemudian.
Celvin membuka pamerannya untuk pertama kalinya dia melakukan pameran ini, dan banyak sekali orang yang datang. Para artis aktor juga, dan para petinggi-petinggi perusahaan juga termasuk CEO emas itu.
Celvin menyambut kedatangan mereka semua, bahkan ada yang meminta foto dengannya.
"Heh mana sih?" Bisik Hendrik.
Celvin tersenyum.
"Pak Celvin, Pak Frans ingin bertemu dengan anda," Ucap sekretaris Celvin, lalu CEO perusahaan emas itu mendatangi Celvin dan mereka saling berjabat tangan.
"Saya sangat menyukai lukisan anda, anda sangat berbakat." Puji Frans.
"Terimakasih," Jawab Celvin sambil tersenyum
Kita bertemu lagi... ayah...
-Batin Calvin-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments